Seminar Kesaksian Prosesi Tasyi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang diselenggarakan di ICC Jakarta pada Jumat, 17 Juli 2026, menghadirkan Ustaz Kholid Al-Walid sebagai salah seorang narasumber. Dalam pemaparannya, beliau membagikan pengalaman spiritual saat menghadiri prosesi tasyi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei di Iran. Menurut beliau, peristiwa tersebut merupakan pengalaman yang tidak akan pernah terulang dalam kehidupan dan menjadi salah satu fenomena paling agung yang pernah beliau saksikan.
Ustaz Kholid Al-Walid mengatakan bahwa kata-kata tidak akan mampu menggambarkan sepenuhnya apa yang dirasakan ketika berada langsung di tengah prosesi tasyi tersebut. Menurut beliau, apa yang disaksikan melalui media tidak akan pernah dapat menghadirkan pengalaman batin sebagaimana yang dirasakan oleh orang-orang yang hadir secara langsung.
Beliau menilai wafatnya Ayatullah Sayyid Ali Khamenei bukan sekadar kepergian seorang pemimpin negara, melainkan kehilangan sosok yang dalam tradisi tasawuf dan irfan disebut sebagai qalbul ‘alam, yaitu jantung alam semesta. Menurut beliau, apabila Allah swt membuka pandangan batin manusia, niscaya akan tampak berbagai hakikat yang tidak dapat dilihat oleh mata lahir. Beliau meyakini bahwa pada saat prosesi tasyi berlangsung, jutaan malaikat turut mengiringi jenazah beliau, meskipun hal tersebut tidak dapat disaksikan secara kasatmata. Namun, dari sisi lahiriah saja, prosesi tersebut telah memperlihatkan peristiwa yang sangat dahsyat dan luar biasa.
Dalam penjelasannya, Ustaz Kholid Al-Walid kemudian mengutip firman Allah swt:
Wa may yakhruj min baitihī muhājiran ilallāhi wa rasūlihī ṡumma yudrikhul mautu faqad waqa‘a ajruhu ‘alallāh, wa kānallāhu gafūrar raḥīmā.
“Siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian mendapatkannya, sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa [4]: 100)
Beliau menjelaskan bahwa dalam kitab Arba‘un Hadits, Imam Khomeini menafsirkan ayat tersebut secara lebih mendalam. Menurut penafsiran itu, yang dimaksud keluar dari rumah bukan semata-mata meninggalkan rumah secara fisik, melainkan keluar dari rumah batin yang dipenuhi keterikatan terhadap dunia dan berbagai kecenderungan material. Orang yang mampu melepaskan diri dari seluruh ikatan tersebut, lalu berjalan menuju Allah swt dan Rasulullah saw hingga mencapai kematian atau kesyahidan, akan memperoleh ganjaran yang sepenuhnya berada di sisi Allah swt.
Beliau juga mengutip ayat penutup Surah Al-Fajr yang berbicara tentang jiwa yang tenang.
Yā ayyatuhan nafsul muṭma’innah. Irji‘ī ilā rabbiki rāḍiyatan marḍiyyah. Fadkhulī fī ‘ibādī. Wadkhulī jannatī.
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr [89]: 27–30)
Menurut Ustaz Kholid Al-Walid, para arif menjelaskan bahwa kata jannatī dalam ayat tersebut bukan sekadar menunjukkan surga yang penuh kenikmatan, melainkan Jannatul Liqa, yakni surga perjumpaan dengan Allah swt yang merupakan tingkatan surga paling tinggi.
Beliau menerangkan bahwa para ulama, di antaranya Ayatullah Makarim Syirazi, membagi surga menjadi beberapa tingkatan. Surga tempat Nabi Adam as pernah tinggal bukanlah surga abadi karena beliau masih dikeluarkan darinya. Adapun surga yang disebut dengan ungkapan khālidīna fīhā abadan merupakan surga abadi bagi orang-orang beriman. Di atas semuanya terdapat Jannatul Liqa, yaitu kedekatan dan perjumpaan dengan Allah swt yang hanya dianugerahkan kepada para kekasih-Nya yang telah mencapai puncak kesempurnaan rohani.
Beliau kemudian mengutip sabda Imam Ali as:
“Kematian adalah jembatan yang mengantarkan seorang kekasih menuju Kekasihnya.”
Menurut Ustaz Kholid Al-Walid, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei merupakan sosok yang telah mencapai kesempurnaan hakikat kemanusiaan. Beliau mengatakan bahwa umat Islam pada zaman ini memperoleh keberuntungan karena dapat menyaksikan secara langsung seorang manusia yang berhasil mengaktualisasikan seluruh potensi kemanusiaannya. Jika seseorang ingin melihat gambaran manusia yang sempurna, menurut beliau, maka hendaknya melihat akhlak dan kehidupan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.
Beliau menjelaskan bahwa Ayatullah Sayyid Ali Khamenei memiliki kasih sayang yang sangat besar, tetapi pada saat yang sama juga menunjukkan ketegasan yang luar biasa. Hubungan beliau dengan Allah swt sangat kuat, dan hampir seluruh ceramahnya selalu mengajak masyarakat membangun hubungan yang akrab dengan Al-Qur’an. Ajakan tersebut disampaikan kepada anak-anak muda, perempuan, kalangan akademisi, maupun seluruh lapisan masyarakat. Menurut beliau, hal itu menunjukkan bahwa Ayatullah Sayyid Ali Khamenei bukanlah pemimpin yang hanya mengandalkan retorika politik, tetapi seorang pembimbing spiritual yang penuh kelembutan dan kasih sayang.
