Sebelas Ukuran Kekayaan Hakiki dalam Konsep Kautsari
Majelis Taklim Akhwat ICC Zainab Al-Kubro pada Rabu, 7 Oktober 2026, kembali melanjutkan pembahasan mengenai al-hayatu at-tayyibah, yaitu kehidupan yang baik dan penuh kesejahteraan. Dalam kajian tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menguraikan pandangan Islam mengenai kekayaan dengan menjelaskan dua konsep yang disebut sebagai takatsuri dan kautsari, serta berbagai ukuran kekayaan hakiki yang diajarkan Al-Qur’an, Rasulullah saw, dan para imam maksum as.
Syaikh Mohammad Sharifani mengawali penjelasannya dengan mengingatkan bahwa dalam beberapa pertemuan sebelumnya telah dibahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan konsep kekayaan dalam pandangan Islam. Beliau menyampaikan bahwa Al-Qur’an membagi cara manusia memandang dan memperlakukan kekayaan ke dalam dua kategori yang berbeda. Kategori pertama disebut sebagai konsep takatsuri, sedangkan kategori kedua disebut sebagai konsep kautsari.
Konsep takatsuri berasal dari kata takatsur, yang berkaitan dengan keinginan manusia untuk memperbanyak dan mengumpulkan harta. Istilah tersebut terdapat dalam firman Allah swt:
Alhākumut-takātsur.
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.” (QS. At-Takatsur [102]: 1)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa konsep takatsuri menggambarkan keadaan ketika seseorang terlalu sibuk mengejar kekayaan, mengumpulkan harta, dan berusaha terus-menerus memperbanyak apa yang dimilikinya. Perhatian orang tersebut lebih banyak tertuju pada bagaimana kekayaannya dapat bertambah. Menurut beliau, sebagian besar manusia terjebak dalam cara pandang seperti ini, sehingga kehidupan mereka dipenuhi keinginan untuk memperoleh harta sebanyak mungkin.
Berbeda dengan takatsuri, konsep kedua adalah kautsari. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa istilah kautsar tentu sudah sangat dikenal oleh umat Islam, terutama karena berkaitan dengan Sayidah Fatimah sa, yang dikenal sebagai Al-Kautsar. Istilah tersebut juga terdapat dalam firman Allah swt:
Innā a‘ṭainākal-kautsar.
“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.” (QS. Al-Kautsar [108]: 1)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, kata kautsar mengandung makna kebaikan yang melimpah dan membawa keberkahan. Allah swt memberikan kepada Rasulullah saw sesuatu yang sangat banyak, tetapi kelimpahan tersebut bukan sekadar berkaitan dengan jumlah, melainkan juga memiliki nilai kebaikan yang besar.
Beliau menjelaskan bahwa konsep kautsari merupakan kebalikan dari konsep takatsuri. Apabila takatsuri menekankan usaha memperbanyak kekayaan materi, kautsari menekankan keberlimpahan kebaikan dan keberkahan. Dalam konsep inilah manusia diajak memahami bahwa kekayaan yang sebenarnya tidak selalu diukur melalui banyaknya harta yang dimiliki.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menyampaikan bahwa Al-Qur’an, Rasulullah saw, dan para imam maksum as telah mengajarkan sejumlah prinsip mengenai bagaimana manusia seharusnya memandang kekayaan. Prinsip-prinsip tersebut menjadi ukuran untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar kaya dalam pandangan Islam.
Prinsip pertama yang beliau jelaskan adalah al-ghinā billāh lā bil-māl, yaitu merasa kaya karena memiliki Allah swt, bukan karena memiliki harta. Dalam pandangan ini, kekayaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak materi yang berhasil dikumpulkan, melainkan oleh kedekatannya dengan Allah swt.
Untuk menjelaskan prinsip tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip firman Allah:
Yā ayyuhan-nāsu antumul-fuqarā’u ilallāh, wallāhu huwal-ghaniyyul-ḥamīd.
“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan apa pun), Maha Terpuji.” (QS. Fatir [35]: 15)
Beliau menjelaskan bahwa ayat tersebut menegaskan keadaan seluruh manusia sebagai makhluk yang membutuhkan Allah swt. Kata fuqarā’ menunjukkan bahwa manusia sesungguhnya berada dalam keadaan membutuhkan Allah. Tidak ada manusia yang dapat menjalani kehidupannya tanpa bergantung kepada-Nya.
Karena itu, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, sesuatu yang seharusnya dikejar manusia bukanlah kekayaan materi semata, melainkan Allah swt. Sebab, Allah adalah Zat Yang Mahakaya dan tidak membutuhkan apa pun. Sementara itu, seluruh manusia, baik yang memiliki banyak harta maupun yang tidak memilikinya, tetap merupakan makhluk yang membutuhkan Allah.
