Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) menyelenggarakan Kelas Tafsir Tartibi pada Jumat, 12 Desember 2025, dengan narasumber Syaikh Mohammad Sharifani, Direktur ICC. Dalam kelas tafsir ini, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jamaah mendalami ayat-ayat Surah Al-Baqarah yang mengisahkan perjalanan Nabi Musa as bersama Bani Israil, khususnya ayat 60 dan 61, sebagai pelajaran ruhani yang relevan bagi seluruh umat manusia sepanjang zaman.

Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani memulai dengan membacakan firman Allah swt:
Wa idzistasqâ mûsâ liqaumihî fa qulnadlrib bi‘ashâkal-ḥajar, fanfajarat min-hutsnatâ ‘asyrata ‘ainâ, qad ‘alima kullu unâsim masyrabahum, kulû wasyrabû mir rizqillâhi wa lâ ta‘tsau fil-arḍi mufsidîn
“(Ingatlah) ketika Musa memohon (curahan) air untuk kaumnya. Lalu, Kami berfirman, ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu!’ Maka, memancarlah darinya (batu itu) dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah dan janganlah melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 60)

Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa terdapat tiga poin penting dalam ayat ini yang perlu menjadi catatan. Poin pertama berkaitan dengan perintah Allah swt kepada Nabi Musa as untuk memukul batu dengan tongkat. Perintah ini memberikan isyarat bahwa mata air yang memancar tersebut merupakan mata air gaib, dalam arti ia muncul bukan karena sebab alamiah biasa, melainkan karena pukulan tongkat Nabi Musa as atas izin Allah swt. Hal ini menunjukkan bahwa kekuasaan Allah swt tidak terikat oleh sebab-sebab material yang lazim dikenal manusia.

Poin kedua adalah perintah Allah swt agar Bani Israil makan dan minum dari rezeki Allah swt. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa kalimat ini menegaskan air yang mereka minum dan makanan yang mereka peroleh bukanlah hasil upaya dan kerja keras mereka, melainkan murni pemberian dari Allah swt. Manusia sering kali lupa bahwa apa yang mereka nikmati bukan semata-mata hasil usaha pribadi, tetapi karunia yang dianugerahkan oleh Allah swt.

Poin ketiga adalah larangan Allah swt untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa peringatan ini berkaitan langsung dengan limpahan nikmat yang diberikan Allah swt kepada Bani Israil. Manusia, ketika mendapatkan sesuatu yang bersifat materi dalam jumlah besar, memiliki kecenderungan untuk terjerumus pada perbuatan dosa dan tindakan yang merusak. Oleh karena itu, Allah swt mengingatkan Bani Israil agar nikmat air dan kesejahteraan yang mereka peroleh tidak menjauhkan mereka dari Allah swt.

Melanjutkan penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani membacakan ayat berikutnya yang masih berkaitan erat dengan sikap Bani Israil:
Wa idz qultum yâ mûsâ lan nashbira ‘alâ tha‘âmiw wâḥidin fad‘u lanâ rabbaka yukhrij lanâ mimmâ tumbitul-arḍu mim baqlihâ wa qitstsâ’ihâ wa fûmihâ wa ‘adasihâ wa bashalihâ, qâla a tastabdilûnalladzî huwa adnâ billadzî huwa khaîr, ihbithû mishran fa inna lakum mâ sa’altum, wa ḍuribat ‘alaihimudz-dzillatu wal-maskanatu wa bâ’û bighaḍabim minallâh, dzâlika bi’annahum kânû yakfurûna bi’âyâtillâhi wa yaqtulûnan-nabiyyîna bighairil-ḥaqq, dzâlika bimâ ‘aṣaw wa kânû ya‘tadûn
“(Ingatlah) ketika kamu berkata, ‘Wahai Musa, kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan. Maka, mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah.’ Dia (Musa) menjawab, ‘Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota. Pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.’ Kemudian, mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena sesungguhnya mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu ditimpakan karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah [2]: 61)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa teguran Nabi Musa as kepada Bani Israil dalam ayat ini berkaitan dengan dua hal utama. Pertama, makanan yang diberikan Allah swt kepada mereka memiliki nilai yang tinggi, namun mereka justru meminta sesuatu yang remeh dan rendah nilainya. Kedua, makanan-makanan yang mereka minta sebenarnya mudah mereka peroleh ketika masih berada di Mesir. Namun, di Mesir mereka hidup dalam penindasan dan kehilangan kebebasan, sedangkan bersama Nabi Musa as mereka hidup sebagai kaum yang merdeka.

