Guru Besar Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta, Kholid Al-Walid, mengulas perkembangan Republik Islam Iran, khususnya kebangkitan ilmu pengetahuan dan teknologi pascarevolusi, dalam Diskusi Buku Republik Islam Iran: Negara Filosof, Kekuatan Baru di Dunia Multipolar di ICC Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026. Beliau mengatakan bahwa Republik Islam Iran belakangan menjadi tema yang banyak diperbincangkan karena tampil sebagai negara yang berani menentang negara yang mendeklarasikan diri sebagai polisi dunia dan memandang berbagai wilayah di dunia sebagai bagian dari kekuasaannya.
Kholid Al-Walid mengatakan bahwa dalam perkembangan terakhir muncul sebuah negara yang menjadi penantang terhadap dominasi tersebut. Beliau merujuk pada situasi yang menurutnya menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak mampu dengan mudah menundukkan Republik Islam Iran. Kondisi tersebut, menurut beliau, bahkan berdampak pada situasi Selat Hormuz yang tidak dapat dibuka kembali sebagaimana yang diupayakan. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pandangan mengenai Amerika Serikat sebagai negara yang tidak terkalahkan mulai runtuh.
Kondisi itu kemudian membuat pembicaraan mengenai Republik Islam Iran semakin banyak muncul dari berbagai penjuru dunia. Para pengamat dan analis politik memberikan perhatian terhadap Iran, tetapi Kholid Al-Walid melihat masih banyak pandangan yang belum memahami Republik Islam Iran secara utuh. Menurut beliau, masih terdapat berbagai bias dalam melihat Iran, termasuk di Indonesia.
Beliau mengatakan bahwa di luar diskusi-diskusi formal, masih sering muncul pertanyaan mengenai kondisi masyarakat Iran. Ada gambaran bahwa Iran telah mengalami keruntuhan, kekacauan, bahkan kelaparan seperti yang terjadi di sejumlah wilayah lain yang mengalami perang. Keraguan juga muncul dalam melihat kondisi ekonomi Iran. Menurut beliau, sebagian orang menganggap ekonomi Iran tidak mungkin berkembang karena perekonomian dunia bergantung pada dolar, sementara Iran menghadapi inflasi yang sangat tinggi.
Kholid Al-Walid kemudian menceritakan pengalamannya ketika berkunjung ke Iran beberapa waktu sebelumnya. Berbeda dari gambaran yang sering muncul, beliau melihat masyarakat Iran menjalani kehidupan sehari-hari secara biasa. Aktivitas ekonomi juga tetap berjalan seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang luar biasa, meskipun Iran berada dalam kondisi perang dan tekanan ekonomi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang mendorong Kholid Al-Walid menulis buku Republik Islam Iran: Negara Filosof, Kekuatan Baru di Dunia Multipolar. Beliau menjelaskan bahwa sebagian tulisan dalam buku tersebut sebenarnya telah pernah ditulis sebelumnya. Beberapa di antaranya bahkan telah diterbitkan dalam jurnal. Namun, tulisan-tulisan tersebut kemudian disusun kembali dengan bahasa yang lebih populer agar dapat diakses oleh masyarakat yang lebih luas.
Menurut beliau, apabila seluruh pembahasan tersebut tetap ditulis dengan pola yang sangat ilmiah dan akademis, hanya sebagian masyarakat yang akan mampu membaca dan memahaminya. Karena itu, karya tersebut disusun sebagai kumpulan berbagai tulisan yang berasal dari waktu yang berbeda. Di dalamnya terdapat tulisan mengenai Ali Syariati, Imam Khomeini, Murtadha Muthahhari, tokoh-tokoh pendiri Republik Islam Iran, Akbar Hashemi Rafsanjani, hingga pembahasan mengenai Wilayatul Faqih.
Kholid Al-Walid mengatakan bahwa sejumlah tulisan tersebut sebenarnya telah cukup lama dibuat, tetapi kemudian beliau ramu kembali untuk dihadirkan dalam konteks keadaan saat ini. Dalam proses penyusunan, beliau dibantu oleh sahabatnya, Dr. Tercipta, untuk merapikan berbagai tulisan tersebut. Beliau mengakui bahwa karya tersebut masih memiliki kekurangan karena ditargetkan untuk segera diterbitkan. Namun, harapannya, buku itu dapat membantu lebih banyak orang memahami Republik Islam Iran.