Beliau kemudian mengutip perkataan Imam Ali as yang menyatakan bahwa orang yang merasa kaya karena memiliki Allah adalah orang yang paling kaya di muka bumi. Sebaliknya, orang yang paling miskin adalah orang yang tidak memiliki Allah, meskipun dirinya memiliki segala sesuatu selain Allah.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa seseorang mungkin memiliki seluruh kekayaan dunia dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Namun, apabila dirinya tidak memiliki hubungan dengan Allah swt, dalam ukuran tersebut beliau tetap termasuk orang yang paling miskin. Sebaliknya, orang yang memiliki Allah, walaupun tidak mempunyai kekayaan materi yang melimpah, merupakan orang yang paling kaya.
Setelah menjelaskan prinsip pertama, Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan pembahasan mengenai prinsip kedua, yaitu merasa kaya karena mengandalkan apa yang berada di sisi Allah swt, bukan mengandalkan apa yang dimiliki manusia.
Beliau menerangkan bahwa prinsip kedua ini berbeda dengan prinsip sebelumnya. Apabila prinsip pertama menekankan kekayaan karena memiliki Allah, prinsip kedua menekankan sikap bergantung dan menaruh harapan kepada apa yang berada di sisi Allah. Dengan demikian, manusia tidak menjadikan apa yang dimiliki orang lain sebagai tempat utama untuk menggantungkan harapan.
Untuk menjelaskan persoalan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip ayat terakhir Surah Al-Jumu’ah yang menggambarkan perilaku sebagian sahabat Rasulullah saw ketika meninggalkan beliau yang sedang menyampaikan khutbah Jumat.
Wa iżā ra’au tijāratan au lahwaninfaḍḍū ilaihā wa tarakūka qā’imā. Qul mā ‘indallāhi khairum minal-lahwi wa minat-tijārah, wallāhu khairur-rāziqīn.
“Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, ‘Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan,’ dan Allah Pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 11)
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menceritakan peristiwa yang melatarbelakangi ayat tersebut. Pada suatu kesempatan, Rasulullah saw sedang menyampaikan khutbah Jumat kepada para sahabat. Ketika khutbah sedang berlangsung, tiba-tiba terdengar suara tabuhan genderang dari luar.
Beliau menjelaskan bahwa pada masa itu, suara genderang merupakan salah satu tanda kedatangan rombongan pedagang yang membawa barang dagangan ke sebuah kota. Para pedagang biasanya melakukan perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lain untuk membeli berbagai barang, kemudian membawanya kembali ke Madinah untuk dijual kepada masyarakat.
Menurut beliau, masyarakat Madinah pada masa itu juga biasa memesan barang tertentu kepada para pedagang. Ketika para pedagang kembali dari perjalanan, mereka membawa barang-barang yang telah dipesan. Untuk memberitahukan kedatangannya, rombongan pedagang biasanya membunyikan genderang dan menghadirkan berbagai bentuk hiburan yang dapat menarik perhatian masyarakat.
Syaikh Mohammad Sharifani menggambarkan bahwa hiburan tersebut dapat diumpamakan seperti pertunjukan rakyat yang menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Karena kedatangan rombongan pedagang disertai suara dan hiburan, masyarakat dapat segera mengetahui bahwa barang dagangan telah tiba.
Ketika para sahabat yang sedang mendengarkan khutbah Rasulullah saw mendengar suara tersebut, sebagian besar dari mereka segera meninggalkan tempat khutbah dan bergegas menuju rombongan pedagang. Hanya sedikit orang yang tetap berada bersama Rasulullah saw, sedangkan sebagian besar lainnya pergi untuk mengejar barang dagangan dan menyaksikan hiburan tersebut.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa alasan mereka meninggalkan khutbah adalah kekhawatiran bahwa barang yang ingin dibeli akan lebih dahulu diambil orang lain. Mereka takut kehilangan kesempatan memperoleh barang yang dibutuhkan sehingga lebih mengutamakan kedatangan para pedagang daripada tetap mendengarkan khutbah Rasulullah saw.
Melalui peristiwa tersebut, Allah swt menegur perilaku mereka dan memerintahkan Rasulullah saw untuk menyampaikan bahwa apa yang berada di sisi Allah jauh lebih baik daripada perdagangan dan hiburan yang mereka kejar.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat tersebut mengajarkan agar manusia tidak terlalu menggantungkan harapannya kepada apa yang berada di tangan orang lain. Sesuatu yang dimiliki manusia dapat habis dan hilang, sedangkan apa yang berada di sisi Allah memiliki nilai yang jauh lebih baik.
