Khutbah Jumat ICC Jakarta pada Jumat, 21 Agustus 2026, disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani dengan membahas faktor-faktor yang dapat menyebabkan manusia terjerumus ke dalam dosa, khususnya faktor yang berasal dari lingkungan keluarga. Beliau menjelaskan bahwa pada beberapa pertemuan sebelumnya telah dibahas faktor-faktor yang berkaitan dengan kondisi alamiah manusia serta faktor budaya dan sosial. Pada kesempatan kali ini, pembahasan diarahkan pada bagaimana keluarga, terutama ayah dan ibu, berperan dalam mendidik anak sehingga dapat membentuk pribadi yang baik atau, sebaliknya, menyeretnya kepada keburukan dan dosa.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa setidaknya terdapat tiga faktor penting di lingkungan keluarga yang sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak. Faktor pertama adalah kesucian dan kebaikan keluarga. Keluarga yang menjaga kesucian, kebaikan, kesalehan, serta kepedulian terhadap ajaran agama akan lebih memungkinkan melahirkan anak-anak yang baik dan suci. Sebaliknya, terdapat keluarga yang tidak memberikan perhatian terhadap persoalan halal dan haram, ajaran agama, serta aturan etika. Lingkungan keluarga seperti ini tentu memiliki pengaruh terhadap pembentukan pribadi anak.
Beliau mengibaratkan hal tersebut dengan sebuah permata. Permata yang memang merupakan sesuatu yang suci dan bersih memiliki nilai yang sangat tinggi. Sementara itu, tidak semua batu dapat berubah menjadi batu permata yang dapat digunakan untuk menghiasi sesuatu. Karena itu, dalam berbagai riwayat umat Islam dianjurkan untuk berhubungan dengan keluarga-keluarga yang baik, keluarga yang peduli terhadap ajaran agama, kesalehan, dan kesucian.
Dalam tradisi ziarah kepada para imam, misalnya dalam ziarah kepada Imam Husain as, terdapat kesaksian bahwa beliau berasal dari sulbi-sulbi yang agung dan rahim-rahim yang suci. Hal tersebut menunjukkan bahwa para imam berasal dari keluarga-keluarga yang suci. Kesucian keluarga menjadi bagian penting dalam membentuk pribadi manusia.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengingatkan kisah Nabi Nuh as. Setelah berdakwah selama ratusan tahun dan tidak memperoleh sambutan dari kaumnya, Nabi Nuh as memohon kepada Allah swt agar tidak menyisakan seorang pun dari orang-orang kafir tersebut. Beliau khawatir apabila mereka dibiarkan hidup, mereka akan melahirkan keturunan yang juga menjadi orang-orang buruk dan kafir. Dari sini, menurut beliau, dapat dipahami bagaimana kondisi keluarga dan lingkungan dapat memberikan pengaruh besar terhadap generasi yang dilahirkan darinya.
Beliau kemudian mengaitkannya dengan kisah Imam Ali as setelah syahidnya Sayidah Fatimah Az-Zahra as. Ketika Imam Ali as mencari seorang istri, beliau menginginkan seorang perempuan yang berasal dari keluarga baik dan dapat melahirkan anak-anak yang pemberani serta memiliki keutamaan. Kemudian dipilihlah Fatimah Ummul Banin yang kelak menjadi ibu dari anak-anak yang pemberani dan mulia, termasuk Abul Fadhl Abbas.
Syaikh Mohammad Sharifani juga mengutip pesan Imam Ali as kepada Malik Al-Asytar ketika mengangkatnya sebagai gubernur Mesir. Imam Ali as menekankan agar Malik berhubungan dengan orang-orang yang memiliki keterikatan dengan ajaran-ajaran yang baik dan rumah-rumah yang saleh. Menurut beliau, penekanan tersebut menunjukkan bahwa seseorang tidak dianjurkan bergaul secara sembarangan karena pergaulan sangat menentukan pembentukan pribadi seseorang.
Hal yang sama juga ditekankan Rasulullah saw ketika memberikan nasihat kepada seseorang yang hendak menikah. Rasulullah saw mengingatkan agar seseorang tidak memilih perempuan yang secara lahir tampak baik, tetapi berasal dari lingkungan keluarga yang buruk. Dalam riwayat tersebut digunakan istilah khadhra ad-diman, yaitu sesuatu yang tampak hijau tetapi tumbuh di tempat yang kotor. Ketika ditanya apa yang dimaksud dengan hal tersebut, Rasulullah saw menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah perempuan yang salehah tetapi berasal dari lingkungan yang buruk.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, penekanan tersebut menunjukkan bahwa ketika seseorang hendak menikah, salah satu hal yang harus diperhatikan adalah keluarga dari calon pasangan. Karena itu, umat juga diingatkan agar tidak menikahkan anak dengan seseorang yang gemar meminum khamar atau seseorang yang dungu. Semua itu memiliki pengaruh dalam membentuk anak dan keturunan yang akan lahir dari pernikahan tersebut.
