Dalam Malam Doa dan Penghormatan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang diselenggarakan di ICC Jakarta pada Kamis, 9 Juli 2026, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan pidato mengenai makna kesyahidan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, kemuliaan yang Allah swt anugerahkan kepada para syuhada, serta berbagai pelajaran yang menurut beliau dapat dipetik dari peristiwa tersebut.
Pada awal pidatonya, Mohammad Boroujerdi menyampaikan bahwa pada hari itu jenazah suci Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sedang berada di Masyhad dan akan segera dimakamkan. Beliau menjelaskan bahwa Ayatullah Sayyid Ali Khamenei meraih syahadah pada bulan Ramadan, tepatnya pada 28 Februari, setelah gugur di tangan orang yang menurut beliau merupakan sosok paling bengis dalam sejarah umat manusia. Meski demikian, Allah swt menganugerahkan kemuliaan yang sangat besar kepada beliau.
Dalam penjelasannya, Mohammad Boroujerdi mengingatkan firman Allah swt yang menyatakan bahwa siapa pun yang menghendaki kemuliaan, maka seluruh kemuliaan itu berada di sisi Allah swt dan diberikan kepada orang-orang yang beriman. Menurut beliau, prosesi pengantaran jenazah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang dihadiri jutaan manusia di berbagai wilayah Iran dan Irak merupakan bukti nyata kemuliaan yang Allah swt berikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
Beliau mengatakan bahwa besarnya jumlah pelayat dan pengiring jenazah tersebut bahkan membuat Presiden Amerika Serikat terkejut karena tidak menyangka begitu banyak manusia yang mencintai Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Menurut beliau, hal itu menunjukkan bahwa kemuliaan dan izah hanya diberikan oleh Allah swt kepada siapa saja yang Dia kehendaki.
Mohammad Boroujerdi kemudian membandingkan keadaan tersebut dengan sikap musuh-musuh Islam yang menurut beliau berusaha memperoleh penghormatan dan pengakuan manusia melalui kekuasaan dan berbagai cara lainnya. Beliau menyebut bahwa Presiden Amerika Serikat menginginkan penghargaan dunia, termasuk Nobel, serta berharap dicintai oleh masyarakat internasional. Menurut beliau, pembunuhan terhadap Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dilakukan dengan harapan dapat menghadirkan kemuliaan bagi pelakunya, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.
Dalam pandangan beliau, Allah swt membalas makar tersebut dengan memperlihatkan kemuliaan yang semakin besar bagi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Beliau menyebut bahwa sosok yang dibunuh adalah seorang yang memiliki kemuliaan nasab, ilmu, dan kehormatan, sedangkan pelakunya justru menjadi sosok yang semakin dibenci oleh banyak manusia.
Mohammad Boroujerdi juga menyinggung Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Menurut beliau, pembunuhan terhadap Ayatullah Sayyid Ali Khamenei merupakan tindakan yang sangat keji karena dilakukan terhadap seorang tokoh yang memiliki kedudukan mulia dari sisi keturunan, keilmuan, derajat, dan kehormatan.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa prosesi penghormatan terakhir kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei merupakan iring-iringan jenazah terbesar yang pernah disaksikan dalam sejarah umat manusia. Menurut beliau, belum pernah ada peristiwa yang memperlihatkan begitu besarnya jumlah manusia yang turun ke jalan untuk mengantarkan kepergian seorang pemimpin dan memberikan penghormatan terakhir kepada jasad seorang syahid.
Mohammad Boroujerdi menyebut bahwa pada prosesi di Teheran sekitar 20 juta orang hadir mengiringi jenazah Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Di Qom, menurut beliau, sekitar tujuh juta orang turut memberikan penghormatan terakhir. Jumlah yang sama juga disebut hadir di Najaf, sementara di Karbala sekitar 2,5 juta orang ikut mengiringi prosesi tersebut. Adapun di Masyhad, beliau mengatakan jumlah pelayat masih terus bertambah hingga saat pidato itu disampaikan dan diperkirakan akan melampaui jumlah di kota-kota sebelumnya.
Beliau kembali menegaskan bahwa Ayatullah Sayyid Ali Khamenei gugur di tangan dua tokoh yang menurut beliau merupakan sosok paling dibenci dan paling tertolak. Bahkan, menurut Mohammad Boroujerdi, masyarakat di negara mereka sendiri juga menolak keberadaan kedua tokoh tersebut. Di sisi lain, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei justru memperoleh penghormatan yang luar biasa dari jutaan manusia.