Beliau kemudian mengutip firman Allah swt yang menjelaskan perbedaan antara kenikmatan dunia dan apa yang berada di sisi-Nya.
Famā ūtītum min syai’in famatā‘ul-ḥayātid-dunyā, wa mā ‘indallāhi khairun wa abqā lillażīna āmanū wa ‘alā rabbihim yatawakkalūn.
“Apa pun (kenikmatan) yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup di dunia. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Asy-Syura [42]: 36)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa seluruh harta dan kenikmatan yang dimiliki manusia merupakan bagian dari kesenangan kehidupan dunia. Semua itu memiliki batas dan pada akhirnya akan habis atau ditinggalkan. Sebaliknya, apa yang berada di sisi Allah swt lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman.
Karena itu, beliau kembali mengingatkan bahwa manusia seharusnya lebih mengandalkan apa yang berada di sisi Allah daripada sesuatu yang berada di tangan manusia. Beliau juga mengutip sabda Rasulullah saw yang menyatakan bahwa siapa pun yang ingin menjadi orang paling kaya hendaknya lebih mengandalkan apa yang berada di tangan Allah daripada apa yang berada di tangan manusia.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, orang yang benar-benar kaya dalam prinsip kedua ini adalah orang yang menggantungkan harapannya kepada Allah swt. Dirinya tidak menjadikan kekayaan atau pemberian manusia sebagai sandaran utama karena menyadari bahwa apa yang berada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.
Prinsip ketiga yang beliau sampaikan adalah merasa kaya karena memiliki Al-Qur’an. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa dalam pandangan Islam, Al-Qur’an merupakan kekayaan yang sangat besar bagi manusia. Orang yang memiliki Al-Qur’an, membacanya, menjaganya, dan memanfaatkannya dalam kehidupan sesungguhnya telah memiliki sesuatu yang sangat berharga.
Beliau menerangkan bahwa memiliki Al-Qur’an bukan hanya berarti menyimpan mushaf atau mempunyai kitab tersebut secara fisik. Memiliki Al-Qur’an berarti menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan, memeliharanya, serta senantiasa berusaha membaca dan mengambil manfaat darinya.
Dalam kaitan ini, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip firman Allah swt dalam Surah Al-Muzzammil:
Faqra’ū mā tayassara minal-Qur’ān.
“Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.” (QS. Al-Muzzammil [73]: 20)
Beliau menjelaskan bahwa Allah swt memberikan kemudahan kepada manusia dalam membaca Al-Qur’an. Perintah tersebut tidak mengharuskan seseorang membaca surah tertentu yang panjang atau bagian yang sulit baginya. Allah memerintahkan manusia untuk membaca apa yang mudah dibaca dari Al-Qur’an.
Syaikh Mohammad Sharifani memberikan contoh bahwa apabila seseorang merasa mudah membaca Surah Al-Ikhlas, orang tersebut dapat membacanya. Apabila yang mudah dibaca adalah Surah Al-Fatihah, dirinya dapat membaca Al-Fatihah. Dengan demikian, seseorang tetap memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Menurut beliau, tidak seharusnya seseorang menjadikan kesulitan membaca sebagai alasan untuk sama sekali tidak membaca Al-Qur’an. Sebab, Allah swt telah memberikan kemudahan dengan memerintahkan manusia membaca bagian yang dapat dibacanya.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengutip sebuah riwayat dari Rasulullah saw yang menjelaskan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an adalah orang yang kaya dan tidak ada lagi kefakiran setelah memiliki Al-Qur’an.
Beliau menerangkan bahwa apabila seseorang benar-benar memiliki Al-Qur’an dalam kehidupannya, orang tersebut sesungguhnya telah memiliki kekayaan. Al-Qur’an menjadi sesuatu yang sangat berharga sehingga keberadaannya tidak dapat diukur dengan kekayaan materi.
Dalam riwayat lain yang beliau sampaikan, orang yang memiliki Al-Qur’an digambarkan sebagai seseorang yang mempunyai modal. Modal tersebut menjadikannya kaya. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki Al-Qur’an digambarkan sebagai orang yang tidak mempunyai modal sama sekali.
Karena itu, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa merasa kaya dengan Al-Qur’an merupakan salah satu prinsip penting dalam konsep kekayaan kautsari. Manusia yang memiliki Al-Qur’an telah memperoleh kekayaan yang nilainya jauh melampaui harta benda.
Prinsip keempat adalah merasa kaya karena memiliki ketakwaan dan keimanan kepada Allah swt. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa orang yang benar-benar beriman kepada Allah akan memiliki keyakinan bahwa Allah senantiasa memberikan pertolongan, rezeki, dan jalan keluar atas persoalan yang dihadapinya.
