Oleh: Syekh Ja’far Hadi
Berikut ini kami paparkan beberapa informasi ringkas mengenai Nabi Muhammad Rasulullah saw.
Nama dan Nasabnya
Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhir bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.
Diriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda, “Apabila kalian menyebut nasabku sampai Adnan, maka berhentilah (jangan dilanjutkan lagi).” (Bihar al-Anwar (Ensiklopedia Mutiara Riwayat Para Imam Suci as), juz 15, hal.105, karya Allamah Syekh Muḥammad Baqir Majlisi (lahir di Isfahan tahun 1037 H–wafat di sana tahun 1110 H). Cetakan: Muassasah al-Wafa’, Beirut, Lebanon, tahun 1414 H.)
Julukan Terkenalnya
Ahmad, al-Amin (yang dapat dipercaya), al-Muṣṭhafa (yang terpilih), al-Siraj al-Munir (pelita yang menerangi), al-Basyir al-Nadzir (pemberi kabar gembira dan peringatan).
Kunyah (Panggilan Kehormatan)
Abul Qasim.
Ayahnya
Abdullah, beliau wafat saat Nabi saw masih dalam kandungan ibunya. Dikatakan juga bahwa beliau wafat ketika Nabi saw berusia 24 bulan.
Ibunya
Aminah binti Wahb bin Abdu Manaf. Ia wafat ketika Nabi saw berusia 8 tahun.
Kelahirannya
Hari Jumat, tanggal 17 Rabiul Awal, pada Tahun Gajah, 55 hari setelah peristiwa pasukan bergajah (sekitar tahun 570 atau 571 Masehi), pada masa pemerintahan Anusyirwan Raja Persia.
Tempat Lahirnya
Mekkah Mukarramah.
Usianya
62 tahun, 11 bulan, dan 11 hari.
Diangkat sebagai Nabi
Beliau diangkat sebagai nabi pada usia 40 tahun, yaitu pada tanggal 27 bulan Rajab, tahun 610 Masehi.
Lama Kenabiannya
22 tahun, 7 bulan, dan 3 hari. Di antaranya, 13 tahun di Mekkah dan 9 tahun lebih di Madinah Munawwarah.
Hijrahnya
Beliau saw hijrah dari Mekkah ke Madinah pada malam pertama bulan Rabiul Awal dan tiba di Madinah pada tanggal 12 bulan yang sama.
Cap Stempel Cincinnya
“Muhammad Rasulullah.”
Istri-Istrinya
- Khadijah binti Khuwailid
- Saudah binti Zam’ah
- Aisyah binti Abu Bakar
- Hafsah binti Umar
- Zainab binti Khuzaimah
- Ummu Salamah binti Abu Umayah Makhzumi
- Juwairiyah binti Harits
- Ummu Habibah binti Abu Sufyan
- Shafiyah binti Huyay bin Akhṭab
- Maimunah binti Harits
- Zainab binti Jahsy
- Khaulah binti Hakim.
Wafatnya
Hari Senin, 28 bulan Ṣafar, tahun ke-11 Hijriah.
Penyebab Wafat
Karena racun yang diberikan oleh seorang wanita Yahudi. Nabi saw sakit akibat racun tersebut dan wafat karena penyakit itu. (Seperti disebutkan dalam buku-buku sejarah, termasuk al-Sirah al-Ḥalabiyyah)
Gambaran Fisik Nabi Menurut Imam Ali as
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, dia berkata, “Rasulullah saw berkulit putih kemerah-merahan, bulu matanya panjang dan lentik, bola matanya hitam, tidak pendek dan tidak tinggi—namun cenderung tinggi, rambutnya tidak keriting dan tidak lurus, bahunya lebar, ada garis rambut tipis di dadanya, telapak tangan dan kakinya tebal, keringatnya seperti mutiara, saat berjalan beliau condong ke depan seolah berjalan menanjak. Aku tidak pernah melihat seseorang sebelum dan sesudahnya seperti beliau.” Diriwayatkan juga bahwa Ali as berkata, “Nabi saw memiliki kepala besar, mata besar, bulu mata panjang, mata kemerah-merahan, janggut tebal, kulit berseri, telapak tangan dan kaki yang tebal, saat berjalan dia condong ke depan seperti berjalan menanjak, dan bila menoleh, beliau menoleh seluruh tubuhnya.” (Bihar al-Anwar, juz 16, hal.190)
Khotbah Imam Ali as Tentang Nabi
Dalam salah satu khotbahnya, Imam Ali as berkata tentang Rasulullah saw, “Allah mengutusnya dengan cahaya yang bersinar, bukti yang nyata, jalan yang terang, dan kitab yang memberi petunjuk. Keluarganya adalah sebaik-baiknya keluarga, silsilahnya adalah yang paling mulia. Dahan-dahan nasabnya lurus dan buahnya melimpah. Beliau lahir di Mekkah, berhijrah ke Thayyibah (Madinah), dari sanalah namanya menjulang dan suaranya menyebar. Allah mengutusnya dengan hujjah yang mencukupi, nasihat yang menyembuhkan, dan seruan yang menyatukan.
Melalui beliau, syariat yang tidak dikenal menjadi terang, bid’ah-bid’ah yang menyusup dihancurkan, dan hukum-hukum yang rinci dijelaskan. Maka barang siapa mencari selain Islam sebagai agama, akan pasti celaka, akan terputus pegangannya, dan akan besar kehancurannya. Tempat kembalinya adalah kesedihan yang panjang dan azab yang pedih. Aku bertawakal kepada Allah sebagaimana orang yang kembali kepada-Nya, dan aku memohon petunjuk-Nya menuju jalan yang menyampaikan ke surga-Nya, dan mengantarkan ke tempat harapan-Nya.” (Nahjul Balaghah, hal.229, cetakan Ṣhubḥi al-Ṣhaliḥ)
Tempat Makamnya
Di rumahnya sendiri yang kini berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah Munawwarah.
