Skip to main content

Khutbah Jumat di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Jumat, 31 Juli 2026, disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani dengan tema tentang dosa-dosa yang dapat menghapus amal perbuatan manusia. Melanjutkan rangkaian pembahasan mengenai hakikat dosa pada khutbah-khutbah sebelumnya, beliau menjelaskan bahwa sebagian dosa bukan hanya mendatangkan musibah atau menghalangi terkabulnya doa, tetapi juga dapat menghilangkan pahala amal yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun. Pada khutbah kedua, beliau mengajak jamaah menyambut Arba’in Imam Husain as, memperingati akhir bulan Safar, sekaligus mengajak seluruh jamaah menjaga dan memakmurkan ICC Jakarta.

Mengawali khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa pada beberapa pertemuan sebelumnya telah dibahas mengenai hakikat dosa beserta dampaknya terhadap kehidupan manusia, mulai dari dosa yang menyebabkan doa tidak dikabulkan hingga dosa yang mengubah nikmat menjadi bencana. Pada kesempatan kali ini, beliau mengajak jamaah memahami bahaya dosa yang dapat menghapus amal perbuatan sehingga berbagai ibadah yang telah dilakukan seolah-olah tidak pernah tercatat di sisi Allah swt.

Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an menggunakan istilah habthul a’mal, yaitu keadaan ketika amal-amal manusia menjadi sia-sia dan tidak lagi memiliki nilai di hadapan Allah swt. Menurut beliau, ada tiga bentuk hilangnya amal perbuatan.

Bentuk pertama adalah dosa yang menghapus seluruh amal kebaikan yang pernah dilakukan seseorang sepanjang hidupnya. Syaikh Mohammad Sharifani memberikan contoh orang yang telah beribadah selama puluhan tahun, tetapi seluruh amalnya lenyap hanya karena melakukan perbuatan tertentu. Di antara dosa tersebut adalah syirik kepada Allah swt serta pembunuhan terhadap sesama manusia. Beliau menegaskan bahwa dosa semacam ini dapat menggugurkan seluruh pahala yang telah dikumpulkan seseorang.

Bentuk kedua adalah dosa yang hanya menghapus pahala amal tertentu. Beliau mencontohkan seseorang yang melaksanakan salat dengan riya, yakni beribadah agar dipuji atau dilihat orang lain. Dalam keadaan seperti itu, pahala salatnya menjadi gugur, tetapi pahala amal-amal lain seperti puasa, sedekah, atau haji tetap tercatat di sisi Allah swt.

Adapun bentuk ketiga adalah dosa yang tidak membatalkan amal, tetapi mengurangi nilainya. Syaikh Mohammad Sharifani mencontohkan orang yang berpuasa namun tetap melakukan gibah. Puasanya tetap sah menurut syariat, tetapi nilai puasanya jauh berkurang dibandingkan orang yang menjalankan puasa sambil menjaga lisan, memperbanyak zikir, dan menjauhi berbagai kemaksiatan.

Beliau kemudian mengajak jamaah mengambil pelajaran dari kisah iblis sebagaimana dijelaskan Amirul Mukminin Imam Ali as dalam Khutbah Qashi’ah yang terdapat dalam Nahjul Balaghah. Menurut riwayat, iblis telah beribadah kepada Allah swt selama enam ribu tahun dengan penuh ketulusan. Namun ketika Allah swt memerintahkannya bersujud kepada Nabi Adam as, ia menolak karena kesombongan. Akibat satu bentuk pembangkangan tersebut, seluruh amal ibadah yang telah dilakukannya selama ribuan tahun menjadi sia-sia.

Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa apabila iblis yang telah beribadah selama enam ribu tahun saja dapat kehilangan seluruh amalnya karena kesombongan, maka manusia yang masa ibadahnya jauh lebih singkat tentu harus lebih berhati-hati. Karena itu, beliau mengajak jamaah senantiasa melakukan muraqabah atau pengawasan terhadap diri sendiri agar tidak terjerumus ke dalam dosa yang menghapus amal.

Beliau juga mengutip sabda Rasulullah saw yang menyebutkan bahwa pada Hari Kiamat akan ada sekelompok manusia yang pada malam hari rajin beribadah kepada Allah swt, tetapi seluruh amal mereka dijadikan sia-sia. Penyebabnya ialah ketika berada sendirian mereka tidak mampu menahan diri dari melakukan berbagai perbuatan yang telah diharamkan Allah swt.

Selanjutnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan beberapa dosa yang secara tegas disebutkan Al-Qur’an dapat menggugurkan amal perbuatan. Pertama adalah kekafiran dan kemurtadan. Beliau menerangkan bahwa seseorang yang keluar dari agama Islam setelah beriman akan kehilangan seluruh amal yang pernah dikerjakannya.

