Kelas Tafsir Maudhu’i di ICC Jakarta pada Kamis, 11 Juni 2026, bersama Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan pembahasan tentang keinginan dan harapan dalam perspektif Al-Qur’an. Pada kesempatan itu, beliau menegaskan bahwa keinginan yang tidak terkendali dapat menyelewengkan manusia dari agama, mendorongnya menghalalkan yang haram, serta menjauhkannya dari jalan ilahi. Beliau juga menjelaskan bahwa angan-angan panjang tidak hanya merusak kehidupan batin, tetapi juga melahirkan kelalaian, memisahkan seseorang dari barisan kaum mukminin, dan menyeretnya menjadi pengikut setan.
Beliau memulai penjelasannya dengan mengingatkan bahwa keinginan yang salah dapat membuat manusia menempuh cara-cara yang keliru demi mencapai tujuan duniawi. Seseorang mungkin menginginkan rumah yang mewah, kendaraan, atau berbagai kenikmatan lain, tetapi ketika keinginan itu membuatnya menghalalkan pencurian, kebohongan, atau tindakan haram lain, maka keinginan tersebut telah berubah menjadi penyelewengan terhadap agama. Untuk menggambarkan bahaya itu, beliau merujuk pada firman Allah swt dalam Surah An-Nisa ayat 119, yang menjelaskan janji setan untuk menyesatkan manusia melalui angan-angan kosong dan cara-cara yang menyimpang.
Wa la-udillannahum wa la-umanni-yannahum wa la-amarannahum falayu-battikunna al-an’ama wa la-amarannahum falayu-ghayyirunna khalqallah.
“Dan sungguh aku akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan akan menyuruh mereka, lalu mereka akan memotong telinga-telinga binatang ternak, dan akan menyuruh mereka, lalu mereka akan mengubah ciptaan Allah.” (QS. An-Nisa [4]: 119)
Menurut beliau, ayat itu menunjukkan bahwa setan tidak selalu menyesatkan manusia dengan kekafiran yang terang-terangan, tetapi sering kali melalui keinginan-keinginan yang tampak wajar. Karena dikejar oleh harapan yang salah, manusia akhirnya menghalalkan segala cara, bahkan menganggap yang haram sebagai sesuatu yang dapat dibenarkan. Dari situ, beliau menjelaskan bahwa angan-angan panjang juga melahirkan ghaflah atau kelalaian. Orang yang terus hidup dalam harapan kosong cenderung menikmati yang haram, tertipu oleh angan-angannya sendiri, dan pada akhirnya baru menyadari kesalahannya ketika azab telah datang.
Darhum ya’kulu wa yatamatta’u wa yulhihimul-amal, fasaufa ya’lamun.
“Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang, dan dilalaikan oleh angan-angan; kelak mereka akan mengetahui.” (QS. Al-Hijr [15]: 3)
Beliau menjelaskan bahwa ayat ini merupakan peringatan keras terhadap orang-orang yang tenggelam dalam harapan kosong. Mereka dibiarkan sibuk dengan kesenangan dunia dan angan-angan yang menipu hingga melupakan akibat akhirat. Dalam pandangan beliau, inilah salah satu bentuk paling berbahaya dari keinginan yang salah, karena tidak hanya merusak moral pribadi, tetapi juga menutup pintu kesadaran dan nasihat.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menguraikan efek ketiga dari angan-angan panjang, yaitu terpisahnya seseorang dari barisan kaum mukminin pada Hari Kiamat. Beliau mengutip gambaran orang-orang munafik yang memohon cahaya kepada kaum beriman, tetapi permintaan mereka ditolak dan di antara kedua kelompok itu dipisahkan dinding. Menurut beliau, ayat itu menunjukkan bahwa kebersamaan lahiriah di dunia tidak menjamin kebersamaan di akhirat. Orang yang dipenuhi angan-angan kosong, walaupun tampak hidup bersama kaum mukminin di dunia, dapat berakhir terpisah dari mereka karena hatinya telah menyimpang.