Menurut beliau, keimanan dan ketakwaan merupakan kekayaan yang sangat tinggi nilainya. Seseorang yang memiliki sifat takwa, akhlak yang baik, dan keyakinan yang kuat kepada Allah sesungguhnya telah memiliki kekayaan yang luar biasa.
Beliau kemudian mengingatkan firman Allah swt yang menjelaskan bahwa kenikmatan dunia sangat sedikit apabila dibandingkan dengan kehidupan akhirat.
Qul matā‘ud-dunyā qalīlun wal-ākhiratu khairul limanittaqā.
“Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.’” (QS. An-Nisa’ [4]: 77)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa harta dan kenikmatan dunia sesungguhnya tidak memiliki nilai yang besar apabila dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Kenikmatan akhirat merupakan sesuatu yang lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.
Karena itu, seseorang yang memiliki ketakwaan telah memiliki kekayaan yang sangat besar, meskipun tidak memiliki banyak harta. Beliau mengutip sabda Rasulullah saw yang menjelaskan bahwa ketakwaan sudah cukup untuk menjadikan seseorang merasa kaya.
Dalam penjelasan berikutnya, Syaikh Mohammad Sharifani juga mengingatkan bahwa kunci seluruh kekayaan adalah keimanan kepada Allah swt. Dengan memiliki keimanan dan ketakwaan, seseorang mempunyai kekayaan yang tidak dapat dinilai berdasarkan ukuran materi.
Prinsip kelima yang disampaikan adalah kekayaan berupa akal dan ilmu pengetahuan. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan berpikir dengan baik dan mempunyai ilmu sesungguhnya telah memiliki kekayaan yang sangat besar.
Menurut beliau, kemampuan menggunakan akal dan pengetahuan merupakan sesuatu yang sangat berharga. Seseorang yang mampu berpikir dengan baik tidak berada pada kedudukan yang sama dengan orang yang tidak menggunakan akalnya atau tidak memiliki pengetahuan.
Untuk menjelaskan hal tersebut, beliau mengutip firman Allah swt:
Qul hal yastawillażīna ya‘lamūna wallażīna lā ya‘lamūn.
“Katakanlah, ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” (QS. Az-Zumar [39]: 9)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa melalui ayat tersebut, Allah swt memperlihatkan adanya perbedaan antara orang yang memiliki ilmu dan orang yang tidak memilikinya. Pengetahuan memberikan kedudukan dan nilai yang berbeda kepada manusia.
Beliau juga mengingatkan firman Allah swt mengenai orang yang mendapatkan hikmah.
Yu’til-ḥikmata man yasyā’, wa may yu’tal-ḥikmata faqad ūtiya khairan katsīrā, wa mā yażżakkaru illā ulul-albāb.
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 269)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut Allah swt menyebut hikmah sebagai sesuatu yang mendatangkan kebaikan yang sangat banyak. Beliau menekankan bahwa Al-Qur’an tidak menyatakan bahwa siapa pun yang diberikan harta berarti telah memperoleh kebaikan yang melimpah. Sebaliknya, Allah menyatakan bahwa orang yang diberikan hikmah telah memperoleh kebaikan yang sangat banyak.
Menurut beliau, hikmah yang berkaitan dengan ilmu dan kemampuan berpikir merupakan kekayaan yang sangat berharga. Dengan ilmu dan akal, seseorang memiliki sesuatu yang dapat memberikan manfaat besar dalam kehidupannya.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengutip perkataan Imam Ali as yang menyatakan bahwa kekayaan yang paling tinggi nilainya adalah akal. Tidak ada harta yang dapat dibandingkan dengan nilai akal yang dimiliki manusia. Semakin baik seseorang menggunakan akalnya dan semakin banyak pengetahuan yang dimilikinya, semakin besar pula kekayaan yang ada pada dirinya.
Beliau juga mengingatkan perkataan Imam Ali as yang sangat dikenal mengenai perbedaan ilmu dan harta, yaitu al-‘ilmu yaḥrusuka wa anta taḥrusul-māl. Ilmu akan menjaga manusia, sedangkan manusia harus menjaga hartanya.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa apabila seseorang memiliki banyak harta, dirinya harus selalu berusaha menjaga kekayaan tersebut agar tidak hilang atau diambil orang lain. Berbagai usaha dilakukan untuk melindungi harta yang dimiliki.
Namun, keadaan tersebut berbeda dengan ilmu. Apabila seseorang memiliki pengetahuan, ilmu itulah yang akan menjaga dirinya. Karena itu, menurut beliau, ilmu memiliki nilai yang lebih tinggi daripada harta yang harus terus-menerus dijaga oleh pemiliknya.