Secercah dari Kisah Hidupnya
Diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, dia berkata, “Seorang Yahudi memiliki sejumlah dinar yang dipinjamkan kepada Rasulullah saw, lalu dia menagihnya. Rasulullah saw berkata, ‘Wahai Yahudi! Aku belum memiliki (uang) untuk membayarnya.’ Yahudi itu berkata, ‘Kalau begitu, aku tidak akan meninggalkanmu, wahai Muhammad, sampai kau membayarkannya!’ Nabi saw berkata, ‘Kalau begitu, aku akan duduk bersamamu.’ Maka Nabi saw pun duduk bersamanya, dan beliau tetap di tempat itu hingga menunaikan salat Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Subuh. Para sahabat Nabi saw merasa marah dan mengancam si Yahudi, namun Rasulullah saw bersabda, ‘Apa yang hendak kalian lakukan padanya?’ Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah! Orang Yahudi ini menahanmu!’ Beliau saw bersabda, ‘Tuhanku tidak mengutusku untuk menzalimi orang yang mengadakan perjanjian (dengan Islam) ataupun lainnya.’ Ketika siang mulai tinggi, si Yahudi berkata, ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Separuh hartaku kuinfakkan di jalan Allah. Demi Allah! Aku melakukan ini hanya untuk mengujimu dan melihat sifat-sifatmu sebagaimana yang tertulis dalam Taurat. Aku telah membaca dalam Taurat bahwa ciri-cirimu: Muhammad bin Abdullah, lahir di Mekkah, berhijrah ke Thaibah (Madinah), tidak kasar, tidak keras, tidak berteriak di pasar, tidak keji, tidak mengucapkan kata-kata kotor. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa engkau adalah Rasulullah. Inilah hartaku, hukumlah sesuai dengan apa yang Allah turunkan.’ (Dan si Yahudi itu memiliki harta yang sangat banyak).’” (Bihar al-Anwar (Ensiklopedia Mutiara Riwayat Para Imam Suci as), juz 16, hal.217, karya Allamah Syekh Muhammad Baqir Majlisi, yang lahir di Isfahan pada tahun 1037 H dan wafat di kota yang sama pada tahun 1110 H. Dicetak oleh Muassasah al-Wafa’, Beirut/Lebanon, pada tahun 1414 H)
Salawat Kepada Nabi Muhammad saw
“Ya Allah! Limpahkanlah salawat kepada Muhammad sebagaimana dia telah membawa wahyu-Mu, dan menyampaikan risalah-risalah-Mu. Limpahkanlah salawat kepada Muhammad sebagaimana dia telah menghalalkan apa yang Engkau halalkan, dan mengharamkan apa yang Engkau haramkan, serta mengajarkan kitab-Mu. Limpahkanlah salawat kepada Muhammad sebagaimana dia telah menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menyeru kepada agama-Mu. Limpahkanlah salawat kepada Muhammad sebagaimana dia membenarkan janji-Mu, dan takut akan ancaman-Mu. Limpahkanlah salawat kepada Muhammad sebagaimana Engkau telah mengampuni dosa-dosa dengan perantaraannya, menutupi aib-aib, dan meringankan berbagai kesusahan. Limpahkanlah salawat kepada Muhammad sebagaimana Engkau telah menghindarkan kesengsaraan dengannya, menghilangkan kesuraman, mengabulkan doa, dan menyelamatkan dari bencana. Limpahkanlah salawat kepada Muhammad sebagaimana Engkau merahmati hamba-hamba melalui dirinya, menghidupkan negeri-negeri dengan perantaranya, menghancurkan para tiran, dan membinasakan para firaun. Llimpahkanlah salawat kepada Muhammad sebagaimana Engkau melipatgandakan harta kekayaan dengan perantaranya, melindungi dari berbagai ketakutan, menghancurkan berhala-berhala, dan merahmati seluruh umat manusia. Limpahkanlah salawat kepada Muhammad sebagaimana Engkau mengutusnya dengan agama yang terbaik, memuliakan keimanan melalui dirinya, menghancurkan berhala-berhala, dan mengagungkan Ka’bah (rumah suci) yang mulia. Dan limpahkanlah salawat kepada Muhammad serta keluarga beliau yang suci dan terpilih, serta berikanlah salam yang sempurna.” (Bihar al-Anwar (Ensiklopedia Mutiara Riwayat Para Imam Suci as), juz 91, hal.73, karya Allamah Syekh Muhammad Baqir Majlisi, yang lahir di Isfahan pada tahun 1037 H dan wafat di kota yang sama pada tahun 1110 H. Dicetak oleh Muassasah al-Wafa’, Beirut/Lebanon, pada tahun 1414 H)
KEAGUNGAN AKHLAK DAN ADAB BELIAU SAW
(1)
Adab Rasulullah saw Terhadap Tuhannya
- Imam Husain bin Ali as, “Rasulullah saw biasa menangis hingga sajadahnya basah karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, padahal beliau tidak memiliki dosa apa pun.” (Al-Ihtijaj oleh Thabarsi)
- “Ketika beliau berdiri untuk salat, wajahnya berubah karena takut kepada Allah. Dari dadanya–atau perutnya–terdengar suara gemuruh seperti suara air mendidih dalam bejana.” (Falah al-Sa’il oleh Sayid Ibnu Thawus)
- Aisyah ra, “Beliau biasa berbincang-bincang dengan kami dan kami berbincang-bincang dengannya. Namun, ketika waktu salat tiba, seakan-akan beliau tidak mengenal kami dan kami pun tidak mengenalnya.” (Uddah al-Da’i oleh Ibnu Fahd Hilli)
- “Beliau tidak duduk dan tidak pula berdiri kecuali dalam keadaan berzikir kepada Allah Azza wa Jalla.” (Al-Manaqib oleh Ibnu Syahr Asyub)
- Abu Umamah, “Jika duduk dalam suatu majelis dan hendak bangkit, beliau memohon ampun kepada Allah antara sepuluh hingga lima belas kali.”
