Seminar Kesaksian Prosesi Tasyi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang diselenggarakan di ICC Jakarta pada Jumat, 17 Juli 2026, diawali dengan sambutan Syaikh Mohammad Sharifani. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi kepada para guru, ustaz, dan seluruh narasumber yang hadir untuk berbagi pandangan mengenai prosesi penghormatan terakhir kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yang menurut beliau merupakan sebuah fenomena sejarah yang belum pernah memiliki tandingan.
Menurut beliau, kehidupan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dipenuhi oleh berbagai peristiwa penting yang memberikan pengaruh besar terhadap perjalanan sejarah umat Islam. Beliau menilai Ayatullah Sayyid Ali Khamenei merupakan sosok yang mampu mengarahkan sejarah dan membimbing umat manusia menuju jalan perjuangan yang lurus. Dalam sambutannya, Syaikh Mohammad Sharifani menguraikan tiga keistimewaan utama yang, menurut beliau, dimiliki oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Keistimewaan pertama adalah keluasan ilmu yang dimiliki beliau. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Ayatullah Sayyid Ali Khamenei bukan hanya seorang pemimpin politik, melainkan seorang ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Beliau menyebut Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sebagai seorang fakih sekaligus filsuf yang juga memiliki pemahaman mendalam mengenai sosiologi, ilmu pendidikan, sastra, syair, dan berbagai cabang ilmu lainnya.
Syaikh Mohammad Sharifani mengakui bahwa beliau tidak pernah melakukan kajian menyeluruh terhadap seluruh pemimpin dunia sepanjang sejarah. Namun, berdasarkan pengetahuan yang beliau miliki, sangat sulit menemukan sosok pemimpin yang memiliki keluasan dan kedalaman ilmu seperti Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Menurut beliau, keluasan wawasan tersebut merupakan salah satu keistimewaan yang menjadikan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei berbeda dari banyak pemimpin lainnya.
Keistimewaan kedua adalah integritas dan kebersihan pribadi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa tidak sedikit pemimpin yang memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan pribadi, mengambil hak orang lain, ataupun melakukan berbagai bentuk kezaliman selama memegang jabatan. Namun, menurut beliau, hal demikian tidak ditemukan dalam kehidupan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Beliau mengatakan bahwa selama kurang lebih empat puluh tahun memimpin, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei tidak pernah memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan keluarga. Bahkan, masyarakat hampir tidak pernah melihat anak-anak beliau tampil di hadapan publik maupun media. Syaikh Mohammad Sharifani menyebut bahwa baru pada saat salat jenazah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei masyarakat dapat melihat putra-putra beliau secara terbuka. Selain peristiwa tersebut, menurut beliau, sangat sedikit dokumentasi ataupun kemunculan keluarga Ayatullah Sayyid Ali Khamenei di ruang publik.
Syaikh Mohammad Sharifani menilai keadaan tersebut menunjukkan kebersihan jiwa yang luar biasa. Selama puluhan tahun memegang kekuasaan, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei tidak menjadikan jabatan sebagai sarana membangun kepentingan keluarga ataupun memperoleh keuntungan pribadi.
Beliau kemudian mengajak peserta seminar membandingkan keadaan tersebut dengan sejumlah pemimpin dunia yang, menurut beliau, justru memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan pribadi. Syaikh Mohammad Sharifani mencontohkan beberapa tokoh seperti Muammar Gaddafi dan Saddam Hussein sebagai pemimpin yang dalam berbagai catatan sejarah dikaitkan dengan penyalahgunaan kekuasaan.
Beliau juga menyinggung adanya sejumlah penguasa dalam sejarah yang memiliki gaya hidup berlebihan, termasuk membangun harem yang dihuni ratusan perempuan demi memenuhi kepentingan pribadi mereka. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, kehidupan seperti itu sama sekali tidak pernah ditemukan pada sosok Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Keistimewaan ketiga, lanjut beliau, adalah konsistensi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dalam membangun tradisi keilmuan di tengah masyarakat. Selama memimpin, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei secara rutin mengadakan pertemuan ilmiah setiap hari Rabu. Melalui forum tersebut, beliau menyampaikan pandangan-pandangan yang didasarkan pada kajian ilmiah dan argumentasi yang mendalam.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa tema-tema yang dibahas Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sangat beragam, mulai dari persoalan keluarga, pendidikan, hauzah, perguruan tinggi, hingga berbagai persoalan sosial kemasyarakatan. Menurut beliau, seluruh pembahasan tersebut selalu disampaikan dengan landasan ilmu pengetahuan, bukan sekadar pandangan yang bersifat emosional ataupun politis.
Beliau menambahkan bahwa seluruh pidato dan ceramah ilmiah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei selama kurang lebih empat puluh tahun telah dihimpun menjadi empat puluh jilid buku. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, kumpulan karya tersebut merupakan khazanah keilmuan yang sangat berharga karena memuat panduan dan peta jalan bagi kehidupan masyarakat apabila dipelajari secara mendalam.
Syaikh Mohammad Sharifani menilai bahwa berbagai pemikiran yang tertuang dalam empat puluh jilid tersebut mampu memberikan tuntunan mengenai langkah-langkah yang seharusnya ditempuh umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Menutup sambutannya, beliau menyampaikan rencana untuk mengusulkan kepada Syura ICC agar diadakan kajian rutin terhadap karya-karya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Menurut usulan tersebut, setiap bulan setelah salat Jumat akan dipilih satu jilid buku untuk dikaji oleh seorang ustaz, kemudian hasil telaahnya disampaikan kepada masyarakat dalam sebuah forum ilmiah.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa apabila kegiatan tersebut dilaksanakan secara konsisten setiap bulan, maka seluruh empat puluh jilid karya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dapat dituntaskan dalam waktu sekitar empat tahun. Dengan cara itu, menurut beliau, masyarakat akan semakin mudah memanfaatkan arahan, pemikiran, dan ceramah ilmiah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.