Untuk memperkuat penjelasan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip nasihat Imam Musa Al-Kazhim as kepada salah seorang sahabat beliau yang bernama Hisyam.
Dalam nasihat tersebut, Imam Musa Al-Kazhim as menjelaskan bahwa apabila seseorang ingin menjadi kaya tanpa harus memiliki kekayaan materi, hendaknya orang tersebut memohon kepada Allah swt agar diberikan kesempurnaan akal.
Syaikh Mohammad Sharifani menerangkan bahwa seseorang dapat berdoa kepada Allah agar diberikan akal yang baik, kemampuan berpikir yang benar, dan kesempurnaan dalam menggunakan akalnya. Dengan demikian, seseorang dapat memperoleh kekayaan melalui akal dan ilmu yang dianugerahkan Allah swt.
Beliau kemudian menyampaikan sebuah kisah mengenai dua orang yang sedang berdoa di dekat Ka’bah. Keduanya berpegangan pada bagian Ka’bah sambil menyampaikan permohonan masing-masing kepada Allah swt.
Orang pertama berdoa agar Allah memberikannya kekayaan yang sangat banyak. Dirinya memohon agar memperoleh harta yang melimpah. Sementara itu, orang kedua yang berada di dekatnya memanjatkan doa yang berbeda. Orang tersebut meminta kepada Allah agar diberikan kecerdasan sehingga dengan kecerdasan itu dirinya dapat mengambil kekayaan yang dimiliki orang pertama.
Melalui kisah tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menggambarkan betapa besar nilai kemampuan berpikir apabila dibandingkan dengan sekadar memiliki harta. Orang yang memperoleh kekayaan materi dapat kehilangan hartanya, sedangkan orang yang memiliki kecerdasan mempunyai kemampuan yang dapat digunakannya untuk memperoleh sesuatu.
Setelah membahas kekayaan berupa akal dan ilmu, Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan penjelasan mengenai prinsip keenam, yaitu kekayaan yang diperoleh melalui sifat kanaah.
Beliau menjelaskan bahwa kanaah merupakan sikap menerima dengan senang hati apa yang telah dimiliki dan merasa cukup dengan sesuatu yang tersedia. Orang yang memiliki sifat kanaah tidak terus-menerus merasa kekurangan karena dirinya mampu menerima apa yang telah diberikan Allah swt kepadanya.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, sifat kanaah merupakan kekayaan yang sangat besar. Seseorang yang memiliki banyak harta belum tentu merasa kaya apabila dirinya masih terus merasa kurang. Sebaliknya, seseorang yang memiliki harta terbatas dapat merasa kaya apabila dirinya memiliki sikap kanaah.
Beliau kemudian mengutip sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa orang kaya adalah orang yang tidak merasa kekurangan. Dengan memiliki sifat kanaah, seseorang tidak selalu merasa miskin atau membutuhkan sesuatu yang berada di luar kemampuannya.
Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa orang yang memiliki kanaah akan merasa cukup dengan apa yang tersedia. Dirinya tidak terus-menerus diliputi perasaan kekurangan yang mendorongnya menggantungkan harapan kepada orang lain.
Dalam kaitan ini, beliau mengutip perkataan Imam Ali as yang menyatakan bahwa beliau mencari kekayaan dan menemukan bahwa kekayaan tersebut berada dalam sifat kanaah.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, perkataan tersebut menunjukkan bahwa kekayaan yang sesungguhnya dapat ditemukan ketika manusia mampu merasa cukup. Dengan kanaah, seseorang tidak selalu merasa perlu mengulurkan tangan kepada orang lain karena menganggap apa yang dimilikinya tidak mencukupi.
Prinsip ketujuh adalah kekayaan jiwa. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa seseorang dapat disebut kaya apabila memiliki jiwa yang besar, meskipun secara materi dirinya tidak mempunyai banyak harta.
Beliau menerangkan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat penjelasan mengenai orang-orang fakir yang justru mendapatkan pujian dari Allah swt. Mereka sesungguhnya berada dalam keadaan kekurangan secara materi, tetapi memiliki kebesaran jiwa sehingga tidak meminta-minta kepada orang lain.
Allah swt menggambarkan keadaan mereka dalam Surah Al-Baqarah:
Yaḥsabuhumul-jāhilu aghniyā’a minat-ta‘affuf.
“Orang lain yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta).” (QS. Al-Baqarah [2]: 273)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa orang-orang tersebut sebenarnya berada dalam keadaan miskin. Namun, mereka tidak memperlihatkan kemiskinannya kepada orang lain dan tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk terus-menerus meminta bantuan.
