Dalam Khutbah Jumat di ICC Jakarta pada Jumat, 10 Juli 2026, Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan pembahasan pekan sebelumnya mengenai dosa dengan mengulas berbagai kafarah atau penebus dosa yang Allah swt berikan kepada manusia. Beliau menjelaskan bahwa kasih sayang Allah swt begitu luas sehingga manusia diberikan banyak jalan untuk kembali kepada kesucian sebelum meninggalkan dunia.
Pada awal khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa pada khutbah sebelumnya telah dibahas berbagai bentuk dosa beserta pengaruhnya dalam kehidupan manusia. Pada kesempatan kali ini, beliau mengajak jamaah memahami berbagai jalan yang Allah swt sediakan agar seorang hamba dapat menebus dosa-dosanya apabila tergelincir oleh godaan setan.
Menurut beliau, Allah swt adalah Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah swt menciptakan manusia agar mencapai kesempurnaan, bukan agar menjadi penghuni neraka. Karena itu, Allah swt tidak menghendaki kesulitan bagi manusia. Sebaliknya, Allah swt senantiasa menyediakan jalan keluar sehingga sebelum seseorang meninggalkan dunia, ia masih memiliki kesempatan untuk membersihkan dirinya dari dosa dan kembali kepada-Nya dalam keadaan suci.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa salah satu bentuk kasih sayang Allah swt adalah dibukanya pintu tobat. Melalui tobat yang sungguh-sungguh, seorang hamba dapat kembali kepada Allah swt dan memperoleh penyucian dari dosa-dosa yang telah dilakukannya.
Beliau kemudian menyampaikan sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa Allah swt memberikan kesempatan kepada manusia untuk membersihkan dosa-dosanya ketika masih hidup di dunia. Menurut beliau, Allah swt terkadang memberikan berbagai musibah atau ujian sebagai bentuk penyucian sehingga seorang mukmin tidak lagi menanggung azab yang lebih berat di akhirat.
Kafarah pertama yang dijelaskan oleh Syaikh Mohammad Sharifani adalah sakit. Menurut beliau, penyakit yang menimpa seorang mukmin dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa. Beliau menjelaskan bahwa demam selama satu malam dapat menjadi penghapus dosa selama satu tahun. Selain itu, berbagai kesulitan yang dialami seseorang karena merawat anggota keluarganya yang sakit juga dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa. Sebagai contoh, seorang ayah atau ibu yang bersusah payah mencari pengobatan demi kesembuhan anaknya dapat memperoleh penghapusan dosa melalui kesabaran yang dijalaninya.
Namun demikian, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa terdapat dosa-dosa tertentu yang tidak cukup ditebus hanya dengan salat atau puasa. Dalam keadaan seperti itu, Allah swt terkadang memberikan kesedihan dalam hati, kesulitan ekonomi, atau berbagai ujian lainnya. Apabila seorang mukmin bersabar menghadapi semua itu, maka kesabaran tersebut menjadi jalan penyucian dosa-dosanya.
Beliau kemudian mengutip firman Allah swt mengenai keutamaan amal saleh.
Innal ḥasanāti yużhibnas sayyi’āt.
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik menghapus kesalahan-kesalahan.” (QS. Hud [11]: 114)
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani mengatakan bahwa setiap amal kebaikan memiliki pengaruh dalam menghapus dosa. Beliau memberikan contoh sederhana, seperti menyingkirkan batu atau kerikil dari jalan agar tidak membahayakan orang lain. Menurut beliau, amal kecil seperti itu pun memiliki nilai di sisi Allah swt.
Beliau juga menyampaikan bahwa menghadiri majelis-majelis keagamaan termasuk salah satu amal saleh yang dapat menjadi kafarah bagi dosa-dosa. Sebagai contoh, beliau menyebut kehadiran jamaah pada malam sebelumnya dalam acara peringatan kesyahidan Ayatullah al-Uzma Imam Syahid Ali Khamenei sebagai salah satu bentuk amal yang memiliki nilai penghapusan dosa.
Contoh lain yang disampaikan Syaikh Mohammad Sharifani ialah ketika seseorang kedatangan tamu pada larut malam dalam keadaan tubuh lelah dan ingin beristirahat. Menurut beliau, apabila tamu tersebut diterima dengan hati yang lapang dan penuh keikhlasan, sikap tersebut dapat menjadi salah satu sebab dihapuskannya dosa.
Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa membantu menyelesaikan kebutuhan seorang mukmin juga merupakan kafarah yang sangat besar. Dalam sebuah riwayat disebutkan tentang keutamaan qaḍā’u ḥājatil mu’min, yaitu membantu memenuhi kebutuhan seorang mukmin sesuai kemampuan yang dimiliki.
Syaikh Mohammad Sharifani mengatakan bahwa kebutuhan manusia sangat beragam. Ada yang membutuhkan bantuan materi, ada pula yang membutuhkan perhatian dan dukungan moral. Apabila seseorang belum mampu membantu secara finansial, menurut beliau, hendaknya ia tetap berusaha membahagiakan saudaranya melalui senyuman, ucapan yang baik, atau kata-kata yang dapat menenangkan hati. Semua bentuk kebaikan tersebut, menurut beliau, akan menjadi pengganti bagi dosa-dosa yang pernah dilakukan.
