Skip to main content

Peringatan Arbain Imam Husain as yang diselenggarakan ICC Jakarta pada Minggu, 2 Agustus 2026 menghadirkan ceramah Ustaz Ahmad Baraqbah yang mengajak jemaah memperdalam kecintaan kepada Imam Husain as serta memahami makna perjuangan Karbala sebagai jalan menuju kedekatan dengan Allah swt. Dalam ceramahnya, beliau menegaskan bahwa menghadiri majelis Arbain bukan sekadar mengenang sebuah peristiwa sejarah, melainkan menyatukan hati bersama Rasulullah saw, ahlul bait as, dan seluruh syuhada Karbala dalam duka, kecintaan, serta komitmen untuk menegakkan kebenaran.

Mengawali ceramahnya, Ustaz Ahmad Baraqbah menyampaikan rasa syukur kepada Allah swt atas nikmat yang diberikan kepada seluruh jemaah sehingga dapat hadir dalam majelis Arbain Imam Husain as. Menurut beliau, seluruh bentuk kecintaan kepada Imam Husain as, kemampuan menghadiri majelis duka, serta keinginan untuk mengikuti jalan beliau merupakan karunia Allah swt yang patut disyukuri.

Beliau mengajak seluruh jemaah menyadari bahwa kedekatan kepada Imam Husain as tidak lahir semata-mata karena usaha manusia, melainkan karena hidayah Allah swt. Atas pertolongan-Nya, kaum mukmin dapat mencintai, mengagungkan, dan menaati Imam Husain as sebagaimana mereka diperintahkan untuk berpegang teguh kepada ahlul bait as.

Ustaz Ahmad Baraqbah mengatakan bahwa meskipun kaum mukmin tidak berada di Padang Karbala pada hari Asyura, hati mereka tetap dapat hadir bersama Imam Husain as. Ketika mengenang saat-saat terakhir perjuangan beliau dan mendengar seruan Imam Husain as yang meminta pertolongan, setiap pecinta ahlul bait as hendaknya menjawab dengan penuh keyakinan, “Labbaika ya Husain.” Seruan tersebut merupakan ungkapan kesiapan untuk membela jalan yang diperjuangkan Imam Husain as sekalipun tidak hidup pada masa beliau.

Beliau kemudian mengajak jemaah memperbarui ikrar kesetiaan kepada Rasulullah saw beserta ahlul bait as. Menurut beliau, kecintaan kepada Imam Husain as tidak dapat dipisahkan dari kecintaan kepada Rasulullah saw, Imam Ali as, Sayidah Fatimah Az-Zahra as, Imam Hasan as, Imam Husain as, serta sembilan Imam dari keturunan beliau. Seluruh imam tersebut merupakan mata rantai hidayah yang harus diikuti oleh setiap mukmin.

Dalam penjelasannya, Ustaz Ahmad Baraqbah menegaskan bahwa memperingati tragedi Karbala merupakan bagian dari menjalankan bimbingan para Imam. Dengan menghadiri majelis-majelis duka, kaum mukmin diajak terus mengenang pengorbanan Imam Husain as, keluarga beliau, dan para sahabat yang gugur demi mempertahankan agama Allah swt.

Beliau mengungkapkan bahwa kehadiran di majelis seperti ini menghadirkan kenikmatan ruhani yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan duniawi. Bahkan, menurut beliau, bukan manusia yang menghidupkan majelis Imam Husain as, melainkan majelis itulah yang menghidupkan hati manusia. Melalui majelis tersebut, seseorang dibimbing untuk semakin mengenal Rasulullah saw, Imam Ali as, Sayidah Fatimah Az-Zahra as, Imam Hasan as, Imam Husain as, Sayidah Zainab as, serta seluruh keluarga Rasulullah saw yang telah mengorbankan segala yang mereka miliki di jalan Allah swt.

Ustaz Ahmad Baraqbah juga mengingatkan bahwa tragedi Karbala bukan hanya berkaitan dengan Imam Husain as seorang diri. Peristiwa itu juga menghadirkan teladan luar biasa dari para sahabat beliau yang sering kali kurang dikenal oleh umat Islam. Beliau kemudian menyebut sejumlah tokoh seperti Abul Fadl Abbas as, Ali Al-Akbar as, Habib bin Muzahir, Muslim bin Ausajah, Zuhair bin Qain, Al-Hurr Ar-Riyahi, Abdullah bin Afif, Muhammad bin Basyir Al-Hadhrami, dan para syuhada lainnya yang telah mengorbankan jiwa mereka demi membela Imam Husain as. Menurut beliau, nama-nama tersebut semestinya selalu dikenang karena mereka adalah teladan kesetiaan yang luar biasa.

Untuk menunjukkan kemuliaan para sahabat Karbala, Ustaz Ahmad Baraqbah mengutip pernyataan Imam Husain as yang memuji mereka.

“Sesungguhnya aku tidak mengetahui sahabat yang lebih setia dan lebih baik daripada sahabat-sahabatku. Aku juga tidak mengetahui keluarga yang lebih berbakti dan lebih menjaga tali kekeluargaan daripada keluargaku.”

Beliau menjelaskan bahwa kesaksian tersebut memiliki makna yang sangat besar. Imam Husain as pernah hidup bersama Rasulullah saw dan Imam Ali as serta mengenal banyak tokoh mulia pada zamannya. Namun, beliau tetap menyatakan bahwa para sahabat yang mendampinginya di Karbala merupakan sahabat-sahabat terbaik yang pernah beliau miliki. Hal itu menunjukkan betapa tinggi kualitas keimanan, kesetiaan, dan pengorbanan mereka.

Menurut Ustaz Ahmad Baraqbah, orang yang tidak mempelajari peristiwa Karbala dengan hati yang jernih mungkin akan sulit menerima keagungan para sahabat tersebut. Padahal, justru dari merekalah umat Islam belajar arti pengorbanan yang sesungguhnya.

Beliau kemudian menegaskan bahwa majelis duka Imam Husain as bukanlah sekadar tempat menangis. Majelis seperti ini telah melahirkan para ulama pejuang, orang-orang yang berani menentang kezaliman, serta jutaan syuhada sepanjang sejarah. Air mata yang ditumpahkan dalam mengenang Imam Husain as, menurut beliau, adalah air mata yang menghidupkan hati, melembutkan perasaan, menumbuhkan kecintaan kepada para kekasih Allah swt, sekaligus membangkitkan keberanian untuk membela kaum tertindas.

Sebagai contoh nyata, beliau menunjuk berbagai perjuangan umat Islam pada masa kini yang membela masyarakat tertindas, termasuk rakyat Palestina dan berbagai kelompok lain yang menjadi korban kezaliman. Menurut beliau, semangat tersebut lahir dari kecintaan kepada Imam Husain as yang menjadikan beliau sebagai imam, teladan, dan pedoman hidup, bukan sekadar sosok yang dicintai dalam ungkapan lisan semata.

Mengakhiri ceramahnya, Ustaz Ahmad Baraqbah mengingatkan bahwa kedudukan Imam Husain as sebagai imam merupakan ketetapan Allah swt yang disampaikan melalui Rasulullah saw. Karena itu, mengikuti Imam Husain as bukanlah mengikuti pilihan suatu kelompok tertentu, melainkan mengikuti pemimpin yang telah ditetapkan oleh Allah swt demi menjaga kesinambungan petunjuk bagi umat manusia.