- “Ketika berdiri untuk salat, beliau seperti kain yang tergeletak (karena khusuk dan tunduk).” (Falah al-Sa’il)
- “Beliau menunggu masuknya waktu salat dengan penuh kerinduan, dan ketika waktunya tiba, beliau berkata kepada Bilal, ‘Tenangkanlah hati kami dengan azanmu, wahai Bilal.’” (Asrar al-Shalat oleh Syahid Tsani)
- Hudzaifah, “Jika menghadapi perkara berat, beliau salat.” (Musnad Ahmad)
- Hudzaifah, “Jika melewati ayat takut (al-khauf), beliau berlindung kepada Allah; jika melewati ayat rahmat, beliau memohon kepada Allah; dan jika melewati ayat yang mengagungkan Allah, beliau bertasbih.” (Musnad Ahmad)
- Beliau berkata, “Penyejuk mataku ada dalam salat dan puasa.” (Makarim al-Akhlaq oleh Thabarsi)
- Aisyah, “Jika melaksanakan salat, beliau melaksanakannya dengan penuh ketenangan dan kekhusukan.” (Shahih Muslim dan Majma’ al-Bayan oleh Thabarsi)
- Abu Bakrah, “Jika datang kabar yang membahagiakannya, maka beliau langsung sujud syukur kepada Allah.” (Sunan Abu Dawud)
- Anas, pelayan Nabi saw, “Doa yang paling sering beliau panjatkan adalah,
‘Ya Tuhan kami! Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa neraka.’” (Musnad Ahmad) - Aisyah, “Ketika memasuki bulan Ramadan, wajah beliau berubah, salatnya bertambah banyak, doanya lebih sungguh-sungguh, dan wajahnya menunjukkan rasa takut.” (Sunan Baihaqi)
- Ibnu Abi Rawwad (secara mursal), “Jika menghadiri jenazah, beliau lebih banyak diam dan berbicara dengan dirinya sendiri.” (Thabaqat Ibnu Sa’ad)
- Ibnu Abbas, “Jika beliau menghadiri jenazah, tampak kesedihan pada wajahnya. Beliau sedikit berbicara dan banyak merenung.” (Thabrani dalam al-Kabir)
- Abu Hurairah, “Beliau paling sering berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab, ‘Amal-amal diperlihatkan kepada Allah setiap Senin dan Kamis, dan akan diampuni semua muslim kecuali dua orang yang saling bermusuhan.’ Maka Allah Swt berfirman, ‘Tangguhkan keduanya’.” (Musnad Ahmad)
- Aisyah, “Beliau tidak pernah meninggalkan salat malam. Jika sedang sakit atau merasa lelah, beliau tetap salat malam sambil duduk.” (Sunan Abu Dawud)
- Aisyah, “Beliau tidak membaca Alquran kurang dari tiga hari sekali.” (Thabaqat Ibnu Mas’ud)
- Ibnu Mas’ud, “Jika berada di tengah orang-orang yang salat, beliau adalah yang paling banyak salatnya. Jika berada di tengah orang yang berzikir, beliau adalah yang paling banyak zikirnya.” (Tarikh al-Khathib)
- Anas, “Beliau tidak pernah singgah di suatu tempat tanpa menunaikan dua rakaat salat terlebih dahulu.” (Al-Mustadrak oleh Hakim)
- Amirul Mukminin Ali as, “Beliau tidak pernah mengutamakan makan malam atau hal lain atas salat. Ketika waktu salat tiba, seakan-akan beliau tidak mengenal keluarga maupun sahabatnya.” (Majmu’ah Warram)
- Imam Ja’far Shadiq as, “Beliau salat sunah sebanyak dua kali lipat dari salat wajib, dan puasa sunahnya juga sebanyak dua kali lipat dari puasa wajib.” (Al-Tahdzib oleh Syekh Thusi)
- Imam Ali bin Abi Thalib as, “Jika menguap saat salat, beliau menutup mulutnya dengan tangan kanan.” (Da’aim al-Islam oleh Qadhi Nu’man)
- Barra’ bin Azib, “Beliau tidak pernah melaksanakan salat fardu kecuali beliau melakukan kunut di dalamnya.” (Ghawali al-La’ali oleh Ibnu Abi Jumhur)
- Imam Ja’far Shadiq as, “Beliau tidak pernah mendahulukan apa pun atas salat Magrib. Begitu matahari terbenam, beliau langsung menunaikannya.” (Ilal al-Syara’i oleh Syekh Shaduq)
- Imam Ali bin Abi Thalib as, “Beliau tidak pernah meninggalkan bacaan Alquran kecuali dalam keadaan junub.” (Majalis al-Syaikh)
- Ali bin Abi Thalib as, “Jika melihat sesuatu yang disukainya, beliau berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal saleh menjadi sempurna.’” (Al-Amali oleh Syekh Thusi)
- “Beliau berdoa dengan penuh kerendahan hati hingga hampir saja selendangnya jatuh dari pundaknya.” (Al-Da’awat oleh Rawandi)
- Aisyah, “Beliau senantiasa berzikir kepada Allah dalam segala keadaan.” (Musnad Ahmad)
(2)
Adab Beliau Terhadap Dirinya Sendiri
- Aisyah, “Akhlak beliau adalah Alquran.” (Musnad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Shahih Muslim)
- Abu Sa’id, “Beliau lebih pemalu dari gadis perawan di balik tabirnya.” (Musnad Ahmad)
- Aisyah, “Perangai yang paling beliau benci adalah berdusta.” (Sunan Baihaqi)
- Aisyah, “Bila melakukan suatu pekerjaan, beliau melakukannya dengan sungguh-sungguh.” (Shahih Muslim)
- Ibnu Amr, “Beliau tidak makan sambil bersandar.” (Musnad Ahmad)
- Anas, “Beliau tidak menyimpan sesuatu untuk hari esok.” (Sunan Tirmizi)
- Buraidah, “Beliau tidak mempercayai nasib sial (tidak percaya pada pertanda buruk), tetapi beliau justru berprasangka baik (selalu berharap yang baik).” (Baghawi dalam Mu’jam-nya)
- Aisyah, “Beliau tidak pernah tidur siang atau malam, lalu bangun, kecuali beliau bersiwak terlebih dahulu.” (Sunan Abu Dawud)
- Jabir bin Samurah, “Beliau tidak pernah tertawa kecuali tersenyum.” (Musnad Ahmad)
