Kelas Tafsir Maudhu’i ICC Jakarta yang berlangsung pada Kamis, 27 Agustus 2026, menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani yang membahas tafakur atau berpikir dalam perspektif Al-Qur’an. Dalam penjelasannya, beliau menerangkan perbedaan antara tafakur dan tazakur, kedudukan berpikir dalam ajaran Islam, pentingnya memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah swt, kebebasan berpikir, serta larangan mengikuti sesuatu secara taklid buta.
Pada awal pembahasan, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa dalam proses berpikir terdapat dua hal di dalam benak manusia, yaitu maklumat dan majhulat. Maklumat adalah sesuatu yang telah diketahui atau pengetahuan yang sudah dimiliki manusia, sedangkan majhulat adalah hal-hal yang belum diketahui. Menurut beliau, proses berpikir merupakan usaha untuk menemukan sesuatu yang belum diketahui dengan menghubungkan berbagai informasi yang telah tersedia dalam pikiran.
Beliau mencontohkan seseorang yang belum mengetahui suatu hal, kemudian berusaha mencari berbagai informasi yang berkaitan dengannya hingga akhirnya menemukan jawaban. Proses memperoleh pengetahuan baru dari sesuatu yang sebelumnya belum diketahui itulah yang disebut tafakur.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian membedakan tafakur dengan tazakur. Tazakur, menurut beliau, adalah proses mengingat kembali sesuatu yang sebenarnya telah diketahui, tetapi terlupakan. Pengetahuan tersebut sebenarnya sudah tersimpan di dalam benak manusia, hanya saja karena lupa, manusia perlu mencarinya kembali.
Sementara itu, tafakur merupakan proses memperoleh pengetahuan baru. Beliau memberikan gambaran tentang seseorang yang seumur hidup belum pernah melihat telepon seluler atau smartphone. Ketika orang tersebut berusaha memahami apa sebenarnya smartphone, berbagai informasi dapat dikumpulkan dan dibandingkan. Ada yang menyebutnya memiliki fungsi seperti kamera, ada pula yang menjelaskan fungsinya sebagai sarana untuk mendengarkan suara dan berbagai fungsi lainnya. Dari berbagai informasi yang saling berkaitan tersebut, seseorang akhirnya dapat menyimpulkan apa sebenarnya smartphone itu.
Menurut beliau, demikianlah proses tafakur. Manusia berangkat dari keadaan belum mengetahui sesuatu, kemudian menggunakan informasi yang tersedia hingga akhirnya memperoleh pengetahuan baru.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa berpikir memiliki kedudukan yang sangat agung dan mulia dalam ajaran Islam serta merupakan sesuatu yang sangat ditekankan oleh Allah swt. Beliau kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan firman Allah swt dalam Surah Al-Baqarah ayat 219–220 mengenai khamar, maisir, dan infak.
Yas’alūnaka ‘anil-khamri wal-maisir. Qul fīhimā itsmun kabīrun wa manāfi‘u lin-nāsi wa itsmuhumā akbaru min naf‘ihimā. Wa yas’alūnaka mādzā yunfiqūn. Qulil-‘afwa. Kadzālika yubayyinullāhu lakumul-āyāti la‘allakum tatafakkarūn.
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Namun, dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’ Mereka juga bertanya kepadamu tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah, ‘Kelebihan dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu berpikir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 219)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat tersebut membahas beberapa persoalan, yaitu minuman keras, perjudian, dan apa yang seharusnya diinfakkan manusia. Namun, Allah swt menutup penjelasan tersebut dengan la‘allakum tatafakkarūn, agar manusia berpikir. Hal ini menunjukkan bahwa berpikir memiliki kedudukan yang sangat penting dalam pandangan Al-Qur’an.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa tafakur juga merupakan salah satu sumber kemuliaan dan keagungan manusia. Dalam Surah Al-Furqan ayat 44, Allah swt berfirman:
Am taḥsabu anna aktsarahum yasma‘ūna au ya‘qilūn. In hum illā kal-an‘āmi bal hum aḍallu sabīlā.
“Ataukah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka mendengar atau memahami? Mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya.” (QS. Al-Furqan [25]: 44)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan manusia yang tidak menggunakan pendengaran dan akalnya untuk memahami kebenaran. Banyak manusia justru cenderung kepada dunia dan berbagai hal yang membuat mereka melupakan Allah swt.
Dalam kaitan tersebut, beliau menceritakan sebuah riwayat tentang Abu Bashir, salah seorang sahabat Imam Shadiq as. Ketika berada di Makkah, Abu Bashir dikisahkan memperoleh kemampuan untuk melihat hakikat sebagian orang yang sedang berada di sekitar Ka’bah. Beliau melihat banyak di antara mereka dalam bentuk hewan seperti kambing dan unta. Ketika Abu Bashir terkejut melihat keadaan tersebut, Imam Shadiq as menjelaskan bahwa itulah hakikat sebagian dari mereka.
Dari kisah tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menerangkan bahwa manusia yang benar-benar mencari keadilan, mencari kebenaran, dan berjalan di atas jalan kebaikan ilahi jumlahnya sangat sedikit. Karena itu, manusia harus berusaha menjadi bagian dari mereka yang mencari hakikat dan menegakkan kebenaran.
