Kelas Tafsir Al-Qur’an Tartibi ICC Jakarta kembali diselenggarakan pada Jumat, 29 Agustus 2025, pukul 14.00 WIB di Aula ICC Jakarta. Kajian ini dipimpin langsung oleh Syaikh Mohammad Sharifani selaku Direktur ICC Jakarta, dengan penerjemahan oleh Ustaz Umar Shahab. Pada kesempatan ini, beliau melanjutkan pembahasan tafsir Surah Al-Baqarah ayat 17–22, yang memaparkan karakter orang-orang munafik melalui berbagai perumpamaan yang Allah swt sampaikan dalam Al-Qur’an.
Kelas Tafsir Al-Qur’an Tartibi yang rutin diadakan setiap Jumat pukul 14.00 WIB di Aula ICC Jakarta kembali diselenggarakan pada 29 Agustus 2025. Dalam kesempatan tersebut, kajian dipimpin oleh Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penutur utama dan diterjemahkan oleh Ustaz Umar Shahab. Pada pertemuan kali ini, Syaikh Sharifani melanjutkan penafsiran Surah Al-Baqarah ayat 17 hingga 22, yang berisi penggambaran tentang sifat orang-orang munafik serta perintah untuk beribadah kepada Allah SWT.
Di awal penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa salah satu ciri utama orang munafik adalah selalu diliputi keresahan dan kebimbangan. Hal itu timbul karena mereka menyembunyikan sesuatu yang berbeda dengan apa yang mereka tampakkan. Mereka menampilkan diri sebagai seorang mukmin, padahal sejatinya mereka tidak beriman. Untuk menggambarkan keadaan tersebut, Al-Qur’an menggunakan berbagai metode komunikasi, salah satunya melalui perumpamaan atau tamsil. Jumlah perumpamaan dalam Al-Qur’an disebut bisa mencapai ratusan, bahkan ada yang memperkirakan hingga seribu. Metode ini bertujuan agar pesan ilahi lebih mudah dipahami dan diingat manusia.
Salah satu tamsil yang terkenal adalah firman Allah dalam Surah An-Nur ayat 35, allāhu nūrus-samāwāti wal-ardh – “Allah adalah cahaya langit dan bumi.” Dalam ayat tersebut Allah mengumpamakan diri-Nya sebagai cahaya. Sementara itu, dalam Surah Al-Baqarah ayat 17 hingga 20, Allah memberi perumpamaan yang khusus untuk menggambarkan keadaan orang-orang munafik.
Ayat 17 menjelaskan bahwa keadaan orang munafik seperti seseorang yang menyalakan api di tengah kegelapan. Api itu sempat memberikan cahaya yang menerangi sekelilingnya, tetapi kemudian Allah melenyapkan cahaya tersebut, sehingga mereka kembali terjebak dalam kegelapan tanpa daya. Demikian pula amal kebaikan orang munafik mungkin sesaat memberi cahaya, namun karena tidak dilandasi iman, cahaya itu segera dipadamkan dan tak memberi manfaat di tengah kegelapan batin mereka.
Dalam ayat 18, orang-orang munafik digambarkan sebagai tuli, bisu, dan buta. Mereka digambarkan tuli karena tidak mau mendengarkan nasihat, bisu karena enggan mengucapkan kebenaran, dan buta karena tidak mampu membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Dengan keadaan demikian, mereka tidak mungkin kembali kepada jalan kebenaran.
Allah kemudian memberikan tamsil lain dalam ayat 19. Orang munafik diibaratkan berada di tengah hujan deras yang disertai petir, kilat, dan kegelapan. Karena ketakutan, mereka menyumbat telinga agar tidak mendengar suara petir yang menggelegar. Begitulah keadaan mereka yang selalu berada dalam kekalutan, khawatir jika kedok kemunafikan mereka terbongkar. Pada penutup ayat, Allah menegaskan wallāhu muhīthum bil-kāfirīn – Allah meliputi orang-orang kafir. Menurut penjelasan Syaikh Sharifani, kata “meliputi” di sini memiliki tiga dimensi: pertama, Allah hadir di setiap tempat sehingga keberadaan-Nya mencakup segala sesuatu; kedua, ilmu Allah meliputi segala hal, sehingga tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya; dan ketiga, pengawasan Allah meliputi setiap perbuatan hamba, sehingga mustahil bagi siapa pun bersembunyi dari-Nya.