- Abu Hurairah, “Beliau tidak tidur hingga bersiwak terlebih dahulu.” (Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya)
- Jabir bin Samurah, “Beliau tidak pernah tertawa terbahak-bahak.” (Al-Mustadrak oleh Hakim)
- Ibnu Umar, “Beliau tidak tidur kecuali siwak berada di sisi kepalanya. Ketika bangun, beliau memulainya dengan siwak. “(Musnad Ahmad)
- Ummu Ayyasy, “Beliau mencukur kumisnya.” (Thabrani dalam al-Mu’jam)
- Aisyah, “Beliau menyukai wewangian.” (Sunan Abu Dawud)
- Ibrahim secara mursal, “Beliau dikenal dari bau harumnya ketika datang.” (Al-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa’ad)
- Abu Hurairah, “Beliau memotong kuku dan mencukur kumisnya pada hari Jumat sebelum pergi salat.” (Sunan Baihaqi)
- Abu Sa’id, “Bila sudah makan siang, beliau tidak makan malam. Bila sudah makan malam, beliau tidak makan siang.” (Hilyah al-Awliya)
- Imam Ja’far Shadiq as, “Sesungguhnya Rasulullah saw biasa mengembalikan jarum dan benang (bila meminjamnya).” (Majmu’ah Warram)
- Abu Darda’, “Beliau (Nabi Muhammad saw) apabila menyampaikan suatu pembicaraan, beliau tersenyum ketika menyampaikannya.” (Makarim al-Akhlaq oleh Thabarsi)
- Imam Ja’far Shadiq as, “Beliau mengeluarkan uang untuk wewangian lebih banyak daripada untuk makanan.” (Makarim al-Akhlaq oleh Thabarsi)
- Hafsah, “Kasur beliau adalah kain kasar.” (Sunan Tirmizi)
- Ibnu Abbas, “Humornya sedikit.” (Thabrani dalam al-Mu’jam)
- “Tidak makan bawang putih, bawang merah, dan kucai.” (Makarim al-Akhlaq)
(3)
Akhlak Beliau Terhadap Istri-Istrinya
- Aisyah, “Bila sedang bersama istri-istrinya, beliau adalah orang yang paling lembut dan paling mulia, suka tertawa dan tersenyum.” (Thabaqat oleh Ibnu Sa’ad)
- Imam Ja’far Shadiq as, “Beliau biasa memerah susu kambing dengan tangannya sendiri untuk keluarganya.” (Makarim al-Akhlaq oleh Thabarsi)
- Aisyah, “Bila masuk rumah, beliau memulainya dengan bersiwak.” (Shahih Muslim dan lainnya)
- Abu Tsa’labah, “Bila pulang dari bepergian, beliau masuk ke masjid terlebih dahulu lalu salat dua rakaat, kemudian pergi ke rumah Fathimah, lalu ke rumah istri-istrinya.” (Thabrani dan Hakim dalam al-Mustadrak)
- Anas, “Beliau sangat penyayang terhadap keluarganya.” (Sunan Darimi)
- Habas, “Beliau memerintahkan istri-istrinya, bila mereka hendak tidur, untuk membaca tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 33 kali.” (Sunan Ibnu Mandah)
- Aisyah dan Ummu Salamah, “Beliau menjahit bajunya, memperbaiki sandalnya, dan melakukan pekerjaan sebagaimana laki-laki biasa bekerja di rumahnya.” (Musnad Ahmad)
- Aisyah, “Beliau biasa melakukan pekerjaan rumah, dan paling sering beliau menjahit.” (Al-Thabaqat oleh Ibnu Sa’ad)
- Aisyah, “Beliau membagi waktu secara adil antara istri-istrinya.” (Musnad Ahmad dan Hakim dalam al-Mustadrak)
- “Beliau mengundi istri-istrinya bila hendak bepergian.” (Majmu’ah Warram)
(4)
Akhlak Beliau Terhadap Sahabat-Sahabatnya
- Abu Dzar, “Beliau duduk di tengah-tengah para sahabatnya, sehingga orang asing tidak tahu mana beliau sampai dia bertanya. Maka kami meminta agar beliau duduk di tempat khusus yang mudah dikenali. Kami bangunkan tempat dari tanah liat, dan beliau duduk di situ, kami duduk di sekelilingnya.” (Makarim al-Akhlaq oleh Thabarsi)
- Qurrah bin Iyas, “Bila duduk, para sahabatnya duduk mengelilingi beliau dalam bentuk lingkaran-lingkaran.” (Musnad Bazzar)
- Anas, “Bila kehilangan seorang sahabatnya selama tiga hari, beliau akan menanyakan kabarnya. Jika dia bepergian, beliau mendoakannya. Jika dia ada di tempat, beliau mengunjunginya. Jika sakit, beliau menjenguknya.” (Makarim al-Akhlaq dan Musnad Abu Ya’la)
- “Beliau berhias untuk sahabat-sahabatnya, lebih dari berhias untuk keluarganya.” (Makarim al-Akhlaq oleh Thabarsi)
- Jundub, “Bila bertemu sahabat-sahabatnya, beliau tidak menjabat tangan mereka sebelum mengucapkan salam.” (Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir)
- Aisyah, “Bila mendengar sesuatu tentang seseorang, beliau tidak mengatakan, ‘Kenapa si fulan berkata begitu?’ Tetapi berkata, ‘Kenapa ada orang berkata begini dan begitu?’” (Sunan Abu Dawud)
- Anas, “Beliau tidak langsung menuduh atau menerima kabar dari seseorang tentang orang lain.” (Hilyah al-Awliya oleh Abu Nu’aim)
- Anas, “Apabila salah satu dari sahabatnya menemuinya lalu berdiri bersamanya, maka beliau pun berdiri bersamanya, dan beliau tidaklah pergi hingga orang itu yang pergi meninggalkannya. Dan apabila salah satu dari sahabatnya menemuinya lalu mengulurkan tangannya (untuk berjabat tangan), maka beliau pun memberikan tangannya kepadanya, dan beliau tidak menarik tangannya hingga orang itu yang menarik tangannya lebih dahulu.” (Al-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu Sa’ad)
- Ḥudzaifah, “Bila seorang sahabat bertemu dengannya, beliau menyapanya dan mendoakannya.” (Sunan Nasa’i)
- Jariyah Anṣhariyah, “Jika lupa nama seorang (lelaki), beliau berkata, ‘Wahai anak dari hamba Allah.’” (Ṭhabrani dalam al‑Mu’jam).
