Khutbah Jumat di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Jumat 8 Agustus 2025 disampaikan oleh Syaikh Mohammad Sharifani dengan penerjemah Ustaz Hafidh Alkaf. Dalam khutbahnya, Syaikh Sharifani mengangkat tema besar tentang kunci kesuksesan Rasulullah saw dan bagaimana relevansinya bagi kehidupan umat Islam masa kini.
Syaikh Sharifani mengawali khutbah dengan mengingatkan kembali pembahasan sebelumnya, bahwa kesuksesan Rasulullah saw terletak pada program yang beliau jalankan. Program tersebut, sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an, mencakup empat aspek: membacakan ayat-ayat Allah (tilawah), mengajarkan kitab, mensucikan jiwa (tazkiyah), dan membimbing dengan hikmah. Menurut beliau, empat hal ini adalah kerangka kerja yang harus dimiliki setiap orang jika ingin mencapai keberhasilan.
Namun, keberadaan program saja tidak menjamin sukses. Syaikh Sharifani menegaskan pentingnya komitmen dalam menjalankannya. Beliau menukil wasiat Imam Ali as yang berpesan agar umat tidak meninggalkan Al-Qur’an, menjaga shalat, memperhatikan anak yatim dan orang miskin, serta menata urusan dengan baik. Menurut beliau, penataan urusan adalah pesan penting yang sering diabaikan, padahal hal itu merupakan fondasi bagi keberhasilan.
“Memiliki program yang tersusun rapi hanyalah separuh perjalanan. Tanpa pelaksanaan yang disiplin, keberhasilan tidak akan terwujud,” ujar Syaikh Sharifani. Beliau mencontohkan Rasulullah saw yang tetap berhasil menjalankan program-programnya meski berada dalam situasi yang sangat sulit, karena memahami cara pelaksanaan yang tepat.
Rahmat dan kasih sayang Nabi Muhammad saw
Metode pelaksanaan program Rasulullah saw, menurut beliau, digambarkan secara indah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 159, yang menyebut kelembutan dan kasih sayang beliau sebagai kunci keberhasilan dakwah. Syaikh Sharifani mengutip hadis Rasulullah saw yang menyatakan bahwa cinta dan kasih sayang adalah landasan dari apa yang beliau jalankan. Dalam hadis lain, Rasulullah saw menyebut dirinya sebagai “hadiah” untuk umat.
Allah menyebutkan dalam Surah An-Nahl ayat 18 bahwa nikmat-Nya tak terhitung jumlahnya, dan di antara nikmat terbesar itu adalah Rasulullah saw sendiri. Dalam Al-Qur’an, banyak nabi dipuji, namun pujian khusus diberikan kepada Rasulullah saw dalam Surah Al-Anbiya ayat 107: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
Rahmat ini, jelas beliau, berlaku di dunia dan akhirat. Pada hari kiamat, semua manusia, termasuk para nabi, akan memikirkan keselamatan diri sendiri. Hanya Rasulullah saw yang akan mencari umatnya seraya berkata, “Umatku… di manakah kalian?” untuk memberi syafaat.
Kepedulian beliau ditegaskan dalam Surah Al-Kahf ayat 6 dan Surah At-Taubah ayat 128. Bahkan musuh pun merasakan kasih sayang beliau. Syaikh Sharifani menuturkan kisah seorang kafir yang menyerang Rasulullah saw dalam peperangan. Saat pedang terhunus di hadapan beliau, Nabi menjawab ancaman itu dengan keyakinan kepada Allah. Akhirnya, musuh tersebut justru selamat karena mengakui kasih sayang Nabi.
Pesan Kebangsaan dan Kepedulian terhadap Palestina
Memasuki khutbah kedua, Syaikh Sharifani menyampaikan ucapan selamat menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus. Beliau mengingatkan bahwa kemerdekaan adalah anugerah yang harus dihormati dan dijaga, sebagaimana teladan Imam Husain as yang memilih mati mulia daripada hidup dalam kehinaan.
Beliau juga memaparkan bahwa ICC Jakarta kini bertekad menjadi markas Qur’ani. Sejumlah program kajian tafsir Al-Qur’an telah berjalan, yakni setiap Rabu untuk akhwat, Kamis malam setelah doa Kumail untuk tafsir tematik, serta Jumat siang pukul 14.00–16.00 untuk tafsir tartibi. Program ini diharapkan meningkatkan pemahaman dan kedekatan umat dengan Al-Qur’an.
Syaikh Sharifani menekankan pentingnya peran forum shalat Jumat sebagai sarana pembelajaran agama dan penguat persatuan umat. Beliau mengajak jamaah untuk hadir dengan aktif agar kekuatan persatuan ini tetap terjaga.
Menutup khutbah, beliau mengingatkan sabda Rasulullah saw: “Siapa saja yang mendengar permintaan tolong dari orang-orang muslim tetapi tidak menjawabnya, maka dia bukan termasuk umatku.” Beliau menggugah hati jamaah untuk peduli terhadap penderitaan rakyat Gaza, khususnya anak-anak yang mengalami kelaparan, kehausan, dan sakit akibat blokade dan agresi.
“Mungkin kita tidak bisa membantu secara langsung selain berdoa, tetapi jangan sampai ketidakmampuan itu membuat kita berdiam diri,” tegas beliau. “Sampaikan kondisi mereka kepada semua orang, dan jangan biarkan arogansi rezim zionis berlangsung tanpa reaksi dari kita. Semangat membela Palestina tidak boleh padam.”