Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Kamis malam, 7 Agustus 2025, secara resmi membuka kelas perdana Tafsir Qur’an yang diselenggarakan usai pembacaan Doa Kumail. Kegiatan ini dipandu langsung oleh Syaikh Mohammad Sharifani, Direktur ICC, dan direncanakan akan menjadi agenda rutin mingguan setiap Kamis malam. Kajian ini menjadi bagian dari ikhtiar ICC dalam memperkuat budaya Qur’ani di tengah masyarakat Indonesia yang dikenal memiliki keakraban tinggi dengan Al-Qur’an.
Dalam pembukaan kelas perdana ini, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa Indonesia memiliki keistimewaan dalam kedekatan masyarakatnya dengan Al-Qur’an. Ia mengungkapkan harapan agar budaya keakraban tersebut terus meluas dan ICC dapat memainkan peran sentral sebagai pusat kegiatan Qur’ani. Dua program kajian Al-Qur’an yang akan dijalankan ICC setiap minggunya terdiri dari kajian malam Jumat yang bersifat tematik dan selesai dalam satu pertemuan, serta kajian Jumat siang yang bersifat berurutan atau tartib, disusun berdasarkan hasil kajian ilmiah yang telah dilakukan selama lebih dari dua dekade.
Tema pertama yang diangkat dalam kelas ini adalah mengenai musuh-musuh manusia sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Dalam pemaparannya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa kehidupan manusia tidak lepas dari berbagai tantangan, termasuk kehadiran musuh dalam berbagai bentuk. Mengacu pada pernyataan Imam Ali a.s., bahwa setiap perkara memiliki masalahnya sendiri, maka mengenali jenis-jenis musuh menjadi penting agar dampak buruknya dapat dihindari.
Musuh pertama yang dijelaskan adalah musuh eksternal, yakni mereka yang secara prinsip telah bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Al-Qur’an menyebutkan bahwa golongan ini terdiri dari orang-orang kafir, munafik, dan zalim. Mereka digambarkan sebagai pihak yang secara jelas melakukan permusuhan terhadap umat Islam, sehingga diperlukan sikap tegas terhadap mereka. Permusuhan ini tidak bersifat personal, tetapi ideologis, dan tidak akan berhenti kecuali jika pihak musuh menerima iman kepada Allah SWT secara penuh.
Namun, Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa tantangan yang lebih signifikan justru datang dari musuh internal, yaitu musuh-musuh yang berada di sekitar bahkan di dalam diri kita sendiri. Al-Qur’an melalui surah Al-Falaq mengungkapkan empat jenis musuh yang tersembunyi di tengah-tengah kehidupan manusia.
Pertama adalah makhluk yang membawa keburukan, yang bahkan bisa berasal dari orang-orang terdekat seperti pasangan atau anak. Al-Qur’an menyebutkan bahwa sebagian dari mereka bisa menjadi musuh jika menyeret seseorang menuju murka Allah. Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan tinggi terhadap siapa pun yang dapat menggiring manusia menjauh dari jalan kebenaran.
Kedua adalah bahaya kegelapan, yang digambarkan dalam ayat sebagai kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Kegelapan di sini dimaknai bukan hanya secara fisik, tetapi juga sebagai simbol kekacauan sosial dan kebingungan antara yang hak dan batil. Dalam sejarah Islam, contoh peristiwa seperti Perang Jamal dan Shiffin menunjukkan bagaimana kegelapan pemikiran dan keraguan dapat menyesatkan masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, Al-Qur’an menjadi satu-satunya pegangan yang mampu menyelamatkan manusia dari fitnah.
Musuh ketiga adalah tiupan setan, yang dalam ayat disebut sebagai naffâtsât fil-‘uqad. Istilah ini mengacu pada para penyebar kebencian dan fitnah yang meniupkan perpecahan di tengah masyarakat. Allah menciptakan manusia dengan kecenderungan untuk saling bersatu, namun setan masuk melalui celah-celah itu dan meniupkan perbedaan hingga memicu konflik.
Keempat adalah sifat iri dan dengki, yang merupakan bagian dari naluri manusia. Bahkan hal-hal kecil sekalipun bisa menimbulkan kedengkian yang berujung pada tindakan merugikan. Maka penting bagi setiap individu untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT agar terhindar dari sifat merusak ini.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, cara untuk menghadapi keempat musuh internal ini adalah dengan berlindung di bawah rububiyah Allah, yaitu mengakui dan tunduk pada kendali serta pendidikan Ilahi yang menyelamatkan manusia dari keburukan. Rububiyah Allah menjadi fondasi spiritual yang kuat untuk mengatasi tekanan musuh-musuh tersebut.
Pembahasan kemudian dilanjutkan pada jenis musuh yang paling berbahaya, yaitu musuh dalam diri sendiri. Surah An-Nas menjadi dasar pemahaman mengenai musuh ini, yaitu sosok waswāsil-khannās – bisikan setan yang tersembunyi dan terus-menerus menggoda manusia dari dalam. Al-Qur’an menggambarkan sifatnya dengan kata-kata yang penuh penekanan. Hal ini menunjukkan bahwa musuh ini sangat aktif, intens, dan sulit terdeteksi, karena beroperasi dalam batin manusia sendiri.
Sebagai ilustrasi, Syaikh Mohammad Sharifani mengutip sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa keimanan telah menyatu dalam daging dan darah Rasulullah saw dan Imam Ali a.s., sementara Muawiyah dikatakan sebagai sosok yang setan berjalan dalam dirinya seperti darah. Ini menunjukkan perbedaan fundamental dalam relasi antara manusia dan musuh dalam dirinya sendiri.
Dijelaskan pula strategi utama waswāsil-khannās dalam menyesatkan manusia, yaitu dengan menunda taubat. Ketika Allah menjanjikan ampunan atas seluruh dosa, Iblis memutar strategi. Karena manusia bisa terlepas dari godaan duniawi dengan bertaubat, maka yang dilakukan adalah membisikkan rasa aman palsu hingga manusia terus menunda taubatnya sampai terlambat dan terjerumus ke dalam siksa.
Menghadapi musuh internal semacam ini, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan pentingnya tiga perlindungan spiritual yang disebutkan dalam Surah An-Nas: Rabbin-nâs, bahwa manusia harus tunduk pada Tuhan sebagai pengendali kehidupannya; Malikin-nâs, bahwa manusia harus hidup di bawah aturan dan kerajaan Allah sebagai pemilik sejati; dan Ilâhin-nâs, bahwa manusia harus menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah agar terbebas dari bisikan setan.
Menutup pertemuan, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak para peserta untuk merenungkan sabda Imam Ali a.s. yang menyatakan bahwa menjadi hamba Allah adalah kebanggaan tertinggi, dan memiliki Allah sebagai Tuhan adalah kemuliaan sejati. Beliau juga menyampaikan bahwa pada pertemuan selanjutnya, kelas tafsir akan membahas setidaknya 20 modus operandi waswāsil-khannās yang disebutkan dalam Al-Qur’an untuk menyesatkan manusia.