- Imam Ja’far Ṣhadiq as, “Beliau membagi perhatiannya terhadap para sahabatnya, memandang ke kanan dan ke kiri secara seimbang. Beliau tidak pernah membuka kedua kakinya di antara para sahabat. Jika seorang hendak berjabat tangan dengannya, Rasulullah saw tidak melepaskan tangannya terlebih dahulu; tetapi ketika mereka menyadari hal itu, jika seseorang hendak berjabat tangan, dia menjauhkan tangannya sehingga orang itu yang melepaskan terlebih dahulu.” (Al‑Kafi oleh Syekh Kulaini)
- Imam Ja’far Ṣhadiq as, “Beliau sering bermain-main (dengan humor), tetapi hanya mengatakan hal yang benar.” (Muṣṭadrak al‑Wasail)
- Imam Ja’far Ṣhadiq as, “Beliau bermain-main dengan seseorang dengan tujuan menggembirakannya.”
- Anas, “Rasul saw memanggil para sahabatnya dengan kunyah mereka sebagai bentuk kehormatan dan untuk mendekatkan hati mereka; jika seseorang tidak memiliki kunyah, beliau tetap memanggilnya dengan yang biasa digunakan untuknya.” (Iḥya’ Ulum al‑Din oleh Ghazali)
- “Jika seseorang memanggilnya—baik dari para sahabat maupun orang lain—beliau menjawab, ‘Labbyk (Aku datang).’” (Iḥya’ Ulum al‑Din)
- Ali bin Abi Ṭhalib as, “Beliau meringankan hati seorang sahabat yang tampak murung dengan bermain-main; Rasul saw berkata bahwa, ‘Allah membenci orang yang mencibir di wajah saudaranya.’” (Kasyf al‑Raybah).
- Zaid bin Tsabit, “Jika kami duduk bersamanya, apakah berbicara tentang akhirat, dunia, maupun makanan dan minuman, beliau turut serta dalam pembicaraan itu.” (Makarim al‑Akhlaq oleh Ṭhabarsi)
- Imam Ali Riḍha bin Musa as, “Beliau bermusyawarah dengan para sahabat sebelum memutuskan apa yang akan dilakukan.” (Al‑Maḥasin oleh Barqi)
- “Bila beliau berpamitan dengan kaum mukmin, beliau mengucapkan,
‘Semoga Allah menambahkan ketakwaan kalian, mengarahkan kalian kepada segala kebaikan, mengabulkan kebutuhan kalian, menyelamatkan urusan dunia dan akhirat kalian, dan mengembalikan kalian kepadaku dengan selamat.’” (Man La Yaḥḍhuruhu al‑Faqih oleh Syekh Ṣhaduq).
(5)
Adab Beliau Terhadap Masyarakat Umum
- Abu Waqid, “Beliau adalah orang yang ringan dalam urusan kepada orang lain, dan paling lama melakukannya untuk dirinya sendiri.” (Musnad Aḥmad)
- Abd Allah bin Buṣr, “Ketika mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak langsung menghadap pintunya, tetapi beliau berdiri dari sisi kanan atau kiri pintu, lalu berkata, ‘Assalamu ‘alaykum, assalamu ‘alaykum.’” (Musnad Aḥmad)
- Ikrimah secara mursal, “Jika seseorang datang kepadanya dan melihat kebahagiaan di wajahnya, ia menggenggam tangannya” (Thabaqat Ibnu Sa’ad)
- Uqbah bin Abd, “Jika seseorang datang padanya, tetapi tidak suka dengan namanya, beliau akan menganti nama orang itu.” (Ibnu Mundzir)
- Auf bin Malik, “Apabila datang harta rampasan perang tanpa perang (al-fay’), maka beliau (Nabi Muhammad saw) membaginya pada hari itu juga; beliau memberikan kepada orang yang sudah berkeluarga dua bagian, dan memberikan kepada yang lajang satu bagian.” (Sunan Abu Dawud)
- Abu Musa, “Apabila beliau (Nabi Muhammad saw) mengutus seseorang dari para sahabatnya untuk suatu urusan, beliau bersabda, ‘Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari (menjauh), mudahkanlah dan jangan mempersulit.’” (Sunan Abu Dawud)
- Aisyah, “Jika seorang memiliki nama yang jelek, beliau menggantinya dengan nama yang lebih baik.” (Sunan Tirmizi)
- Imam Ja’far Ṣhadiq as, “Setiap malam Kamis, beliau keluar bersama beberapa sahabat di hadapan kaum, menuju Baqi’ al‑Madaniyin, lalu mengucapkan tiga kali salam: ‘Assalamu ‘alaykum ya ahl al‑dhiyar”, dan tiga kali: ‘Raḥimąkumullah’.” (Al‑Kamil oleh Ibnu Qulawaih)
- Anas, “Beliau penyayang; bila ada yang datang meminta sesuatu padanya, beliau menjanjikan sesuatu itu padanya dan menepatinya jika mampu.” (Bukhari dalam al-Akhlaq).