Salah satu bagian yang kemudian dibacakan Kholid Al-Walid membahas kebangkitan ilmiah kontemporer Iran. Menurut beliau, salah satu kisah mengenai Iran pascarevolusi yang paling kurang diceritakan adalah kebangkitan ilmiahnya yang luar biasa. Beliau menyebutnya sebagai sebuah fenomena yang sulit dijelaskan apabila Republik Islam Iran hanya dilihat melalui lensa geopolitik dan konfrontasi.
Kholid Al-Walid memaparkan data mengenai pertumbuhan sains dan teknologi Iran. Berdasarkan data yang beliau bacakan, Iran menunjukkan tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi dalam sains dan teknologi secara global, dengan peningkatan sekitar 1.000 persen pada periode 1995 hingga 2004.
Beliau juga memaparkan perkembangan output penerbitan akademik Iran. Pada 1970, output penerbitan akademik Iran disebut hanya mencapai 0,003 persen dari total dunia. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 0,2 persen pada 2004 dan mencapai 1,02 persen pada 2008. Menurut data yang beliau sampaikan, perkembangan tersebut menunjukkan peningkatan yang sangat besar dalam kemampuan Iran menghasilkan karya ilmiah.
Kholid Al-Walid kemudian menyebut bahwa Iran kini menempati peringkat pertama dalam output ilmiah di kawasan Asia Barat, melampaui Israel, Arab Saudi, Turki, dan negara-negara lain di kawasan tersebut. Beliau juga memaparkan data mengenai posisi Iran dalam Global Innovation Index pada 2026. Berdasarkan data yang beliau bacakan, Iran berada di peringkat ke-70 dari 139 negara dalam indeks tersebut. Sementara dalam output inovasi atau hasil nyata penelitian, Iran disebut berada di peringkat ke-46.
Beliau juga menyebut kepadatan peneliti Iran mencapai sekitar 2.240 peneliti per satu juta penduduk. Menurut Kholid Al-Walid, angka tersebut melampaui sejumlah negara yang secara ekonomi jauh lebih kaya.
Salah satu capaian yang kemudian mendapat perhatian khusus adalah nanoteknologi. Kholid Al-Walid menjelaskan bahwa nanoteknologi merupakan teknologi pada skala atom dan molekul yang menjadi salah satu bidang sains terpenting pada abad ke-21. Berdasarkan data yang beliau bacakan, Iran menghasilkan 10.860 artikel ilmiah dalam bidang nanoteknologi pada 2024. Dengan jumlah tersebut, Iran disebut menempati peringkat keenam dunia dan menyumbang sekitar 5 persen dari total output global.
Beliau juga menyebut adanya sumber yang menempatkan Iran pada peringkat keempat dunia dalam bidang nanoteknologi. Di kawasan Teluk, Iran disebut berada pada urutan pertama. Menurut Kholid Al-Walid, capaian tersebut menjadi semakin mengesankan karena dicapai dalam kondisi Iran menghadapi berbagai sanksi yang membatasi akses terhadap peralatan laboratorium canggih, kerja sama internasional, dan jurnal-jurnal ilmiah berbayar. Para peneliti Iran, menurut beliau, harus mencari jalan alternatif untuk mengembangkan penelitian. Mereka membangun peralatan sendiri, mengembangkan jaringan kolaborasi dengan China, Rusia, dan negara-negara lain yang tidak mengikuti sanksi, serta dalam banyak kasus menciptakan solusi teknis sendiri yang kemudian menghasilkan berbagai inovasi.
Kholid Al-Walid mengatakan bahwa perkembangan inovasi tersebut juga terlihat dalam kondisi perang. Iran tetap melakukan berbagai inovasi teknologi dalam bidang rudal, nanoteknologi, kedokteran, dan bidang lainnya. Bahkan, menurut informasi yang beliau sampaikan, pada masa perang Iran meresmikan rumah sakit kanker terbesar di kawasan Timur Tengah. Beliau juga menyebut sejumlah penerapan praktis nanoteknologi di Iran, antara lain pemurnian air dari Sungai Karun, produksi material nano untuk penggunaan medis, serta berbagai aplikasi di bidang industri dan lingkungan. Menurut Kholid Al-Walid, Iran bahkan telah mencapai kemandirian dalam bidang nanoteknologi.
