Dalam ceramahnya pada Kelas Tafsir Maudhu’i ICC Jakarta, Kamis, 24 September 2026, Syaikh Mohammad Sharifani membahas tentang tafakur atau berpikir serta pengaruhnya dalam kehidupan manusia. Menurut beliau, pembahasan tentang tafakur penting dipahami karena kebiasaan berpikir dan merenungkan berbagai hal dapat memberikan pengaruh besar terhadap pengetahuan manusia tentang Allah swt, tauhid, tujuan penciptaan, Al-Qur’an, serta pengenalan terhadap Rasulullah saw.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa pengaruh pertama dari tafakur secara personal berkaitan dengan pengetahuan tentang Allah swt dan tauhid. Ketika seseorang membiasakan dirinya untuk berpikir dalam kehidupan sehari-hari, Allah swt akan memberikan pemahaman yang lebih dalam kepadanya mengenai Allah swt, tauhid, dan ayat-ayat Ilahi.
Beliau kemudian mengutip firman Allah swt dalam Surah Al-An’am:
“Wa huwalladzî ansyaakum min nafsin wâḥidatin fa mustaqarruw wa mustawda‘un.”
“Dialah yang menciptakan kamu dari satu jiwa. Lalu, ada tempat menetap dan tempat menyimpan bagimu. Sungguh, Kami telah memerinci tanda-tanda kebesaran Kami bagi kaum yang memahami.” (QS. Al-An‘am [6]: 98)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa terdapat beberapa penafsiran mengenai makna mustaqarr dalam ayat tersebut. Dalam beberapa tafsir, mustaqarr dipahami berkaitan dengan penguatan iman. Ada kelompok manusia yang imannya kuat dan tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Sebaliknya, ada pula manusia yang mudah berpaling bahkan memilih kekafiran karena tidak memiliki iman yang kuat.
Makna lainnya, menurut beliau, berkaitan dengan manusia yang ditempatkan dan hidup di muka bumi, berlawanan dengan mereka yang meninggal ketika masih berada di dalam rahim sebelum dilahirkan ke dunia. Namun, inti ayat tersebut menunjukkan bahwa seluruh manusia diciptakan dari satu jiwa, yaitu Nabi Adam as.
Pada bagian akhir ayat tersebut Allah swt berfirman bahwa berbagai tanda kekuasaan-Nya telah dijelaskan agar manusia dapat memahami. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, hal ini menunjukkan bahwa ketika manusia menggunakan potensi akalnya untuk berpikir, ia dapat memahami rahasia-rahasia alam semesta, memahami konsep tauhid, dan mencapai kedudukan yang mulia di sisi Allah swt.
Karena itu, beliau menjelaskan bahwa salah satu efek tafakur adalah munculnya ketertarikan manusia untuk memahami dan mendalami tauhid kepada Allah swt. Jika sebelumnya pembahasan berkaitan dengan memahami Allah swt, maka pada tahap ini tafakur membawa manusia kepada keyakinan terhadap keesaan Allah swt.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengutip ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang orang-orang musyrik:
“Qâla a fa ta‘budûna min dûnillâhi mâ lâ yanfa‘ukum syai’an wa lâ yadhurrukum.”
“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Apakah kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun kepadamu dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepadamu?’” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 66)
“Uffin lakum wa limâ ta‘budûna min dûnillâh, a fa lâ ta‘qilûn.”
“Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Apakah kamu tidak mengerti?” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 67)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat tersebut berbicara tentang kaum musyrik yang menyembah selain Allah swt, termasuk menyembah berhala yang dibuat dari batu dan kayu. Padahal, sesembahan tersebut tidak mampu memberikan manfaat ataupun bahaya kepada mereka.
Beliau juga menjelaskan bahwa kaum musyrik Makkah pada masa itu dapat digambarkan dalam beberapa kelompok berdasarkan keadaan ekonominya. Kelompok yang kaya biasanya membuat patung sesembahan dan menempatkannya di rumah. Kelompok yang berada di tingkat ekonomi menengah membuat dan menempatkan sesembahan tersebut di bagian tertentu dari rumah mereka. Sementara itu, orang-orang miskin membawa sesembahan mereka di dalam kantong.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, keadaan tersebut menunjukkan bahwa mereka belum memahami makna tauhid dan hakikat menyembah Allah swt. Mereka tidak menggunakan akalnya untuk berpikir dan memahami siapa yang sebenarnya layak disembah.
Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa pengaruh tafakur yang lain adalah mengantarkan manusia kepada tujuan penciptaannya. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, terdapat berbagai pandangan manusia mengenai tujuan kehidupan. Ada kelompok yang meyakini bahwa kehidupan hanya terbatas pada dunia dan tidak ada kehidupan akhirat. Ada pula yang meyakini adanya dunia dan akhirat.
Al-Qur’an memberikan jawaban terhadap pandangan tersebut dengan mengajak manusia untuk berpikir tentang dirinya dan penciptaan alam semesta:
“Awa lam yatafakkarû fî anfusihim, mâ khalaqallâhus-samâwâti wal-ardha wa mâ bainahumâ illâ bil-ḥaqqi wa ajalimm musammâ.”
“Apakah mereka tidak berpikir tentang (kejadian) dirinya? Allah tidak menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, kecuali dengan benar dan waktu yang ditentukan. Sesungguhnya banyak di antara manusia benar-benar mengingkari pertemuan dengan Tuhannya.” (QS. Ar-Rum [30]: 8)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Allah swt tidak menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu yang berada di antara keduanya dengan sia-sia. Semuanya diciptakan dengan tujuan yang jelas dan memiliki batas waktu yang telah ditentukan. Dengan demikian, seluruh kehidupan pada akhirnya akan berakhir dan manusia akan kembali kepada Allah swt.
Namun, menurut beliau, banyak manusia yang tidak meyakini bahwa mereka akan dipertemukan dengan Allah swt. Karena itu, ketika seseorang membiasakan dirinya untuk berpikir dan merenungkan kehidupannya, ia akan memahami bahwa tujuan penciptaan dirinya, dunia, dan segala isinya adalah untuk menuju kepada Allah swt.
Pengaruh berikutnya dari tafakur, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, adalah membantu manusia memahami hakikat Al-Qur’an. Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang agung dan kitab yang paling mulia. Karena itu, manusia perlu merenungkan kandungan Al-Qur’an, bukan sekadar membacanya.
Allah swt berfirman:
“Bil-bayyinâti waz-zuburi wa anzalnâ ilaikadz-dzikra litubayyina linnâsi mâ nuzzila ilaihim wa la‘allahum yatafakkarûn.”
“(Kami mengutus mereka) dengan membawa bukti-bukti yang jelas dan kitab-kitab. Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl [16]: 44)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Allah swt menurunkan Al-Qur’an untuk memberikan penjelasan kepada manusia. Pada saat yang sama, Al-Qur’an juga mengajak manusia untuk berpikir dan merenungkan apa yang terkandung di dalamnya. Dengan tafakur, seseorang dapat semakin memahami kandungan Al-Qur’an dan menjadi orang yang memiliki pengetahuan lebih mendalam tentang kitab Allah swt.
Pengaruh lainnya dari tafakur adalah membuat manusia semakin mengenal nabinya, yaitu Rasulullah saw. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Rasulullah saw merupakan manusia yang sangat agung dan mulia, serta perwujudan manusia sempurna. Menurut beliau, tidak ada manusia yang memiliki kedudukan dalam ilmu dan akhlak sebagaimana Rasulullah saw, baik pada masa beliau hidup maupun hingga akhir zaman.
Namun, masyarakat pada masa Rasulullah saw justru pernah menuduh beliau sebagai orang gila. Al-Qur’an menyinggung tuduhan tersebut sekaligus mengajak manusia untuk berpikir:
“Awa lam yatafakkarû, mâ biṣâḥibihim min jinnatin, in huwa illâ nadhîrum mubîn.”
“Apakah mereka tidak berpikir bahwa teman mereka (Nabi Muhammad) itu tidak gila? Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.” (QS. Al-A’raf [7]: 184)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, orang-orang yang menganggap Rasulullah saw sebagai orang gila pada hakikatnya adalah orang-orang yang tidak menggunakan akalnya untuk mencari kebenaran. Mereka menyampaikan tuduhan yang tidak layak kepada Rasulullah saw karena tidak berpikir secara mendalam tentang siapa sebenarnya beliau dan apa yang beliau bawa.
Karena itu, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa tafakur memiliki pengaruh yang luas dalam kehidupan manusia. Dengan tafakur, manusia dapat semakin memahami Allah swt dan tauhid, memahami tujuan penciptaannya, mendalami kandungan Al-Qur’an, serta semakin mengenal Rasulullah saw. Menurut beliau, semakin seseorang bertafakur secara mendalam terhadap ayat-ayat Allah swt, semakin terbuka pula baginya jalan untuk memahami kebenaran yang dibawa oleh agama.



