Skip to main content

Pada Sabtu, 20 Juni 2026, dalam Majelis Aza Imam Husain as ICC Jakarta malam kelima, Ustaz Fuad Al-Hadi menyampaikan bahwa Muharram bukan sekadar penanda waktu, melainkan ruang untuk menjemput cahaya di tengah kegelapan. Beliau membuka penjelasannya dengan mengaitkan malam kelima Muharram kepada Muslim ibn Aqil ibn Abi Thalib as, seraya berharap agar Allah swt melapangkan hati dan akal umat agar mampu menyerap ilmu serta cahaya dari majelis duka ini. Menurut beliau, semangat yang dibawa para nabi adalah mengeluarkan manusia dari zulumat menuju nur, sebab kegelapan bisa hadir dalam banyak bentuk, seperti maksiat dan kejahilan, sedangkan nur pada hakikatnya satu, yaitu kebenaran yang bersumber dari tauhid.

Dalam penjelasannya, beliau menyinggung firman Allah swt kepada Nabi Musa as yang memerintahkan agar kaumnya dikeluarkan dari berbagai kegelapan menuju cahaya. Beliau menjelaskan bahwa penyebutan zulumat dalam bentuk jamak menunjukkan banyaknya sebab kegelapan, sedangkan nur dalam bentuk tunggal menunjukkan bahwa hakikat kebenaran itu satu. Dari sini, beliau menguraikan bahwa tauhid bukan hanya menyatakan Allah swt satu dari sisi zat, tetapi juga satu dalam iradah dan kehendak. Karena itu, para anbiya as, meski jumlahnya sangat banyak, tidak membawa misi pribadi, melainkan misi yang satu: mengarahkan umat menuju kebenaran. Pada titik ini, beliau menekankan bahwa di antara seluruh hari-hari Allah swt, Imam Husain as pada 10 Muharram memiliki kedudukan yang sangat agung, bahkan lebih tinggi dari hari-hari lain yang dikenal sebagai hari besar.

Beliau kemudian mengaitkan konsep hari-hari Allah swt dengan kewajiban manusia untuk tidak lalai. Menurut beliau, Allah swt mengingatkan manusia agar tidak terperdaya oleh harta dan anak-anak sehingga melupakan zikir kepada-Nya. Beliau mengutip makna firman Allah swt: “Yā ayyuhalladzīna āmanū lā tulhikum amwālukum wa lā awlādikum ‘an dzikrillāh. Wa man yaf‘al dzālika fa-ulāika humul khāsirūn,” yang berarti, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi” (QS. Al-Munafiqun [63]: 9). Beliau menegaskan bahwa manusia sering meminta rezeki, keturunan, dan berbagai kebutuhan dengan penuh pengharapan, tetapi ketika semuanya dikabulkan, tidak sedikit yang lupa kepada Sang Pemberi. Karena itu, Muharram hadir untuk mengingatkan kembali bahwa duduk di majelis duka Ahlul Bait as juga merupakan bentuk zikir kepada Allah swt.

Setelah itu, beliau masuk pada pokok pembahasan akhlak. Beliau menegaskan perbedaan antara adab dan akhlak. Menurut beliau, adab terikat pada tempat, adat, dan situasi, sedangkan akhlak bersifat universal dan berlaku di mana pun, kapan pun, serta pada zaman apa pun. Beliau menjelaskan bahwa akhlak berkaitan dengan keseimbangan semua potensi jiwa, yakni potensi syahwat, marah, dan khayal. Jika syahwat berlebihan, manusia menjadi rakus; jika marah berlebihan, ia menjadi brutal; dan jika khayal berlebihan, ia menjadi pemimpi yang tidak membumi. Sebaliknya, jika semua potensi itu ditempatkan secara seimbang, manusia akan melahirkan sifat-sifat mulia. Dalam bagian ini, beliau juga menegaskan bahwa syahwat bukanlah sesuatu yang hina. Dalam Islam, syahwat memiliki tempat yang sah dan bahkan menjadi wasilah menuju kesempurnaan, termasuk dalam pernikahan. Demikian pula marah, bukan untuk dihapus, melainkan diarahkan agar melahirkan syajaah atau keberanian pada tempat yang benar.

