Skip to main content

Syaikh Mohammad Sharifani dalam peringatan syahadah Rasulullah saw, Imam Hasan al-Mujtaba as, dan Imam Ridha as yang digelar di ICC Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2026, mengajak jamaah memahami keagungan tiga manusia suci tersebut melalui tiga poin penting. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum peringatan 40 hari pemakaman Al-Imam Syahid Ali Khamenei. Dalam ceramahnya, Syaikh Mohammad Sharifani terlebih dahulu menyampaikan salam takziah kepada para asatid dan ustaz yang hadir, khususnya Duta Besar Republik Islam Iran Dr. Mohammad Boroujerdi, serta seluruh hadirin dan hadirat.

Syaikh Mohammad Sharifani mengawali penjelasannya dengan membahas Rasulullah saw. Untuk mengetahui seberapa agung kedudukan Rasulullah saw., menurut beliau, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah membandingkan keadaan masyarakat sebelum dan sesudah beliau diutus sebagai nabi.

Sebelum Rasulullah saw. diutus, bangsa Arab pada masa itu mengalami kerusakan dalam pemikiran. Mereka membuat berbagai bentuk sesembahan dari batu atau tanah, kemudian menyembah apa yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri. Mereka menjadikan benda-benda tersebut sebagai Tuhan.

Tidak hanya pemikiran mereka yang rusak, hati mereka juga dipenuhi berbagai penyakit. Hati mereka dipenuhi hal-hal yang tidak benar dan buruk, fanatisme tanpa alasan, fanatisme kesukuan, kedengkian, serta permusuhan terhadap pihak lain. Jika melihat apa yang muncul dari hati mereka dalam bentuk perbuatan, akan tampak betapa sakitnya kondisi masyarakat pada masa itu.

Kerusakan tersebut juga terlihat dalam perilaku mereka. Salah satu kebiasaan yang sering disebut dalam sejarah adalah mengubur hidup-hidup anak perempuan. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, tindakan tersebut menunjukkan betapa sakitnya hati dan tidak benarnya perbuatan masyarakat pada masa itu. Hal serupa terlihat dalam perlakuan mereka terhadap jasad Sayidina Hamzah, sayidus syuhada. Setelah membunuh beliau, tubuh Sayidina Hamzah dipotong-potong dan dimutilasi.

Sejarah juga mencatat berbagai peperangan yang terjadi di antara mereka hanya karena persoalan yang sangat sepele. Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana kerusakan pemikiran, hati, dan perilaku telah merasuk ke dalam kehidupan masyarakat sebelum kedatangan Rasulullah saw.

Rasulullah saw. kemudian datang membawa ajaran dan kitab suci Al-Qur’an. Kehadiran beliau meluruskan pemikiran mereka dan membawa mereka kepada pemikiran tauhid bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Namun, perubahan yang dibawa Rasulullah saw. tidak berhenti pada pelurusan pemikiran. Beliau juga membersihkan hati mereka.

Hati yang sebelumnya dipenuhi permusuhan kemudian dilembutkan oleh Allah swt. Rasulullah saw. sendiri menunjukkan kelembutan hati tersebut sebagai teladan yang harus diikuti umatnya. Padahal, sebagai manusia, beliau memiliki alasan untuk menyimpan dendam kepada orang-orang Quraisy yang telah melakukan mutilasi terhadap tubuh Sayidina Hamzah.

Akan tetapi, ketika Rasulullah saw. berhasil menundukkan Kota Makkah, beliau justru memaafkan mereka semua. Beliau tidak menuntut dan tidak melakukan balas dendam kepada mereka. Rasulullah saw. juga mengubah hubungan di antara masyarakat yang sebelumnya saling bermusuhan menjadi persaudaraan. Beliau mempersaudarakan mereka satu sama lain.

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, perbandingan antara keadaan masyarakat sebelum Rasulullah saw. diutus dan keadaan mereka setelah kedatangan beliau menunjukkan keagungan Rasulullah saw. Beliau bukan hanya mengubah pemikiran manusia, melainkan juga membersihkan hati dan mengubah perilaku mereka.

Beranjak kepada Imam Hasan al-Mujtaba as, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Imam Husain as memang mengalami kemazluman yang sangat besar di Karbala. Namun, terdapat bentuk kemazluman yang dialami Imam Hasan as dan tidak dialami Imam Husain as.

Ketika berada di Karbala, Imam Husain as memiliki para pembela, baik dari kalangan luar maupun dari kalangan internal keluarga beliau. Dari kalangan luar, Imam Husain as memiliki para sahabat yang siap mengorbankan apa pun untuk membela beliau. Sebanyak 72 sahabat Imam Husain as gugur dalam membela beliau dan memberikan segala yang mereka miliki.

Imam Husain as sendiri menggambarkan kesetiaan para sahabatnya dengan mengatakan, “Aku tidak pernah menemukan sahabat yang lebih setia dari para sahabatku ini.” Bahkan, dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa kesetiaan para sahabat Imam Husain as begitu tinggi hingga para sahabat Imam Mahdi as pun tidak memiliki tingkat kesetiaan yang melebihi mereka.

Selain para sahabat, Imam Husain as juga memiliki pembela dari kalangan keluarga. Beliau memiliki istri yang salehah dan sangat setia. Di antara mereka adalah Rubab, ibunda Ali Asghar as. Ketika pulang dari Syam dan sampai di Karbala pada hari Arbain, Rubab meminta izin kepada Imam Zainal Abidin as untuk tinggal di Karbala. Dikisahkan bahwa Rubab tinggal di Karbala selama satu tahun.

