Dalam khutbah Jumat di ICC Jakarta, Jumat, 25 September 2026, Syaikh Mohammad Sharifani melanjutkan pembahasan mengenai berbagai dimensi persoalan dosa. Pada kesempatan tersebut, beliau membahas kecenderungan manusia untuk mencari pembenaran ketika melakukan kesalahan atau dosa. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, manusia pada umumnya tidak ingin disalahkan. Karena itu, ketika melakukan dosa, seseorang sering kali berusaha mencari alasan untuk membenarkan perbuatannya.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ketika seseorang membenarkan kesalahannya, pada dasarnya ada dua hal yang sedang dilakukan. Pertama, ia menipu dirinya sendiri. Meskipun sebenarnya telah melakukan kesalahan, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa dirinya tidak bersalah. Kedua, ia menipu orang lain agar orang lain menganggapnya tidak bersalah, padahal dialah yang melakukan kesalahan tersebut.
Dalam persoalan ini, beliau mengutip firman Allah swt:
“Balil-insânu ‘alâ nafsihî bashîrah. Wa lau alqâ ma‘âdzîrah.”
“Bahkan, manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (QS. Al-Qiyamah [75]: 14–15)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia sebenarnya mengetahui apa yang ada dalam dirinya. Meskipun seseorang memberikan berbagai alasan dan pembenaran, pada hakikatnya ia mengetahui apakah dirinya telah melakukan kesalahan atau tidak.
Beliau juga menjelaskan bahwa apabila seseorang ingin mencari pihak yang paling adil dalam menilai sebuah kesalahan, maka hati dan jiwa manusia itu sendiri merupakan tempat yang paling jujur untuk bertanya. Seseorang dapat bertanya kepada dirinya sendiri apakah ia benar-benar telah melakukan dosa atau kesalahan.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengaitkan persoalan hati dan kesadaran batin ini dengan pandangan Syaikh Ansari. Menurut beliau, dalam pembahasan ilmu agama terdapat sejumlah sumber yang digunakan sebagai dalil, yaitu Al-Qur’an, hadis, ijmak, akal, dan apa yang ditemukan dalam hati manusia. Karena itu, hati memiliki posisi penting dalam menyadari benar atau tidaknya suatu perbuatan.
Namun, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, persoalan yang perlu diperhatikan adalah bahwa mencari pembenaran atas kesalahan dapat lebih buruk daripada kesalahan itu sendiri. Beliau kemudian membagi bentuk pembenaran yang dilakukan manusia ketika berbuat dosa ke dalam beberapa kategori.
Pertama adalah pembenaran yang didasarkan pada keyakinan atau pemikiran keagamaan. Misalnya, ada kelompok yang meyakini bahwa segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah swt sehingga manusia tidak memiliki pilihan dalam menentukan apa yang dilakukannya.
Mereka beranggapan bahwa apa yang dilakukan manusia sudah menjadi takdir Allah swt dan seseorang tidak mungkin keluar dari ketetapan tersebut. Karena itu, orang-orang musyrik pada masa lalu mengatakan bahwa seandainya Allah swt menghendaki, mereka tidak akan melakukan kemusyrikan.
Mereka mengatakan:
“Lau syâ’allâhu mâ asyraknâ.”
“Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-An‘am [6]: 148)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, argumentasi semacam ini merupakan pembenaran yang keliru. Al-Qur’an justru menegaskan bahwa manusia telah diberi petunjuk dan memiliki pilihan untuk menentukan jalannya.
“Innâ hadainâhus-sabîla immâ syâkiran wa immâ kafûrâ.”
“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (QS. Al-Insan [76]: 3)
Beliau juga menjelaskan bahwa Al-Qur’an menyebut alasan semacam itu sebagai kebohongan dan khayalan yang mereka buat sendiri. Mereka berusaha menjadikan takdir sebagai alasan untuk membenarkan kesalahan yang mereka lakukan.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian mengambil contoh dari peristiwa setelah Karbala. Ketika kepala suci Imam Husain as dibawa ke hadapan Yazid, Yazid dengan angkuh berusaha membenarkan kekuasaannya dengan mengatasnamakan kehendak Allah swt. Ia menyatakan bahwa kekuasaan adalah milik Allah dan diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Namun, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa kemuliaan dan kehormatan pada akhirnya bukan ditentukan oleh klaim manusia, melainkan berada di tangan Allah swt. Allah swt berfirman:
“Wa lillâhil-‘izzatu wa li rasûlihî wa lil-mu’minîn.”
