Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menyelenggarakan peringatan hari kelahiran (wiladah) Imam Muhammad al-Jawad as pada Selasa malam, 30 Desember 2025. Acara yang berlangsung khidmat tersebut diawali dengan pembacaan Doa Tawasul dan surah Yasin yang dipimpin oleh Ustaz Zaki Amami. Dalam tausiyahnya pada malam kesepuluh bulan Rajab tersebut, Ustaz Zaki Amami menegaskan bahwa hari kelahiran Imam Jawad as adalah momen agung di mana beliau menerima karunia imamah di usia yang sangat belia setelah wafatnya ayahanda beliau, Imam Ali ar-Ridha as. Beliau menjelaskan bahwa ahlulbait as pada hakikatnya adalah penerus wilayah Allah swt di muka bumi, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

wa qarna fî buyûtikunna wa lâ tabarrajna tabarrujal-jâhiliyyatil-ûlâ wa aqimnash-shalâta wa âtînaz-zakâta wa athi‘nallâha wa rasûlah, innamâ yurîdullâhu liyudz-hiba ‘angkumur-rijsa ahlal-baiti wa yuthahhirakum tath-hîrâ “Tetaplah (tinggal) di rumah-rumahmu dan janganlah berhias (dan bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu. Tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, serta taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah hanya hendak menghilangkan dosa darimu, wahai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. al-Ahzab [33]: 33)

Ustaz Zaki Amami memaparkan bahwa meski status keimamahan beliau sempat diragukan oleh sebagian pecintanya karena faktor usia, hal tersebut telah dibantah oleh mukjizat Nabi Isa as yang dapat berbicara sejak lahir. Hal ini membuktikan bahwa maqam wilayah sepenuhnya merupakan pilihan Allah swt. Beliau kemudian menguraikan lima dimensi kehidupan Imam Jawad as sebagai figur panutan. Pertama, beliau adalah imam dengan tingkat tawakal yang sangat tinggi. Ustaz Zaki Amami merujuk pada ayat:

wa yarzuq-hu min ḫaitsu lâ yaḫtasib, wa may yatawakkal ‘allâhi fa huwa ḫasbuh, innallâha bâlighu amrih, qad ja‘alallâhu likulli syai’ing qadrâ “dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. at-Thalaq [65]: 3)

Terkait ayat ini, Ustaz Zaki Amami mengutip perkataan Imam Jawad as bahwa yakin kepada Allah swt adalah harga yang sangat tinggi dan tangga menuju setiap kemuliaan. Meski di bawah tekanan khalifah Abbasiyah, beliau tetap menyerahkan sepenuhnya urusan kepada Allah swt. Dimensi kedua adalah keutamaan akhlak yang agung, sebagaimana ayat yang beliau sampaikan tafsirnya:

wa innaka la‘alâ khuluqin ‘adhîm “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qalam [68]: 4)

Beliau menjelaskan bahwa Imam Jawad as merepresentasikan akhlak Rasulullah saw dalam hal kejujuran, kesabaran, serta memuliakan kaum mustadhafin. Kemuliaan tersebut dicapai melalui adab, termasuk adab dalam berbicara sebagaimana diperintahkan Allah swt:

yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tarfa‘û ashwâtakum fauqa schautin-nabiyyi wa lâ taj-harû lahû bil-qauli kajahri ba‘dlikum liba‘dlin an taḫbatha a‘mâlukum wa antum lâ tasy‘urûn “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain. Hal itu dikhawatirkan akan membuat (pahala) segala amalmu terhapus, sedangkan kamu tidak menyadarinya.” (QS. al-Hujurat [49]: 2)

Ustaz Zaki Amami menegaskan bahwa ahlulbait as mengajarkan adab untuk diamalkan, salah satunya dengan memahami bahwa kualitas akhlak tidak bergantung pada nasab. Beliau mengutip hadis Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah bahwa berbuat baik kepada orang lain adalah cara membuat mereka taat, serta pentingnya berterima kasih meski tidak mengenal orang yang berbuat baik tersebut. Imam Jawad as sendiri dikenal tidak pernah menghardik dan selalu memberi sebelum diminta. Dimensi ketiga adalah sabar dalam ujian, merujuk pada ayat:

yâ ayyuhalladzîna âmanusta‘înû bish-shabri wash-shalâh, innallâha ma‘ash-shâbirîn “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah [2]: 153)

Ustaz Zaki Amami menyampaikan pesan Imam Jawad as bahwa kesabaran adalah kunci datangnya kelapangan, yakni kesabaran aktif dalam menyempurnakan ikhtiar selama menanti Imam Zaman as. Dimensi keempat adalah menjaga lisan, sebagaimana firman-Nya:

mâ yalfidhu ming qaulin illâ ladaihi raqîbun ‘atîd “Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf [50]: 18)

Beliau mengutip peringatan Imam Jawad as bahwa banyak bicara sia-sia tanpa faedah ukhrawi akan mengurangi kewibawaan dan menjadi beban di akhirat. Beliau menasihati agar jamaah senantiasa berpikir baik agar lisan, akhlak, dan perbuatan turut menjadi baik. Terakhir adalah aspek bersyukur yang ditekankan melalui firman Allah swt:

wa idz ta’adzdzana rabbukum la’in syakartum la’azîdannakum wa la’ing kafartum inna ‘adzâbî lasyadîd “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.’” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Ustaz Zaki Amami menutup tausiyahnya di ICC Jakarta dengan mengajak jamaah menyadari nikmat tak terhingga seperti kesehatan, umur, dan pengetahuan. Beliau mengajak umat untuk bersyukur dengan menggunakan nikmat tersebut di jalan Allah swt, termasuk dengan hadir di majelis ilmu guna mendapatkan pengetahuan Ahlulbait as dan keberkahan doa. Beliau berharap peringatan ini membawa taufik dan syafaat dari Imam Jawad as bagi semua yang hadir.

Leave a Reply