Karena sikap tersebut, orang-orang yang tidak mengetahui keadaan mereka dapat menganggap bahwa mereka merupakan orang kaya. Padahal, secara materi mereka benar-benar membutuhkan bantuan. Namun, kebesaran jiwa membuat mereka tetap menjaga kehormatan diri.
Beliau menekankan bahwa Al-Qur’an memberikan perhatian kepada orang-orang seperti ini. Walaupun tidak mempunyai banyak harta, mereka memiliki jiwa yang besar dan tidak menggantungkan kehidupan kepada pemberian orang lain.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengutip sebuah hadis yang menjelaskan bahwa kekayaan bukanlah karena seseorang memiliki banyak tanah atau harta benda. Kekayaan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang memiliki jiwa yang besar dan tidak menjadikan meminta-minta kepada orang lain sebagai kebiasaan.
Menurut beliau, orang yang memiliki kebesaran jiwa telah mempunyai salah satu bentuk kekayaan yang sangat penting dalam kehidupan. Kemuliaan tersebut tidak ditentukan oleh banyaknya materi, melainkan oleh keadaan jiwa dan kemampuan menjaga kehormatan diri.
Prinsip kedelapan yang disampaikan Syaikh Mohammad Sharifani adalah meninggalkan angan-angan yang berlebihan. Beliau menjelaskan bahwa seseorang dapat memperoleh kekayaan batin apabila tidak memenuhi pikirannya dengan berbagai keinginan dan khayalan yang tidak berkesudahan.
Untuk menjelaskan persoalan tersebut, beliau memberikan contoh mengenai usia manusia. Syaikh Mohammad Sharifani menyebutkan bahwa dirinya bersama Ustaz Umar telah berusia sekitar 65 tahun atau lebih, sedangkan sebagian jemaah yang hadir mungkin masih berusia di bawah 50 tahun.
Beliau kemudian mengajak jemaah memperhatikan bahwa usia manusia memiliki batas. Apabila seseorang yang telah berusia sekitar 65 tahun diberikan umur hingga 80 tahun, waktu yang tersisa hanya sekitar 15 tahun. Apabila Allah swt memberikan usia hingga 90 atau 100 tahun, waktu yang dimiliki pun tetap terbatas.
Syaikh Mohammad Sharifani mempertanyakan apakah manusia benar-benar mengetahui bahwa dirinya akan mencapai usia 100 tahun. Menurut beliau, tidak ada seorang pun yang dapat memastikan berapa lama dirinya masih akan hidup di dunia.
Akan tetapi, dalam kenyataannya masih terdapat orang-orang yang telah berusia lanjut dan mendekati akhir kehidupannya, tetapi tetap dipenuhi berbagai angan-angan mengenai kekayaan. Mereka masih membayangkan bagaimana memperoleh harta yang sangat banyak, membangun berbagai hal, atau bahkan menginginkan sesuatu yang tidak realistis, seolah-olah seluruh gunung dapat berubah menjadi emas.
Beliau mengingatkan bahwa manusia harus menyadari keadaan dan keterbatasan dirinya. Seseorang tidak seharusnya terus-menerus memenuhi kehidupannya dengan angan-angan yang tidak ada habisnya, terlebih ketika usia yang dimiliki semakin berkurang.
Dalam kaitan ini, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip sebuah ungkapan dari Imam Maksum as, Asyraful-ghinā tarkul-munā, yang menjelaskan bahwa bentuk kekayaan yang paling mulia adalah meninggalkan angan-angan.
Menurut beliau, seseorang yang mampu meninggalkan angan-angan berlebihan telah memiliki kekayaan yang sangat berharga. Dirinya tidak lagi menghabiskan kehidupan hanya untuk membayangkan berbagai hal yang belum tentu dapat diperolehnya.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian melanjutkan pembahasan mengenai prinsip kesembilan, yaitu tidak menaruh harapan kepada sesuatu yang berada dalam kepemilikan orang lain.
Beliau menjelaskan bahwa manusia hendaknya tidak menjadikan harta dan kepemilikan orang lain sebagai sesuatu yang terus-menerus diinginkan. Ketika melihat seseorang mempunyai kekayaan tertentu, manusia tidak perlu selalu berharap agar dapat memiliki apa yang dimiliki orang tersebut.
Menurut beliau, sikap seperti ini merupakan salah satu bentuk kekayaan yang penting. Seseorang tidak menggantungkan harapannya kepada manusia dan tidak menjadikan kekayaan orang lain sebagai pusat perhatian dalam kehidupannya.
Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa ketika Allah swt memberikan rezeki kepada seseorang, orang lain tidak perlu merasa iri atau terus-menerus memperhatikan apa yang diterimanya. Sebaliknya, manusia seharusnya mengarahkan perhatian dan harapannya kepada apa yang berada di sisi Allah swt.