“Padahal, kemuliaan itu hanyalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Munafiqun [63]: 8)
Beliau kemudian mengingatkan bagaimana sejarah memperlihatkan keadaan tersebut. Yazid berusaha menggunakan alasan keagamaan untuk membenarkan apa yang telah dilakukannya, tetapi nama dan kedudukannya tidak dikenang dengan kemuliaan. Sementara itu, Imam Husain as yang dizalimi justru hidup dalam hati jutaan bahkan miliaran manusia dan terus dikenang serta dimuliakan.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, hal tersebut menunjukkan bagaimana manusia tidak dapat menjadikan alasan keagamaan sebagai pembenaran atas dosa dan kesalahannya.
Bentuk pembenaran kedua adalah pembenaran berdasarkan persoalan sosial. Beliau menjelaskan bahwa setiap masyarakat memiliki kebiasaan, tradisi, dan penyimpangan tertentu. Dalam kondisi tertentu, seseorang dapat menganggap suatu perbuatan sebagai benar hanya karena perbuatan tersebut telah menjadi kebiasaan masyarakat.
Syaikh Mohammad Sharifani memberikan beberapa contoh dari kaum terdahulu. Kaum Nabi Luth as dikenal dengan penyimpangan dalam hubungan seksual. Kaum Madyan memiliki persoalan dalam perdagangan dan kecurangan dalam takaran. Ada pula kelompok masyarakat yang melakukan penyimpangan dalam masalah ibadah dengan menyembah berhala.
Menurut beliau, pada zaman sekarang salah satu bidang yang membuka banyak pintu dosa adalah media sosial. Di era digital, media sosial menjadi ruang yang sangat luas dan berbagai pintu dosa dapat terbuka dengan mudah.
Persoalan muncul ketika seseorang merasa bahwa ia harus mengikuti apa yang dilakukan masyarakat. Ketika tidak mengikuti kebiasaan yang berlaku, ia merasa seolah-olah justru menjadi pihak yang melakukan pelanggaran. Padahal, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, mengikuti kebiasaan masyarakat bukanlah alasan yang dapat membenarkan dosa.
Beliau mengutip perkataan kaum Nabi Syuaib as:
“Ash-shalâtuka ta’muruka an natruka mâ ya‘budu âbâ’unâ?”
“Mereka berkata, ‘Wahai Syuaib, apakah salatmu menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh nenek moyang kami?’” (QS. Hud [11]: 87)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, perkataan tersebut menunjukkan bagaimana tradisi masyarakat dijadikan alasan untuk mempertahankan sesuatu yang salah. Mereka beranggapan bahwa meninggalkan kebiasaan orang tua dan leluhur merupakan sebuah kesalahan, padahal kebiasaan tersebut bertentangan dengan kebenaran yang dibawa oleh Nabi.
Bentuk pembenaran ketiga adalah pembenaran berdasarkan alasan psikologis. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa seseorang terkadang mengatakan bahwa dirinya sudah terlalu lama melakukan suatu kebiasaan sehingga tidak mungkin berubah.
Ada orang yang berkata bahwa dirinya memang sudah seperti itu sejak dahulu, tidak mampu berubah, atau sudah terlalu terbiasa melakukan dosa. Ada pula yang mengatakan bahwa dirinya merasa malu jika melakukan suatu kebaikan, atau justru merasa malu apabila tidak mengikuti suatu perbuatan yang sudah menjadi kebiasaan.