Mohammad Boroujerdi menjelaskan bahwa pihak-pihak yang melakukan pembunuhan terhadap Ayatullah Sayyid Ali Khamenei memperkirakan tindakan tersebut akan mampu mengguncang Republik Islam Iran. Menurut beliau, mereka berharap dengan menggugurkan pemimpin Iran serta para jenderalnya, rezim yang berkuasa dapat digantikan dan tekad rakyat Iran dapat dipatahkan.
Beliau mengatakan bahwa tujuan lain dari strategi tersebut ialah memecah belah berbagai provinsi di Iran agar kekuatan negara itu melemah. Namun, menurut beliau, seluruh rencana tersebut tidak berhasil diwujudkan meskipun sejumlah pemimpin dan jenderal Iran gugur sebagai syahid.
Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa kemuliaan dan kehormatan hanya akan diberikan Allah swt kepada orang-orang yang berjalan di jalan-Nya dan berusaha menegakkan hukum-hukum Allah swt di muka bumi. Menurut beliau, siapa pun yang mengabdikan dirinya untuk tujuan tersebut akan memperoleh pertolongan dan kemuliaan dari Allah swt.
Beliau menyatakan bahwa musuh-musuh Islam bermaksud menghancurkan Iran dan melemahkan kaum muslimin. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Menurut beliau, setelah peristiwa tersebut dunia menyaksikan semakin tampaknya kehormatan Islam, semakin kuatnya Republik Islam Iran, dan semakin besarnya kemuliaan kaum muslimin.
Mohammad Boroujerdi juga menyampaikan bahwa setelah kesyahidan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei semakin banyak orang yang mampu membedakan secara jelas antara jalan kebenaran dan jalan kebatilan. Menurut beliau, banyak pihak akhirnya menyadari bahwa jalan yang ditempuh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei merupakan jalan kebenaran yang harus dipertahankan.
Beliau menambahkan bahwa darah para syuhada memiliki peran besar dalam membangkitkan kesadaran umat. Menurut beliau, dari darah yang tertumpah itu lahirlah kesadaran baru yang membangunkan masyarakat untuk mengenali hak dan batil secara lebih jelas.
Mohammad Boroujerdi menjelaskan bahwa konflik antara Republik Islam Iran dan rezim Zionis bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Menurut beliau, perang tersebut telah dipersiapkan selama sekitar dua dekade. Selama kurun waktu itu, pihak yang memusuhi Iran menyusun agenda secara bertahap dengan tujuan melemahkan poros perlawanan hingga akhirnya mengarah kepada sasaran utama, yaitu Republik Islam Iran.
Dalam penjelasannya, beliau menyebut bahwa berbagai langkah dilakukan secara berurutan. Hizbullah menjadi salah satu sasaran untuk dilemahkan, disusul Hamas, kemudian gugurnya Jenderal Qasim Soleimani, hingga berbagai upaya lain yang menurut beliau merupakan rangkaian strategi untuk menghancurkan poros perlawanan. Namun, menurut Mohammad Boroujerdi, seluruh rangkaian tersebut justru memperlihatkan bahwa Republik Islam Iran tetap menjadi benteng terakhir umat Islam yang tidak dapat ditaklukkan.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa rezim Zionis memiliki dua agenda besar. Agenda pertama, menurut beliau, ialah mewujudkan apa yang mereka sebut sebagai “Israel Raya”. Mohammad Boroujerdi mengatakan bahwa untuk merealisasikan cita-cita tersebut, terdapat enam negara Arab di sekitar Israel yang menurut pandangan rezim tersebut harus berada di bawah penguasaan dan dominasinya.
Beliau menyampaikan bahwa gagasan tersebut, menurut pandangannya, ditanamkan kepada masyarakat Israel sejak usia sekolah dasar, berlanjut di sekolah menengah, perguruan tinggi, hingga pendidikan militer. Menurut beliau, cita-cita untuk memperluas wilayah terus diajarkan sebagai bagian dari ideologi negara tersebut.
Mohammad Boroujerdi juga menyatakan bahwa rezim Zionis merupakan satu-satunya rezim yang, menurut beliau, tidak memiliki batas wilayah yang pasti. Beliau berpendapat bahwa batas wilayah mereka akan terus meluas sejauh wilayah yang mampu mereka kuasai. Oleh karena itu, menurut beliau, penjajahan, kolonialisme, dan ekspansi menjadi bagian dari karakter politik yang terus dijalankan sejak awal berdirinya rezim tersebut.
Beliau menegaskan bahwa selama cita-cita tersebut belum tercapai, rezim Zionis tidak akan menghentikan peperangan maupun berbagai upaya untuk memperluas pengaruhnya. Menurut Mohammad Boroujerdi, agenda kedua yang akan dijalankan setelah cita-cita pertama tercapai ialah memperluas dominasi terhadap negara-negara lain.