Kafarah berikutnya yang dijelaskan beliau ialah memperbanyak sujud kepada Allah swt. Syaikh Mohammad Sharifani mengisahkan seorang sahabat Rasulullah saw yang datang dalam keadaan tubuh lemah dan mengakui telah melakukan banyak dosa. Sahabat tersebut meminta nasihat agar dapat memperbaiki keadaannya. Rasulullah saw kemudian menganjurkan agar ia memperbanyak sujud.
Beliau mengajak jamaah memperbanyak doa dalam sujud dengan membaca:
Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.
“Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya [21]: 87)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Allah swt memiliki para malaikat yang senantiasa taat kepada-Nya. Para malaikat tersebut setiap hari memohonkan ampunan bagi orang-orang mukmin. Oleh karena itu, menurut beliau, seorang mukmin juga hendaknya memperbanyak istigfar agar memperoleh pengampunan sebagaimana para malaikat terus mendoakan kaum beriman.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa ziarah juga merupakan salah satu ajaran mulia dalam mazhab ahlul bait as. Menurut beliau, ziarah ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji, berziarah ke makam Rasulullah saw, para Imam maksum as, keluarga para Imam, maupun makam kedua orang tua merupakan amalan yang memiliki pengaruh besar dalam menghapus dosa.
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani mengatakan bahwa melalui ziarah, seorang mukmin akan senantiasa mengingat orang-orang saleh yang telah mendahuluinya sekaligus memperoleh keberkahan dan penghapusan dosa. Beliau menegaskan bahwa budaya ziarah merupakan salah satu ajaran penting dalam mazhab ahlul bait as yang patut terus dijaga.
Selanjutnya, beliau menyampaikan bahwa membaca selawat juga termasuk kafarah yang sangat mudah dilakukan. Mengutip riwayat dari Imam Shadiq as dan Imam Ridha as, beliau menjelaskan bahwa apabila seseorang merasa seluruh jalan untuk menebus dosa telah tertutup, masih ada satu amalan yang selalu terbuka, yaitu memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad saw dan keluarganya.
Beliau mengajak jamaah membiasakan membaca selawat kapan pun dan di mana pun, baik ketika berkendara maupun dalam aktivitas sehari-hari. Menurut beliau, seseorang dapat menggunakan tasbih untuk membaca seratus, seribu, atau lebih banyak lagi selawat karena semakin banyak selawat yang dibaca, semakin besar pula peluang memperoleh penghapusan dosa.
Pada bagian akhir khutbah pertama, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa kafarah terakhir bagi seorang mukmin adalah kematian itu sendiri. Beliau mengatakan bahwa seseorang mungkin telah berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat, tetapi tetap tidak luput dari dosa yang disadari maupun yang tidak disadari.
Menurut beliau, dalam sejumlah riwayat dijelaskan bahwa sakaratul maut yang berat dapat menjadi jalan terakhir untuk menghapus seluruh dosa seorang hamba. Ketika Allah swt mencabut nyawa seorang mukmin yang masih memiliki dosa, beratnya proses sakaratul maut dapat menjadi bentuk penyucian sebelum ia menghadap Allah swt.
Karena itu, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa para ulama sering memanjatkan doa:
“Ya Allah, mudahkanlah bagiku sakaratul maut.”
Beliau mengingatkan jamaah agar membiasakan doa tersebut karena para ulama memahami bahwa sakaratul maut merupakan fase yang sangat berat. Dengan memohon kemudahan kepada Allah swt, seorang mukmin berharap dapat menghadap-Nya dalam keadaan memperoleh rahmat dan ampunan-Nya.
Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani mengawali pembahasannya dengan mengutip salah satu hikmah dalam Nahjul Balaghah. Beliau menjelaskan bahwa Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as mengajarkan bahwa Allah swt telah menebarkan begitu banyak pelajaran dan tanda-tanda kebesaran-Nya di muka bumi. Namun, hanya sedikit manusia yang mampu mengambil ibrah dari berbagai peristiwa yang Allah swt hadirkan dalam kehidupan.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, salah satu peristiwa besar yang dapat dijadikan pelajaran pada masa sekarang adalah prosesi pemakaman Rahbar Republik Islam Iran, marja mazhab ahlul bait as, sekaligus pemimpin kaum tertindas, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Beliau menyampaikan bahwa sosok Ayatullah Sayyid Ali Khamenei merupakan pribadi yang agung dan mulia sehingga wafatnya menghadirkan gelombang penghormatan yang sangat besar dari masyarakat.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa beliau mengetahui secara langsung kondisi masyarakat Iran karena berasal dari Iran dan menetap di sana. Menurut beliau, masyarakat yang menghadiri prosesi pemakaman di Qom, begitu pula masyarakat di Irak yang ikut memberikan penghormatan, hidup dalam berbagai kesulitan, baik kesulitan ekonomi maupun tekanan akibat situasi yang sedang mereka hadapi. Meskipun demikian, keadaan tersebut tidak menghalangi mereka untuk hadir mengiringi pemakaman seorang pemimpin yang mereka cintai dan hormati.
