Kelas Tafsir Maudhu’i ICC menghadirkan Ustaz Zaki Amami untuk membahas sejumlah hadis Rasulullah saw dari kitab Nahjul Fasahah pada Kamis, 17 September 2026. Dalam kajian tersebut, Ustaz Zaki Amami mengajak jamaah merenungkan hadis-hadis yang memiliki dimensi akhlak dan spiritual, terutama yang berkaitan dengan amal saleh, hubungan sosial, serta berbagai perangkap setan yang perlu diwaspadai dalam kehidupan sehari-hari.
Mengawali kajian, Ustaz Zaki Amami menyampaikan bahwa Nahjul Fasahah merupakan kumpulan hadis Rasulullah saw yang muktabar dan mengandung berbagai pelajaran tentang akhlak dan kerohanian. Hadis-hadis tersebut, menurut beliau, dapat menjadi jalan untuk memperindah akhlak sekaligus meneladani akhlak Rasulullah saw. Jika pada pertemuan sebelumnya pembahasan diarahkan pada sifat-sifat atau karakter orang mukmin, kali ini pembahasan berfokus pada amal-amal saleh dan perbuatan manusia.
Hadis pertama yang disampaikan Ustaz Zaki Amami menekankan pentingnya ilmu dalam beramal. Rasulullah saw bersabda, “Inna qalīlal-‘amali ma‘al-‘ilmi kathīrun, wal-‘amalu ma‘al-jahli qalīlun,” yang bermakna bahwa amal yang sedikit apabila dilakukan dengan ilmu dapat bernilai banyak, sedangkan amal yang banyak apabila dilakukan tanpa ilmu justru bernilai sedikit.
Dalam penjelasannya, Ustaz Zaki Amami mengaitkan hadis tersebut dengan riwayat yang menyebutkan bahwa ilmu adalah cahaya. Beliau menjelaskan bahwa cahaya dapat menuntun seseorang ketika harus melewati tempat yang gelap, penuh masalah, persoalan, dan hambatan. Demikian pula ilmu dalam amal. Ketika seseorang beramal dengan pengetahuan yang benar, amal yang secara lahiriah terlihat sedikit dapat memiliki nilai yang besar.
Beliau memberikan contoh sedekah. Secara nominal, seseorang mungkin hanya memberikan sedekah dalam jumlah yang sedikit, misalnya Rp1.000 atau Rp2.000. Namun, orang yang memiliki pengetahuan tentang keutamaan sedekah mengetahui bahwa Allah swt memberikan balasan yang berlipat ganda. Dengan pengetahuan tersebut, seseorang memahami bahwa nilai amal tidak semata-mata dilihat dari jumlah yang diberikan.
Contoh lainnya adalah salat berjamaah. Salat yang dilakukan sendiri memiliki pahala tertentu, sedangkan dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa salat berjamaah memiliki keutamaan yang jauh lebih besar, bahkan disebutkan hingga 27 kali atau dalam sebagian riwayat 70 kali. Menurut Ustaz Zaki Amami, semua itu kembali kepada pengetahuan yang dimiliki seseorang mengenai keutamaan amal.
Hal yang sama dapat dilihat dalam ibadah pada malam Lailatul Qadar. Allah swt berfirman:
Innā anzalnāhu fī lailatil-qadr. Wa mā adrāka mā lailatul-qadr. Lailatul-qadri khairun min alfi syahr.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah malam Lailatulqadar itu? Malam Lailatulqadar lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr [97]: 1–3)
Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa pengetahuan tentang keutamaan Lailatul Qadar membuat seseorang terdorong untuk menghidupkan malam tersebut. Seseorang yang tidak mengetahui keutamaannya mungkin tidak akan memberikan perhatian yang sama. Padahal, umur manusia belum tentu mencapai 83 tahun lebih, sementara satu malam Lailatul Qadar disebut lebih baik daripada seribu bulan. Pengetahuan dari para maksum mengenai malam-malam Lailatul Qadar yang terdapat di antara malam ke-19, ke-21, dan ke-23 Ramadan menjadi petunjuk bagi orang-orang beriman untuk menghidupkan malam-malam tersebut.
