Dalam khutbah Jumat yang disampaikan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada 1 Agustus 2025, Ustaz Hafidh Alkaf mengingatkan jamaah tentang makna bala, musibah, dan nahas, terutama di bulan Safar yang sering dikaitkan dengan duka dan ujian bagi Ahlul Bait AS.
Di awal khutbahnya, Ustaz Hafidh Alkaf mengajak jamaah untuk senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT serta bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarga beliau yang suci. Beliau juga berwasiat agar seluruh mukminin dan mukminat senantiasa bertakwa, sebagaimana perintah Allah SWT dalam banyak ayat-Nya: “Ittaqu”, yang berarti “Bertakwalah kalian.”
Beliau kemudian menjelaskan bahwa bulan Safar adalah bulan duka kedua bagi Ahlul Bait AS selain Muharram. Bulan ini mengingatkan umat pada perjalanan penuh derita Sayyidah Zainab AS yang digiring dari Karbala menuju Kufah, lalu ke Syam. Ketika pulang ke Madinah, kondisi Sayyidah Zainab AS bahkan membuat Abdullah bin Ja’far tidak mengenali istrinya sendiri hingga bertanya, “Wahai ibu tua, apakah engkau melihat Zainab, istriku?” Perjalanan panjang penuh luka lahir batin membuat Sayyidah Zainab AS tampak renta sebelum waktunya.
Dalam khutbahnya, Ustaz Hafidh Alkaf mengupas tiga istilah: bala, musibah, dan nahas.
Secara bahasa, bala berarti ujian. Allah SWT berfirman:
“Wa idzibtalâ Ibrâhîma rabbuhû bikalimâtin fa atammahunn.”
(“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna.”) — Al-Baqarah: 124.
Juga dalam ayat lain:
“Alladzî khalaqal-mauta wal-ḥayâta liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalâ.”
(“Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”) — Al-Mulk: 2.
Dari dua ayat ini, jelas bahwa bala berarti ujian yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Bahkan dalam riwayat disebutkan, ujian adalah cara Allah SWT meninggikan derajat hamba yang sabar. “Kalau hamba-Ku tahu bahwa di dalam ujian itu Aku sedang mengangkat derajatnya setinggi-tingginya, maka dia akan selalu berharap mendapatkan bala.”
Berbeda dengan bala, musibah adalah sesuatu yang menimpa, biasanya dalam konotasi negatif. Kata ini berasal dari ashaba-yushibu, yang berarti menimpa. Allah SWT berfirman:
“Alladzîna idzâ ashâbat-hum mushîbah qâlû innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn.”
(“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami kembali.’”) — Al-Baqarah: 156.
Sementara itu, nahas atau naas sering diartikan sial. Dalam masyarakat, kata ini muncul ketika seseorang merasa dirugikan oleh suatu keadaan. Namun, Ustaz Hafidh Alkaf menjelaskan, secara filosofis tidak ada yang benar-benar sial, karena segala sesuatu terikat hukum sebab-akibat. Jika seseorang lalai, lalu mendapat teguran, itu bukan sial, melainkan akibat dari kelalaiannya.
Al-Qur’an sendiri menggunakan kata nahas dalam konteks kemurkaan Allah SWT kepada kaum yang durhaka:
“Fa arsalnâ ‘alaihim rîḥan sharsharan fî ayyâmin nahisâtin linudzîqahum ‘adzâbal-khizyi fil-ḥayâtid-dunyâ.”
(“Maka Kami hembuskan angin yang sangat dingin dan bergemuruh kepada mereka selama beberapa hari yang nahas, agar Kami timpakan kepada mereka azab yang menghinakan di dunia.”) — Fushshilat: 16.
Dan:
“Innâ arsalnâ ‘alaihim rîḥan sharsharan fî yaumi nahsin mustamirr.”
(“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan angin yang sangat kencang kepada mereka pada hari nahas yang terus-menerus.”) — Al-Qamar: 19.
Kedua ayat ini berbicara tentang azab bagi kaum ‘Ad yang ingkar, sehingga hari-hari mereka menjadi nahas akibat perilaku mereka sendiri.
Rasulullah SAW pun menegaskan:
“Lâ ‘adwâ, wa lâ thiyarah, wa lâ hammah, wa lâ Shafar.”
(“Tidak ada penyakit menular (tanpa kehendak Allah), tidak ada thiyarah (menganggap sial karena pertanda), tidak ada kemalangan karena burung hantu, dan tidak ada kemalangan karena bulan Safar.”)
Beliau menjelaskan, sedekah yang dianjurkan di bulan Safar adalah cara Nabi SAW menghapus keyakinan jahiliah bahwa Safar adalah bulan sial. Faktanya, bulan ini memang sarat peristiwa duka bagi Ahlul Bait: wafatnya Rasulullah SAW, syahidnya Imam Hasan AS, Imam Ridha AS, dan perjalanan berat Sayyidah Zainab AS.
Di khutbah kedua, Ustaz Hafidh Alkaf kembali mengingatkan pentingnya takwa, sambil mengisahkan kembali duka di Syam. Di antara tawanan Karbala, ada Sayyidah Ruqayyah, putri kecil Imam Husain AS. Saat ditawan di Syam, Ruqayyah kecil terus menangis memanggil ayahnya. Sampai akhirnya, musuh membawa kepala suci Imam Husain AS ke hadapannya. Ruqayyah memeluk kepala ayahnya hingga isak tangisnya terhenti. Malam itu, Sayyidah Ruqayyah wafat dalam penawanan.
Peristiwa tragis ini, kata beliau, menjadi pengingat bahwa duka Ahlul Bait AS bukan hanya milik masa lalu. Di masa kini, umat Islam juga menyaksikan penderitaan rakyat Palestina dan kaum tertindas di berbagai penjuru dunia. Dukungan kepada mereka, sekecil apa pun, menjadi tanda kepedulian dan wujud takwa.
Khutbah ditutup dengan pengingat firman Allah SWT:
“Famay ya‘mal mitsqâla dzarratin khairay yarah.”
(“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.”)
“Wa may ya‘mal mitsqâla dzarratin syarray yarah.”
(“Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.”) — Az-Zalzalah: 7–8.