Setiap hari, Rubab berada di makam Imam Husain as dan melakukan aza untuk Imam Husain as dan putranya. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, seseorang yang memiliki istri yang sedemikian setia akan merasakan ketenangan karena mendapatkan ketenteraman di rumahnya.

Kondisi tersebut berbeda dengan Imam Hasan al-Mujtaba as. Beliau tidak memiliki pembela, baik dari kalangan luar maupun dari kalangan internal. Bahkan, orang-orang yang dekat dengan beliau sendiri datang menemui Imam Hasan as dan mengucapkan, “Assalamualaika ya mudillal mukminin,” yang berarti salam kepadamu, wahai orang yang telah menghinakan orang-orang mukmin.

Ucapan tersebut muncul sebagai bentuk protes terhadap keputusan Imam Hasan as menandatangani perjanjian damai dengan Muawiyah. Bahkan, di lingkungan keluarga pun Imam Hasan as tidak mendapatkan ketenangan. Syaikh Mohammad Sharifani menyebutkan bahwa di antara para imam terdapat dua imam yang dibunuh dengan cara diracun oleh istrinya, yaitu Imam Jawad as dan Imam Hasan al-Mujtaba as.

Menurut beliau, inilah salah satu bentuk kemazluman yang dialami Imam Hasan al-Mujtaba as. Karena tidak memiliki pembela yang memadai, Imam Hasan as pernah mengeluhkan keadaan tersebut. Beliau mengatakan bahwa seandainya memiliki pembela sebanyak kambing dan domba yang ada di hadapannya, beliau akan mengangkat senjata melawan Muawiyah.

Perawi kemudian menghitung jumlah kambing yang ditunjuk oleh Imam Hasan as dan mendapati jumlahnya tidak lebih dari delapan ekor. Gambaran tersebut menunjukkan betapa sedikitnya orang yang benar-benar setia kepada Imam Hasan as dan siap berkorban serta memberikan segala yang mereka miliki untuk membela beliau.

Dalam bagian berikutnya, Syaikh Mohammad Sharifani membahas Imam Ridha as. Beliau mengingatkan bahwa dalam bahasa Arab, setiap kata memiliki makna khusus. Para imam juga memiliki laqab atau gelar dan sebutan masing-masing. Salah satu gelar yang sering disematkan kepada Imam Ridha as adalah ar-Ra’uf.

Kata ra’uf, menurut beliau, meskipun sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “penyayang”, berasal dari kata ra’fah yang memiliki tiga makna. Pertama adalah kelembutan, kedua kasih sayang dan penghormatan, dan ketiga adalah cepat dalam bertindak.

Karena itu, seseorang tidak dapat disebut ra’uf hanya karena ia memiliki kelembutan dan berbuat baik kepada orang lain. Jika ia melakukan kebaikan tetapi tidak segera melakukannya, ia belum memenuhi seluruh makna ra’uf. Demikian pula jika ia melakukan kebaikan dengan cepat tetapi tidak disertai penghormatan kepada pihak lain, ia juga tidak dapat disebut ra’uf. Sifat ra’uf mengandung kelembutan, kasih sayang dan penghormatan, serta kecepatan dalam memberikan kebaikan berdasarkan kasih sayang tersebut.

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menceritakan sebuah kisah tentang dua orang yang memasuki haram Imam Ridha as. Salah satunya adalah seorang budak. Beliau menjelaskan bahwa budak pada masa itu bukan sekadar pembantu, melainkan seseorang yang hak kepemilikannya berada pada orang lain. Ia tidak merdeka dan tidak memiliki kebebasan karena menjadi milik tuannya.

Budak tersebut datang bersama tuannya ke haram Imam Ridha as. Keduanya berziarah dan kemudian bersujud kepada Allah swt. Setelah mengangkat kepala dari sujud dan selesai melaksanakan salat, sang tuan berkata kepada budaknya bahwa malam itu ia terpikir untuk memerdekakannya. Tidak hanya memerdekakannya, sang tuan juga berencana menikahkannya dengan putrinya serta memberikan rumah dan kebun kepadanya.

Mendengar perkataan tersebut, sang budak justru menangis. Tuannya bertanya mengapa ia menangis, padahal dirinya telah memberikan segala yang diharapkan. Sang budak kemudian menjelaskan bahwa ketika bersujud, ia memohon sesuatu kepada Allah swt. Ia memohon agar dapat hidup seperti manusia lain yang merdeka dan tidak lagi berada dalam belenggu perbudakan.

Ia juga memohon agar setelah merdeka dapat menjadi menantu tuannya. Ia bahkan memohon agar kelak memiliki kekayaan, dapat tinggal di rumah sendiri, dan mempunyai kebun sendiri.

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, apa yang diminta orang tersebut kepada Imam Ridha as dikabulkan bahkan sebelum ia sempat mengucapkan permintaannya kepada siapa pun. Imam Ridha as memberikan kasih sayang dengan sangat cepat kepada orang yang memohon hajat kepada Allah swt melalui beliau. Inilah salah satu gambaran sifat ra’uf yang melekat pada Imam Ridha as: kelembutan, kasih sayang dan penghormatan, sekaligus kecepatan dalam memberikan kebaikan kepada orang yang membutuhkan.