Skip to main content

Kelas Tafsir Maudhu’i ICC Jakarta pada Kamis, 10 September 2026, bersama Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan pembahasan mengenai tafakur atau berpikir. Setelah pada pertemuan sebelumnya membahas pentingnya berpikir, kemuliaan orang-orang yang menggunakan waktunya untuk berpikir, serta lima hal yang dapat membantu manusia membiasakan diri bertafakur, kali ini beliau melanjutkan pembahasan dengan beberapa poin berikutnya. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberikan sejumlah cara yang dapat mendorong manusia untuk terus berpikir, antara lain dengan melakukan perjalanan di muka bumi, bergerak karena Allah swt, memperhatikan kisah-kisah Al-Qur’an, dan merenungkan perumpamaan-perumpamaan yang diberikan Allah swt.

Poin keenam yang dibahas adalah sīrū fil-arḍ atau melakukan perjalanan dan berkeliling di muka bumi. Allah swt berfirman:

Qul sīrū fil-arḍi tsumma unẓurū kaifa kāna ‘āqibatul-mukadzdzibīn.

“Katakanlah, ‘Berjalanlah di bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan.’” (QS. Al-An‘am [6]: 11)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa melakukan perjalanan dapat menjadi sarana untuk bertafakur. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak hal yang dapat dilihat dan direnungkan, mulai dari lautan, pegunungan, hingga berbagai bentuk alam lainnya. Semua itu dapat menjadi bahan perenungan tentang hikmah penciptaan Allah swt. Karena itu, bepergian dan melihat berbagai ciptaan Allah bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi dapat mendorong manusia untuk berpikir sepanjang waktu.

Poin berikutnya yang dijelaskan adalah bergerak atau berdiri karena Allah swt. Menurut beliau, manusia perlu bergerak dan melakukan sesuatu dengan niat ikhlas karena Allah. Hal tersebut beliau kaitkan dengan firman Allah swt dalam Surah Saba ayat 46:

Qul innamā a‘iẓukum biwāḥidatin an taqūmū lillāhi matsnā wa furādā tsumma tatafakkarū. Mā biṣāḥibikum min jinnah, in huwa illā nadzīrun lakum baina yadai ‘adzābin syadīd.

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kamu dengan satu hal, yaitu hendaklah kamu menghadap Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian berpikirlah. Kawanmu (Muhammad) tidaklah gila. Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.’” (QS. Saba [34]: 46)

Beliau menjelaskan bahwa perintah an taqūmū lillāh berarti berdiri atau melakukan sesuatu karena Allah swt. Hal tersebut dapat dilakukan secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri, kemudian dilanjutkan dengan berpikir. Dengan demikian, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, aktivitas manusia seharusnya dilandasi gerakan yang ikhlas karena Allah dan disertai proses berpikir.

Gerakan yang dilandasi dorongan Ilahi, menurut beliau, dapat melahirkan berbagai perubahan dalam kehidupan. Perubahan tersebut dapat berupa perkembangan ilmu pengetahuan, perubahan ekonomi, maupun perubahan ruhani. Ketika sebuah gerakan dilakukan karena Allah swt dan dilandasi dorongan Ilahi, maka gerakan tersebut akan mendapatkan keberkahan dari Allah.

Poin berikutnya yang dibahas adalah membacakan dan memperhatikan kisah. Namun, yang dimaksud bukanlah cerita biasa, melainkan kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Syaikh Mohammad Sharifani merujuk pada Surah Al-A‘raf ayat 175–176 yang menceritakan seseorang yang telah diberikan ayat-ayat Allah, tetapi kemudian meninggalkannya dan mengikuti setan.

Watlu ‘alaihim naba’al-ladzī ātaināhu āyātinā fansalakha minhā fa atba‘ahusy-syaiṭānu fa kāna minal-ghāwīn.