Menurut Ustaz Zaki Amami, pengetahuan seperti itu tidak dapat dilepaskan dari kedudukan para maksum yang telah ditunjuk Allah swt dan dianugerahi hikmah, kemuliaan, serta ilmu pengetahuan. Mereka mengetahui jalan-jalan menuju Allah dengan pengetahuan yang lebih mendalam daripada pengetahuan manusia terhadap jalan-jalan di muka bumi.
Ustaz Zaki Amami kemudian menjelaskan bahwa ilmu juga dapat membuka kesadaran seseorang terhadap hakikat perbuatan yang dilakukan. Orang yang memperoleh pengetahuan tentang keburukan dosa akan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupannya. Ketika mengetahui hakikat kebohongan, misalnya, seseorang akan memahami betapa buruk akibat perbuatan tersebut. Demikian pula ketika seseorang mengetahui hakikat ghibah terhadap saudaranya yang mukmin, ia akan menyadari bahwa perbuatan itu diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Karena mengetahui hal tersebut, ia akan berusaha meninggalkannya.
Sebaliknya, Ustaz Zaki Amami mengingatkan bahwa seseorang dapat saja memperbanyak ibadah, tetapi belum tentu memahami ilmu yang menjadi petunjuk dalam ibadah tersebut. Menurut beliau, jalan menuju Allah bukanlah jalan yang dibuat sendiri berdasarkan keinginan manusia. Dalam setiap salat, seorang Muslim memohon kepada Allah swt:
Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Ṣirāṭal-lażīna an‘amta ‘alaihim.
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.” (QS. Al-Fatihah [1]: 6–7)
Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa permohonan tersebut menunjukkan pentingnya petunjuk dalam menempuh jalan spiritual. Jalan yang benar bukanlah jalan yang dibuat berdasarkan keinginan sendiri, termasuk dalam melakukan riyadah atau latihan spiritual yang tidak memiliki dasar yang jelas. Seseorang mungkin saja memperoleh kemampuan tertentu dari praktik yang dilakukannya, tetapi hal tersebut tidak otomatis menjadi bagian dari syariat Ilahi apabila tidak memiliki landasan yang benar.
Karena itu, menurut Ustaz Zaki Amami, jalan ukhrawi yang sejati harus mengikuti petunjuk Rasulullah saw dan para imam. Pemahaman terhadap ajaran ahlul bait as menjadi bagian dari upaya untuk menjalankan amal sesuai petunjuk yang benar sehingga hati dapat disucikan dari berbagai dosa dan kesalahan. Dengan ilmu, seseorang dapat memahami bahwa amal yang sedikit pun dapat memiliki nilai yang besar.
Beliau kemudian memberikan contoh menghadiri acara syahadah Sayyidus Syuhada Imam Husain as. Menurut Ustaz Zaki Amami, setetes air mata yang dicucurkan dalam mengenang Imam Husain as memiliki keutamaan besar bagi orang yang mengetahui dasar dan kedudukannya dalam ajaran. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang hal tersebut mungkin mempertanyakan mengapa peristiwa yang telah berlangsung berabad-abad lalu masih diperingati dan mengapa seseorang menangisinya. Karena itu, menurut beliau, pengetahuan membuat seseorang memahami kemuliaan sebuah amal yang secara lahiriah mungkin terlihat sederhana.
Setelah menjelaskan hadis pertama, Ustaz Zaki Amami beralih kepada hadis kedua yang dalam kitab Nahjul Fasahah tercatat dengan nomor 871. Hadis tersebut berbicara mengenai hubungan sosial dan pentingnya akhlak dalam berinteraksi dengan manusia. Rasulullah saw bersabda, “Innakum lan tasa‘ū an-nāsa bi-amwālikum, walākin sa‘ūhum bi-akhlāqikum.”
Menurut Ustaz Zaki Amami, hadis tersebut bermakna bahwa manusia tidak akan pernah mampu memuaskan orang lain hanya dengan harta, tetapi dapat memberikan kepuasan melalui akhlak yang baik. Kata “lan” dalam hadis tersebut menunjukkan penafian yang kuat, bahwa manusia tidak akan mampu memenuhi seluruh keinginan orang lain dengan harta yang dimilikinya. Karena itu, Rasulullah saw memberikan jalan lain, yaitu memperlakukan manusia dengan akhlak yang mulia.