Beliau mengatakan bahwa jutaan manusia rela menempuh perjalanan, berdiri berjam-jam, serta berdesak-desakan demi memberikan penghormatan terakhir kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Menurut beliau, kenyataan tersebut menjadi bukti yang tidak dapat diabaikan.
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani juga menyinggung pemberitaan sejumlah media Barat yang, menurut beliau, berusaha mengecilkan jumlah pelayat dengan menyebut bahwa prosesi tersebut hanya dihadiri ratusan ribu orang. Beliau menilai pemberitaan seperti itu merupakan bentuk pemutarbalikan fakta terhadap besarnya antusiasme masyarakat yang hadir mengiringi pemakaman.
Beliau menegaskan bahwa jutaan manusia yang rela berkumpul di tengah cuaca panas, kelelahan, dan kepadatan bukanlah hadir karena dorongan materi ataupun kepentingan duniawi. Menurut beliau, yang menyatukan mereka adalah hati yang telah disucikan oleh Allah swt.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa apabila seseorang meninggalkan dunia dengan hati yang senantiasa berada di jalan Allah swt, maka Allah swt akan membukakan hati manusia untuk mengenali kemuliaannya. Beliau menambahkan bahwa hati manusia berada dalam genggaman Allah swt sehingga Allah swt-lah yang menumbuhkan rasa cinta dan penghormatan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh.
Beliau kemudian mengajak jamaah mengambil pelajaran dari sejarah. Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa tokoh-tokoh zalim seperti Firaun maupun Saddam Hussein pernah memiliki kekuasaan yang sangat besar. Namun, beliau mempertanyakan di manakah mereka sekarang dan bagaimana manusia mengenang mereka setelah kematian.
Beliau mengingatkan bahwa selama lebih dari delapan tahun Saddam Hussein memimpin perang melawan Iran dan melakukan berbagai serangan terhadap kota-kota di negara tersebut. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, masyarakat Iran yang kini memenuhi prosesi pemakaman Ayatullah Sayyid Ali Khamenei adalah orang-orang yang dahulu juga merasakan langsung berbagai penderitaan akibat peperangan tersebut. Karena itu, mereka memahami dengan baik siapa sosok yang telah memimpin dan mendampingi mereka dalam masa-masa sulit.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengajak jamaah membandingkan keadaan tersebut dengan nasib Saddam Hussein. Beliau mempertanyakan, seandainya Saddam masih hidup hingga saat ini lalu meninggal dunia, apakah ia akan memperoleh penghormatan yang sama sebagaimana diterima Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Menurut beliau, pertanyaan itu merupakan ibrah yang dapat dijadikan bahan renungan bagi setiap orang.
Beliau kemudian mengajukan pertanyaan mengenai rahasia kebahagiaan dan penghormatan yang diperoleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani mengatakan bahwa jawabannya adalah karena Allah swt mencintai hamba-Nya yang telah mengabdikan seluruh hidupnya di jalan-Nya.
Beliau menjelaskan bahwa apabila seluruh harta di dunia dikumpulkan sekalipun, mustahil digunakan untuk menghadirkan jutaan manusia agar mengikuti prosesi pemakaman dengan ketulusan seperti yang terlihat pada hari-hari tersebut. Menurut beliau, tidak mungkin orang-orang dibayar untuk datang, menangis, memukul dada, dan merasakan kesedihan yang begitu mendalam secara tulus.
Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa seluruh pemandangan itu merupakan pelajaran besar bagi kaum mukmin. Menurut beliau, apabila seseorang mengorbankan seluruh kehidupannya untuk mengabdi kepada Allah swt, maka Allah swt akan menanamkan kecintaan kepada hamba tersebut di dalam hati manusia.
Beliau menjelaskan bahwa hal itulah yang menjadi jawaban atas pertanyaan mengapa jutaan manusia rela berkumpul memberikan penghormatan kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Menurut beliau, peristiwa seperti itu mungkin tidak akan terulang kembali dalam sejarah. Beliau juga menyebut bahwa pada masa tersebut begitu banyak kaum mukmin di berbagai tempat menunaikan salat Lailatul Dafn sebagai hadiah untuk Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, sesuatu yang menurut beliau merupakan peristiwa yang sangat langka dalam sejarah umat Islam.
Mengakhiri khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak seluruh jamaah menjadikan peristiwa tersebut sebagai ibrah agar senantiasa menjaga hati tetap bersama Allah swt. Menurut beliau, hati yang dipenuhi keikhlasan dalam mengabdi kepada Allah swt akan memperoleh kecintaan dari Allah swt dan, atas kehendak-Nya, juga memperoleh tempat di hati manusia.