Faktor kedua adalah pendidikan. Setelah memperoleh pasangan yang baik dan berasal dari keluarga yang menjaga kesucian serta ajaran agama, tugas orang tua tidak berhenti pada pernikahan. Ketika anak-anak lahir, mereka tidak boleh ditelantarkan dari sisi pendidikan. Menurut beliau, pendidikan sangat penting, terlebih pada zaman digital ketika berbagai hal dapat masuk ke dalam lingkungan keluarga tanpa anak harus keluar dari rumah.
Syaikh Mohammad Sharifani mengutip riwayat dari Rasulullah saw yang menganjurkan agar orang tua membantu anak-anak mereka melakukan kebaikan, termasuk berbakti kepada kedua orang tua. Salah satu caranya adalah memberikan pendidikan yang baik. Pendidikan yang baik akan membuat anak menjadi baik dan memudahkannya melakukan berbagai kebaikan, termasuk berbakti kepada ayah dan ibunya.
Dalam riwayat lainnya juga disebutkan agar orang tua menghormati anak-anak mereka dan mengajarkan akhlak yang baik kepada mereka. Karena itu, anak tidak boleh dibiarkan tumbuh dengan perilaku yang buruk dan menyimpang. Beliau mengibaratkan anak seperti tanaman yang harus dijaga oleh seorang tukang kebun. Tanaman tidak boleh dibiarkan terkena hama, benalu, atau sesuatu yang dapat merusaknya. Demikian pula anak harus terus dijaga agar tumbuh dengan baik.
Penjagaan tersebut juga mencakup makanan yang dikonsumsi oleh keluarga. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa makanan yang halal memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter seseorang. Karena itu, Allah swt dalam Al-Qur’an menyebutkan berbagai makanan yang diharamkan.
Ḥurrimat ‘alaikumul-maitatu wad-damu wa laḥmul-khinzīri wa mā uhilla bihī lighairillāh.
“Diharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan daging hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 173)
Menurut beliau, larangan terhadap makanan-makanan tersebut bukan sekadar persoalan makanan, tetapi juga berkaitan dengan pengaruhnya terhadap manusia. Makanan yang haram dapat memberikan pengaruh terhadap pembentukan karakter dan pendidikan seseorang.
Allah swt juga mengingatkan mengenai orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim. Apa yang mereka masukkan ke dalam perut mereka pada hakikatnya adalah api. Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan kembali pesan Rasulullah saw agar manusia memperhatikan apa yang mereka makan dan tidak memasukkan sesuatu yang haram ke dalam perut. Hal tersebut memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan kejiwaan seseorang.
Beliau menjelaskan bahwa secara tabiat dan alamiah, manusia dilahirkan dalam keadaan baik. Manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang memiliki kecenderungan kepada kebaikan. Namun, makanan haram yang masuk ke dalam tubuh dapat memengaruhi kondisi tersebut dan mengotori pribadi manusia.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menceritakan kisah Ayatullah Syaikh Fadhlullah Nuri, salah seorang tokoh besar dalam gerakan Revolusi Konstitusi di Iran sebelum masa Pahlavi. Beliau dijatuhi hukuman mati dan kemudian syahid. Namun, setelah beliau meninggal dunia, anaknya justru tertawa ketika melihat jenazah ayahnya. Menurut kisah yang disampaikan beliau, setelah ditelusuri, anak tersebut ketika masih kecil pernah meminum air susu dari seorang perempuan Yahudi di Iran. Kisah tersebut, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, menjadi pengingat tentang bagaimana sesuatu yang masuk ke dalam tubuh, termasuk makanan atau susu, dapat memberikan pengaruh terhadap jiwa dan pribadi seseorang.
Beliau kemudian mengingatkan kisah Imam Husain as di Karbala. Imam Husain as telah menyampaikan banyak pidato dan nasihat kepada pasukan Ibnu Ziyad. Namun, pada akhirnya beliau mengatakan bahwa nasihat-nasihat tersebut tidak akan memberikan pengaruh kepada mereka karena perut mereka telah dipenuhi oleh sesuatu yang haram. Karena itu, persoalan makanan menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan dalam pendidikan keluarga dan pembentukan karakter anak.
Syaikh Mohammad Sharifani selanjutnya mengutip Surah Ali Imran ayat 37 untuk menunjukkan bagaimana sebuah keluarga dapat melahirkan seorang manusia agung seperti Nabi Isa as. Allah swt berfirman:
Fataqabbalahā rabbuhā biqabūlin ḥasanin wa anbatahā nabātan ḥasanaw wa kaffalahā Zakariyyā.
“Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria.” (QS. Ali Imran [3]: 37)
Beliau menjelaskan bahwa Sayidah Maryam sejak awal telah berada dalam lingkungan yang sangat baik. Ibunya menazarkan anak yang berada dalam kandungannya untuk mengabdi kepada Allah swt. Ketika ternyata anak yang dilahirkan adalah perempuan, ibunda Maryam tetap menyerahkan nazarnya kepada Allah swt. Allah menerima nazar tersebut dengan penerimaan yang baik.
Setelah itu, Allah swt membesarkan Maryam dengan pertumbuhan yang baik. Maryam kemudian berada di bawah pemeliharaan Nabi Zakaria as. Dengan demikian, sejak awal kehidupannya, Maryam berada dalam lingkungan yang suci, mendapatkan pendidikan dari seorang nabi, serta mendapatkan makanan yang baik dan suci.
Al-Qur’an menceritakan bahwa setiap kali Nabi Zakaria as memasuki mihrab Maryam, beliau mendapati makanan berada di sisinya. Nabi Zakaria as kemudian bertanya dari mana makanan tersebut berasal.
Qāla yā Maryamu annā laki hādzā qālat huwa min ‘indillāh.
“Dia (Zakaria) berkata, ‘Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?’ Dia (Maryam) menjawab, ‘Itu dari Allah.’” (QS. Ali Imran [3]: 37)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, semua unsur tersebut memperlihatkan bagaimana lingkungan keluarga, penerimaan yang baik dari Allah swt, pendidikan yang baik, serta makanan yang suci dapat menjadi bagian dari proses pembentukan manusia yang agung. Maryam kemudian melahirkan Nabi Isa as yang dikenal sebagai Ruhullah.
Beliau menegaskan bahwa manusia sekarang bukan nabi dan tidak akan menjadi nabi. Namun, manusia tetap dapat berjalan di jalan para nabi. Salah satu caranya adalah memperhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang dimakan, bagaimana anak dididik, serta bagaimana lingkungan keluarga dibentuk. Dari sinilah keluarga memiliki peran penting dalam menjaga kesucian dan kebaikan generasi.
Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan momen pada pekan tersebut. Beliau menyampaikan selamat atas hari besar Nahdlatul Ulama sebagai salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia yang memiliki peran besar dalam kegiatan kebudayaan, keagamaan, keilmuan, serta membantu masyarakat yang tertimpa musibah dan bencana.
Beliau juga menyinggung peringatan hari kemanusiaan. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, persoalan kemanusiaan pada masa sekarang menjadi salah satu persoalan yang paling kurang mendapatkan perhatian dunia. Padahal, Islam memiliki konsep kemanusiaan yang sangat agung.
Beliau mengingatkan sebuah peristiwa ketika Rasulullah saw menghadiri prosesi pemakaman seorang Yahudi. Ketika sejumlah orang memprotes kehadiran Rasulullah saw karena orang yang meninggal tersebut adalah seorang Yahudi yang semasa hidupnya tidak menyukai Rasulullah saw dan cenderung memusuhinya, Rasulullah saw mengingatkan mereka dengan sebuah pertanyaan: bukankah orang yang meninggal tersebut juga merupakan manusia?
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, prinsip kemanusiaan tersebut juga terlihat dalam pesan Imam Ali as kepada Malik Al-Asytar ketika mengutusnya sebagai gubernur Mesir. Imam Ali as berpesan agar Malik berbuat baik kepada orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya karena mereka terdiri atas dua kelompok: saudara dalam agama atau saudara dalam penciptaan.
Imma akhun laka fid-dīn, wa immā naẓīrun laka fil-khalq.
“Boleh jadi dia adalah saudaramu dalam agama atau sesamamu dalam penciptaan.”
Beliau menjelaskan bahwa prinsip tersebut merupakan ajaran Ahlul Bait as sekaligus ajaran Islam yang menempatkan kemanusiaan pada posisi yang tinggi. Masih terdapat banyak riwayat dari ahlul bait as yang mengagungkan persoalan kemanusiaan.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menyinggung situasi kemanusiaan di Gaza. Beliau menyebut bahwa puluhan ribu orang telah menjadi korban pembantaian, sementara suara yang secara tegas menentang tindakan yang dianggapnya tidak manusiawi tersebut masih sangat terbatas. Beliau kemudian menyebut adanya seorang tokoh yang dengan tegar, tegas, dan tanpa rasa takut menyatakan dukungan besar kepada Palestina.
Menutup khutbah, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa umat Islam akan segera memperingati kelahiran Rasulullah saw. Beliau menyebut Rasulullah saw sebagai nabi yang menjadi kebanggaan alam semesta dan menyampaikan kebanggaan menjadi bagian dari umat yang mengikuti beliau.