- Ibnu Abbas, “Tidak ada seorang pun yang mampu menghalau orang-orang darinya, dan tidak ada yang bisa menolak dampak buruk dari akibatnya.” (Thabaqat Ibnu Sa’ad)
- Jabir, “Bila tertinggal dalam perjalanan, beliau menunggu yang lemah dan mengajak mereka naik, serta mendoakan mereka.” (Sunan Abu Dawud dan al‑Mustadrak al‑Ḥakim)
- Ibnu Abbas, “Ketika menjenguk orang sakit, beliau berkata, ‘Semoga tidak apa‑apa; ini adalah penyucian (dari dosa dan kesalahan), insya Allah.’” (Ṣhaḥiḥ Bukhari)
- Abu Hurairah, “Ketika bersin, beliau meletakkan tangan atau pakaiannya di wajahnya dan melembutkan suaranya.” (Sunan Abu Dawud)
- “Dia adalah orang yang paling sabar terhadap kekotoran (kesalahan atau keburukan) orang lain padanya.” (Thabaqat Ibnu Sa’ad)
- Ibnu Umar, “Setelah salat Subuh berjamaah, beliau menghadapkan wajah kepada orang dan berkata, ‘Apakah ada yang sakit agar saya menjenguknya?’ Jika tidak, beliau bertanya, ‘Apakah ada jenazah agar saya mengantarnya?’” (Tarikh Ibnu Asakir)
- Ḥanẓhalah bin Ḥuḏzaim, “Beliau (Nabi Muhammad saw) menyukai jika seseorang dipanggil dengan nama yang paling dia sukai dan dengan kunyah (julukan kehormatan) yang paling dia sukai.” (Musnad Abi Ya’la dan al‑Mu’jam al‑Kabir)
- Ibnu Amr, “Beliau tidak suka membenci jika ada seseorang yang menginjak jejak langkahnya, baik dari kanan maupun dari kiri.” (Al‑Mustadrak al‑Ḥakim)
- Anas, “Jika selesai berkhotbah Jumat, beliau turun dari mimbar. Bila seseorang berbicara padanya mengenai kebutuhan, beliau menyapanya lalu maju ke area salat dan melanjutkan salat.” (Musnad Aḥmad)
- Anas, “Beliau tidak pernah menghadapkan seseorang dengan sesuatu yang dibencinya.” (Musnad Aḥmad, Ṣhaḥiḥ Bukhari dan Muslim, Sunan Nasa’i)
- Imam Ali bin Ḥusain as, “Beliau tidak membebani orang—yang berjalan bersamanya—kecuali hanya sesuai dengan kemampuan mereka.” (Al‑Kafi oleh Syekh Kulaini)
- “Beliau lebih memprioritaskan orang yang datang menemui beliau dengan memberikan bantal yang beliau duduki; jika orang itu tidak mau menerimanya, beliau memaksa dengan lembut hingga dia menerimanya.” (Iḥya’ Ulum al‑Din)
- “Beliau tidak membiarkan siapa pun berjalan bersamanya saat beliau berkendara; jika menolak, beliau berkata kepadanya, ‘Berjalanlah di hadapanku dan temuilah aku di tempat yang Anda inginkan.’” (Makarim al‑Akhlaq oleh Ṭhabarsi)
- Imam Ja’far Ṣhadiq as, “Beliau dikenal karena kelembutannya kepada umatnya; beliau bermain dengan mereka agar mereka tidak melihatnya terlalu agung.” (Kasyf al‑Raybah
- “Beliau berkata, ‘Janganlah salah seorang di antara kalian memberitahuku sesuatu tentang (keburukan) salah satu sahabatku, karena sesungguhnya aku ingin keluar menemui kalian dalam keadaan hatiku bersih (suci) terhadap kalian semua.’” (Iḥya’ Ulum al‑Din)
- Anas, “Dahulu, apabila orang-orang membaiatnya, beliau mengajarkan kepada mereka (untuk mengucapkan), ‘Semampuku’ (fima istaṭha’tu).” (Musnad Aḥmad)
(6)
Adab Beliau Terhadap Anak-Anak
- Imam Muḥammad Baqir as, “Beliau mendengar suara tangisan seorang anak laki-laki saat sedang salat, maka beliau pun mempercepat salatnya agar sang ibu bisa segera datang kepada anaknya.” (Ilal al‑Syara’i)
- Anas, “Apabila dibawakan kepadanya buah yang pertama kali (panen perdana), maka beliau meletakkannya pada kedua matanya, kemudian pada kedua bibirnya, lalu berdoa, ‘Ya Allah! Sebagaimana Engkau telah memperlihatkan kepada kami yang pertama darinya, maka perlihatkan pula kepada kami yang terakhir darinya.’ Setelah itu, beliau memberikannya kepada anak-anak yang ada di sekitarnya.” (Ṭhabrani, al‑Kabir)
- “Dahulu, apabila Nabi didatangkan seorang anak kecil agar beliau mendoakannya dengan keberkahan atau memberinya nama, beliau mengambil anak itu dan meletakkannya di pangkuannya sebagai bentuk penghormatan kepada keluarganya. Terkadang anak itu buang air kecil di atas beliau, maka sebagian orang yang melihatnya berteriak ketika si anak buang air kecil. Maka Nabi saw bersabda, ‘Jangan hentikan (air kencing) si anak.’ Lalu beliau membiarkannya sampai selesai buang air kecil, kemudian barulah beliau mendoakannya atau memberinya nama hingga keluarganya merasa sangat bahagia karenanya dan tidak merasa bahwa Nabi terganggu oleh air kencing anak mereka. Setelah mereka pergi, beliau mencuci pakaiannya.” (Makarim al‑Akhlaq oleh Ṭhabarsi)
- Anas, “Beliau sangat penyayang terhadap anak-anak.” (Tarikh Ibnu Asakir)
- Abdullah bin Ja’far, “Jika pulang dari perjalanan, beliau disambut oleh anak-anak dari kalangan Ahlubaitnya.” (Musnad Aḥmad dan Muslim)
- Anas, “Beliau mengunjungi kaum Anṣar dan memberi salam kepada anak-anak mereka, serta mengusap kepala mereka.” (Sunan Nasa’i)
- Anas, “Ketika melewati anak-anak, beliau menyapa mereka.” (Ṣhaḥiḥ Bukhari)
- Aisyah, “Bila anak-anak datang, beliau mendoakan dan mencium mereka.” (Sunan Abu Dawud)
- Anas, “Beliau memberikan kunyah kepada anak-anak, yang membuat hati mereka dekat kepadanya.” (Iḥya’ Ulum al‑Din)
- Imam Ali Riḍha bin Musa as, “Bila pagi tiba, beliau menyapukan tangan ke atas kepala cucunya dan cicitnya.” (Uddah al‑Da’i)
(7)
Adab Beliau Terhadap Kaum Perempuan
