Islamic Cultural Center Jakarta menggelar salat Jumat pada 22 Mei 2026 dengan khutbah yang disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani dan diterjemahkan oleh Ustaz Hafidh Alkaf. Dalam khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani membahas bahaya dosa menurut Al-Qur’an dan riwayat Ahlulbait as, pentingnya memanfaatkan momentum spiritual Hari Arafah, serta urgensi menjaga persatuan umat Islam di tengah berbagai upaya perpecahan yang dilakukan musuh-musuh Islam.
Pada bagian awal khutbah pertama, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa dalam beberapa bulan sebelumnya forum khutbah Jumat ICC Jakarta telah membahas dua tema besar. Tema pertama adalah akhlak Rasulullah saw dan faktor-faktor yang menyebabkan keberhasilan beliau dalam menyampaikan risalah Islam. Tema kedua adalah faktor-faktor keberhasilan dan kesuksesan menurut Al-Qur’an yang dibahas selama kurang lebih empat hingga lima bulan.
Beliau menjelaskan bahwa khutbah Jumat sejatinya merupakan forum pendidikan dan penyampaian ilmu pengetahuan Islam. Namun karena waktu khutbah sangat terbatas, maka pembahasan harus dilakukan secara bertahap. Menurut beliau, Al-Qur’anul Karim mengandung sangat banyak ajaran dan pengetahuan yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan mereka, sehingga khutbah Jumat harus dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran umat.
Karena itu, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa dalam beberapa bulan ke depan pembahasan khutbah Jumat akan diarahkan kepada tema-tema “ma‘rifat qurani”, yaitu pengetahuan-pengetahuan Al-Qur’an yang sangat dibutuhkan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Tema pertama yang dipilih adalah tentang dosa dan berbagai peringatan Al-Qur’an terhadap perbuatan maksiat.
Beliau menjelaskan bahwa terdapat sangat banyak ayat dan riwayat yang memperingatkan manusia agar tidak terjerumus ke dalam dosa. Agar pembahasan tersusun secara sistematis, beliau kemudian menyampaikan beberapa kaidah penting tentang dosa yang akan dibahas dalam beberapa pertemuan khutbah Jumat.
Pada kaidah pertama, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa orang yang tenggelam dalam dosa dan terus dikuasai oleh dosa pada akhirnya akan berakhir di neraka Jahannam. Beliau mengingatkan bahwa Al-Qur’an menegaskan siapa saja yang terus mengumpulkan dosa hingga dosa menguasai dirinya, maka mereka akan menjadi penghuni neraka.
Beliau juga menyampaikan sebuah riwayat yang menjelaskan bahwa Allah swt memiliki para malaikat yang setiap siang dan malam menyeru manusia agar menjauhi dosa. Para malaikat tersebut menyerukan kepada seluruh hamba Allah agar menahan diri dari kemaksiatan karena akibat dosa sangatlah berat dan berbahaya bagi kehidupan manusia.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan lanjutan riwayat tersebut yang menyebutkan bahwa seandainya bukan karena adanya hewan-hewan ternak yang memakan rerumputan, anak-anak kecil yang menyusu kepada ibu mereka, dan orang-orang tua yang telah renta, maka Allah swt akan menurunkan azab kepada manusia akibat dosa-dosa mereka. Menurut beliau, riwayat ini menunjukkan betapa besar dampak buruk dosa terhadap kehidupan manusia dan masyarakat.
Pada kaidah kedua, beliau menjelaskan bahwa dosa dapat membuat manusia kecanduan untuk terus mengulanginya. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip hadis Rasulullah saw yang memperingatkan manusia agar berhati-hati terhadap “kemabukan dosa”.
Beliau menjelaskan bahwa sebagaimana minuman keras dapat memabukkan seseorang hingga membuatnya terus mengulang kebiasaan buruk tersebut, dosa juga memiliki dampak yang serupa terhadap jiwa manusia. Bahkan menurut beliau, dampak dosa jauh lebih berbahaya daripada mabuk karena minuman keras.
Dalam khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa dosa dapat menutup mata hati manusia sehingga tidak mampu lagi melihat kebenaran, menutup telinga sehingga tidak mau mendengar nasihat, dan menutup lisannya dari ucapan yang benar. Beliau kemudian mengutip ungkapan Al-Qur’an:
Ṣummun bukmun ‘umyun
“(Mereka) tuli, bisu, dan buta.”
Beliau menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan sekadar keadaan fisik, melainkan keadaan spiritual akibat dosa-dosa yang terus dilakukan manusia hingga hati mereka tertutup dari cahaya kebenaran.
Pada kaidah berikutnya, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa meninggalkan dosa lebih utama daripada memperbanyak amal-amal sunah namun masih melakukan maksiat. Beliau memberikan contoh bahwa apabila seseorang dihadapkan pada pilihan antara melakukan ibadah sunah tetapi masih berbohong, atau meninggalkan kebohongan walaupun tidak melakukan ibadah sunah tersebut, maka meninggalkan kebohongan jauh lebih utama di sisi Allah swt.
Beliau kemudian mengutip riwayat dari Muhammad al-Baqir:
In kuntum lastum min ahlit tha‘ati fa kūnū min ahlit tarkil ma‘ṣiyah
“Jika kalian belum termasuk ahli ibadah dan ketaatan, maka jadilah orang-orang yang meninggalkan maksiat.”
