Kajian Majelis Taklim Akhwat ICC – Zainab Al-Kubro yang digelar pada Rabu, 6 Agustus 2025 di Aula Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta bersama Syaikh Mohammad Sharifani menghadirkan pembahasan mendalam tentang shirathal mustaqim—jalan lurus yang menjadi dambaan setiap mukmin.
Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan lima poin utama yang menjadi sarana menuju jalan tersebut, di antaranya adalah mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengenal hujjah-Nya, dan mentaati kebenaran. Dalam bagian kedua ini, pembahasan dilanjutkan dengan enam poin penting lainnya yang semakin memperjelas bagaimana seorang hamba dapat tetap istiqamah di atas jalan lurus: dari menjaga agama hingga berserah diri sepenuhnya kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya.
Di antara hal penting yang dijelaskan adalah menjaga agama Allah Swt. Dalam Surah Al-An’am ayat 125–126 disebutkan bagaimana seseorang bisa diberi petunjuk:
“Maka siapa yang Allah kehendaki akan diberi petunjuk, Dia melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam; dan siapa yang Dia kehendaki tersesat, Dia jadikan dadanya sesak lagi sempit seolah-olah dia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. Dan inilah jalan Tuhanmu (yang) lurus. Sungguh, Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.”
(QS. Al-An’am: 125–126)
Kemudian dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman:
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”
(QS. Al-An’am: 153)
Dan ditegaskan pula:
“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya Tuhanku telah membimbingku ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus; dan dia bukanlah termasuk orang-orang musyrik.’”
(QS. Al-An’am: 161)
Setelah menjaga agama, keikhlasan juga menjadi kunci pokok untuk sampai kepada jalan yang lurus. Dalam sebuah riwayat dari Imam Hasan al-Askari as., beliau menyampaikan bahwa seandainya seluruh dunia ini disamakan dengan satu suapan makanan, lalu suapan itu diberikan kepada seseorang yang ikhlas, maka seluruh dunia itu pun tidak bisa menjadi balasan yang layak atas keikhlasan orang tersebut.
Keikhlasan juga menjadi faktor yang membuat manusia tidak dapat ditaklukkan oleh setan. Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Hijr ayat 39–40:
“Ia (Iblis) berkata, ‘Tuhanku, karena Engkau telah menyesatkanku, sungguh aku akan menjadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi dan sungguh aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (karena keikhlasannya) di antara mereka.’”
(QS. Al-Hijr: 39–40)
Dan Allah Swt. pun menegaskan dalam ayat berikutnya:
“Dia (Allah) berfirman, ‘Ini adalah jalan lurus yang Aku jamin (ditunjukkan kepada hamba-hamba-Ku itu).’”
(QS. Al-Hijr: 41)
Dalam pembahasan selanjutnya, Syaikh Sharifani menekankan bahwa mengikuti ilmu ilahi juga merupakan sebab datangnya hidayah. Dalam dialog antara Nabi Ibrahim as. dan pamannya Azar, tercermin pentingnya ilmu sebagai dasar dalam menunjukkan jalan lurus:
“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu yang tidak datang kepadamu. Ikutilah aku, niscaya aku tunjukkan kepadamu jalan yang lurus.”
(QS. Maryam: 43)
Adapun ketaatan kepada Allah Swt. juga menjadi salah satu sebab hidayah. Dalam Surah Az-Zukhruf ayat 61 disebutkan:
“Oleh karena itu, janganlah sekali-kali kamu ragu tentang (kiamat) itu dan ikutilah (petunjuk)-Ku. Ini adalah jalan yang lurus.”
(QS. Az-Zukhruf: 61)
Dalam penjelasannya, Syaikh Sharifani menyoroti kata wattabi‘ûn yang dalam bahasa Arab dapat ditulis dengan huruf ta atau tha. Bila ditulis dengan ta, maka maknanya adalah mengikuti secara lisan atau pengakuan semata. Namun bila dengan tha, maka itu berarti perbuatan nyata sebagai bukti dari pengakuan. Ketaatan yang sejati adalah yang tampak dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam ucapan.
