Dalam Diskusi Buku Republik Islam Iran: Negara Filosof, Kekuatan Baru di Dunia Multipolar yang digelar di ICC Jakarta pada Jumat, 21 Agustus 2026, Direktur ICC Jakarta Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan pandangannya mengenai Republik Islam Iran sebagai sebuah negara yang tidak hanya dapat dipahami dari aspek politik dan geografis, tetapi juga sebagai identitas, peradaban, dan representasi perjuangan melawan hegemoni. Menurut beliau, Iran merupakan representasi kemuliaan manusia yang berdiri untuk melawan hegemoni dunia sekaligus mewakili sebuah peradaban dan kebudayaan yang menjunjung tinggi keadilan serta kemanusiaan.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa sistem pemerintahan Republik Islam Iran berdiri di atas nilai-nilai filosofis dan ilahiah, keadilan, kemanusiaan, serta peradaban. Menurut beliau, fondasi pemikiran tersebut memiliki akar yang panjang dalam sejarah intelektual Persia. Salah satu kontribusi besar bangsa Persia terhadap dunia pemikiran adalah pengembangan filsafat Aristotelian yang kemudian diperkenalkan secara luas melalui pemikiran Ibn Sina.
Selain filsafat Aristotelian, beliau juga menyinggung filsafat iluminasionisme yang memiliki keterkaitan dengan pemikiran Plato. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, dunia filsafat hingga hari ini memiliki utang intelektual kepada dua filsuf besar, Aristoteles dan Plato. Pemikiran Plato kemudian dikembangkan dan diperkenalkan lebih jauh melalui filsafat Suhrawardi, seorang filsuf yang berasal dari Persia.
Dari perkembangan tersebut kemudian lahir integrasi antara filsafat Aristotelian atau filsafat peripatetik dengan filsafat iluminasionisme atau Platonisme. Integrasi itu melahirkan sebuah aliran filsafat tersendiri yang dikenal sebagai filsafat hikmah muta’aliyah. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa filsafat tersebut dibangun, dikembangkan, dan diperkenalkan oleh Mulla Sadra, seorang filsuf yang berasal dari Persia.
Menurut beliau, seluruh perkembangan tersebut menunjukkan besarnya kontribusi tanah Persia terhadap pemikiran filsafat dunia. Tradisi intelektual tersebut tidak berhenti pada masa Mulla Sadra. Para filsuf kontemporer juga terus lahir dari tradisi pemikiran tersebut. Syaikh Mohammad Sharifani menyebut sejumlah tokoh, antara lain Allamah Thabathaba’i, Syahid Muthahhari, dan almarhum Misbah Yazdi. Mereka, menurut beliau, bersama-sama mengembangkan filsafat yang sebelumnya berkembang melalui pemikiran Plato dan Aristoteles hingga kemudian terintegrasi dalam filsafat hikmah muta’aliyah.
Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa hingga saat ini Republik Islam Iran tetap melahirkan karya, pemikiran, dan berbagai terobosan baru dalam bidang pemikiran dan filsafat. Karena itu, buku yang dibahas dalam diskusi tersebut, karya Profesor Dr. Kholid Al Walid, menurut beliau, berusaha memotret Iran sebagai sebuah negara yang memiliki landasan dan fondasi filosofis. Fondasi tersebut memiliki akar dalam pemikiran para filsuf Persia seperti Ibn Sina, Suhrawardi, Mulla Sadra, dan tokoh-tokoh lainnya.
Beliau kemudian menghubungkan pembahasan tersebut dengan kondisi dunia kontemporer. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, dunia saat ini berada dalam situasi yang memperlihatkan dua kutub pemikiran dan politik, yaitu Timur dan Barat. Beliau mengingatkan bahwa sepanjang sejarah, khususnya setelah Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua, Amerika Serikat menjadi kekuatan yang sangat dominan. Pada masa tersebut, menurut beliau, orang tidak berani menyebut nama Amerika tanpa penghormatan, apalagi menolak atau mengatakan tidak terhadap Amerika.
Situasi tersebut kemudian berubah ketika muncul sosok Sayyid Ruhullah Khomeini. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Imam Khomeini tampil dengan sikap yang menolak hegemoni dan kolonialisme Amerika. Beliau mengusung sikap untuk mengatakan tidak kepada hegemoni Amerika dan tidak kepada kolonialisasi Amerika. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, Imam Khomeini juga menyampaikan keyakinan bahwa Amerika tidak akan mampu memberikan kerugian kepada bangsa Iran.
Dari situlah, menurut beliau, muncul sebuah fenomena baru. Republik Islam Iran hadir sebagai sebuah negara yang menentang hegemoni Amerika sekaligus menawarkan paradigma dan kutub baru di tengah kekuatan-kekuatan dunia yang ada. Iran, kata beliau, menawarkan gagasan dunia multipolar sebagai alternatif terhadap sistem unipolar yang berlangsung selama beberapa kurun terakhir.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menekankan bahwa kekuatan Iran tidak semata-mata terletak pada persenjataan, termasuk rudal yang dimiliki negara tersebut. Menurut beliau, kekuatan yang jauh lebih besar adalah suara untuk melawan penindasan, suara untuk menentang penjajahan, serta suara untuk menjunjung tinggi keadilan.
Beliau menjelaskan bahwa gagasan tersebut merupakan wacana dan seruan yang dikemukakan Imam Ruhullah Khomeini ketika menentang berbagai bentuk penjajahan, tirani, penindasan, dan kezaliman. Karena itu, rudal, menurut beliau, hanyalah sebagian kecil dari kekuatan yang dimiliki Iran. Kekuatan yang lebih dahsyat adalah kekuatan untuk melawan kezaliman, menegakkan keadilan, serta memperjuangkan sikap anti-penjajahan dan anti-kolonialisme.