- Jarir, “Beliau (Nabi Muhammad saw) melewati para wanita dan memberi salam kepada mereka.” (Musnad Ahmad)
- Imam Ja’far Shadiq as, “Beliau biasa memberi salam kepada para wanita, dan mereka membalas salamnya.” (Man La Yahdhuruhu al-Faqih)
- Anas, “Nabi biasa memanggil wanita yang memiliki anak dengan kunyah (julukan seperti “Umm Fulan”), bahkan wanita yang belum melahirkan pun tetap diberi kunyah.” (Ihya’ Ulum al-Din oleh Ghazali)
(8)
Adab Beliau Terhadap Orang-Orang Lemah
- Umayah bin Abdullah, “Beliau meminta pertolongan dan dukungan dari kaum muslimin yang miskin.” (Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir)
- Abu Sa’id dan Ibnu Abi Aufa, “Nabi tidak pernah merasa rendah atau enggan untuk berjalan bersama janda, orang miskin, atau budak sampai kebutuhan mereka terpenuhi.” (Sunan Nasa’i dan al-Mustadrak oleh Hakim)
- Ali bin Abi Thalib as, “Kata-kata terakhir beliau adalah, ‘Salat! Salat! Bertakwalah kepada Allah dalam hal budak-budak kalian.’” (Sunan Abu Dawud dan Ibnu Majah)
- Sahl bin Hunaif, “Beliau biasa mendatangi orang-orang lemah di kalangan kaum muslimin, menjenguk orang sakit di antara mereka, dan menghadiri jenazah mereka.” (Musnad Abi Ya’la, al-Mu’jam al-Kabir oleh Thabarani, dan al-Mustadrak oleh Hakim)
- Ibnu Abbas, “Beliau duduk di tanah, mengikat kambing, dan menerima undangan makan dari seorang budak meskipun hanya roti jelai.” (Makarim al-Akhlaq)
- Imam Ja’far Shadiq as, “Jika makan bersama orang lain, beliau adalah orang pertama yang memulai makan dan terakhir yang berhenti, agar orang lain merasa bebas makan.” (Al-Kafi oleh Syekh Kulaini)
- Abdullah bin Sinan dari Ahlulbait as, “Nabi biasa menyembelih dua kambing pada hari Idul Adha; satu untuk dirinya dan satu untuk umatnya yang tidak mampu berkurban.” (Al-Kafi oleh Syekh Kulaini)
(9)
Adab Beliau Terhadap Pelayan (Pembantu)
- Seorang laki-laki, “Nabi biasa bertanya kepada pelayannya, ‘Apakah engkau memiliki kebutuhan?’” (Musnad Ahmad)
- Anas, “Demi Zat yang mengutusnya dengan kebenaran! Nabi tidak pernah berkata kepadaku atas sesuatu yang beliau tidak suka, ‘Mengapa kamu melakukannya?’ Dan ketika istri-istrinya menegurku, beliau berkata, ‘Biarkan dia.’” (Ihya’ Ulum al-Din oleh Ghazali)
(10)
Adab Beliau Terhadap Musuhnya
- Amr bin Ash, “Nabi menghadapkan wajah dan pembicaraannya kepada orang yang paling buruk dari suatu kaum untuk menarik hatinya.” (Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir)
(11)
Adab Beliau Terhadap Hewan dan Binatang
- Aisyah, “Nabi pernah mencondongkan bejana (tempat minum) untuk kucing agar bisa minum darinya.” (Musnad Thayalisi, al-Hilyah oleh Abu Nu’aim, dan Nawadir al-Rawandi)
(12)
Imam Ali bin Abi Thalib as Berbicara Tentang Adab Rasulullah ṣaw
Imam Husain bin Ali as berkata, “Aku bertanya kepada ayahku tentang akhlak Rasulullah ṣaw,
- “Ketika beliau berada di rumah, tidak seorang pun boleh masuk tanpa izin.”
- “Jika berada di rumah, waktu beliau dibagi tiga, ‘Satu bagian untuk Allah, satu bagian untuk keluarganya, dan satu bagian untuk dirinya sendiri; lalu beliau membagi waktu pribadinya antara dirinya dan masyarakat. Beliau mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, dan tidak menyimpan sesuatu untuk dirinya sendiri.’”
- “Di antara kebiasaan beliau terhadap masyarakat adalah memuliakan orang-orang yang memiliki keutamaan, serta membagi perhatian kepada mereka sesuai dengan derajat mereka dalam agama. Ada yang memiliki satu kebutuhan, ada yang dua, dan ada yang banyak. Beliau sibuk memenuhi kebutuhan mereka, dan memberi mereka arahan demi kemaslahatan mereka dan umat. Beliau berkata, ‘Sampaikanlah oleh yang hadir kepada yang tidak hadir. Sampaikan kepadaku kebutuhan orang-orang yang tidak mampu menyampaikan kebutuhannya. Karena siapa pun yang menyampaikan kepada penguasa kebutuhan orang yang tidak mampu menyampaikannya, Allah akan mengokohkan kakinya di hari kiamat.’”
- “Beliau hanya menyebut hal tersebut, dan tidak menerima dari siapa pun selainnya. Mereka datang sebagai tamu dan tidak pulang kecuali setelah mencicipi sesuatu, lalu mereka keluar menjadi pembawa petunjuk.”
- “Beliau tidak berkata kecuali apa yang penting.”
- “Beliau menyatukan hati manusia dan tidak membuat mereka lari.”
- “Beliau memuliakan orang mulia dari setiap kaum dan memberinya tanggung jawab.”
- “Beliau berhati-hati terhadap manusia, tetapi tetap bersikap ramah kepada semua orang.”
- “Beliau memeriksa keadaan para sahabatnya.”
- “Beliau bertanya kepada orang-orang tentang keadaan masyarakat.”
- “Beliau memperkuat dan mendukung perbuatan baik.”
- “Beliau mencela keburukan dan memperlemahnya.”
- “Beliau bersikap adil dalam segala hal.”
- “Beliau tidak lalai agar umatnya tidak lalai dan menyimpang.”
- “Beliau tidak mengurangi dari kebenaran dan tidak melampauinya.”
- “Orang-orang terdekatnya adalah yang terbaik di antara mereka.”
- “Yang paling utama menurut beliau adalah yang paling banyak memberi nasihat kepada kaum muslim.”
- “Yang paling tinggi kedudukannya di sisinya adalah yang paling besar dalam memberikan bantuan dan pertolongan.”