Kedua ialah mendustakan ayat-ayat Allah swt. Menurut beliau, seseorang mungkin masih mengaku beriman, tetapi mengingkari sesuatu yang telah menjadi ketetapan pasti dalam agama juga termasuk sebab gugurnya amal.

Ketiga adalah syirik kepada Allah swt. Beliau mengingatkan firman Allah swt yang menyatakan bahwa seandainya Rasulullah saw berbuat syirik—sesuatu yang mustahil terjadi pada beliau—maka seluruh amal beliau pun akan gugur. Dari tiga contoh tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa semuanya memiliki akar yang sama, yaitu bentuk pengingkaran terhadap Allah swt.

Beliau kemudian mengingatkan bahwa meskipun kaum muslimin tidak termasuk orang-orang musyrik atau murtad, masih terdapat berbagai dosa akhlak yang juga dapat menghapus pahala amal sehingga setiap mukmin harus selalu berhati-hati.

Dosa pertama ialah mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah diberikan kepada orang lain. Menurut beliau, seseorang mungkin telah membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, atau memberikan berbagai bantuan kepada sesama, tetapi ketika bantuan itu terus diungkit hingga menyakiti hati penerimanya, maka pahala amal tersebut dapat gugur. Allah swt telah memperingatkan agar manusia tidak membatalkan sedekah mereka dengan mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti perasaan orang lain.

Dosa berikutnya adalah riya. Beliau menjelaskan bahwa orang yang beribadah demi memperoleh pujian manusia pada hakikatnya sedang meminta balasan dari manusia, bukan dari Allah swt. Karena itu, amal yang dilakukan dengan tujuan pamer tidak lagi memiliki nilai di sisi-Nya. Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan firman Allah swt tentang kecelakaan bagi orang-orang yang salat, yaitu mereka yang beribadah hanya untuk dilihat oleh manusia.

Beliau juga menyoroti pentingnya menjaga adab kepada Rasulullah saw. Ayat Al-Qur’an yang melarang mengangkat suara di hadapan Nabi menunjukkan bahwa sikap tidak sopan kepada Rasulullah saw dapat menyebabkan gugurnya amal. Menurut beliau, para ulama memahami bahwa semangat ayat tersebut juga berlaku terhadap orang-orang yang wajib dihormati, seperti kedua orang tua. Oleh sebab itu, bersikap kasar dan kurang ajar kepada ayah maupun ibu merupakan dosa besar yang harus dihindari.

Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan jamaah bahwa akhir bulan Safar diisi oleh sejumlah peringatan penting. Yang pertama adalah Arba’in Imam Husain as. Beliau menggambarkan jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia yang berjalan menuju Karbala sebagai sebuah fenomena yang tidak memiliki tandingan dalam sejarah. Menurut beliau, pawai besar tersebut bukan sekadar perjalanan ziarah, tetapi juga menjadi persiapan spiritual untuk menyongsong kemunculan Sahibul Ashri waz Zaman af.

Beliau menyampaikan bahwa ICC Jakarta juga akan menyelenggarakan peringatan Arba’in. Selain itu, pada 28 Safar akan diadakan peringatan wafat Rasulullah saw, syahadah Imam Hasan al-Mujtaba as, dan syahadah Imam Ridha as. Syaikh Mohammad Sharifani berharap para pecinta Rasulullah saw dan ahlul bait as dapat menghadiri serta menyemarakkan seluruh rangkaian kegiatan tersebut, baik di ICC maupun di berbagai daerah di Indonesia.

Pada bagian akhir khutbah, beliau menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang sejak dahulu aktif mengembangkan Islamic Cultural Center. Syaikh Mohammad Sharifani mengungkapkan bahwa sejak ditugaskan di ICC sekitar satu tahun sebelumnya, beliau memiliki keinginan menjadikan lingkungan pusat kegiatan tersebut lebih bersih, nyaman, dan menarik bagi masyarakat. Berbagai perbaikan pun dilakukan, mulai dari pengecatan gedung, penataan fasilitas, penyediaan ruang pertemuan di lantai tiga, hingga penggantian karpet aula agar jamaah dapat beribadah dengan lebih nyaman.

Beliau menjelaskan bahwa kebersihan merupakan bagian dari tuntunan agama sekaligus menghadirkan suasana yang menyenangkan bagi siapa pun yang datang. Karena itu, beliau mengajak seluruh jamaah ikut menjaga fasilitas yang telah disiapkan, termasuk tidak membawa makanan atau minuman ke dalam ruang utama agar karpet tetap bersih dan dapat digunakan dalam waktu yang lama.

Menutup khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa seluruh perbaikan di ICC tidak mungkin terwujud tanpa dukungan jamaah serta bantuan pemikiran dari rekan-rekan yang bersama-sama mengelola Islamic Cultural Center. Beliau berharap Allah swt memberikan pahala kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menjaga dan mengembangkan pusat kegiatan Islam tersebut demi kemaslahatan umat.