Beliau menautkan pembahasan itu dengan konsep akal. Menurut beliau, akal dalam pengertian agama adalah pengendali seluruh potensi jiwa, bukan sekadar definisi umum yang dipahami manusia. Dari pengendalian jiwa itulah lahir sabar. Beliau menegaskan bahwa sabar adalah sifat yang hanya dimiliki insan, bukan hewan, sebab manusia dianugerahi akal untuk mengatur syahwat, marah, dan khayal. Dalam kaitan ini beliau mengutip firman Allah swt, “Wa innaka la‘alā khuluqin ‘azhīm,” yang berarti, “Dan sungguh, engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam [68]: 4), seraya menjelaskan bahwa akhlak Rasulullah saw adalah puncak dari keseimbangan jiwa. Beliau juga menyinggung bahwa sabar adalah nikmat besar yang Allah swt turunkan kepada Nabi saw, dan Nabi saw memilih sabar sebagai jalan hidupnya. Dari sini beliau mengaitkan sabar dengan kehidupan para maksum as, terutama Imam Ali as yang dengan sabar menghadapi pengkhianatan, penelantaran, dan ketidakadilan yang berlangsung bertahun-tahun.

Beliau kemudian membaca dan menjelaskan makna firman Allah swt: “Yā ayyuhalladzīna āmanū isbirū wa shābirū wa rābithū wattaqullāha la‘allakum tuflihūn,” yang berarti, “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung” (QS. Ali Imran [3]: 200). Menurut beliau, makna isbiru adalah bersabar dalam menjalankan seluruh kewajiban Allah swt, seperti salat, zakat, haji, dan kewajiban lainnya. Beliau menegaskan bahwa banyak orang salat tanpa sabar, tergesa-gesa, dan memandang salat sekadar beban, padahal salat adalah wasilah perjumpaan dengan Rabbul Alamin. Karena itu, beliau mengaitkan sabar dengan ketaatan kepada faraid, termasuk cinta kepada ahlul bait as, yang beliau sebut sebagai bagian dari kewajiban, bukan sekadar anjuran. Dalam hal ini, beliau mengingatkan makna firman Allah swt tentang upah risalah yang tidak diminta kecuali kecintaan kepada keluarga Nabi saw.

Setelah itu, beliau menjelaskan bahwa sabar juga berarti sabar menghadapi musibah. Makna wasabiru, menurut beliau, adalah kesabaran dalam situasi sulit, termasuk menghadapi ujian-ujian besar dalam kehidupan umat. Beliau menyinggung penderitaan rakyat Palestina, Lebanon, dan berbagai kaum tertindas, lalu menegaskan bahwa orang yang benar-benar bersama Ahlul Bait as tidak sedang menempuh jalan yang bebas hambatan. Sebaliknya, cinta kepada Ahlul Bait as justru mengandung konsekuensi untuk mengenakan “pakaian bala dan musibah”. Namun, menurut beliau, kepahitan dunia akan berubah menjadi kemanisan di akhirat. Karena itulah, kesabaran bukan sekadar klaim, melainkan buah dari keyakinan yang kuat. Beliau juga menjelaskan makna warabitu sebagai mengikatkan diri kepada imam, sebab sabar tidak bernilai tanpa keterikatan kepada maksum as. Dari sinilah beliau mencontohkan Habib ibn Mazahir, Muslim ibn Awsajah, Zuhair ibn al-Qain, dan para sahabat Imam Husain as yang sanggup bertahan di Karbala karena mereka terikat kepada imam mereka.

Dalam bagian berikutnya, beliau menegaskan bahwa makrifatullah berawal dari ma’rifatul imam. Menurut beliau, siapa yang mengenal imamnya akan mampu mengenal Allah swt, dan siapa yang tidak mengenal imamnya akan mudah tersesat dalam memahami agama. Karena itu, beliau menilai bahwa kecintaan kepada Imam Husain as bukanlah persoalan emosi semata, melainkan soal ma’rifah dan pengenalan yang benar. Beliau juga menyinggung ayat tentang kehidupan para syuhada dan mengingatkan bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah swt tidaklah mati, melainkan hidup, meski manusia tidak selalu mampu merasakan kehidupan mereka. Dalam kerangka ini, beliau menjelaskan bahwa orang yang sabar bersama imam akan merasakan kehadiran para syuhada dan mendapatkan kekuatan batin untuk terus bertahan.

Di bagian akhir, beliau menutup penjelasan dengan mengingatkan bahwa kesabaran yang sejati harus berbuah pada ketaatan yang khusyuk, terutama dalam salat. Beliau mencontohkan bagaimana Imam Ali as mampu mencabut panah dari tubuhnya ketika salat, karena pada saat itulah beliau sedang berada dalam mikraj spiritual. Menurut beliau, madrasah Ahlul Bait as mendidik manusia agar mampu menata jiwa, mengendalikan hawa nafsu, dan menempatkan semua potensi diri pada poros iman. Dari majelis itu, beliau mengajak hadirin untuk terus meneguhkan sabar, menjaga hubungan dengan imam, dan memaknai Muharram sebagai jalan keluar dari kegelapan menuju cahaya, dari lalai menuju zikir, dan dari kelemahan jiwa menuju akhlak yang mulia.