Ustaz Kholid Al-Walid kemudian membagikan pengalaman pribadinya ketika beberapa kali bertemu langsung dengan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Beliau menyampaikan bahwa pertemuan terakhir berlangsung sebelum masa pandemi Covid-19 dalam sebuah majelis kecil yang hanya dihadiri sembilan orang. Dari Indonesia, saat itu hadir beliau bersama Ustaz Miftah.
Beliau mengisahkan bahwa ketika Ayatullah Sayyid Ali Khamenei memasuki ruangan, wajah beliau memancarkan cahaya, ketenangan, dan kelembutan yang sangat berbeda dari manusia pada umumnya. Menurut Ustaz Kholid Al-Walid, tatapan beliau yang penuh kasih sayang membuat siapa pun yang memandangnya tidak mampu menahan air mata. Beliau merasakan bahwa Ayatullah Sayyid Ali Khamenei telah terbebas dari dominasi alam material sehingga justru memengaruhi lingkungan di sekitarnya dengan ketenangan spiritual yang luar biasa.
Dalam perspektif filsafat hikmah, beliau menjelaskan bahwa perjalanan spiritual Ayatullah Sayyid Ali Khamenei dapat dipahami melalui teori gerak transubstansial (al-harakah al-jauhariyyah) yang dikemukakan Mulla Shadra. Menurut beliau, kematian bagi seorang manusia sempurna bukanlah akhir kehidupan, melainkan puncak proses penyempurnaan jiwa. Karena itu, tidak mengherankan apabila sosok yang telah mencapai kesempurnaan rohani mampu menarik jutaan manusia untuk hadir memberikan penghormatan terakhir.
Beliau menyampaikan bahwa berdasarkan data yang diterimanya, sekitar 41 juta orang menghadiri prosesi tasyi Ayatullah Sayyid Ali Khamenei di Iran, belum termasuk masyarakat yang mengikuti prosesi di Najaf dan Karbala. Menurut beliau, angka tersebut menunjukkan bahwa bukan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei yang mencari manusia, tetapi justru fitrah manusia yang tertarik kepada sosok beliau.
Ustaz Kholid Al-Walid kemudian menceritakan kisah seorang perempuan muda Iran bernama Laleh yang berusia sekitar 23 tahun. Selama ini, kata beliau, perempuan tersebut ikut terpengaruh propaganda media sosial hingga terlibat dalam gerakan yang menentang pemerintahan Republik Islam Iran dan bahkan pernah merobek foto Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Namun, setelah mendengar kabar kesyahidan beliau, perempuan itu setiap malam keluar bersama masyarakat untuk menangis dan menghadiri prosesi tasyi.
Menurut Ustaz Kholid Al-Walid, perempuan tersebut mengakui bahwa baru setelah kesyahidan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei kebenaran benar-benar tersingkap di hadapannya. Dengan penuh penyesalan, ia memohon maaf kepada beliau atas seluruh kesalahan yang pernah dilakukannya. Beliau meyakini bahwa Ayatullah Sayyid Ali Khamenei akan memaafkan siapa pun yang datang dengan penyesalan yang tulus.
Beliau juga mengingatkan bahwa dalam salah satu pidatonya, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei pernah menyatakan mencintai seluruh rakyat Iran. Sikap tersebut, menurut Ustaz Kholid Al-Walid, sejalan dengan sabda Rasulullah saw yang mengajarkan agar manusia menebarkan kasih sayang kepada seluruh penghuni bumi sehingga akan memperoleh kasih sayang dari penghuni langit.
Menjelang akhir pemaparannya, Ustaz Kholid Al-Walid mengemukakan bahwa kehadiran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei telah mengoreksi cara pandang sebagian masyarakat mengenai makna kewalian. Menurut beliau, selama ini wali sering dipahami sebagai sosok yang memiliki karamah luar biasa, seperti berjalan di atas air atau melakukan berbagai hal di luar kebiasaan. Namun, beliau menilai bahwa hakikat kewalian justru tampak pada kemampuan seseorang menghadirkan manfaat besar bagi umat manusia, memberikan solusi atas persoalan mendasar kehidupan, dan membimbing manusia menuju Allah swt.
Menurut Ustaz Kholid Al-Walid, inilah bentuk kewalian sejati yang tampak pada diri Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Kesyahidan beliau mampu menggugah hati jutaan manusia di berbagai belahan dunia dan menghadirkan gelombang kerinduan, doa, zikir, serta tangisan yang menyatu dalam suasana spiritual yang sangat mendalam.
Menutup pemaparannya, beliau membacakan sebuah syair Jalaluddin Rumi yang menggambarkan ruh manusia suci laksana air hujan yang turun dari langit untuk membersihkan bumi, kemudian kembali lagi menuju asalnya. Menurut Ustaz Kholid Al-Walid, demikian pula kehidupan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. Beliau telah menunaikan tugas ilahinya membimbing manusia mengenal Allah swt, kemudian kembali menuju Kekasih-Nya. Beliau berharap jejak perjuangan, nasihat, dan ajaran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei akan terus hidup serta menjadi penuntun bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan.



