Menjelang 13 November, yang diperingati sebagai Hari Mahasiswa dan Hari Nasional Perlawanan terhadap Keangkuhan Global, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei pada pagi hari ini bertemu dengan ribuan mahasiswa serta keluarga para syuhada dari perang yang dipaksakan selama 12 hari. Dalam pertemuan itu, beliau menyebut peringatan penyitaan kedutaan besar Amerika Serikat pada 13 November 1979 — yang kala itu menjadi pusat konspirasi dan perencanaan melawan Revolusi Islam — sebagai hari kehormatan dan kemenangan, sekaligus hari pengungkapan jati diri sejati pemerintah arogan AS.
Beliau menegaskan perlunya mengabadikan hari bersejarah ini dalam ingatan nasional, sambil menjelaskan bahwa permusuhan AS terhadap bangsa Iran telah dimulai sejak kudeta 19 Agustus 1953 dan terus berlanjut hingga kini. Ayatullah Khamenei menekankan, perbedaan antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat bersifat hakiki dan mendasar — bukan sekadar perbedaan kepentingan biasa — dan konflik ini akan terus ada selama AS belum sepenuhnya menghentikan dukungannya terhadap rezim Zionis terkutuk, menarik seluruh pangkalan militernya dari kawasan, serta berhenti ikut campur dalam urusan negara-negara lain. “Baru setelah itu,” ujar beliau, “permintaan Amerika untuk bekerja sama dengan Iran dapat dipertimbangkan — bukan sekarang, bukan dalam waktu dekat, melainkan di masa depan yang jauh.”
Ayatullah Khamenei juga menegaskan bahwa penyembuhan berbagai persoalan bangsa dan perlindungan terhadap negara hanya dapat dicapai melalui penguatan sektor manajerial, ilmiah, militer, dan moral bangsa. “Pemerintah harus melaksanakan tanggung jawabnya dengan penuh ketegasan di setiap bidang,” tegas beliau.
Dalam pertemuan itu, Ayatullah Khamenei menguraikan sejarah panjang permusuhan Amerika terhadap bangsa Iran dan dimensi penting peristiwa penaklukan sarang mata-mata AS pada 3 November 1979, seraya mengatakan bahwa tindakan para mahasiswa dalam menyita kedutaan AS dapat ditinjau dari dua sisi: sejarah dan identitas.
Dari sisi sejarah, beliau menilai bahwa 3 November adalah hari kebanggaan dan kemenangan bangsa Iran, dan menambahkan bahwa sejarah Iran memiliki hari-hari kejayaan sekaligus hari-hari kelemahan dan kemunduran — keduanya harus diingat dalam ingatan nasional.
Ayatullah Khamenei menyinggung kisah pembatalan perjanjian tembakau kolonial oleh Mirza Shirazi, serta pembatalan perjanjian Vosuq-ud-Dawlah dan keberhasilan menggagalkan dominasi Inggris melalui perjuangan almarhum Modarres dan rekan-rekannya sebagai contoh puncak peristiwa manis dalam sejarah kontemporer Iran. Ia menasihati mahasiswa dan kaum cendekiawan untuk mempelajari dan mendiskusikan peristiwa-peristiwa ini.
“Selain mencatat dan mengenang peristiwa-peristiwa manis,” ujarnya, “kita juga harus berhati-hati agar tidak melupakan peristiwa pahit seperti kudeta Inggris pada tahun 1921 yang melahirkan Reza Khan, naik takhta, dan membawa penderitaan, kezaliman, serta tirani tak tertandingi di bawah dominasi asing.”
Beliau menekankan pentingnya mencatat dan melestarikan peristiwa penyitaan Kedutaan AS pada 13 November dalam sejarah nasional, agar masyarakat mengetahui maknanya. Dalam menjelaskan aspek identitas dari peristiwa besar itu, beliau mengatakan:
“Penyitaan kedutaan telah memperjelas jati diri sejati pemerintah Amerika Serikat sekaligus menyingkap hakikat dan esensi sejati Revolusi Islam.”
Menyinggung asal-usul Qurani dari istilah keangkuhan (istikbar), Pemimpin Revolusi menjelaskan bahwa keangkuhan berarti merasa diri lebih unggul. “Kadang seseorang atau pemerintah merasa dirinya lebih tinggi tetapi tidak merampas hak orang lain — dalam hal ini tidak ada permusuhan. Namun, bila seperti Inggris di masa lalu dan Amerika saat ini, mereka merasa berhak menentukan nasib bangsa lain, mendirikan pangkalan militer di negeri yang pemerintahnya lemah, atau menjarah minyak dan sumber daya bangsa lain — maka itulah keangkuhan yang kita lawan dan kita serukan penentangannya.”
Beliau lalu menjabarkan sejarah permusuhan Amerika terhadap bangsa Iran:
“Setelah konstitusi disahkan, selama sekitar 40 tahun Iran hidup dalam kekacauan, intervensi asing, dan kediktatoran keras Reza Khan. Hingga sekitar tahun 1950, dengan karunia Tuhan, pemerintahan nasional Dr. Mohammad Mossadegh berkuasa dan menentang Inggris, berhasil menasionalisasi minyak Iran yang selama ini dieksploitasi hampir gratis oleh mereka.”