Perkembangan tersebut, lanjut beliau, belum mencakup berbagai penemuan dalam bidang bioteknologi dan sel punca. Karena itu, beliau melihat perkembangan ilmu pengetahuan Iran sebagai sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan. Kholid Al-Walid kemudian mengaitkan capaian tersebut dengan sebuah ungkapan dalam peradaban Islam, al-‘ilmu sulthan, yang berarti ilmu adalah kekuatan. Namun, menurut beliau, bagi Iran ilmu bukan sekadar kekuatan strategis, melainkan juga ekspresi iman yang mendalam, warisan peradaban yang sangat berharga, dan jalan menuju kemuliaan.
Beliau menggambarkan perjalanan sains Iran pascarevolusi sebagai sebuah perubahan yang sangat besar. Dari hampir tidak memiliki publikasi internasional, Iran kemudian berkembang menjadi salah satu pemimpin regional dalam output ilmiah. Dari ketergantungan total terhadap teknologi impor, Iran kemudian mampu mengembangkan teknologi sendiri, termasuk memiliki komputer super. Dari kondisi belum memiliki program nuklir sipil, Iran kemudian berkembang menjadi salah satu dari 13 negara yang memiliki siklus bahan bakar nuklir yang paling lengkap. Menurut Kholid Al-Walid, perjalanan tersebut menunjukkan apa yang dapat dicapai ketika sebuah bangsa menjadikan ilmu pengetahuan sebagai prioritas nasional yang tidak mudah diganggu oleh berbagai sanksi.
Beliau kemudian menghubungkan kebangkitan ilmu pengetahuan Iran dengan tradisi keilmuan yang jauh lebih panjang dalam peradaban Islam. Tradisi tersebut antara lain terlihat dari Gondi Syapur yang menyambut para filsuf Yunani yang terusir dari Romawi, Al-Khawarizmi yang mengembangkan aljabar di Baghdad, hingga Ibn Sina yang menulis ensiklopedia kedokteran yang bertahan sebagai rujukan selama berabad-abad. Menurut Kholid Al-Walid, terdapat benang merah yang menghubungkan para ilmuwan tersebut, yaitu kecintaan terhadap ilmu yang tidak semata-mata bersumber dari kalkulasi ekonomi atau ambisi politik. Kecintaan tersebut berakar pada keyakinan bahwa mencari ilmu merupakan salah satu bentuk penghambaan tertinggi kepada Allah swt.
Karena itu, Kholid Al-Walid mengatakan bahwa bagi dirinya, kemenangan yang dicapai Iran dalam ilmu pengetahuan merupakan kemenangan yang lebih hakiki. Bukan hanya kemenangan di medan perang yang penting, tetapi juga kemenangan dalam ilmu pengetahuan yang dicapai oleh sebuah bangsa. Beliau mengajak masyarakat untuk belajar dari Republik Islam Iran. Menurut Kholid Al-Walid, Iran dapat dilihat sebagai negara Muslim yang memiliki kekuatan dalam pengetahuan, teknologi, spiritualitas, dan keberanian.
Kholid Al-Walid kemudian mengingatkan bahwa capaian tersebut berlangsung di tengah lebih dari 3.000 sanksi yang ditujukan kepada Iran. Menurut beliau, tekanan yang sangat besar tersebut tidak menghentikan perkembangan Iran dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Beliau juga menyinggung adanya sensitivitas ketika Iran disebut di Indonesia. Menurutnya, ketika nama Iran disebut, sebagian orang langsung mengaitkannya dengan persoalan mazhab. Padahal, menurut Kholid Al-Walid, masih banyak aspek lain dari Iran yang dapat dipelajari.
Indonesia, menurut beliau, memiliki berbagai keunggulan, termasuk kekayaan alam yang luar biasa dan kebebasan dalam memperoleh pendidikan. Namun, dalam bidang pengetahuan dan teknologi, capaian Indonesia masih jauh dibandingkan dengan apa yang telah dicapai Iran. Karena itu, Kholid Al-Walid berharap buku Republik Islam Iran: Negara Filosof, Kekuatan Baru di Dunia Multipolar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan membuka kesempatan untuk belajar lebih banyak dari capaian Republik Islam Iran, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.