Beliau memberikan contoh sederhana. Seseorang sedang bertamu dan bermalam di rumah orang lain. Sebelum waktu Subuh, ia terbangun dan melihat penghuni rumah masih tidur. Ia kemudian merasa malu untuk berwudu karena khawatir membangunkan atau mengganggu mereka. Akhirnya, dengan alasan tersebut, ia tidak melaksanakan salat.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, alasan semacam itu merupakan bentuk pembenaran psikologis terhadap sebuah kesalahan. Padahal, seseorang harus tetap bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.
Karena itu, beliau merangkum tiga bentuk pembenaran yang sering digunakan manusia ketika melakukan dosa, yaitu pembenaran berdasarkan keyakinan, pembenaran berdasarkan tekanan atau kebiasaan sosial, dan pembenaran berdasarkan alasan psikologis seperti merasa tidak mampu berubah atau sudah terbiasa melakukan dosa.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, Al-Qur’an dan ajaran Islam membantah ketiga bentuk pembenaran tersebut. Manusia tetap bertanggung jawab atas perbuatannya dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah swt.
Beliau mengingatkan bahwa bahkan perbuatan yang tampak sangat kecil pun tetap tercatat. Apabila seseorang melakukan sesuatu seperti menggores dinding milik orang lain, perbuatan itu tetap akan diperhitungkan di hadapan Allah swt.
Allah swt berfirman:
“Mâ yalfidhu min qaulin illâ ladaihi raqîbun ‘atîd.”
“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf [50]: 18)
Dengan demikian, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, tidak ada alasan bagi manusia untuk merasa bahwa perbuatannya dapat lolos dari pertanggungjawaban.
Beliau juga menekankan bahwa dalam persoalan agama seseorang tidak semestinya dikuasai rasa malu ketika harus melawan kebiasaan masyarakat yang menyimpang. Ada prinsip yang menyatakan, “Lâ hayâ’a fid-dîn”, bahwa tidak ada rasa malu dalam persoalan agama. Karena itu, seseorang tidak boleh merasa malu untuk meninggalkan kebiasaan yang salah hanya karena kebiasaan tersebut telah diterima oleh lingkungan sekitarnya.
Adapun terhadap alasan bahwa seseorang sudah terlalu tua atau terlalu terbiasa untuk berubah, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa manusia tidak boleh berputus asa dari perubahan.
Beliau mengutip firman Allah swt:
“Innahû lâ yai’asu min rauhillâhi illal-qaum ul-kâfirûn.”
“Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf [12]: 87)
Menurut beliau, manusia selalu memiliki kesempatan untuk berubah selama masih hidup. Bahkan perubahan yang dilakukan seseorang sebelum datangnya kematian masih memiliki kesempatan untuk diterima oleh Allah swt. Karena itu, tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengatakan bahwa dirinya sudah tidak mungkin berubah.
Menjelang akhir pembahasan, Syaikh Mohammad Sharifani kembali mengingatkan bahwa manusia juga tidak boleh menjadikan kecintaan kepada keluarga, harta, perdagangan, dan tempat tinggal sebagai alasan untuk mengabaikan Allah swt dan Rasul-Nya.
Allah swt berfirman:
“Qul in kâna âbâ’ukum wa abnâ’ukum wa ikhânukum wa azwâjukum wa ‘asyîratukum wa amwâlun iqtaraftumûhâ wa tijâratun takhsyawna kasâdahâ wa masâkinu tardhaunahâ aḥabba ilaikum minallâhi wa rasûlihî wa jihâdin fî sabîlihî fa tarabbaṣû ḥattâ ya’tiyallâhu bi amrih.”
“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.’” (QS. At-Taubah [9]: 24)
Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa pada akhirnya tidak ada pembenaran yang dapat digunakan untuk membenarkan dosa. Ketika manusia melakukan kesalahan, ia harus menilai dirinya sendiri, menyadari dan mengakui bahwa dirinya telah melakukan dosa, kemudian memperbaiki perilakunya agar tidak kembali terjebak dalam dosa yang sama.
Pada khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani terlebih dahulu menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada seluruh jamaah yang menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad saw yang diselenggarakan di ICC pada pekan sebelumnya. Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada para kolega dan seluruh pihak di ICC yang telah berkontribusi sehingga kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik.