Menyoroti konspirasi Inggris dan sekutunya untuk menggulingkan pemerintahan Mossadegh, Ayatullah Khamenei mengingatkan bahwa kesalahan besar Mossadegh adalah mempercayai Amerika untuk menyingkirkan pengaruh Inggris. “Amerika tersenyum di hadapan Mossadegh,” ujar beliau, “namun di belakangnya bersekongkol dengan Inggris melakukan kudeta, menggulingkan pemerintahan nasional, dan mengembalikan Shah yang telah melarikan diri ke Iran.”
Beliau menyebut penggulingan pemerintahan nasional itu sebagai pukulan telak bagi bangsa Iran, dan menambahkan:
“Bangsa kami mengenal Amerika dan sifat arogannya melalui kudeta 19 Agustus 1953. Setelah kudeta itu, kediktatoran kejam Mohammad Reza Shah terus berlanjut selama 25 tahun dengan dukungan penuh Amerika Serikat.”
Ayatullah Khamenei menilai konfrontasi pertama Amerika dengan Revolusi Islam dimulai dari keputusan bermusuhan yang dikeluarkan Senat AS, dan dengan menyinggung kemarahan publik atas pemberian suaka kepada Mohammad Reza Shah di Amerika, beliau mengatakan:
“Bangsa Iran merasa bahwa dengan menampung Mohammad Reza di sana, Amerika berusaha mengulang kudeta tahun 1953 dan mempersiapkan jalan bagi kembalinya Shah ke Iran. Karena itulah rakyat turun ke jalan dengan penuh amarah. Gerakan besar ini, yang juga melibatkan mahasiswa, akhirnya berujung pada penyitaan Kedutaan Besar Amerika Serikat.”
Beliau menjelaskan bahwa niat awal para mahasiswa hanyalah untuk berada di kedutaan selama dua atau tiga hari guna menunjukkan kemarahan bangsa Iran kepada dunia. “Namun,” lanjutnya, “para mahasiswa menemukan dokumen-dokumen di kedutaan yang menunjukkan bahwa persoalannya jauh lebih dalam dari yang dibayangkan — bahwa kedutaan Amerika merupakan pusat konspirasi dan perencanaan untuk menghancurkan Revolusi Islam.”
Menjelaskan fungsi umum kedutaan besar di seluruh dunia — yaitu mengumpulkan informasi dan melaporkannya ke pemerintah masing-masing — Ayatullah Khamenei berkata:
“Masalah dengan kedutaan Amerika bukanlah soal pengumpulan informasi, melainkan pembentukan ruang konspirasi, tempat mereka berupaya mengorganisasi sisa-sisa rezim sebelumnya, sejumlah anggota militer, dan unsur lain untuk bertindak melawan revolusi. Setelah memahami hal ini, para mahasiswa memutuskan untuk mempertahankan kedutaan di bawah kendali mereka.”
Beliau menolak anggapan bahwa penyitaan kedutaan adalah penyebab awal masalah antara Iran dan Amerika, dan menegaskan:
“Permasalahan kita dengan Amerika dimulai sejak 19 Agustus 1953, bukan 3 November 1979. Penyitaan kedutaan justru membuka tabir konspirasi besar terhadap revolusi. Dengan kerja keras dan pengungkapan dokumen-dokumen tersebut, para mahasiswa berhasil memperlihatkan kepada dunia hakikat makar itu.”
Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa sumber utama permusuhan dan konspirasi Amerika terhadap Revolusi Islam adalah karena “umpan manis” telah tercabut dari tenggorokan mereka — yakni hilangnya kendali atas sumber daya Iran.
“Mereka tidak rela melepaskan Iran begitu saja,” ujar beliau. “Sejak awal berdirinya Republik Islam, mereka telah memulai berbagai provokasi, tidak hanya terhadap pemerintahan kita, tetapi juga terhadap seluruh bangsa Iran.”
Beliau menilai permusuhan berkelanjutan Amerika terhadap Iran selama bertahun-tahun sebagai bukti kebenaran perintah Imam Khomeini untuk “senantiasa berseru melawan Amerika,” dan menambahkan:
“Permusuhan mereka bukan sekadar kata-kata. Mereka telah melakukan segalanya — dari sanksi ekonomi, konspirasi politik, dukungan terhadap musuh-musuh bawaan Republik Islam, menghasut Saddam untuk menyerang Iran dan memberinya bantuan penuh, menembak jatuh pesawat sipil Iran dengan 300 penumpang, hingga perang propaganda dan serangan militer langsung. Semua dilakukan demi merugikan bangsa Iran, karena sifat arogan Amerika tidak sejalan dengan semangat kemerdekaan Revolusi Islam. Perbedaan antara Amerika dan Republik Islam bukan perbedaan taktis atau sementara, melainkan perbedaan yang bersifat hakiki.”