Dalam penjelasannya, beliau mengatakan bahwa menurut cara pandang rezim Zionis, bangsa mereka dianggap sebagai bangsa pilihan, sedangkan bangsa lain ditempatkan sebagai warga kelas kedua yang hanya berfungsi melayani kepentingan mereka. Atas dasar itu, menurut beliau, setelah berhasil menguasai kawasan di sekitarnya, mereka akan melanjutkan upaya kolonialisasi ke wilayah-wilayah lain.
Mohammad Boroujerdi kemudian mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya terhadap berbagai tawaran perdamaian, gencatan senjata, maupun penghentian serangan yang diajukan oleh rezim Zionis. Menurut beliau, langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari strategi untuk memperoleh kesempatan memperkuat posisi sebelum kembali melakukan serangan.
Beliau menjelaskan bahwa ketika mereka tidak melakukan serangan, hal itu belum tentu menunjukkan keinginan untuk berdamai. Sebaliknya, menurut beliau, keadaan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya menunggu kesempatan yang dianggap lebih menguntungkan. Karena itu, Mohammad Boroujerdi mengibaratkan rezim Zionis sebagai kanker yang akan terus menyebar apabila tidak dihentikan.
Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa berbagai langkah terhadap Iran juga dilakukan secara bertahap melalui isu program nuklir. Mohammad Boroujerdi mengatakan bahwa Iran berulang kali dituduh berupaya membangun senjata nuklir, sedangkan pemerintah Iran terus menegaskan bahwa program nuklir yang dijalankan semata-mata ditujukan untuk kepentingan damai.
Beliau menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas nuklir Iran dilakukan dengan bantuan Rusia dan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan energi, bukan untuk membuat senjata nuklir. Menurut beliau, sekalipun penjelasan tersebut telah disampaikan, tuduhan terhadap Iran tetap berlanjut.
Mohammad Boroujerdi mengatakan bahwa Badan Tenaga Atom Internasional kemudian melakukan berbagai pemeriksaan terhadap fasilitas nuklir Iran. Menurut beliau, hasil pemeriksaan tersebut tidak menemukan bukti bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Namun, beliau menilai hasil itu tetap tidak diterima oleh pihak-pihak yang memusuhi Iran.
Beliau juga mengutip fatwa Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang menyatakan bahwa kepemilikan maupun penggunaan senjata nuklir hukumnya haram. Menurut Mohammad Boroujerdi, meskipun fatwa tersebut telah disampaikan secara terbuka, masih ada pihak yang tetap menuduh Iran menyembunyikan program persenjataan nuklir.
Dalam pandangan beliau, semua itu menunjukkan bahwa berbagai kemajuan yang dicapai Republik Islam Iran tidak akan pernah diterima oleh pihak-pihak yang memusuhinya. Mohammad Boroujerdi menambahkan bahwa sejumlah negara di kawasan, menurut beliau, juga dimanfaatkan sebagai alat untuk menjalankan berbagai agenda dan kepentingan rezim Zionis terhadap Iran.
Selanjutnya, Mohammad Boroujerdi mengulas berbagai proses perundingan yang pernah ditempuh Republik Islam Iran terkait program nuklirnya. Menurut beliau, Iran berulang kali menunjukkan itikad baik dengan bersedia mengikuti jalur negosiasi melalui lembaga-lembaga internasional serta memenuhi berbagai kewajiban yang telah disepakati.
Beliau menjelaskan bahwa Iran menerima dan menjalankan ketentuan dalam Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) selama sepuluh tahun sesuai dengan komitmen yang telah disepakati. Namun, setelah masa tersebut berlalu, menurut beliau, justru pihak lain secara sepihak meninggalkan perjanjian tersebut sehingga proses yang telah dibangun melalui negosiasi tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya.
Mohammad Boroujerdi kemudian menyinggung peristiwa perang selama 12 hari. Menurut beliau, ketika berbagai pembicaraan dan negosiasi masih berlangsung, serangan justru dilakukan terhadap Iran. Hal serupa, lanjut beliau, juga terjadi ketika Oman bersedia menjadi mediator dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran mengenai persoalan nuklir. Di tengah upaya diplomasi yang sedang berlangsung, serangan kembali dilakukan sehingga, menurut beliau, keinginan untuk menyelesaikan persoalan melalui jalur perundingan kembali dilanggar secara sepihak.