Beliau juga mengingatkan ajaran Al-Qur’an agar manusia tidak terus-menerus mengarahkan pandangannya kepada berbagai kenikmatan dunia yang diberikan Allah kepada orang lain. Sesuatu yang dimiliki orang lain tidak seharusnya menjadi alasan bagi seseorang untuk merasa kekurangan atau menumbuhkan keinginan yang tidak berkesudahan.
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip sebuah hadis qudsi yang mengingatkan bahwa Allah swt akan memutus harapan orang yang melakukan sesuatu bukan karena-Nya.
Beliau menerangkan bahwa apabila seseorang melakukan suatu perbuatan bukan karena Allah, melainkan karena mengharapkan uang, pemberian, atau sesuatu dari manusia, dirinya telah menggantungkan harapan kepada selain Allah. Dalam hadis qudsi tersebut, Allah mengingatkan bahwa harapan seperti itu akan diputuskan.
Karena itu, Syaikh Mohammad Sharifani menekankan agar manusia tidak menjadikan sesuatu yang berada di tangan orang lain sebagai sandaran utama. Apa pun rezeki yang diterima orang lain tidak perlu menimbulkan rasa iri. Manusia hendaknya lebih memperhatikan apa yang berada di sisi Allah swt daripada terus-menerus menginginkan sesuatu yang dimiliki sesamanya.
Setelah menguraikan berbagai prinsip tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan prinsip kesepuluh, yaitu kekayaan berupa lisan yang baik. Beliau menyebut istilah lisānu ṣidqin dalam Al-Qur’an, yang berkaitan dengan tutur kata yang baik dan nama baik seseorang di tengah masyarakat.
Menurut beliau, memiliki lisan yang baik merupakan salah satu bentuk kekayaan yang sangat besar. Seseorang yang selalu berbicara dengan baik, tidak menghina orang lain, dan tidak menggunakan ucapannya untuk menyakiti sesama telah mempunyai sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupannya.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa terdapat dua hal yang berkaitan dengan lisan yang baik. Pertama, seseorang dikenal oleh orang lain sebagai pribadi yang selalu menyampaikan perkataan yang baik. Orang-orang di sekitarnya memberikan penilaian positif karena dirinya tidak terbiasa menghina, mencela, atau membicarakan keburukan orang lain.
Beliau menerangkan bahwa orang seperti ini mendapatkan pujian dari masyarakat karena tutur katanya. Ketika orang lain berinteraksi dengannya, mereka merasakan kebaikan dalam ucapan dan sikapnya. Dengan demikian, orang tersebut memiliki nama baik yang lahir dari kebiasaannya menjaga lisan.
Hal kedua adalah bahwa orang tersebut juga senantiasa melakukan kebaikan kepada sesamanya. Dengan kata lain, kebaikannya tidak hanya terdapat dalam perkataan, tetapi juga terlihat melalui perbuatan. Dirinya berbicara dengan baik dan memperlakukan orang lain dengan baik sehingga mendapatkan penghargaan dari lingkungan sekitarnya.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa perpaduan antara ucapan dan perbuatan yang baik akan menjadikan seseorang memiliki kedudukan terhormat di tengah masyarakat. Orang lain mengenalnya sebagai pribadi yang baik karena apa yang disampaikan melalui lisan sesuai dengan kebaikan yang dilakukannya.
Beliau kemudian mengutip sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa orang yang dianugerahi lisan yang baik memperoleh sesuatu yang lebih berharga daripada kekayaan yang diberikan seseorang tetapi disertai penghinaan.
Menurut beliau, terdapat keadaan ketika seseorang memperoleh harta dari orang lain, tetapi pemberian tersebut justru disertai perkataan yang merendahkan atau menghina penerimanya. Dalam keadaan seperti itu, harta memang diperoleh, tetapi kehormatan orang tersebut dapat terluka akibat perlakuan pemberinya.
Sebaliknya, orang yang memiliki lisan yang baik dan mendapatkan penghormatan dari orang lain telah mempunyai kekayaan yang lebih tinggi nilainya. Beliau menjelaskan bahwa lebih baik seseorang memiliki tutur kata yang baik dan tidak mendapatkan penghinaan daripada memperoleh harta yang justru mendatangkan perlakuan merendahkan dari orang lain.
Karena itu, Syaikh Mohammad Sharifani menempatkan lisan yang baik sebagai salah satu ukuran kekayaan kautsari. Kekayaan tersebut tidak berupa uang atau harta benda, melainkan kehormatan dan kebaikan yang lahir dari perkataan serta perbuatan seseorang.
