Rabu, 6 Agustus 2025, Majelis Taklim Akhwat ICC – Zainab Al-Kubro kembali menyelenggarakan kajian rutin bertema Ahlul Bait. Acara yang dilangsungkan di Aula ICC Jakarta ini menghadirkan narasumber Syaikh Mohammad Sharifani, yang mengangkat tema sentral mengenai “Langkah-langkah Menuju Shirathal Mustaqim Berdasarkan Al-Qur’an.”
Syaikh Mohammad Sharifani membuka kajian dengan ajakan untuk mensyukuri nikmat waktu yang telah diberikan Allah Swt. kepada setiap insan untuk mendalami petunjuk dari Al-Qur’an. Dalam pertemuan sebelumnya, telah dibahas doa yang paling agung dalam Al-Qur’an yaitu permohonan: “Ihdinas-shirâthal-mustaqîm.” Dalam kesempatan kali ini, beliau menguraikan beberapa hal yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai wasilah atau sebab seseorang bisa mendapatkan hidayah menuju jalan yang lurus.
Salah satu bentuk petunjuk itu adalah keimanan kepada Allah dan berpegang teguh kepada-Nya. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 175:
“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada-Nya, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat dari-Nya dan karunia-Nya, dan akan menunjukkan mereka kepada-Nya jalan yang lurus.”
(QS. An-Nisa: 175)
Ayat ini memberikan pengertian bahwa keimanan bukanlah sekadar pengakuan lisan, tetapi harus diiringi dengan keterikatan yang teguh kepada agama-Nya. Dalam kondisi demikian, Allah akan melimpahkan rahmat, karunia, dan petunjuk-Nya menuju shirathal mustaqim.
Sebab kedua adalah ibadah dan ketergantungan mutlak hanya kepada Allah. Surah Al-Fatihah yang dibaca berulang kali dalam setiap rakaat salat menjadi saksi atas hubungan antara ibadah dan permohonan petunjuk:
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
(QS. Al-Fatihah: 5–7)
Dalam penjelasan para mufassir, ayat ini menunjukkan bahwa siapa yang menyembah Allah secara eksklusif dan hanya memohon pertolongan kepada-Nya, maka ia telah menyiapkan dirinya untuk menerima hidayah yang akan membimbingnya ke jalan yang lurus.
Selanjutnya, kedekatan dengan Al-Qur’an merupakan faktor penting untuk mendapatkan petunjuk. Dalam Surah Al-Isra ayat 9 disebutkan:
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”
(QS. Al-Isra: 9)
Al-Qur’an digambarkan sebagai sumber utama petunjuk, dan bahkan dalam Surah Al-Ma’idah ayat 15–16 Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”
(QS. Al-Ma’idah: 15–16)
Dalam ayat ini, digunakan dua istilah: subulassalam (jalan-jalan keselamatan) dan shirathal mustaqim (jalan lurus). Subulassalam dipahami sebagai jalur-jalur yang akan menghantarkan seseorang menuju jalan utama, sedangkan shirathal mustaqim adalah jalan utama itu sendiri—jalan yang lurus, jelas, dan pasti menuju ridha Allah.
Nasihat juga menjadi sarana penting untuk membangkitkan kesadaran spiritual seseorang. Dalam sebuah riwayat, Imam Ali bin Abi Thalib a.s. berkata, “Hidupkanlah hatimu dengan nasihat-nasihat.” Nasihat yang berasal dari Al-Qur’an merupakan bentuk nasihat terbaik karena berasal langsung dari sumber kebenaran.
Dalam Surah An-Nisa ayat 66–68, Allah berfirman:
“Seandainya mereka melaksanakan pengajaran yang diberikan kepada mereka, sungguh itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). Dan jika demikian, pasti Kami anugerahkan kepada mereka dari sisi Kami pahala yang sangat besar. Dan pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan yang lurus.”
(QS. An-Nisa: 66–68)
Ayat ini menunjukkan bahwa kesediaan untuk menerima dan mengamalkan nasihat akan membuahkan empat hasil: kebaikan, keteguhan dalam iman, pahala besar, dan petunjuk menuju jalan lurus.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menguraikan secara mendalam makna ibadah dalam dua dimensi. Pertama, ibadah yang bersumber dari syariat, seperti salat, puasa, haji, dan lainnya yang tata caranya diajarkan langsung oleh Allah melalui para nabi. Kedua, ibadah yang dikenal oleh akal sehat, yaitu setiap perbuatan baik yang diniatkan karena Allah akan dihitung sebagai ibadah, seperti memuliakan orang tua, memandang Al-Qur’an dengan hormat, atau bahkan menyertai majelis ilmu dengan niat tulus.
Untuk menggambarkan pengaruh ibadah yang besar, beliau mengutip beberapa riwayat secara utuh. Salah satu riwayat menyebutkan tentang Uwais al-Qarni, seorang hamba Allah yang dikenal karena kecintaannya yang sangat dalam terhadap ibadah. Dalam sebagian malamnya, ia khususkan untuk rukuk yang panjang, dan malam lainnya untuk sujud, hingga subuh, sembari terus berdzikir.
Diriwayatkan pula bahwa Sayyidah Fatimah az-Zahra a.s., ketika berdiri untuk salat di mihrab, tubuhnya bergetar dan wajahnya berubah pucat karena perasaan haru saat bermunajat kepada Allah. Ketika ditanya mengenai hal itu, beliau menjawab, “Saat ini adalah saat menunaikan amanah dari Allah.”
Demikian pula Imam Ali Zainal Abidin a.s., dikenal dengan sujud yang panjang dan dzikir yang mendalam. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa alis beliau hampir bersatu karena begitu sering bersujud. Keadaan ini mencerminkan kecintaan yang sangat mendalam kepada ibadah dan kedekatan spiritual yang luar biasa.
Dalam sebuah riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah Saw. menghabiskan malamnya dalam ibadah yang panjang. Beliau bersujud sepanjang malam dan membaca secara berulang-ulang ayat berikut:
“Pasti akan Kami tanyai umat yang kepada mereka telah diutus para rasul, dan pasti akan Kami tanyai (pula) para rasul.”
(QS. Al-A’raf: 6)
Beliau menangis dalam sujudnya menghayati tanggung jawab besar seorang rasul terhadap umatnya. Riwayat-riwayat seperti ini menunjukkan betapa besarnya peran ibadah dalam menuntun jiwa manusia menuju shirathal mustaqim.
Karena itu, tidak mengherankan bila Al-Qur’an menegaskan hubungan antara ibadah dan jalan yang lurus dalam banyak ayat, seperti:
“Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu. Oleh karena itu, sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.”
(QS. Ali ‘Imran: 51)
“Sesungguhnya Allah, Dialah Tuhanku dan Tuhanmu. Sembahlah Dia! Ini adalah jalan yang lurus.”
(QS. Az-Zukhruf: 64)
“(Isa berkata,) Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu. Sembahlah Dia! Ini adalah jalan yang lurus.”
(QS. Maryam: 36)
“(Begitu juga bahwa) sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus.”
(QS. Yasin: 61)
Semua ayat ini menunjukkan bahwa ibadah yang murni kepada Allah adalah fondasi utama dari jalan yang lurus.