Beliau menjelaskan bahwa hal tersebut dapat dilihat dalam kehidupan orang-orang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan. Seseorang mungkin telah memiliki banyak harta, rumah, kendaraan, dan berbagai fasilitas, tetapi tetap merasa kurang dan terus menginginkan lebih. Harta tidak akan pernah mampu menjadi alat untuk memuaskan manusia secara mutlak.
Pelajaran tersebut juga perlu diterapkan dalam keluarga, terutama dalam mendidik anak. Menurut Ustaz Zaki Amami, memberikan semua yang diinginkan anak bukanlah bentuk pendidikan yang baik. Anak yang terus-menerus diberi apa pun yang dimintanya justru dapat menjadi manja dan berani melawan orang tua. Pemberian, khususnya dalam bentuk harta, harus disesuaikan dengan hak, kewajiban, ukuran, dan kebutuhan anak.
Sementara itu, kepuasan dan pendidikan yang baik diberikan melalui akhlak. Anak dapat dipuji secukupnya dan diberikan hadiah sesuai kebutuhan. Prinsip tersebut, menurut beliau, juga berlaku dalam hubungan dengan pasangan, masyarakat, dan diri sendiri. Manusia perlu belajar mengendalikan keinginan terhadap harta dan menemukan batas kecukupan dalam dirinya.
Ustaz Zaki Amami kemudian mengingatkan kisah Qarun yang mendapatkan harta dalam jumlah sangat besar. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa harta Qarun begitu banyak hingga kunci-kunci tempat penyimpanan hartanya terasa berat bagi orang-orang yang membawanya. Namun, kekayaan tersebut tidak membawa Qarun kepada kemuliaan. Sebaliknya, harta itu menjauhkannya dari Allah swt.
Dari sini, beliau mengajak jamaah untuk menentukan batas kecukupan dalam diri masing-masing dan menumbuhkan qanaah. Ustaz Zaki Amami mengutip perkataan Amirul Mukminin Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah bahwa qanaah merupakan kekayaan yang paling utama. Rasa cukup merupakan bentuk kekayaan, sedangkan ketika seseorang tidak memiliki rasa cukup, harta akan terus menggoda dirinya untuk mengambil dan mengumpulkannya tanpa batas.
Karena itu, Ustaz Zaki Amami menegaskan kembali bahwa jika seseorang ingin mendidik anak, pasangan, diri sendiri, dan masyarakat, pendidikan tersebut harus dibangun dengan akhlak yang mulia. Harta tidak akan pernah cukup untuk memuaskan manusia, sedangkan akhlak yang baik menjadi jalan untuk membangun hubungan yang sehat dan bermartabat.
Pembahasan kemudian berlanjut pada hadis ketiga yang berbicara tentang perangkap setan. Ustaz Zaki Amami mengingatkan firman Allah swt agar manusia tidak mengikuti langkah-langkah setan. Dalam hadis tersebut, Rasulullah saw menjelaskan bahwa setan memiliki berbagai jerat dan perangkap yang dapat membuat manusia tersesat.
Salah satu perangkap tersebut adalah membanggakan nikmat Allah swt, menyombongkan diri dengan karunia yang diberikan Allah, serta memperturutkan hawa nafsu bukan untuk menuju Allah swt. Menurut Ustaz Zaki Amami, manusia perlu mengenali perangkap tersebut agar tidak terjebak dalam kesombongan dan penyalahgunaan nikmat.
Beliau menjelaskan bahwa nikmat Allah swt dapat berupa sesuatu yang bersifat lahiriah, seperti harta, anak, dan kekuasaan. Ketika seseorang membanggakan nikmat tersebut secara berlebihan, salah satu akibatnya adalah merendahkan orang lain. Inilah yang menjadi salah satu perangkap setan, karena manusia akhirnya menggunakan nikmat yang diberikan Allah bukan untuk mendekat kepada-Nya, melainkan untuk menjauh dari mengingat-Nya.
