Skip to main content

Khutbah Jumat di ICC Jakarta pada Jumat, 17 Juli 2026, menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani yang pada khutbah pertama mengajak jamaah bertakwa dan melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang amalan-amalan yang dapat menjadi penebus dosa. Pada khutbah kedua, beliau menyoroti peristiwa besar berupa pengantaran jenazah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang dihadiri puluhan juta manusia, lalu menjadikannya sebagai bahan renungan tentang rahasia cinta Allah swt kepada hamba-hamba saleh.

Pada khutbah pertama, Syaikh Mohammad Sharifani memulai dengan berwasiat kepada diri sendiri dan kepada kaum mukminin serta mukminat agar senantiasa bertakwa kepada Allah swt. Beliau kemudian menyambung pembahasan dari pertemuan sebelumnya yang telah mengulas sepuluh poin tentang apa yang harus dilakukan ketika seseorang tergelincir ke dalam dosa. Pada kesempatan itu, beliau mengangkat sebuah hadis dari Rasulullah saw yang dinilainya sangat menarik karena memuat jawaban atas enam kebutuhan utama manusia.

Beliau mengisahkan seorang yang datang kepada Rasulullah saw dan meminta diajarkan satu amalan yang dapat menjamin enam perkara sekaligus. Enam perkara itu ialah agar Allah swt mencintainya, agar makhluk-makhluk Allah juga mencintainya, agar ia menjadi kaya secara ekonomi, agar tubuhnya sehat, agar umurnya dipanjangkan, dan agar ia dikumpulkan bersama Rasulullah saw di akhirat. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, orang tersebut menunjukkan kecerdasan karena mampu meminta satu amalan yang menghasilkan enam sasaran sekaligus.

Rasulullah saw menjawab bahwa enam keinginan itu memerlukan enam amalan. Jika seseorang ingin dicintai Allah swt, maka ia harus bertakwa kepada-Nya dan menjaga batas-batas ilahi, yakni melaksanakan kewajiban dan meninggalkan yang haram, kemudian melengkapi dirinya dengan amalan sunah serta menjauhi perkara makruh. Jika ia ingin dicintai manusia, maka ia harus berbuat baik kepada mereka dan tidak rakus terhadap apa yang dimiliki orang lain. Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa manusia adalah hamba kebaikan; ketika seseorang berbuat baik, penghormatan dan cinta akan datang kepadanya dengan sendirinya.

Beliau mencontohkan seorang yang sangat dicintai masyarakat di kotanya karena setiap pagi membagikan buah tin kepada orang-orang yang ditemuinya. Kebiasaan kecil itu, menurut beliau, membuat orang-orang menaruh simpati dan cinta kepadanya. Ketika orang itu hendak membangun sekolah, masyarakat pun dengan mudah membantu. Dari sana, Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa siapa pun yang ingin dicintai harus lebih dahulu menebarkan kebaikan, bukan berharap dicintai tanpa memberi manfaat kepada orang lain.

Untuk memperoleh harta yang berkah, beliau menjelaskan bahwa seseorang harus membersihkan hartanya dengan zakat. Zakat, menurut beliau, memiliki bentuk wajib seperti zakat mal, zakat fitrah, dan khumus, dan juga bentuk sunah berupa sedekah. Adapun agar tubuh sehat, Rasulullah saw mengajarkan untuk memperbanyak sedekah. Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa sedekah tidak selalu berupa harta besar; bahkan separuh biji kurma dapat menjadi sebab seseorang dijauhkan dari api neraka. Jika tidak memiliki harta, kata-kata yang baik, senyuman, pesan singkat, dan nasihat yang baik pun termasuk sedekah.

