ICC Jakarta menyelenggarakan ibadah salat Jumat pada Jumat, 12 Juni 2026, dengan Khutbah Jumat disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani. Dalam khutbahnya, beliau membahas tema dosa serta dampak dan pengaruhnya dalam kehidupan dunia. Dalam penjelasannya, beliau mengingatkan bahwa pembahasan ini telah beberapa kali diangkat dalam forum khotbah sebelumnya. Pada kesempatan itu, Syaikh Mohammad Sharifani menekankan satu jenis dosa yang dapat mengubah nikmat Allah swt yang telah dianugerahkan kepada manusia. Beliau mengawali dengan merujuk pada Doa Kumail: Allahummaghfir li al-dhunūba allatī tughayyiru an-ni‘am, “Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang dapat mengubah nikmat yang Engkau berikan kepadaku.”
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menegaskan bahwa Allah swt telah memenuhi dunia ini dengan berbagai nikmat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Hal itu, menurut beliau, ditegaskan dalam Al-Qur’an ketika Allah swt berfirman: wa asbagha ‘alaykum ni‘amahu zhahiratan wa bathinatan, “Dan Dia telah melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin.” (QS. Luqman [31]: 20). Beliau juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an dan riwayat-riwayat penuh dengan penjelasan tentang nikmat Allah yang tidak terhitung jumlahnya, sebagaimana dalam Surah Ar-Rahman yang mengulang ayat fabiayyi aala’i rabbikumaa tukadzdzibaan sebanyak 31 kali, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman [55]: 13 dan seterusnya). Dalam Surah An-Nahl, lanjut beliau, Allah swt juga menyinggung bahwa manusia mengetahui nikmat itu, namun kemudian mengingkarinya: ya‘rifuuna ni‘matallahi tsumma yunkiiruunaha, “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya.” (QS. An-Nahl [16]: 83). Beliau menyayangkan bahwa salah satu kecenderungan manusia adalah tidak bersyukur, tidak mau berterima kasih, dan tidak tergerak hatinya untuk mengakui karunia Allah swt. Menurut beliau, Al-Qur’an dan doa-doa, khususnya Doa Arafah, penuh dengan uraian tentang nikmat Allah swt, bahkan Imam Husein as menyebutkan lebih dari seratus nikmat dalam doa itu dengan ungkapan yang sangat indah dan mendalam.
Beliau lalu menjelaskan bahwa di antara dosa-dosa yang dapat mengubah, merusak, bahkan menghilangkan nikmat adalah al-baghyu ‘ala an-nas, yakni berbuat zalim kepada sesama manusia. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, kezaliman tidak hanya terbatas pada tindakan-tindakan besar yang dilakukan tokoh-tokoh zalim, melainkan juga hadir dalam kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele. Tidak menjawab salam orang lain dengan sengaja, misalnya, termasuk kezaliman. Demikian pula sengaja menginjak sepatu orang lain atau menyakiti pihak lain dengan tindakan kecil yang tampak ringan, tetap memiliki konsekuensi dan harus dipertanggungjawabkan. Untuk menegaskan betapa berat persoalan ini, beliau mengisahkan sebuah riwayat pada hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah saw. Dalam salah satu khotbahnya, Rasulullah saw menyebut seorang lelaki dari Bani Najar yang telah gugur sebagai syahid. Walaupun kedudukannya sebagai syahid sangat tinggi di sisi Allah swt, beliau menjelaskan bahwa orang itu masih tertahan di pintu surga hanya karena memiliki utang tiga dirham kepada orang lain. Dari kisah itu, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa sekecil apa pun kezaliman kepada orang lain tidak boleh diremehkan, karena urusan akhirat amat berat dan keadaan manusia pada hari itu sangat mengkhawatirkan, sebagaimana Al-Qur’an melukiskan manusia lari dari saudara, ayah, ibu, anak-anak, dan orang-orang terdekatnya.
Setelah itu, beliau menekankan pentingnya memperbanyak kebaikan kepada orang lain. Al-Qur’an, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, berulang kali mendorong manusia untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Kebaikan itu memiliki banyak tingkatan, dari yang paling sederhana seperti salat dan puasa, sampai yang sangat tinggi nilainya seperti membantu orang lain menyelesaikan kebutuhan dan kesulitannya. Beliau menjelaskan bahwa ketika seseorang mampu menolong hajat saudaranya yang sedang kesulitan, maka perbuatan itu memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah swt. Sebagai contoh, beliau mengisahkan riwayat Imam Sajjad as yang pernah beriktikaf di Masjidil Haram. Ketika seorang mukmin datang memohon bantuan karena memiliki persoalan, Imam Sajjad as keluar dari masjid untuk menolongnya, lalu kembali lagi setelah urusan itu selesai. Saat ada yang menegur karena beliau sedang beriktikaf, Imam Sajjad as menjelaskan bahwa keluar untuk membantu memenuhi hajat seorang mukmin lebih mulia daripada beriktikaf sebulan penuh. Melalui kisah ini, Syaikh Mohammad Sharifani ingin menegaskan bahwa membantu kesulitan orang beriman adalah amal yang sangat agung di sisi Allah swt.