Harta, misalnya, seharusnya digunakan untuk kebaikan. Namun, apabila digunakan untuk berjudi atau membantu pihak yang melakukan keburukan, nikmat tersebut justru disalahgunakan. Ustaz Zaki Amami kemudian mengingatkan bahwa masih banyak saudara yang membutuhkan bantuan, termasuk saudara-saudara di Palestina dan mereka yang terdampak musibah di Nusa Tenggara Timur. Karena itu, nikmat berupa harta seharusnya diarahkan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Perangkap kedua adalah menyombongkan diri dengan karunia Allah swt. Menurut Ustaz Zaki Amami, karunia ini dapat berupa kemampuan melakukan ibadah, seperti salat malam dan puasa. Seseorang dapat merasa bangga karena mampu melakukan ibadah tertentu, lalu menampilkan dirinya seolah-olah telah mencapai kedudukan spiritual yang tinggi. Padahal, ibadah tidak semestinya dipamerkan atau dipromosikan.
Beliau mengingatkan bahwa manusia bahkan belum mengetahui apakah ibadah yang dilakukannya benar-benar diterima oleh Allah swt. Salat yang dilakukan pun belum tentu diterima sebagaimana yang diharapkan. Karena itu, jumlah atau tingkat ibadah seseorang tidak layak menjadi alasan untuk membanggakan diri. Nikmat dan karunia Allah swt sendiri begitu banyak dan tidak mungkin dihitung.
Allah swt berfirman:
Wa in ta‘uddū ni‘matallāhi lā tuḥṣūhā.
“Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl [16]: 18)
Menurut Ustaz Zaki Amami, ketika nikmat Allah swt yang begitu banyak tidak mampu dihitung, manusia seharusnya tidak menjadikan sebagian kecil karunia yang diterimanya sebagai alasan untuk menyombongkan diri atau menyalahgunakannya.
Perangkap berikutnya adalah memperturutkan hawa nafsu yang tidak diarahkan kepada Allah swt. Ustaz Zaki Amami mengajak jamaah kembali melihat tujuan hidup masing-masing. Manusia perlu bertanya kepada dirinya apakah kehidupannya hanya diarahkan pada hal-hal duniawi dan materi atau juga digunakan untuk memahami hakikat perjalanan manusia di luar kehidupan dunia.
Beliau mengajak jamaah melakukan muhasabah dengan bertanya kepada diri sendiri apakah hari ini rohnya semakin dekat kepada Allah swt, apakah zikirnya lebih banyak daripada hari sebelumnya, dan apakah salatnya lebih khusyuk daripada sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurut beliau, perlu menjadi bagian dari evaluasi diri agar seseorang tidak menjalani hari tanpa menyadari perkembangan spiritualnya.
Ustaz Zaki Amami kemudian mengutip nasihat Imam Ali as, “Ḥāsibū qabla an tuḥāsabū,” yang bermakna, “Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab.” Muhasabah itu dapat dilakukan dengan mempertanyakan berbagai hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari: apakah hari ini sudah bersedekah, apakah sedekah tersebut sudah dilakukan dengan ikhlas, apakah diri sudah menjadi lebih baik dibandingkan hari sebelumnya, apakah sudah tersenyum kepada istri, mencium anak-anak, dan berbuat baik kepada orang tua.
Selain itu, beliau mengajak jamaah mempertanyakan apakah sudah memberikan sedekah kepada orang yang membutuhkan, memakmurkan masjid dan lingkungan sekitar, serta menunaikan khumus kepada pihak yang berhak. Semua pertanyaan tersebut menjadi bagian dari muhasabah untuk melihat sejauh mana perjalanan seseorang menuju Allah swt benar-benar dijalankan.
Menutup kajian, Ustaz Zaki Amami menegaskan bahwa perjalanan menuju Allah swt harus dilakukan dengan serius, terus-menerus, dan istiqamah. Amal tidak cukup hanya dilakukan dalam jumlah banyak, tetapi harus dilandasi ilmu, akhlak yang baik, keikhlasan, serta kesadaran untuk terus melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Beliau berharap hadis-hadis yang dibahas dapat memberikan pencerahan, menambah ilmu, dan semakin menumbuhkan kecintaan kepada ahlul bait as.



