Skip to main content

Dalam kajian Kelas Tafsir Maudhu’i ICC Jakarta pada Kamis, 3 September 2026, Syaikh Mohammad Sharifani membahas kemuliaan berpikir atau bertafakur. Beliau menjelaskan sejumlah riwayat yang menunjukkan bahwa tafakur memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam ajaran Islam. Menurut beliau, memahami kemuliaan berpikir penting karena apa yang memenuhi pikiran seseorang pada akhirnya dapat mengarahkan dirinya kepada sesuatu yang dipikirkannya.

Syaikh Mohammad Sharifani mengawali pembahasan dengan menjelaskan bahwa tafakur atau berpikir merupakan salah satu bentuk ibadah yang paling utama. Beliau mengutip riwayat dari Imam Ja’far Shadiq as:

“Sebaik-baik ibadah adalah membiasakan diri berpikir tentang Allah dan kekuasaan-Nya.”

Riwayat tersebut, beliau jelaskan, terdapat dalam kitab Al-Kafi jilid 2 halaman 55. Dari riwayat itu, Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa yang dimaksud dengan berpikir tentang Allah bukanlah memikirkan zat Allah swt. Manusia tidak akan mampu mencapai hakikat zat Allah hanya dengan pikirannya. Bahkan, apabila seseorang mencoba memikirkan zat Allah swt, hal itu justru dapat membuatnya kebingungan karena manusia tidak akan mampu mencapai hakikat-Nya.

Karena itu, yang perlu dipikirkan adalah keagungan Allah swt, sifat-sifat Ilahi, dan berbagai kemuliaan yang dimiliki-Nya. Hal-hal tersebutlah yang semestinya menjadi objek renungan manusia ketika bertafakur tentang Allah swt.

Beliau menjelaskan bahwa apabila seseorang ingin memiliki pemikiran yang mulia, tinggi, dan bermanfaat, hendaknya ia mengarahkan pikirannya kepada sesuatu yang tinggi dan agung, yaitu akhirat. Jangan sampai pikiran hanya dipenuhi oleh perkara dunia yang bersifat fana.

Ketika seseorang memahami hakikat akhirat sebagai tujuan hakiki manusia yang agung, umurnya akan digunakan untuk memakmurkan kehidupan akhiratnya. Ia tidak akan memberikan perhatian secara berlebihan kepada dunia karena menyadari bahwa dunia merupakan sesuatu yang fana. Dengan demikian, manusia semestinya lebih banyak memikirkan sesuatu yang abadi daripada sesuatu yang fana.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan bahwa apa yang dipikirkan seseorang dapat membawanya menuju sesuatu yang dipikirkannya. Beliau mengutip perkataan Imam Ali as:

“Barang siapa yang banyak berpikir tentang dosa, maka lama-kelamaan pikirannya akan menyeretnya kepada dosa tersebut.”

Karena itu, manusia harus berhati-hati terhadap apa yang memenuhi pikirannya. Seseorang yang pikirannya hanya berputar pada urusan perut dan kebutuhan fisik akan terus diarahkan oleh pikirannya kepada pemenuhan kebutuhan tersebut. Lebih berbahaya lagi apabila pikiran tersebut dipenuhi keinginan untuk melakukan dosa.

Pada awalnya seseorang mungkin hanya berpikir, “Saya ingin ini” atau “Saya ingin itu”. Namun, apabila pikiran tersebut terus dipelihara, lama-kelamaan ia dapat terseret untuk melakukan apa yang selama ini dipikirkannya. Demikian pula seseorang yang memiliki keinginan untuk melakukan korupsi dan mengambil uang dengan cara yang tidak halal. Keinginan tersebut dapat bermula dari pikiran, kemudian secara bertahap mengarahkan dirinya kepada perbuatan tersebut. Karena itu, menjaga pikiran menjadi sesuatu yang sangat penting.

Dari pembahasan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani kemudian memasuki pertanyaan berikutnya: apa yang menyebabkan seseorang menjadi orang yang mudah berpikir dan memiliki kebiasaan bertafakur? Apa yang membuat seseorang menjadi ahli tafakur?

Beliau menjelaskan bahwa salah satu hal yang dapat membentuk kebiasaan tersebut adalah memahami ayat-ayat Ilahi. Ketika seseorang memandang alam di sekelilingnya, seperti pohon, bintang, galaksi, planet, dan berbagai warna yang ada di sekitarnya, semua itu merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah swt. Ketika melihat tanda-tanda kekuasaan Ilahi tersebut, manusia seharusnya berpikir dan merenungkannya. Ia dapat bertanya bagaimana semua itu bisa terjadi, bagaimana prosesnya, dan bagaimana keteraturan tersebut dapat berlangsung.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengaitkannya dengan firman Allah swt dalam Surah Al-Baqarah ayat 73:

Faqulnā iḍribūhu biba‘ḍihā, kadzālika yuḥyillāhul-mautā wa yurīkum āyātihī la‘allakum ta‘qilūn.