Ayat 20 melanjutkan perumpamaan tersebut. Kilat yang menyambar hampir merenggut penglihatan mereka. Setiap kali cahaya kilat muncul, mereka melangkah mengikutinya, namun begitu kegelapan datang, mereka terhenti. Begitulah kondisi orang munafik, selalu berjalan dalam kebingungan dan hanya bergerak ketika ada secercah keuntungan yang mereka lihat, namun terhenti ketika cahaya itu lenyap. Jika Allah menghendaki, Dia bisa saja mencabut penglihatan dan pendengaran mereka sepenuhnya, sebab Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dengan ayat ini, berakhirlah rangkaian penjelasan tentang kaum munafik yang dalam Surah Al-Baqarah mencakup sekitar lima belas ayat. Penutup berupa perumpamaan ini, jelas Syaikh Sharifani, sengaja digunakan agar manusia lebih mudah mengingat betapa berbahayanya sifat munafik.
Setelah menutup bahasan tentang munafik, ayat 21 beralih menyeru seluruh manusia untuk beribadah kepada Allah SWT. Yā ayyuhan-nās u‘budū rabbakum alladzī khalaqakum walladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn – “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Ayat ini menegaskan bahwa falsafah penciptaan manusia adalah untuk beribadah, sebagaimana ditegaskan pula dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56, wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya‘budūn – “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Syaikh Sharifani menjelaskan bahwa dalam Surah Al-Baqarah ayat 21 dan 22, Allah menyebutkan berbagai alasan mengapa manusia wajib beribadah kepada-Nya. Pertama, karena Allah adalah Rabb, pengatur alam semesta. Inilah yang disebut sebagai burhān rubūbiyah, dalil bahwa pengaturan Allah atas seluruh ciptaan menjadi alasan utama kewajiban menyembah-Nya. Kedua, karena Allah adalah pencipta manusia. Inilah burhān khalqiyah, alasan penciptaan yang menuntut manusia untuk kembali beribadah kepada Sang Pencipta. Menariknya, Al-Qur’an meletakkan pengaturan lebih dulu daripada penciptaan, karena mencipta lebih mudah daripada mengatur, dan Allah menekankan bahwa Dialah yang senantiasa mengatur kehidupan manusia.
Alasan ketiga adalah karena ibadah merupakan jalan menuju ketakwaan. Tanpa ibadah, manusia tidak akan sampai pada kesempurnaan kualitas diri yang disebut takwa. Keempat, karena Allah menganugerahkan bumi sebagai karunia luar biasa. Bumi dijadikan hamparan yang dapat dimanfaatkan, ditundukkan untuk manusia, dijadikan sumber makanan, sekaligus jalan untuk menjelajahinya. Dengan segala nikmat bumi ini, manusia dituntut bersyukur kepada Allah melalui ibadah.
Kelima, Allah menganugerahkan langit. Langit berfungsi sebagai atap yang menaungi, sebagai pelindung, dan juga sebagai hiasan yang indah, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Mulk ayat 5 bahwa langit dunia dihiasi dengan bintang-bintang. Keenam, Allah menurunkan hujan dari langit, darinya tumbuh buah-buahan yang menjadi rezeki manusia. Bahkan dalam Surah Al-Anbiya’ ayat 30 disebutkan bahwa segala yang hidup diciptakan dari air. Nikmat berupa air ini menjadi alasan lain yang menegaskan kewajiban ibadah.
Terakhir, Allah memperingatkan manusia agar tidak menyekutukan-Nya dengan firman fa lā taj‘alū lillāhi andādan wa antum ta‘lamūn – “Maka janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” Dengan penutup ini, Allah mengingatkan bahwa segala alasan yang telah disebutkan mengharuskan manusia hanya menyembah-Nya, tanpa menempatkan sesuatu pun sebagai tandingan.
Kelas Tafsir Tartibi ICC Jakarta bersama Syaikh Mohammad Sharifani yang rutin diadakan setiap Jumat pukul 14.00 WIB di Aula ICC Jakarta menjadi sarana penting bagi jamaah untuk memperdalam pemahaman tafsir Al-Qur’an secara tartibi. InsyaAllah pada pekan mendatang, kajian akan berlanjut dengan pembahasan ayat-ayat berikutnya.