Skip to main content

Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan pembahasan mengenai kehidupan yang baik dalam Majelis Taklim Akhwat ICC Zainab Al-Kubro, Rabu, 2 September 2026. Dalam kajian tersebut, beliau menjelaskan bahwa salah satu upaya untuk mencapai kehidupan yang baik adalah dengan mengenal Al-Qur’an. Setelah pada pertemuan-pertemuan sebelumnya membahas berbagai karakteristik Al-Qur’an, kali ini beliau menguraikan dua karakter lainnya, dimulai dengan penegasan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar buku untuk dibaca, melainkan kitab Allah yang diturunkan agar manusia mendalami dan merenungkan kandungannya.

Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa agar Al-Qur’an menjadi sarana perenungan, manusia harus menjadikannya sebagai sahabat dan menyenangi kedekatan dengannya. Allah swt berfirman:

Faqra’û mâ tayassara minal-qur’ân.

“Oleh karena itu, bacalah (ayat) Al-Qur’an yang mudah (bagimu).” (QS. Al-Muzzammil [73]: 20)

Menurut beliau, perintah tersebut menunjukkan bahwa manusia harus senantiasa membaca Al-Qur’an agar kitab suci itu benar-benar menjadi sahabat dalam kehidupan. Karena itu, setiap orang perlu menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Imam Ali as juga mengajarkan agar Al-Qur’an dijadikan sebagai sahabat. Namun, kedekatan dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada aktivitas membaca. Manusia harus mengambil pelajaran dan melakukan telaah serta perenungan terhadap ayat-ayatnya, yang disebut dengan tadabbur.

Allah swt berfirman:

A fa lâ yatadabbarûnal-qur’âna am ‘alâ qulûbin aqfâluhâ.

“Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad [47]: 24)

Beliau juga mengutip firman Allah swt:

Kitâbun anzalnâhu ilaika mubârakun liyaddabbarû âyâtihî.

“(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya.” (QS. Sad [38]: 29)

Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa tadabbur merupakan salah satu hal terpenting yang harus dilakukan manusia terhadap Al-Qur’an. Beliau kemudian menjelaskan tiga bentuk tadabbur. Pertama, tadabbur terhadap ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri untuk menggali makna yang terkandung di dalamnya. Dalam melakukan tadabbur terhadap ayat, manusia harus membuka hati dan pikirannya karena di dalam Al-Qur’an terdapat makna-makna yang luar biasa.

Bentuk kedua adalah tadabbur terhadap diri sendiri. Menurut beliau, manusia memiliki potensi yang sangat luar biasa sehingga perlu mengenal dan memahami dirinya sendiri. Al-Qur’an mengingatkan:

Wa fî anfusikum, a fa lâ tubshirûn.

“Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Az-Zariyat [51]: 21)

Berbicara mengenai manusia, beliau menjelaskan bahwa manusia memiliki dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Keduanya perlu direnungkan. Dalam aspek jasmani, manusia perlu merenungkan keadaan dirinya sebelum diciptakan. Allah swt berfirman:

Hal atâ ‘alal-insâni ḥînum minad-dahri lam yakun syai’am madzkûrâ.

“Bukankah telah datang kepada manusia suatu waktu dari masa yang ia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-Insan [76]: 1)

Selain itu, manusia juga perlu merenungkan proses penciptaan dan perjalanan hidupnya. Bagaimana manusia yang berasal dari setetes air mani yang dianggap hina kemudian dapat menjadi seorang penguasa atau seorang ulama. Al-Qur’an menjelaskan proses perubahan manusia dari setetes air, kemudian menjadi segumpal darah, sebongkah daging, menjadi janin, lalu ditiupkan ruh oleh Allah swt hingga akhirnya lahir ke dunia, tumbuh dewasa, dan mencapai usia tua.

Adapun dalam aspek rohani, beliau mengutip perkataan Imam Ali as bahwa sesuatu yang paling mencengangkan dalam diri manusia adalah jiwanya. Yang dimaksud adalah sisi kerohanian manusia. Jiwa menjadi sesuatu yang sangat menakjubkan karena pada dasarnya manusia belum mengetahui hakikatnya secara sempurna. Para ulama dan ahli berusaha memberikan pemahaman mengenai jiwa, tetapi pengetahuan manusia tetap memiliki keterbatasan.

Allah swt berfirman:

Wa yas’alûnaka ‘anir-rûḥ, qulir-rûḥu min amri rabbî wa mâ ûtîtum minal-‘ilmi illâ qalîlâ.

“Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang roh. Katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit.’” (QS. Al-Isra’ [17]: 85)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa terdapat 15 ayat dalam Al-Qur’an yang diawali dengan ungkapan wa yas’alûnaka, “Mereka bertanya kepadamu.” Ketika manusia mengajukan pertanyaan dalam ayat-ayat tersebut, Allah swt memberikan jawaban. Namun, ketika manusia bertanya mengenai ruh, Allah swt menjawab bahwa ruh merupakan urusan-Nya dan manusia hanya diberi sedikit pengetahuan. Hal itu menunjukkan bahwa persoalan ruh merupakan perkara yang sangat besar dan kemampuan manusia untuk memahaminya memiliki keterbatasan.

Setelah tadabbur terhadap diri sendiri, beliau menjelaskan bentuk ketiga, yaitu tadabbur terhadap masyarakat. Kehidupan manusia, menurut beliau, dapat dilihat pada tingkat individual maupun komunitas. Di tengah masyarakat terdapat berbagai kelompok dan keadaan yang perlu diamati sebagaimana seorang sosiolog atau antropolog melakukan pengamatan terhadap masyarakat.

Al-Qur’an menjelaskan kehidupan umat manusia secara luas. Ada masyarakat yang menempuh jalan lurus, tetapi sebagian besar manusia juga dapat menyimpang dari jalan tersebut. Al-Qur’an menceritakan keadaan umat-umat terdahulu agar manusia mengambil pelajaran dari perjalanan mereka. Allah swt berfirman:

Fa sîrû fil-ardli fandhurû kaifa kâna ‘âqibatul-mukadzdzibîn.

“Oleh karena itu, berjalanlah di (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan para pendusta.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 137)

Beliau mengajak jamaah untuk memperhatikan berbagai pelajaran yang dapat ditemukan dalam sejarah dan kehidupan manusia. Di muka bumi terdapat bangunan-bangunan megah yang pada akhirnya hancur. Demikian pula Firaun yang memiliki kekuasaan besar hingga mengaku sebagai tuhan, tetapi memiliki akhir kehidupan yang menjadi pelajaran bagi manusia.

Dari seluruh pembahasan mengenai tadabbur tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa perenungan terhadap Al-Qur’an, diri sendiri, dan masyarakat pada akhirnya akan menghasilkan berbagai manfaat. Hasil pertama adalah inabah, yaitu perjalanan dan kembalinya manusia menuju Allah swt. Dengan melakukan tadabbur, manusia atas izin Allah swt akan memperoleh hidayah dan manfaat rohani.

Selanjutnya, tadabbur akan mendorong manusia untuk senantiasa beristighfar dan bertobat agar kembali ke jalan Allah swt. Dari sana, manusia akan terdorong untuk terus beribadah dan mengingat Allah swt. Tadabbur juga mengarahkan manusia untuk senantiasa berbuat baik sehingga pada akhirnya memperoleh kebaikan, baik dalam kehidupan dunia maupun di akhirat.