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, meninggalkan dosa merupakan bentuk penghambaan yang sangat besar kepada Allah swt. Karena itu, seseorang tidak boleh merasa ringan terhadap perbuatan maksiat walaupun ia belum mampu memperbanyak amal-amal sunah.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa manusia memang tidak mungkin sepenuhnya terbebas dari kesalahan karena manusia adalah keturunan Nabi Adam as yang pernah melakukan kekeliruan. Namun menurut beliau, hal yang paling penting adalah jangan sampai jumlah dosa seseorang lebih banyak daripada amal baiknya.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Allah swt telah membuka pintu rahmat yang sangat luas bagi manusia. Setiap satu amal kebaikan akan dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala, sedangkan satu dosa hanya dicatat sebagai satu dosa. Karena itu, beliau mengutip hadis Rasulullah saw yang menyatakan bahwa sangat celaka orang yang jumlah dosanya lebih banyak daripada amal kebaikannya, padahal Allah swt telah melipatgandakan pahala amal saleh manusia.
Pada kaidah kelima, Syaikh Mohammad Sharifani memperingatkan bahaya melakukan dosa secara terang-terangan. Beliau mengutip riwayat dari Ali bin Abi Thalib yang menjelaskan bahwa dosa yang dilakukan secara terbuka dapat mengundang turunnya azab Allah swt.
Beliau menjelaskan bahwa orang yang melakukan dosa secara terang-terangan, membanggakan maksiatnya, atau menceritakan dosa-dosanya kepada orang lain akan menyebabkan masyarakat menjadi terbiasa dengan dosa tersebut. Akibatnya, dosa menjadi sesuatu yang dianggap normal dan menyebar di tengah masyarakat.
Dalam khutbahnya, beliau juga mengutip hadis Rasulullah saw:
Kullu ummatī mu‘āfā illā al-mujāhirīn
“Seluruh umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa.”
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, termasuk dalam kategori tersebut adalah orang yang melakukan dosa secara sembunyi-sembunyi pada malam hari lalu keesokan harinya menceritakannya kepada orang lain dengan bangga. Beliau menegaskan bahwa perilaku seperti ini sangat berbahaya bagi kesehatan moral masyarakat.
Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan bahwa kesempatan hidup manusia berlalu dengan sangat cepat. Karena itu, beliau mengajak kaum muslimin memanfaatkan dua momentum besar yang akan segera datang, yaitu Hari Arafah dan Iduladha.
Beliau menjelaskan bahwa salah satu amalan paling utama pada Hari Arafah adalah membaca Doa Arafah. Menurut beliau, Doa Arafah merupakan salah satu doa paling agung yang dimiliki umat Islam karena kandungan makna spiritual, makrifat, dan pengenalannya kepada Allah swt sangat mendalam dan tinggi.
Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa para ulama sangat menekankan agar kaum muslimin tidak melewatkan Hari Arafah tanpa membaca Doa Arafah. Beliau juga menjelaskan bahwa dalam riwayat disebutkan Allah swt membuka pintu-pintu ampunan-Nya secara sangat luas pada dua momentum besar, yaitu bulan Ramadan dan Hari Arafah di Padang Arafah.
Beliau menjelaskan bahwa walaupun secara fisik tidak semua kaum muslimin berada di Padang Arafah bersama para jamaah haji, umat Islam tetap dapat menghadirkan suasana spiritual Hari Arafah melalui doa, ibadah, dan majelis zikir. Karena itu, beliau mengajak seluruh jamaah untuk menghadiri pembacaan Doa Arafah di ICC Jakarta dan menghadirkan nuansa haji dalam majelis tersebut.
Menurut beliau, apabila ada jamaah yang memungkinkan untuk mengenakan kain ihram ketika menghadiri majelis Doa Arafah, maka hal tersebut sangat baik karena dapat menghadirkan suasana spiritual haji dan Arafah di tengah kaum muslimin.
Syaikh Mohammad Sharifani juga menjelaskan struktur kandungan Doa Arafah. Menurut beliau, pada bagian awal doa manusia terlebih dahulu mengingat dan menyebut nikmat-nikmat Allah swt. Setelah itu manusia mengenali identitas dirinya sebagai hamba dan mengenali kebesaran Allah swt. Barulah pada bagian akhir manusia menyampaikan permohonan dan harapan-harapannya kepada Allah swt.
Beliau kemudian mengutip hadis terkenal:
Al-ḥajju ‘Arafah
“Haji itu adalah Arafah.”
Menurut beliau, hadis tersebut menunjukkan betapa agung dan sentralnya kedudukan Hari Arafah dalam ibadah haji dan kehidupan spiritual umat Islam.
Pada bagian akhir khutbah, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan pentingnya menjaga persatuan umat Islam. Beliau menjelaskan bahwa selama lebih dari empat puluh tahun Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei terus menyerukan persatuan di antara seluruh kaum muslimin. Menurut beliau, musuh-musuh Islam merasa terganggu ketika melihat adanya upaya mempersatukan umat Islam. Karena itu mereka berusaha menyebarkan benih-benih perselisihan dan permusuhan di tengah kaum muslimin.
Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa seluruh pengikut Nabi Muhammad saw adalah saudara meskipun terdapat berbagai perbedaan di antara mereka. Karena itu, beliau mengajak seluruh umat Islam untuk bersama-sama membela Islam, Al-Qur’an, Ka‘bah, dan seluruh simbol-simbol suci umat Islam.
Beliau juga menekankan pentingnya menjaga kehormatan para sahabat Nabi Muhammad saw dan menghindari segala bentuk ucapan, candaan, maupun perilaku yang dapat membuka peluang bagi musuh untuk memecah belah umat Islam. Menurut beliau, menjaga persatuan umat merupakan kewajiban besar yang harus dipelihara oleh seluruh kaum muslimin.
Di akhir khutbah, Syaikh Mohammad Sharifani memanjatkan doa agar Allah swt memberikan taufik kepada seluruh kaum muslimin untuk terus menjaga ukhuwah Islamiyah, memperkuat persatuan, dan merapatkan barisan dalam membela agama Islam.