Beliau menyampaikan bahwa setelah sekitar 40 hari dan melihat kemampuan pertahanan serta kekuatan militer Republik Islam Iran, pihak lawan kemudian kembali mengajukan gencatan senjata dan mengajak Iran kembali ke meja perundingan. Menurut Mohammad Boroujerdi, pola seperti itu terus berulang, yakni memilih berdamai ketika berada dalam posisi lemah, tetapi kembali melanggar kesepakatan setelah keadaan berubah.
Dalam penjelasannya, beliau juga menyinggung sebuah nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang pernah disepakati. Mohammad Boroujerdi mengatakan bahwa dokumen tersebut memuat sejumlah pasal yang telah ditandatangani bersama. Namun, tidak lama kemudian, menurut beliau, kesepakatan tersebut kembali dilanggar dan bahkan disusul dengan serangan terhadap beberapa wilayah di Republik Islam Iran yang mengakibatkan sejumlah warga gugur sebagai syahid.
Menurut Mohammad Boroujerdi, berbagai pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pihak-pihak yang memusuhi Iran tidak memegang komitmen terhadap perjanjian yang mereka buat sendiri. Karena itu, beliau mengajak para hadirin untuk memahami realitas geopolitik secara lebih mendalam dan tidak memandang persoalan internasional secara terlalu sederhana.
Beliau mengatakan bahwa umat Islam memang diajarkan hidup sederhana, tetapi cara berpikir tidak boleh sederhana dalam memahami persoalan yang kompleks. Menurut beliau, konflik yang sedang berlangsung bukan sekadar perang antara Republik Islam Iran dengan rezim Zionis atau Amerika Serikat, juga bukan semata-mata konflik yang dimulai sejak 28 Februari. Dalam pandangan beliau, perang tersebut merupakan kelanjutan dari pertarungan antara kebenaran dan kebatilan yang telah berlangsung sepanjang sejarah.
Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa perjuangan tersebut akan terus berlangsung hingga kebatilan runtuh. Oleh karena itu, menurut beliau, pihak yang memilih berada di jalan kebenaran tidak boleh mundur ataupun mengabaikan darah para syuhada yang telah gugur. Beliau menyatakan bahwa pengorbanan para syuhada harus menjadi pengingat untuk terus mempertahankan kebenaran.
Beliau kemudian mengajak seluruh hadirin menyadari bahwa umat Islam sedang berada pada sebuah tikungan penting dalam sejarah. Menurut beliau, setiap orang dituntut menentukan pilihan, apakah berada di pihak kebenaran atau di pihak kebatilan. Dalam pandangan beliau, tidak ada ruang untuk bersikap netral karena setiap pilihan akan menentukan posisi seseorang dalam menghadapi pertarungan tersebut.
Mohammad Boroujerdi menjelaskan bahwa bersikap tidak peduli terhadap persoalan yang sedang dihadapi umat sama artinya dengan mengalami kematian secara perlahan. Oleh sebab itu, beliau mengingatkan pentingnya mempersiapkan segala kemampuan yang dimiliki untuk menjalankan tanggung jawab masing-masing.
Beliau mengutip perintah Allah swt agar kaum beriman mempersiapkan segala kemampuan yang dimiliki. Menurut beliau, perintah tersebut tidak hanya dimaknai sebagai kesiapan mengangkat senjata, tetapi juga mencakup seluruh bentuk ikhtiar yang dapat dilakukan sesuai dengan profesi dan kedudukan masing-masing.
Dalam penjelasannya, Mohammad Boroujerdi mengatakan bahwa seorang guru memiliki tanggung jawab memberikan pemahaman yang benar kepada peserta didiknya. Demikian pula orang yang memiliki mimbar, pendakwah, penulis, tokoh masyarakat, pembuat konten, maupun siapa saja yang memiliki pengaruh di tengah keluarga dan lingkungan sekitarnya, semuanya memiliki kewajiban melakukan pencerahan kepada masyarakat.
Beliau menegaskan bahwa setiap orang mempunyai tanggung jawab menjelaskan kepada masyarakat mengenai pihak yang berada di jalan kebenaran dan pihak yang berada di jalan kebatilan. Menurut beliau, tanggung jawab tersebut merupakan bagian dari apa yang beliau sebut sebagai jihad tabyin, yaitu menyampaikan kebenaran dan memberikan penjelasan kepada siapa pun sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Mengakhiri pidatonya, Mohammad Boroujerdi mengajak seluruh hadirin memohon kepada Allah swt agar diberikan taufik untuk mengenali tugas dan tanggung jawab yang harus dijalankan. Beliau juga berdoa agar Allah swt memudahkan seluruh kaum mukmin dalam menunaikan kewajiban tersebut serta senantiasa diberikan kekuatan untuk tetap berada di jalan kebenaran.