Memasuki prinsip kesebelas sekaligus yang terakhir, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ukuran kekayaan yang sesungguhnya baru akan diketahui ketika manusia berada di alam akhirat.
Beliau mengingatkan bahwa selama hidup di dunia, manusia dapat memiliki berbagai macam harta dan memperoleh kedudukan yang tinggi dalam pandangan masyarakat. Namun, keadaan tersebut belum tentu menunjukkan bahwa dirinya benar-benar kaya dalam pandangan Allah swt.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ukuran terakhir mengenai kaya atau miskinnya seseorang akan terlihat ketika manusia menghadapi kehidupan akhirat. Pada saat itulah akan diketahui apakah seseorang benar-benar memiliki kekayaan yang bernilai di sisi Allah atau justru berada dalam keadaan miskin.
Karena itu, beliau menegaskan bahwa persoalan yang paling penting bukanlah seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan selama hidup di dunia, melainkan bagaimana seseorang dapat memperoleh keselamatan ketika berada di akhirat.
Untuk menjelaskan hal tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menceritakan sebuah kisah mengenai seorang tokoh yang dikenal memiliki kebijaksanaan dan kecerdasan, yaitu Nasiruddin At-Tusi. Dalam penjelasannya, beliau menyebut Nasiruddin At-Tusi sebagai seorang tokoh dari kalangan pengikut ahlul bait as yang dikenal luas melalui kisah-kisah penuh hikmah.
Beliau kemudian menyinggung bahwa dalam berbagai kisah yang mengandung pelajaran dan kebijaksanaan, terdapat sejumlah nama yang sering muncul, seperti Nasiruddin At-Tusi, Buhlul atau Bahlul, dan Abu Nawas.
Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan kepada jemaah bahwa tokoh-tokoh tersebut, sebagaimana beliau jelaskan, merupakan pengikut ahlul bait as. Menurut beliau, kisah-kisah yang dinisbatkan kepada mereka tidak hanya dimaksudkan untuk menghadirkan kelucuan, tetapi juga mengandung hikmah dan pelajaran mengenai kehidupan.
Beliau memberikan contoh mengenai Abu Nawas yang dikenal luas melalui berbagai cerita jenaka. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, kisah-kisah tersebut tidak semata-mata berisi humor, tetapi juga menyampaikan kebijaksanaan melalui cara yang sederhana dan mudah dipahami.
Demikian pula dengan Buhlul, yang dalam penyebutan masyarakat Indonesia sering disebut Bahlul. Syaikh Mohammad Sharifani menyinggung bahwa kata tersebut dalam bahasa sehari-hari kerap digunakan untuk menyebut orang yang bodoh. Namun, dalam kisah-kisah yang beliau ceritakan, Buhlul digambarkan sebagai tokoh yang seolah-olah memperlihatkan kebodohan, padahal di balik sikap tersebut terdapat kecerdasan dan kebijaksanaan.
Selanjutnya, Syaikh Mohammad Sharifani menceritakan sebuah peristiwa mengenai Nasiruddin At-Tusi yang pernah mendapatkan ejekan dari orang lain. Dalam kisah tersebut, seseorang mempertanyakan mengapa janggut Nasiruddin At-Tusi terlihat seperti janggut kambing. Orang lain juga mengejek penampilannya dengan mengatakan bahwa giginya menyerupai gigi anjing.
Menghadapi ejekan tersebut, Nasiruddin At-Tusi tidak memberikan perhatian yang besar kepada perkataan orang-orang yang menghinanya. Beliau justru menyampaikan bahwa orang lain boleh saja mengatakan dirinya seperti kambing atau anjing, tetapi yang paling penting baginya adalah keselamatan dirinya dalam menjalani kehidupan.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa melalui jawaban tersebut, Nasiruddin At-Tusi memperlihatkan sikap tidak terlalu memedulikan penghinaan orang lain. Baginya, keselamatan jauh lebih penting daripada penilaian atau ejekan yang disampaikan manusia.
Beliau menggambarkan bahwa apa pun yang dikatakan orang lain mengenai penampilan seseorang tidaklah menjadi persoalan utama. Hal yang paling penting adalah bagaimana manusia dapat melewati kehidupannya dengan selamat dan pada akhirnya memperoleh keselamatan di hadapan Allah swt.
Melalui kisah tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani kembali mengingatkan jemaah bahwa ukuran kekayaan yang paling menentukan bukanlah sesuatu yang tampak secara lahiriah. Kekayaan materi, penampilan, ataupun penilaian orang lain tidak menjadi ukuran terakhir bagi kehidupan manusia. Ukuran yang sesungguhnya akan terlihat ketika seseorang menghadapi kehidupan akhirat dan diketahui bagaimana kedudukannya di sisi Allah swt.