Setelah itu, beliau menjelaskan bahwa seseorang yang ingin dipanjangkan umurnya harus menyambung hubungan rahim. Hubungan kekerabatan, menurut beliau, terbagi menjadi hubungan darah dan hubungan karena pernikahan. Dari semua kerabat, orang tua menempati kedudukan paling tinggi dan wajib dihormati, bahkan apabila mereka tidak sejalan dengan keyakinan anaknya. Namun, bila mereka memerintahkan kemusyrikan atau dosa, perintah itu tidak boleh ditaati. Di luar itu, anak tetap wajib berbuat baik dan menjaga hubungan dengan mereka.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian memperluas makna rahim ke dalam dimensi spiritual, yakni Ahlul Bait as. Beliau mengajak jamaah menjaga hubungan dengan Ahlul Bait as melalui selawat setiap hari, doa Nudbah pada hari Jumat, doa Tawassul pada malam Rabu, ziarah ke makam mereka, doa Ahad yang mengikat diri kepada Imam Zaman as, serta menghadiri majelis-majelis duka Ahlul Bait as. Semua itu, menurut beliau, adalah bagian dari cara menjaga hubungan dengan arham maknawi yang sangat berharga.

Untuk memperoleh kedudukan dikumpulkan bersama Rasulullah saw di akhirat, beliau menjelaskan bahwa seseorang harus memperpanjang sujudnya. Dalam salat, sujud adalah posisi terdekat seorang hamba dengan Allah swt. Karena itu, para ulama selalu menasihati agar sujud dipanjangkan, bahkan ada yang menganjurkan membaca zikir Nabi Yunus as sebanyak 360 kali seusai salat Subuh. Syaikh Mohammad Sharifani menyebut bahwa para Imam maksum as pun bersujud berjam-jam lamanya. Menurut beliau, sujud yang panjang menjadi salah satu harapan agar seorang hamba kelak dikumpulkan bersama Rasulullah saw.

Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani kembali berwasiat kepada dirinya sendiri dan kepada jamaah agar senantiasa bertakwa kepada Allah swt. Beliau mengutip firman Allah swt bahwa pakaian takwa adalah yang paling baik bagi manusia. Setelah itu, beliau mengajak jamaah merenungkan sebuah peristiwa besar yang baru-baru ini terjadi, yakni prosesi pengantaran jenazah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang diiringi oleh 30 hingga 40 juta manusia di beberapa kota. Menurut beliau, peristiwa sebesar itu membutuhkan analisa mendalam karena belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia.

Beliau membandingkan peristiwa tersebut dengan sejarah panjang para Imam maksum as. Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as dimakamkan secara sembunyi-sembunyi pada malam hari, dan Imam Husain as gugur dalam keadaan tubuhnya penuh luka, dengan kepala dan badan terpisah. Namun, pada masa kini, cucu dari kedua Imam agung itu justru diiringi oleh puluhan juta manusia hingga pemakamannya. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, pemandangan itu adalah peristiwa yang belum pernah terjadi dalam sejarah dan menjadi tanda betapa besar kedudukan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei di hati umat manusia.

Beliau menjelaskan bahwa orang-orang datang dengan kerelaan hati, di tengah panas yang menyengat, tanpa imbalan apa pun. Tidak ada yang membayar atau memaksa mereka. Karena itu, menurut beliau, rahasia besarnya cinta tersebut terletak pada bagaimana Allah swt menanamkan mahabbah kepada hamba-Nya yang saleh di dalam hati manusia. Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengaitkannya dengan ucapan salam dalam salat, Assalāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn, yang menurut beliau menunjukkan bahwa ketika seorang hamba menjadi saleh, Allah swt akan menanamkan kecintaan kepadanya di hati banyak orang.

Di akhir khutbah, beliau menginformasikan rencana penyelenggaraan seminar ilmiah untuk membahas berbagai sisi dari fenomena sejarah yang tak tertandingi itu. Beliau juga mengajak para mukmin dan pecinta Ayatullah Sayyid Ali Khamenei untuk mengungkapkan perasaan mereka ketika menyaksikan peristiwa itu melalui televisi maupun media sosial, agar pengalaman spiritual itu dapat dihimpun dan diabadikan. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, pertanyaan besar yang layak direnungkan adalah apakah pernah ada pemimpin negara dalam sejarah manusia yang dicintai sedemikian besar hingga saat wafatnya diiringi oleh puluhan juta manusia seperti Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.