Beliau kemudian kembali pada pokok pembahasannya, yakni bahwa salah satu bentuk dosa yang dapat menghilangkan nikmat adalah ketika seseorang tidak bersyukur, bahkan sampai kufur terhadap nikmat Allah swt. Syaikh Mohammad Sharifani membedakan antara sekadar tidak bersyukur dengan mengingkari nikmat. Menurut beliau, syukur pun memiliki tingkatan: tingkat paling dasar adalah mengucapkan alhamdulillah; tingkat yang lebih tinggi adalah menyadari sepenuhnya bahwa nikmat itu berasal dari Allah swt; lebih tinggi lagi adalah menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada Allah swt; dan yang lebih tinggi lagi adalah tidak memakai nikmat itu untuk maksiat. Kesehatan, keselamatan, dan berbagai anugerah yang Allah berikan, menurut beliau, tidak boleh dipakai untuk melanggar perintah-Nya. Adapun puncak syukur, sebagaimana beliau kutip dari Ayatullah Hasan Zadi, adalah ketika seorang hamba menghadap Allah swt dengan penuh kerendahan, mengangkat tangan, dan mengakui bahwa dirinya tidak akan mampu mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan. Itulah bentuk pengakuan atas kelemahan diri di hadapan keagungan nikmat Allah swt.
Dalam khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani memulai dengan menyampaikan ucapan selamat datang kepada para tamu yang hadir dalam salat Jumat, khususnya kepada Duta Besar Republik Islam Iran, Dr. Mohammad Boroujerdi, beserta rombongan dari Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran yang hadir pada kesempatan itu. Beliau kemudian menyampaikan duka cita atas wafatnya salah seorang marja‘ullah, Ayatullah al-‘Uzma Syekh Ishaq Fayad, yang baru beberapa hari sebelumnya berpulang di Najaf. Menurut beliau, Ayatullah Fayad merupakan seorang marja‘ dari keturunan Afghanistan yang tinggal di Najaf al-Asyraf dan dikenal memiliki pemikiran-pemikiran yang terbarukan. Ada sejumlah fatwa dan pandangan beliau yang, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, tidak banyak dimiliki oleh ulama atau marja‘ lain. Karena itu, beliau menyampaikan belasungkawa yang sebesar-besarnya atas wafatnya Ayatullah al-‘Uzma Syekh Ishaq Fayad, seraya memohon kepada Allah swt agar melindungi dan memanjangkan umur para marja‘ yang masih ada.
Beliau juga mengingatkan bahwa kaum Muslimin baru saja memperingati hari Mubahalah, sebuah peristiwa yang menurut Syaikh Mohammad Sharifani menjadi kebanggaan umat Islam karena merupakan bukti kebenaran Islam, kebenaran kenabian Rasulullah saw, kebenaran imamah, dan kebenaran Al-Qur’an. Beliau menjelaskan bahwa setelah Rasulullah saw menyampaikan hujjah kepada kaum Nasrani tentang Nabi Isa as dan keyakinan-keyakinan yang menyimpang, lalu mereka tetap menolak, Rasulullah saw siap bermubahalah. Saat datang, beliau membawa orang-orang yang paling beliau cintai: Sayidah Fatimah, Imam Hasan, Imam Husein, dan Imam Ali as. Menurut beliau, ketika para tokoh Najran melihat bahwa Rasulullah saw datang dengan wibawa dan membawa orang-orang suci yang paling beliau kasihi, mereka membatalkan niat bermubahalah dan memilih menerima persyaratan yang diajukan. Bagi Syaikh Mohammad Sharifani, peristiwa ini menunjukkan kebenaran risalah Rasulullah saw dan menjadi alasan bagi umat Islam untuk bangga atas kejadian-kejadian yang menampakkan kemuliaan agama mereka.
Di bagian akhir khutbah, beliau kembali menegaskan bahwa Allah swt telah menganugerahkan sangat banyak nikmat kepada manusia, dan jika seseorang ditanya nikmat terbesar yang Allah berikan, maka, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, jawabannya adalah cinta kepada Imam Husain as. Beliau menilai bahwa cinta kepada Imam Husain as merupakan nikmat terbesar, baik dibandingkan nikmat-nikmat maknawi maupun nikmat materi. Menjelang datangnya bulan Muharam, beliau mengingatkan hadis bahwa apabila Allah swt mencintai seorang hamba, maka Allah swt menanamkan cinta kepada Husain dalam hatinya. Karena itu, beliau menyeru agar malam-malam duka untuk Abu Abdillah al-Husain dimanfaatkan sebaik-baiknya, dihadiri bersama keluarga dan anak-anak, serta dijadikan sarana untuk menumbuhkan kecintaan kepada Imam Husain as sejak dini. Beliau menutup dengan harapan agar majelis-majelis Imam Husain as tidak sepi dari para pencintanya.