“Bacakanlah kepada mereka berita tentang orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu setan mengikutinya (memengaruhinya), sehingga dia termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. Al-A‘raf [7]: 175)

Allah swt kemudian menjelaskan:

Wa lau syi’nā larafa‘nāhu bihā wa lākin nahū akhlada ilal-arḍi wattaba‘a hawāh.

“Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami mengangkatnya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya.” (QS. Al-A‘raf [7]: 176)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa orang tersebut sebelumnya telah diangkat dan dimuliakan dengan ayat-ayat Allah swt. Namun, ia kemudian lebih memilih kecenderungan kepada dunia dan hawa nafsunya. Akibatnya, Allah swt memberikan perumpamaan tentang dirinya seperti seekor anjing.

Famasaluhū kamatsalil-kalbi in taḥmil ‘alaihi yalhas au tatrukhu yalhas.

“Perumpamaannya adalah seperti anjing; jika kamu menghalaunya, ia menjulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya, ia tetap menjulurkan lidahnya.” (QS. Al-A‘raf [7]: 176)

Menurut beliau, perumpamaan tersebut menjadi gambaran tentang orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka telah mendapatkan pengetahuan dan kesempatan untuk mengikuti kebenaran, tetapi kemudian berpaling dan mengikuti hawa nafsu.

Karena itu, Allah swt juga berfirman:

Faqṣuṣil-qaṣaṣa la‘allahum yatafakkarūn.

“Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A‘raf [7]: 176)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa kisah-kisah semacam itu merupakan salah satu sumber manusia untuk melakukan tafakur. Dengan memperhatikan apa yang terjadi kepada orang-orang terdahulu, manusia dapat berpikir mengenai sebab, akibat, serta pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan mereka.

Poin berikutnya yang disampaikan adalah memperhatikan contoh atau perumpamaan yang diberikan Al-Qur’an. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, di dalam Al-Qur’an terdapat sekitar 300 perumpamaan dalam berbagai bentuk yang dapat dijadikan pedoman dan landasan untuk berpikir.

Beliau kemudian mengutip Surah Al-Hasyr ayat 21:

Lau anzalnā hādzal-qur’āna ‘alā jabalin lara’aitahū khāsyi‘an mutaṣaddi‘an min khasy’yatillāh. Wa tilkal-amtsālu naḍribuhā linnāsi la‘allahum yatafakkarūn.

“Sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. Perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” (QS. Al-Hasyr [59]: 21)

Menurut beliau, perumpamaan gunung yang tunduk dan terbelah karena takut kepada Allah swt menunjukkan betapa manusia harus merenungkan keagungan ciptaan dan kekuasaan Allah. Perumpamaan-perumpamaan yang diberikan Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca atau diketahui, tetapi untuk dipikirkan dan direnungkan.

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa manusia dapat memperhatikan keagungan ciptaan Allah swt di alam semesta maupun di lingkungan sekitarnya. Alam yang bersifat takwiniyah merupakan salah satu sarana yang dapat terus mendorong manusia untuk bertafakur.

Dengan pembahasan mengenai perjalanan, bergerak karena Allah, kisah-kisah Al-Qur’an, dan perumpamaan-perumpamaan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani melengkapi rangkaian cara yang dapat membantu manusia membangun kebiasaan berpikir. Beliau mengatakan bahwa setelah seluruh poin yang telah dibahas terpenuhi, insyaallah manusia dapat menjadi orang yang terbiasa bertafakur.

Kebiasaan berpikir tersebut, menurut beliau, memberikan pengaruh yang baik bukan hanya terhadap kehidupan individu, tetapi juga kehidupan masyarakat. Terdapat perbedaan yang sangat jauh antara masyarakat yang terbiasa berpikir dan masyarakat yang tidak membiasakan diri berpikir.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengatakan bahwa pembahasan mengenai pengaruh dan dampak orang-orang yang ahli berpikir terhadap kehidupan individu dan masyarakat akan dilanjutkan lebih mendalam pada pertemuan berikutnya.