Pada hari Jumat, 29 Agustus 2025, Direktur ICC Jakarta, Syaikh Mohammad Sharifani, menyampaikan khutbah Jumat yang diterjemahkan oleh Ustaz Hafidh Alkaf di aula ICC Jakarta. Dalam khutbahnya, beliau melanjutkan rangkaian pembahasan tentang rahasia keberhasilan Rasulullah SAW dalam menjalankan misi dakwahnya.
Khutbah Pertama
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa pada khutbah-khutbah sebelumnya telah diuraikan lima metode yang dijalankan Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah sebagaimana tercantum dalam Surah Ali Imran ayat 159: fa bimâ raḥmatim minallâhi linta lahum, walau kunta faẓẓan ghalîḍhal-qalbi lanfaḍḍû min ḥaulika fa‘fu ‘anhum. Artinya: “Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka.”
Dari ayat ini, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki rahmat dari Allah SWT sebagai porosnya, bersikap lemah lembut, memiliki daya tarik yang kuat, serta dikenal sebagai pribadi pemaaf. Hari ini beliau melanjutkan pada metode yang keenam, yaitu wastaghfir lahum atau memohonkan ampun bagi umat. Rasulullah SAW, sebagaimana sabdanya, adalah utusan Allah yang membawa rahmat sekaligus Rasul taubat, yang membersihkan manusia dari dosa dan keburukan. Dengan bimbingan beliau, lahirlah pribadi-pribadi besar seperti Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Ghifari.
Untuk memperdalam makna sabda “Aku adalah Rasul taubat”, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip riwayat dari Imam Muhammad Al-Baqir as, yang membagi manusia menjadi dua golongan: ada manusia yang seperti hujan yang di mana saja turun membawa kesejukan dan kehidupan, dan ada manusia yang seperti belalang yang ke mana pun hadir hanya membawa kerusakan. Dalam realitas hari ini, masih tampak manusia yang memilih kerusakan, seperti Netanyahu, yang hanya menghadirkan keburukan. Namun di sisi lain, Rasulullah SAW bersama Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as hadir dalam masyarakat jahiliah dan mengubahnya menjadi masyarakat yang baik.
Allah SWT menegaskan fungsi Rasulullah SAW sebagai pembersih umat dalam Surah At-Taubah ayat 103: khudz min amwâlihim shadaqatan tuṭahhiruhum wa tuzakkîhim bihâ wa shalli ‘alaihim, yang berarti: “Ambillah zakat dari harta mereka guna menyucikan dan membersihkan mereka.” Imam Ali as juga menegaskan kedudukan Rasulullah SAW dan istighfar sebagai dua benteng penghalang azab Allah SWT. Selama Rasulullah SAW berada di tengah manusia, azab tidak akan turun, dan selama manusia beristighfar, mereka akan dijauhkan dari azab. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Anfal ayat 33: wa mâ kânallâhu liyu‘adzdzibahum wa anta fîhim, wa mâ kânallâhu mu‘adzdzibahum wa hum yastaghfirûn, artinya: “Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama engkau (Nabi Muhammad) berada di antara mereka, dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama mereka memohon ampunan.”
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menguraikan betapa agungnya kedudukan istighfar dalam Al-Qur’an. Istighfar merupakan dzikir tertinggi karena memiliki waktu-waktu khusus yang sangat dianjurkan. Dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 18 disebutkan: wa bil-as-ḥâri hum yastaghfirûn — “Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan kepada Allah.” Sementara dalam Surah Al-Baqarah ayat 199 Allah berfirman: tsumma afîḍû min ḥaitsu afâḍan-nâsu wastaghfirullâh innallâha ghafûrur-raḥîm — “Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang-orang bertolak (Arafah), dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Syaikh Mohammad Sharifani juga menekankan bahwa bulan Rajab adalah bulan istighfar, dan hari Jumat selepas Ashar merupakan waktu istighfar yang utama. Beliau menyampaikan riwayat dari Luqman Al-Hakim yang menasihati anaknya agar tidak kalah cerdas dari ayam. Ayam bangun sebelum subuh untuk beristighfar, maka jangan sampai manusia lalai dan tertidur pada waktu sahar.
Menurut beliau, istighfar juga menjadi kunci solusi persoalan hidup yang sulit dipecahkan. Kesulitan hidup kadang merupakan akibat dosa-dosa manusia. Karena itu Allah berfirman dalam Surah Hud ayat 90: wastaghfirû rabbakum tsumma tûbû ilaihi — “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya.” Ayat lain menegaskan: wa anistaghfirû rabbakum tsumma tûbû ilaihi yumatti‘kum matâ‘an ḥasanâ (Hud: 3), yang artinya: “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kesenangan yang baik kepadamu.”
Di ayat lain Allah SWT berfirman: yursilis-samâ’a ‘alaikum midrârâ — “(Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.” (Hud: 52). Bahkan, permohonan ampunan tidak hanya menghadirkan ampunan, tetapi juga membawa kekuatan baru, sebagaimana firman Allah dalam Surah Hud ayat 52: yâ qaum istaghfirû rabbakum tsumma tûbû ilaihi yursilis-samâ’a ‘alaikum midrârâ wa yazidkum quwwatan ilâ quwwatikum wa lâ tatawallau mujrimîn — “Wahai kaumku, mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya! Niscaya Dia akan menurunkan hujan deras kepadamu, menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling sebagai orang-orang berdosa.”
Khutbah Kedua
Pada bagian kedua khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani kembali menekankan pentingnya menghadiri salat Jumat karena dampak spiritualnya sangat besar. Beliau mengingatkan bahwa istighfar adalah dzikir tertinggi yang mampu mengurai kebuntuan dan memberikan jalan keluar dari penderitaan kaum Muslimin. Dengan istighfar, umat Islam berharap agar Allah SWT mengakhiri penderitaan yang menimpa kaum Muslimin, khususnya di Gaza, serta menghukum orang-orang yang zalim.
Beliau kemudian mengingatkan bahwa saat ini umat Islam berada di bulan Rabiul Awal dan sebentar lagi akan menyongsong Maulid Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW adalah nikmat terbesar yang Allah SWT berikan kepada umat manusia. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 18: wa in ta‘uddû ni‘matallâhi lâ tuḥṣûhâ — “Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” Namun di antara sekian banyak nikmat, hanya satu nikmat yang Allah SWT sebutkan secara khusus, yakni pengutusan Rasulullah SAW. Sebagaimana dalam Surah Ali Imran ayat 164: laqad mannallâhu ‘alal-mu’minîna idz ba‘atsa fîhim rasûlam min anfusihim yatlû ‘alaihim âyâtihî wa yuzakkîhim wa yu‘allimuhumul-kitâba wal-ḥikmah, wa in kânû min qablu lafî ḍalâlim mubîn — “Sungguh, Allah benar-benar telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika Dia mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
Oleh karena itu, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan kewajiban umat Islam untuk menghormati Rasulullah SAW. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW akan diadakan di ICC Jakarta sebanyak dua hingga tiga kali dalam momen perayaan mendatang. Beliau mengajak seluruh jamaah untuk hadir bersama keluarga, baik di ICC maupun di tempat lain, sebagai bentuk penghormatan atas anugerah terbesar Allah SWT, yakni kelahiran Rasulullah SAW. Menurut beliau, bangsa Indonesia secara khusus memiliki perhatian yang besar terhadap Maulid Nabi, dan momen ini harus dijadikan sarana untuk meneguhkan cinta, penghormatan, dan rasa syukur kepada Allah SWT atas diutusnya Nabi Muhammad SAW.