Yauma yaqulul-munafiquna wal-munaafiqatu lilladzina aamanu unzhuruna naktabis min nuurikum. Qiila irji’u wara’a-kum faltamisuu nuuraa. Faduri-ba bainahum bisuril lahu baab, ba-thinuhu fihi rahmah wa zhahiruhu min qibalihi al-‘adzaab.
“Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, ‘Tunggulah kami agar kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.’ Dikatakan, ‘Kembalilah kamu ke belakang dan carilah cahaya.’ Lalu diadakanlah antara mereka dinding yang mempunyai pintu; di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari sisi itu ada azab.” (QS. Al-Hadid [57]: 13)
Beliau menegaskan bahwa ketika kaum munafik bertanya, “Bukankah dahulu kami bersama kalian?”, kaum beriman menjawab bahwa mereka memang pernah bersama di dunia, tetapi orang-orang munafik itu telah menyesatkan diri sendiri, menunggu-nunggu, ragu, dan tertipu oleh angan-angan mereka. Karena itu, seseorang yang secara lahiriah tampak berada di lingkungan kaum mukminin belum tentu benar-benar berada di jalan mereka jika hatinya dikuasai harapan yang keliru.
Pada bagian berikutnya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa angan-angan panjang juga menyebabkan seseorang tidak lagi menerima nasihat. Orang seperti ini, menurut beliau, dibiarkan tenggelam dalam keinginannya sendiri hingga tidak peduli kepada peringatan orang lain. Lebih jauh lagi, beliau menegaskan bahwa orang yang mengikuti angan-angan kosong pada hakikatnya telah menjadikan setan sebagai wali selain Allah swt, sehingga ia berada dalam kerugian yang nyata.
Kemudian beliau beralih ke pembagian keinginan duniawi. Salah satu contohnya adalah keinginan untuk memiliki umur panjang, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an tentang kaum Yahudi yang menginginkan umur seribu tahun. Menurut beliau, keinginan semacam itu menunjukkan kecintaan yang sangat besar terhadap dunia dan ketakutan untuk berpisah darinya.
Wa la-tajidannahum ahrasa an-naasi ‘alaa hayaah wa minal-ladzina asyrakuu yawaddu ahaduhum law yu‘ammaru alf sanah.
“Dan sungguh engkau akan mendapati mereka, manusia yang paling rakus terhadap kehidupan, bahkan lebih rakus daripada orang-orang musyrik; masing-masing dari mereka ingin diberi umur seribu tahun.” (QS. Al-Baqarah [2]: 96)
Beliau juga menjelaskan bahwa ada keinginan duniawi lain dari kalangan Ahli Kitab, yaitu keinginan agar kaum beriman kembali kepada kekafiran. Menurut beliau, hal itu muncul karena hasad atau kedengkian di dalam jiwa mereka. Mereka tidak rela jika kaum mukmin tetap berada di jalan kebenaran, sehingga mereka menginginkan agar orang-orang beriman keluar dari iman yang telah mereka miliki.
Waddat kathirun min ahlil-kitaabi law yarudduunakum min ba‘di iimaanikum kuffaaraa hasadan min ‘indi anfusihim min ba‘di maa tabayyana lahumul-haqq.
“Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu menjadi kafir setelah kamu beriman, karena dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran nyata bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah [2]: 109)
Menutup kajiannya, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa keinginan yang salah bukan sekadar persoalan batin, melainkan dapat menjadi pintu penyimpangan agama, kelalaian, perpecahan dari kaum mukminin, dan keterikatan kepada setan. Karena itu, seorang mukmin harus senantiasa menimbang setiap harapan dan angan-angannya dengan petunjuk Allah swt agar yang tumbuh di dalam dirinya bukanlah keinginan yang menyesatkan, melainkan harapan yang mengantarkan kepada ketaatan dan keselamatan akhirat.