Beliau menjelaskan bahwa ketika Nabi Musa as memerintahkan mereka untuk pergi ke sebuah kota untuk memperoleh makanan yang mereka inginkan, konsekuensi yang mereka terima justru berupa kehinaan dan murka Allah swt. Hal ini menunjukkan bahwa sikap tidak bersyukur membawa dampak buruk, meskipun secara lahiriah permintaan mereka tetap dipenuhi. Murka Allah swt dalam ayat ini, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, disebabkan oleh beberapa hal, yakni karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah swt, membunuh para nabi, tidak pernah patuh, serta selalu melanggar larangan Allah swt.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian memberikan beberapa catatan penting terkait tingkah laku Bani Israil dalam ayat ini. Catatan pertama adalah desakan mereka kepada Nabi Musa as yang menunjukkan ketidaksabaran terhadap satu jenis makanan. Menurut beliau, tuntutan mereka bukan sekadar persoalan makanan, melainkan bentuk penentangan dan sikap kurang ajar terhadap Nabi Musa as. Sebelumnya, Nabi Musa as telah menasihati mereka bahwa ketika menghadapi kesulitan, mereka harus meminta pertolongan Allah swt dan bersabar. Namun, mereka menjawab bahwa mereka tidak bisa bersabar selamanya, yang menunjukkan adanya maksud lain di balik permintaan tersebut.

Catatan kedua adalah permintaan mereka terhadap berbagai jenis makanan sebagai cerminan kerakusan. Ungkapan mereka yang menyatakan tidak akan bersabar atas satu jenis makanan menunjukkan sikap yang tidak pantas terhadap seorang nabi. Selain itu, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa meskipun bersama Nabi Musa as mereka memperoleh kebahagiaan dan kebebasan, yang mereka tuntut justru hal-hal yang bersifat materi. Hal ini menunjukkan bahwa Bani Israil lebih mengutamakan materi dibandingkan nilai-nilai ruhani.

Beliau menegaskan bahwa dalam kehidupan manusia, biasanya harta dikorbankan demi nyawa, dan bahkan nyawa seharusnya dikorbankan demi agama. Hal ini menunjukkan betapa tingginya nilai agama. Namun, Bani Israil justru melakukan kebalikan dengan mengorbankan agama demi hal-hal yang remeh.

Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani juga menguraikan makna kata tha‘âm yang digunakan dalam ayat tersebut. Kata ini tidak hanya bermakna makanan secara lahiriah, tetapi juga memiliki beberapa penggunaan lain dalam Al-Qur’an. Salah satunya digunakan untuk minuman, sebagaimana dalam kisah Nabi Daud as ketika menghadapi Jalut, Allah swt berfirman:
Fa man syariba min-hu fa laisa minnî, wa mal lam yath‘am-hu fa innahû minnî
“Maka, siapa yang meminum (airnya), sesungguhnya dia tidak termasuk (golongan)-ku. Siapa yang tidak meminumnya, sesungguhnya dia termasuk (golongan)-ku.” (QS. Al-Baqarah [2]: 249)

Selain itu, kata tha‘âm juga digunakan untuk makanan yang bersifat spiritual, sebagaimana dalam firman Allah swt:
Falyanẓuril-insānu ilā ṭa’āmih
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa [80]: 24)

Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud makanan dalam ayat ini bukanlah makanan materi, melainkan ilmu dan amal yang bersifat maknawi.

Poin selanjutnya yang disampaikan Syaikh Mohammad Sharifani adalah tentang ditimpakannya kehinaan kepada Bani Israil. Istilah ditimpakan dalam ayat tersebut menggambarkan bahwa kehinaan dan kerendahan itu menyelimuti mereka sehingga sulit bagi mereka untuk keluar darinya, seolah-olah diliputi oleh kain yang menutup pandangan mereka terhadap jalan keluar. Hal ini juga memberikan makna bahwa meskipun seseorang berlimpah secara materi, ketika ia jauh dari Allah swt, ia tetap berada dalam kehinaan.

Sebagai penutup penjelasan, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa sifat-sifat Bani Israil yang disebutkan dalam ayat ini bersifat berkesinambungan dan tidak terbatas pada masa lalu saja, tetapi dapat terus muncul hingga hari ini.

Leave a Reply