Pada hari Rabu, 30 Juli 2025, Majelis Taklim Zainab Al-Kubro kembali diisi dengan kajian rutin yang dibawakan langsung oleh Ustaz Umar Shahab di Islamic Cultural Center (ICC). Dalam kesempatan kali ini, Ustaz Umar Shahab mengajak para jamaah merenungi bagaimana cara melindungi diri dari bisikan setan, sesuai dengan ajaran Al-Qur’an.
Ustaz Umar Shahab membuka ceramahnya dengan mengingatkan para jamaah tentang pentingnya doa yang diajarkan Al-Qur’an dalam Surah Al-Mu’minun ayat 97: “Wa qur Rabbi a‘ûdzu bika min hamazâtisy-syayâthîn” — Katakanlah: Wahai Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Menurut Ustaz Umar Shahab, ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT membimbing hamba-Nya untuk selalu memohon perlindungan dari gangguan yang seringkali tidak tampak.
Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an memang sarat dengan doa-doa perlindungan. Surah Al-Falaq dan An-Naas pun pada hakikatnya adalah permohonan agar Allah SWT menjaga manusia dari keburukan yang kasat mata maupun yang tersembunyi. Dalam hal ini, Ustaz Umar Shahab mengingatkan kembali pesan Allah dalam Surah Fathir ayat 6: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka perlakukanlah dia sebagai musuh.”
Menurut Ustaz Umar Shahab, perintah untuk memperlakukan setan sebagai musuh bukan sekadar teori. Setan senantiasa berusaha menyesatkan manusia dari jalan kebenaran. Hal ini sudah ditegaskan dalam Surah Al-A‘raf ayat 16: “Qâla fa bimâ aghwaitanî la’aq‘udanna lahum shirâthakal-mustaqîm” — Iblis berkata: Karena Engkau telah menyesatkanku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Dengan kata lain, misi Iblis sejak diusir dari surga adalah menggoda manusia agar jauh dari jalan yang diridai Allah.
Beliau kemudian mengingatkan, persoalan terbesar manusia bukan sekadar karena setan hadir di depan mata. Justru sebaliknya, manusia kerap lengah karena tidak sadar bagaimana setan beroperasi. Jika musuhnya berupa manusia nyata seperti bangsa penjajah, tentu mudah dikenali. Namun setan tidak tampak, bisikan setan hadir melalui dorongan yang sangat halus di dalam hati manusia. Ustaz Umar Shahab mengingatkan jamaah bahwa bisikan setan bekerja melalui hawa nafsu yang menempel dalam diri setiap orang.
Beliau menegaskan, tidak jarang tipu daya setan membungkus kejahatan dengan tampilan kebaikan. Karena itulah, setiap Muslim perlu menyadari bahwa perlindungan hanya dapat diraih dengan dua cara. Pertama, senantiasa memanjatkan doa perlindungan kepada Allah SWT, sebagaimana dicontohkan dalam ayat-ayat tersebut. Kedua, memiliki kesadaran penuh untuk mengenali bisikan setan yang seringkali menyatu dengan hawa nafsu.
Dalam ceramahnya, Ustaz Umar Shahab menekankan bahwa setan bukan sekadar makhluk halus di luar diri manusia. Beliau menggambarkan, setiap manusia menyimpan potensi keburukan — layaknya potensi penyakit yang bisa aktif kapan saja. Potensi itulah yang disebut hawa nafsu. Jika tidak dikendalikan, hawa nafsu bisa berkembang menjadi ‘setan’ dalam diri manusia. Beliau mencontohkan analogi medis: setiap orang memiliki potensi terkena kanker, namun gaya hidup buruk dapat memicu sel kanker menjadi nyata. Begitu juga dengan potensi keburukan dalam jiwa manusia.
Ustaz Umar Shahab lalu mengutip Surah An-Nazi‘at ayat 40: “Wa nahan-nafsa ‘anil-hawâ” — Dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsu. Menurut beliau, Al-Qur’an menegaskan pentingnya pengendalian diri. Dorongan berbuat baik atau buruk selalu ada. Jika manusia membiarkan dorongan buruk mendominasi, maka ia telah menjadi bagian dari awliya setan — para pengikut atau pendukung setan.
Beliau menerangkan pembagian jiwa menurut para ulama: nafsu mutmainnah (jiwa yang tenang), nafsu lawwamah (jiwa yang selalu menyesali kesalahan), dan nafsu ammarah (jiwa yang condong kepada keburukan). Jiwa yang selalu mengikuti hawa nafsu jahat itulah yang menjadi awliya setan. Beliau menegaskan, para Nabi dan Imam suci memiliki potensi melakukan kesalahan, namun hawa nafsu mereka telah mati sejak kecil. Karena itulah mereka maksum, terjaga dari dosa.
Ustaz Umar Shahab juga menyinggung Iblis. Beliau mengingatkan bahwa Iblis awalnya adalah makhluk taat. Menurut penjelasan Imam Ali as yang dikutip oleh Ustaz Umar Shahab, Iblis telah beribadah ribuan tahun lamanya sebelum jatuh karena kesombongannya menolak sujud kepada Nabi Adam. Yang menggoda Iblis bukanlah makhluk lain, tetapi hawa nafsunya sendiri. Maka, sumber godaan terbesar manusia sesungguhnya datang dari dalam diri.
Beliau mengingatkan jamaah bahwa Iblis dan setan memiliki strategi yang amat halus. Mereka tidak harus merasuki secara fisik, cukup dengan membisikkan godaan pada kelemahan manusia: sifat egois, cinta dunia, kemalasan, dan keinginan instan. Semua itu dijadikan pintu masuk agar manusia berpaling dari kebaikan.
Menurut Ustaz Umar Shahab, cara terbaik melawan bisikan setan adalah dengan berjihad melawan hawa nafsu, yang disebut jihadun nafs. Inilah bentuk jihad terbesar, karena musuhnya bukan orang lain, melainkan diri sendiri. Beliau menutup kajian dengan menegaskan bahwa majelis ilmu seperti Majelis Taklim Zainab Al Kubro adalah salah satu bentuk jihadun nafs, karena setiap orang di dalamnya sedang berjuang menundukkan hawa nafsu dan menegakkan kebaikan di tengah bisikan-bisikan jahat.