Selanjutnya, mengetahui dan mensyukuri nikmat-nikmat Allah juga merupakan jalan bagi datangnya hidayah. Dalam Surah An-Nahl ayat 120–121 Allah Swt. menyebutkan sosok Nabi Ibrahim as. sebagai teladan dalam bersyukur dan konsisten dalam keimanan:
“Sesungguhnya Ibrahim adalah imam (sosok anutan) yang patuh kepada Allah, hanif (lurus), dan bukan termasuk orang-orang musyrik. (Dia adalah) orang yang bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan memberinya petunjuk ke jalan yang lurus.”
(QS. An-Nahl: 120–121)
Syaikh Sharifani kemudian menjelaskan bahwa sifat-sifat yang disematkan Allah kepada Nabi Ibrahim as. ini menggambarkan jalan menuju kesempurnaan iman. Sebutan ummatan dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa pribadi beliau begitu agung hingga layak disebut sebagai sebuah umat sendiri. Sifat qânitan menunjukkan kepatuhan total tanpa syarat. Hanîf bermakna berada di tengah: tidak berlebihan dan tidak meremehkan, sehingga tindakannya selalu seimbang. Beliau juga tidak pernah terlibat dalam kemusyrikan, selalu bersyukur atas setiap nikmat yang diterima, terpilih oleh Allah sebagai hamba istimewa, dan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus.
Kesungguhan dan tekad yang kuat juga disebut sebagai syarat memperoleh petunjuk. Dalam Surah At-Takwir ayat 27–29, Allah Swt. berfirman:
“(Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus. Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”
(QS. At-Takwir: 27–29)
Ayat ini menegaskan bahwa meskipun Al-Qur’an adalah peringatan untuk seluruh alam, namun hanya mereka yang benar-benar memiliki niat dan tekad untuk menempuh jalan lurus yang akan mendapatkan manfaat darinya.
Akhir dari pembahasan ini menyoroti pentingnya sikap berserah diri kepada kebenaran. Dalam Surah An-Nisa ayat 65, dijelaskan bahwa seseorang belum dianggap beriman hingga ia menjadikan Nabi Muhammad saw. sebagai hakim dalam setiap perkara, menerima keputusannya tanpa rasa berat di hati, dan menyerahkan diri secara total:
“Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Nabi Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian, tidak ada keberatan dalam diri mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerimanya dengan sepenuh hati.”
(QS. An-Nisa: 65)
Inilah makna taslîm atau penyerahan diri secara utuh. Dalam lanjutan ayat, disebutkan bahwa ketaatan kepada Nabi saw. bukan hanya bentuk ketaatan formal, tetapi juga menguatkan keimanan:
“Dan seandainya mereka melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka, sungguh itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).”
(QS. An-Nisa: 66)
Dengan berserah diri kepada Rasulullah saw. dan menerima keputusan beliau tanpa penolakan, seorang mukmin benar-benar akan berjalan di atas shirathal mustaqim. Sebab hanya dengan kesungguhan, ilmu, keikhlasan, dan kepatuhan sepenuh hati, seseorang akan dituntun ke jalan Allah yang lurus dan menyelamatkan.
Kajian ditutup dengan ajakan untuk terus memperkuat keterikatan dengan Al-Qur’an dan ajaran Ahlul Bait. Majelis Taklim Akhwat ICC – Zainab Al-Kubro yang diselenggarakan setiap Rabu pukul 10.00 WIB di Aula ICC Jakarta merupakan agenda rutin yang terus berjalan. Insya Allah, kajian akan kembali diadakan pada Rabu, 13 Agustus 2025, dengan tema yang tetap berfokus pada pendalaman nilai-nilai Islam dari perspektif Ahlul Bait.