Selanjutnya, beliau menyampaikan duka atas wafatnya seorang ulama besar dan saleh, Ayatullah Uzma Sayid Subairi Zanjani. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, terdapat dua hal penting yang dapat dibicarakan berkaitan dengan wafatnya seorang ulama.
Pertama adalah kedudukan ilmu dalam ajaran Islam. Beliau menjelaskan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam agama. Allah swt memberikan keutamaan khusus kepada orang-orang berilmu dan meninggikan derajat mereka.
Allah swt berfirman:
“Yarfa‘illâhul-ladzîna âmanû minkum walladzîna ûtul-‘ilma darajât.”
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ayat tersebut menunjukkan betapa tinggi kedudukan ilmu dalam ajaran Islam. Allah swt tidak hanya menyebut satu derajat, melainkan meninggikan orang-orang berilmu dengan beberapa derajat. Selain itu, terdapat banyak hadis yang menjelaskan kedudukan ilmu.
Persoalan kedua adalah mengenai ulama. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ada orang-orang yang mengaku sebagai ulama, tetapi pada kenyataannya tidak memiliki kedalaman ilmu dan tidak mencerminkan ajaran agama dalam kehidupan mereka.
Di sisi lain, ada ulama yang benar-benar memiliki ilmu yang luas. Namun, bahkan di antara ulama yang memiliki ilmu terdapat perbedaan. Ada orang yang memiliki pengetahuan agama, tetapi ilmu tersebut tidak mampu mengubah dirinya menjadi manusia yang baik. Ia tidak mampu mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupannya dan karena itu juga tidak mampu memberikan manfaat kepada orang lain.
Syaikh Mohammad Sharifani memberikan contoh orang-orang yang telah mempelajari Al-Qur’an, belajar di berbagai lembaga pendidikan agama, dan memahami bahwa kebohongan, tuduhan, fitnah, serta berbagai dosa merupakan sesuatu yang dilarang dalam agama, tetapi mereka tetap tidak mampu meninggalkan kebiasaan buruk tersebut.
Menurut beliau, keadaan itu menunjukkan bahwa ilmu dan ajaran Al-Qur’an belum benar-benar terwujud dalam diri mereka.
Sementara itu, terdapat kelompok ulama lainnya yang ajaran Islam, Al-Qur’an, Rasulullah saw, dan ahlul bait as benar-benar tercermin dalam perilaku mereka. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ulama seperti inilah yang jumlahnya tidak banyak dan memiliki kedudukan istimewa.
Beliau kemudian menyebut Ayatullah Uzma Sayyid Shubairi Zanjani sebagai salah satu contoh ulama yang ilmu dan ajaran agama tercermin dalam kehidupannya. Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, beliau dikenal sebagai sosok yang zuhud dan menjalani kehidupan dengan sederhana meskipun memiliki kedudukan sebagai marja taklid.
Penampilannya pun sederhana dan tidak menunjukkan kemewahan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau juga dikenal memiliki perhatian terhadap ibadah malam. Kebiasaan bangun sebelum waktu Subuh untuk melaksanakan tahajud menunjukkan kedalaman ibadahnya.
Syaikh Mohammad Sharifani juga menyampaikan bahwa Sayyid Shubairi Zanjani tidak banyak berbicara. Dalam hal ini, beliau mengingatkan sebuah perkataan Imam Ali as bahwa orang-orang yang bertakwa lebih banyak diam daripada berbicara. Ketika mereka berbicara, perkataan mereka berisi sesuatu yang benar.
Karena itu, menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ketika seseorang ingin menemukan sosok yang benar-benar mewujudkan ajaran Al-Qur’an dan hadis dalam kehidupan, Ayatullah Uzma Sayyid Shubairi Zanjani merupakan salah satu ulama yang dapat dijadikan contoh.
Beliau kemudian mengajak jamaah memanfaatkan media sosial dan media digital yang ada di tangan mereka untuk mengenal lebih jauh sosok-sosok ulama seperti beliau. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui kehidupan mereka, menghormati dan mencintai mereka, serta mengirimkan Al-Fatihah dan berbagai kebaikan untuk mereka.