Beliau mengatakan bahwa banyak manusia justru berlomba-lomba menipu orang lain, melakukan kezaliman, tidak lagi memedulikan halal dan haram, melakukan pencurian, serta tidak memperhatikan hak orang lain. Mereka hanya memikirkan dirinya sendiri. Karena itu, manusia yang sungguh-sungguh mencari kebenaran, keadilan, dan hakikat jumlahnya sangat sedikit.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan bahwa Al-Qur’an juga mendorong manusia untuk berpikir, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Beliau mengaitkannya dengan Surah Saba ayat 46:
Qul innamā a‘iẓukum biwāḥidatin an taqūmū lillāhi matsnā wa furādā tsumma tatafakkarū.
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku hendak menasihati kamu dengan satu perkara, yaitu agar kamu menghadap Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu berpikir.’” (QS. Saba [34]: 46)
Menurut beliau, manusia dapat berpikir secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Yang harus dipikirkan adalah kebenaran yang dibawa Rasulullah saw. Ketika orang-orang kafir menuduh Nabi Muhammad saw sebagai orang gila, Allah swt membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa Rasulullah saw bukanlah orang gila, melainkan seorang pemberi peringatan tentang azab yang pedih.
Ma biṣāḥibikum min jinnah. In huwa illā nadzīrun lakum baina yadai ‘adzābin syadīd.
“Temanmu itu bukanlah orang gila. Dia hanyalah seorang pemberi peringatan kepadamu sebelum datangnya azab yang keras.” (QS. Saba [34]: 46)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, berpikir juga membuat manusia mampu memperoleh manfaat dari ayat-ayat Allah swt dan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Salah satu contohnya terdapat dalam Surah Ar-Rum ayat 21 mengenai penciptaan pasangan dan munculnya cinta di antara manusia.
Wa min āyātihī an khalaqa lakum min anfusikum azwājan litaskunū ilaihā wa ja‘ala bainakum mawaddatan wa raḥmah. Inna fī dzālika la’āyātin liqaumin yatafakkarūn.
“Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah bahwa Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum [30]: 21)
Beliau menjelaskan bahwa rasa cinta yang muncul di antara manusia merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah swt yang perlu dipikirkan. Seseorang dari Iran, misalnya, dapat bertemu dengan seseorang dari Jepang dan kemudian tumbuh rasa cinta di antara keduanya. Sebaliknya, ada pula seorang laki-laki dan perempuan yang hidup bertetangga, tetapi tidak memiliki rasa cinta satu sama lain.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, fenomena tersebut menunjukkan adanya rahasia di balik cinta yang ditumbuhkan Allah swt di dalam hati manusia. Dua orang yang berasal dari tempat sangat jauh dapat dipersatukan oleh rasa cinta, sementara kedekatan tempat tidak selalu menghasilkan perasaan yang sama. Karena itu, cinta merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah swt yang patut direnungkan.
Beliau selanjutnya membahas kebebasan berpikir yang ditekankan oleh Al-Qur’an. Dalam Surah Az-Zumar ayat 17–18, Allah swt memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang mau mendengarkan berbagai perkataan, kemudian mengikuti yang terbaik di antaranya.
Alladzīna yastami‘ūnal-qaula fayattabi‘ūna aḥsanah. Ulā’ika alladzīna hadāhumullāh wa ulā’ika hum ulul-albāb.
“Yaitu orang-orang yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zumar [39]: 18)
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa memilih pendapat yang terbaik membutuhkan proses berpikir. Manusia perlu mendengarkan berbagai pandangan, membandingkannya, memikirkan dasar-dasarnya, kemudian memilih yang terbaik. Orang yang melalui proses tersebut dan memilih ajaran atau pendapat terbaik termasuk orang yang memperoleh petunjuk dari Allah swt dan digolongkan sebagai ulul albab, yaitu orang-orang yang memiliki akal yang sempurna.
Beliau juga menekankan bahwa Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk berpikir secara luas dan bebas serta menghindari taklid buta. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 170, Allah swt menggambarkan orang-orang yang menolak mengikuti wahyu dan lebih memilih mengikuti apa yang mereka peroleh dari nenek moyang mereka.
Wa idzā qīla lahumuttabi‘ū mā anzalallāhu qālū bal nattabi‘u mā alfainā ‘alaihi ābā’anā. A walau kāna ābā’uhum lā ya‘qilūna syai’an wa lā yahtadūn.
“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah Allah turunkan,’ mereka menjawab, ‘Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Padahal, apakah mereka akan tetap mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka tidak memahami sesuatu pun dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah [2]: 170)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, mengikuti pendahulu tanpa dasar, tanpa landasan yang jelas, dan tanpa menggunakan akal merupakan bentuk keterbelengguan dalam cara berpikir yang keliru. Seseorang tidak dapat disebut telah menggunakan akalnya dengan baik apabila hanya mengikuti sesuatu karena hal tersebut telah dilakukan oleh orang tua atau pendahulunya.
Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak menghendaki manusia menjadi tawanan taklid buta. Manusia harus menggunakan akalnya, membandingkan berbagai pandangan, memperhatikan dasar dan landasannya, serta mencari pendapat dan ajaran yang terbaik. Dengan demikian, tafakur bukan sekadar aktivitas berpikir, melainkan jalan untuk memperoleh pengetahuan, memahami tanda-tanda kekuasaan Allah swt, mencari kebenaran, dan memperoleh petunjuk.