- “Beliau tidak duduk dan tidak bangun kecuali dalam keadaan berzikir.”
- “Beliau tidak menetapkan tempat duduk tertentu, dan melarang orang lain untuk menetapkannya.”
- “Jika sampai di suatu kaum, beliau duduk di tempat yang kosong dan memerintahkan yang lain untuk melakukan hal yang sama.”
- “Beliau memberi hak kepada setiap orang yang duduk bersamanya, dan tidak ada yang merasa bahwa orang lain lebih mulia di sisinya.”
- “Orang yang duduk bersamanya, beliau temani sampai orang itu yang lebih dulu pergi.”
- “Siapa pun yang meminta sesuatu kepadanya, tidak pernah kembali dengan tangan kosong, atau setidaknya dengan kata-kata yang menyenangkan.”
- “Akhlaknya luas dan menjangkau semua orang, sehingga beliau menjadi seperti ayah bagi mereka, dan mereka semua diperlakukan sama.”
- “Majelisnya adalah majelis penuh kesabaran, rasa malu, kejujuran, dan amanah. Tidak ada suara yang ditinggikan, tidak ada pelanggaran terhadap kehormatan, tidak ada kesalahan yang diulang-ulang. Mereka bersikap adil, saling terhubung dengan takwa, rendah hati, memuliakan yang tua, menyayangi yang muda, mendahulukan orang yang membutuhkan, dan menjaga tamu yang asing.”
- “Beliau selalu tersenyum.”
- “Mudah akhlaknya.”
- “Lunak dan lembut dalam sikapnya.”
- “Beliau bukanlah tipe orang yang kasar atau keras, tidak pula suka tertawa berlebihan, tidak berkata kotor, tidak suka mencela, dan tidak memuji berlebihan.”
- “Beliau berpura-pura tidak tahu terhadap apa yang tidak beliiau sukai, sehingga orang tidak putus asa darinya, dan tidak pula kehilangan harapan terhadapnya.”
- “Beliau telah meninggalkan dari dirinya tiga hal, ‘Berdebat, banyak bicara dan mencampuri apa yang tidak berguna baginya.’”
- “Dan beliau meninggalkan tiga hal terhadap orang lain, ‘Tidak mencela siapa pun, tidak mencaci-maki, dan tidak mencari-cari kesalahan atau aib mereka.’”
- “Beliau tidak berbicara kecuali pada hal yang diharapkan ada pahalanya.”
- “Jika beliiau berbicara, para sahabatnya menundukkan kepala mereka seakan-akan ada burung di atas kepala mereka; dan ketika beliau diam, mereka pun diam.”
- “Mereka tidak saling berselisih di hadapannya dalam berbicara.”
- “Jika ada seseorang yang berbicara, mereka semua mendengarkan sampai dia selesai. Pembicaraan mereka di hadapannya seperti pembicaraan satu orang.”
- “Beliau tertawa terhadap apa yang mereka tertawakan.”
- “Beliau pun merasa takjub terhadap apa yang membuat mereka takjubkan.”
- “Beliau bersabar terhadap orang asing yang kasar dalam bertanya dan berbicara. Bahkan terkadang para sahabatnya ingin mengusir orang itu, namun beliau berkata, ‘Jika kalian melihat orang yang membutuhkan sesuatu dan mencarinya, maka tolonglah dia.’”
- “Beliau tidak menerima pujian kecuali dari orang yang benar-benar tahu dan pantas memuji.”
- “Beliau tidak memotong pembicaraan siapa pun, kecuali jika orang itu melanggar batas, maka beliau akan memotongnya dengan larangan atau dengan berdiri.”
- “Diamnya beliau dilandasi empat hal, ‘Kesabaran, kehati-hatian, pertimbangan, dan pemikiran.’”
- “Adapun pertimbangannya adalah dalam memberikan perhatian yang seimbang dalam memandang dan mendengar kepada semua orang.”
- “Adapun pemikirannya adalah tentang apa yang kekal dan yang akan binasa.”
- “Telah dikumpulkan padanya sifat sabar dan santun, sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat membuatnya marah atau memancing emosinya.”
- “Dan beliau dikaruniai kehati-hatian dalam empat hal, ‘Mengambil yang baik-baik agar dijadikan teladan, meninggalkan yang buruk-buruk agar dihindari, bersungguh-sungguh dalam memperbaiki umatnya, dan teguh dalam hal yang mengandung kebaikan dunia dan akhirat.’” (Sumber: Ma’ani al-Akhbar oleh Syekh Ṣhaduq, Makarim al-Akhlaq oleh Ṭhabarsi, Iḥya’ Ulum al-Din oleh Ghazali, Dalail al-Nubuwwah oleh Abu Nu’aim)
Imam Ali bin Abi Thalib as Juga Berkata tentang Rasulullah saw
- “Rasulullah saw makan di atas lantai (tanpa alas mewah).”
- “Beliau duduk seperti duduknya seorang budak (tawaduk).”
- “Beliau menjahit sendiri sandal miliknya.”
- “Beliau menambal sendiri pakaiannya.”
- “Beliau menunggang keledai tanpa pelana.”
- “Ban beliau memboncengkan seseorang di belakangnya.”
- “Jika ada tirai di pintu rumahnya bergambar (hiasan duniawi), maka beliau berkata kepada salah seorang istrinya, ‘Wahai fulanah! Jauhkan itu dariku, karena jika aku melihatnya, aku teringat akan dunia dan perhiasannya.’”
- “Beliau berpaling dari dunia dengan hatinya, menghapuskan ingatan tentang dunia dari dirinya, dan beliau ingin agar keindahan dunia tidak tampak di matanya, supaya tidak menjadikannya sebagai bekal, tidak menganggapnya tempat menetap, dan tidak berharap hidup di dalamnya. Maka beliau mengeluarkannya dari jiwanya, menjauhkannya dari hatinya, dan mengaburkannya dari pandangannya.”
- “Demikian pula, siapa yang membenci sesuatu, maka beliau tak ingin melihatnya dan tak ingin disebut di hadapannya.” (Sumber, Nahj al-Balaghah)
Selesai.(SM)