“Lalu Kami berfirman, ‘Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota tubuh sapi itu.’ Demikianlah Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (QS. Al-Baqarah [2]: 73)

Beliau kemudian mengingatkan kembali kisah Bani Israil yang terdapat dalam ayat tersebut. Pada waktu itu terdapat seseorang yang terbunuh dan kelompok Bani Israil saling menuduh mengenai siapa yang menjadi pembunuhnya. Allah swt kemudian memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi. Sebagian dari tubuh sapi tersebut kemudian dipukulkan kepada orang yang telah meninggal itu sehingga ia hidup kembali dan dapat memberitahukan siapa pembunuhnya. Dengan demikian, peristiwa pembunuhan tersebut menjadi jelas dan diketahui siapa yang bersalah.

Peristiwa tersebut merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah swt. Apabila Bani Israil mau berpikir dan merenungkan kejadian itu, mereka semestinya dapat memahami kekuasaan Allah swt dan beriman kepada-Nya. Inilah salah satu manfaat berpikir dan merenungkan tanda-tanda kekuasaan Ilahi.

Hal berikutnya yang dapat membuat seseorang menjadi seorang pemikir dan terbiasa bertafakur adalah merenungkan Al-Qur’an dan proses diturunkannya Al-Qur’an. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ayat-ayat Allah dapat dibagi menjadi dua. Pertama adalah ayat takwiniah, yaitu alam sekitar dan alam semesta yang merupakan ciptaan Allah swt, seperti matahari, bulan, bintang, dan seluruh ciptaan yang ada. Kedua adalah ayat tasyri’iyah, yaitu ayat-ayat Al-Qur’an.

Beliau kemudian mengutip firman Allah swt dalam Surah An-Nahl ayat 44:

Bil-bayyināti waz-zubur, wa anzalnā ilaikadz-dzikra litubayyina linnāsi mā nuzzila ilaihim wa la‘allahum yatafakkarūn.

“(Kami mengutus mereka) dengan membawa bukti-bukti yang jelas dan kitab-kitab. Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl [16]: 44)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan agar manusia dapat memahami apa yang telah Allah swt turunkan kepada mereka dan kemudian memikirkannya. Dengan demikian, Al-Qur’an bukan sekadar dibaca, tetapi juga menjadi sarana bagi manusia untuk berpikir dan bertafakur.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengajak jemaah merenungkan aspek lain dari Al-Qur’an, yaitu bahasa yang digunakan Al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, dan hal tersebut juga merupakan sesuatu yang patut direnungkan.

Beliau mengutip firman Allah swt dalam Surah Yusuf ayat 2:

Innā anzalnāhu qur’ānan ‘arabiyyan la‘allakum ta‘qilūn.

“Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arab agar kamu mengerti.” (QS. Yusuf [12]: 2)

Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jemaah untuk merenungkan bahasa Arab yang digunakan Al-Qur’an. Apabila dibandingkan dengan bahasa Indonesia, bahasa-bahasa Eropa, bahasa Inggris, bahasa Thailand, dan bahasa lainnya, bahasa Arab memiliki karakteristik dan kaidah yang berbeda. Kaidah-kaidah dalam bahasa Arab perlu direnungkan dan dipahami secara mendalam agar manusia dapat memahami makna dan hakikat yang terkandung dalam Al-Qur’an dengan lebih baik.

Hal berikutnya yang perlu direnungkan secara mendalam adalah tahapan-tahapan kehidupan manusia. Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jemaah memperhatikan penciptaan manusia sebagaimana digambarkan dalam Surah Ghafir ayat 67. Ketika manusia merenungkan proses penciptaannya, ia akan menemukan sesuatu yang begitu menakjubkan dan layak untuk direnungkan secara mendalam.

Beliau mengutip firman Allah swt:

Huwalladzī khalaqakum min turābin tsumma min nuṭfatin tsumma min ‘alaqatin tsumma yukhrijukum ṭiflan tsumma litablughū asyuddakum tsumma litakūnū syuyūkhan.

“Dialah yang menciptakanmu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian Dia mengeluarkanmu sebagai seorang anak, kemudian membiarkan kamu sampai dewasa, kemudian kamu menjadi tua.” (QS. Ghafir [40]: 67)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan tahapan tersebut satu demi satu. Manusia pada awalnya berasal dari tanah. Setelah itu, penciptaan manusia memasuki tahap nutfah, kemudian menjadi ‘alaqah. Dari tahap tersebut manusia berkembang hingga akhirnya menjadi seorang anak kecil atau ṭiflan.

Setelah masa kanak-kanak, manusia memasuki tahap berikutnya, yaitu masa ketika kekuatannya berkembang dan mencapai kedewasaan. Setelah itu, manusia kembali memasuki tahap usia lanjut ketika kekuatan fisiknya melemah.

Semua itu merupakan tahapan kehidupan manusia yang luar biasa dan patut direnungkan. Manusia perlu memikirkan bagaimana Allah swt menciptakannya dari tanah, kemudian membawanya melewati berbagai tahapan kehidupan, hingga pada akhirnya manusia kembali lagi menjadi tanah.

Bagi Syaikh Mohammad Sharifani, proses tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa. Dengan memikirkan perjalanan penciptaan dan tahapan kehidupan tersebut secara mendalam, manusia dapat memahami hakikat kehidupan sekaligus mengenali kebenaran dan kekuasaan Ilahi.