Ayatullah Khamenei menilai bahwa pernyataan sebagian pihak yang menganggap slogan “Matilah Amerika (Marg bar Âmrikâ)” sebagai penyebab permusuhan AS terhadap Iran adalah bentuk pembalikan sejarah.
“Bukan slogan itu yang membuat Amerika memusuhi kita,” tegas beliau. “Masalah antara Amerika dan Republik Islam terletak pada ketidakselarasan hakiki dan pertentangan kepentingan yang mendasar.”
Menanggapi pertanyaan sebagian orang yang berkata, “Kita tidak menyerah kepada Amerika, tapi apakah ini berarti kita tidak akan menjalin hubungan selamanya?”, beliau menjawab:
“Pertama, sifat arogan Amerika tidak menerima apa pun selain penyerahan diri. Semua presiden mereka menginginkan hal itu, hanya saja mereka menyembunyikannya. Namun presiden Amerika saat ini mengucapkannya secara terang-terangan, dan dengan demikian membuka kedok hakikat terdalam Amerika.”
Ayatullah Khamenei menyebut tidak masuk akal bila bangsa Iran — dengan tingkat kemampuan, kekayaan, latar intelektual, dan semangat pemuda yang tinggi — harus menyerah.
“Kita tidak dapat menebak masa depan yang jauh,” katanya, “tetapi untuk saat ini, semua orang harus tahu bahwa obat bagi banyak masalah adalah menjadi lebih kuat.”
Beliau menegaskan bahwa negara harus diperkuat di semua bidang:
“Pemerintah harus bekerja dengan sungguh-sungguh di setiap sektor, angkatan bersenjata dalam urusan militer, dan para pemuda dalam bidang pendidikan serta ilmu pengetahuan. Jika bangsa ini kuat, dan musuh merasa bahwa berurusan dengan bangsa kuat ini tidak akan memberi keuntungan, bahkan justru akan merugikan mereka, maka negara akan terlindungi. Karena itu, kekuatan militer, ilmiah, manajerial, serta semangat dan motivasi — terutama kekuatan jiwa kaum muda — sangatlah penting.”
Mengenai pernyataan beberapa pejabat Amerika yang menyatakan keinginan bekerja sama dengan Iran, Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa kerja sama dengan Iran tidak sejalan dengan bantuan Amerika terhadap rezim Zionis terkutuk.
Beliau menambahkan:
“Amerika terus memberikan bantuan dan perlindungan kepada rezim Zionis meskipun rezim itu telah tercela di mata opini publik dunia. Hal itu tidak masuk akal, apalagi jika mereka dalam waktu bersamaan meminta kerja sama dari Iran. Jika Amerika benar-benar menghentikan dukungannya terhadap rezim Zionis, menarik semua pangkalan militernya dari kawasan, dan berhenti mencampuri urusan negara-negara lain, barulah persoalan kerja sama ini dapat dipertimbangkan — meskipun tentu saja bukan sekarang dan bukan dalam waktu dekat.”
Di bagian akhir pidatonya, Ayatullah Khamenei menasihati para pemuda untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan politik tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan bangsa dengan membentuk kelompok belajar serta mengkaji peristiwa-peristiwa manis dan pahit dalam sejarah.
“Ilmu pengetahuan harus terus maju di negara ini,” ujarnya. “Beberapa tahun lalu, gerakan ilmiah kita sangat baik, namun kini lajunya melambat. Para pejabat universitas, peneliti, dan mahasiswa harus memastikan agar laju kemajuan ilmu pengetahuan di negeri ini tidak melambat.”
Beliau juga menegaskan pentingnya peningkatan kekuatan militer Iran:
“Dengan karunia Tuhan, sektor militer bekerja siang dan malam, terus maju, dan akan terus melangkah lebih jauh untuk menunjukkan bahwa bangsa Iran adalah bangsa yang kuat — bangsa yang tidak bisa ditaklukkan oleh kekuatan mana pun.”
Menutup pidatonya, Ayatullah Khamenei berpesan kepada para pemuda agar meneladani keteguhan Sayidah Fatimah Zahra (sa) dan Sayidah Zainab (sa) dalam kehidupan sehari-hari, serta mengajak orang di sekitarnya untuk mencontoh akhlak dan perjuangan mereka.
Beliau menambahkan bahwa doa para hamba saleh, menjaga hijab sebagai nilai religius yang bersifat Zahra dan Zainabiyah, memperdalam hubungan dengan Al-Qur’an melalui tilawah harian, serta menjaga keterhubungan spiritual adalah kunci bagi kekuatan batin para pemuda.
“Di masa penuh gejolak ini,” kata beliau, “pemuda-pemuda kita hanya bisa benar-benar berseru ‘Matilah Amerika’ dan berdiri menentang kezaliman serta kesombongan para Fir’aun zaman, jika mereka memiliki keteguhan spiritual dan keyakinan mendalam pada kekuatan ilahi.”
Pemimpin Revolusi menutup dengan menegaskan bahwa kelanjutan hubungan spiritual para pemuda dengan Tuhan adalah sebab utama kemajuan berkelanjutan Iran dan meningkatnya kemampuan bangsa menghadapi para musuhnya.


