Skip to main content

Kajian tafsir Surah Al-Fath kembali diselenggarakan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Minggu, 8 Maret 2026 bersama Syaikh Mohammad Sharifani. Dalam pertemuan tersebut, pembahasan masih melanjutkan penjelasan mengenai Perjanjian Hudaibiyah yang telah dicapai oleh kaum mukminin bersama Rasulullah SAW. Pada bagian ini, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa setelah perjanjian tersebut terdapat kelompok yang mengikuti Rasulullah dengan penuh keyakinan, tetapi ada pula kelompok lain yang tidak mengikuti perintah beliau dan mencoba memberikan berbagai alasan untuk membenarkan sikap mereka.

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak mengikuti Rasulullah SAW mengemukakan berbagai alasan seolah-olah mereka memiliki halangan yang dapat dibenarkan. Namun Al-Qur’an membuka hakikat alasan-alasan tersebut dan menunjukkan bahwa sebagian dari alasan itu sebenarnya hanya dibuat-buat. Setelah itu Allah kembali menguji mereka agar terlihat apakah penyesalan yang mereka sampaikan kepada Rasulullah benar-benar tulus atau hanya upaya untuk menipu dan mengulang sikap yang sama untuk kedua kalinya.

Dalam masyarakat memang terdapat kelompok yang secara lahiriah memiliki keterbatasan untuk ikut berjihad. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa di antara mereka terdapat orang-orang yang buta, pincang, tidak mampu berjalan, atau mengalami berbagai penyakit yang membuat mereka kesulitan untuk terlibat dalam peperangan secara fisik. Kondisi seperti ini diakui oleh Islam sebagai halangan yang nyata sehingga mereka tidak diwajibkan untuk ikut berjihad di medan perang.

Namun demikian, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa keterbatasan fisik tidak berarti seseorang terbebas sepenuhnya dari tanggung jawab membela Islam. Orang-orang yang memiliki keterbatasan tersebut tetap dapat menunjukkan keberpihakan mereka kepada Rasulullah SAW melalui cara lain, seperti dengan ucapan, dukungan moral, atau setidaknya dengan keinginan yang tulus di dalam hati untuk membela agama Allah. Dengan kata lain, meskipun mereka tidak dapat terlibat secara fisik, mereka tetap dituntut untuk menunjukkan kesetiaan kepada perjuangan Rasulullah.

Al-Qur’an sendiri memberikan keringanan bagi orang-orang yang memiliki keterbatasan tersebut. Dalam Surah At-Taubah disebutkan bahwa tidak ada dosa bagi orang-orang yang lemah untuk tidak ikut berperang.

Laisa ‘aladl-dlu‘afâ
“Tidak ada dosa (karena tidak pergi berperang) bagi orang-orang yang lemah.”
(At-Taubah: 91)

Selain itu, keringanan juga diberikan kepada orang-orang miskin yang tidak memiliki kemampuan untuk mempersiapkan diri dalam peperangan. Namun meskipun demikian, mereka tetap dianjurkan untuk menunjukkan kesetiaan kepada Rasulullah SAW dengan cara yang mereka mampu lakukan.

Hal ini juga ditegaskan dalam Surah Al-Fath ayat 17 yang menjelaskan bahwa orang-orang yang buta, pincang, dan sakit tidak memiliki kewajiban untuk ikut berperang.

Laisa ‘alal-a‘mâ ḥarajuw wa lâ ‘alal-a‘raji ḥarajuw wa lâ ‘alal-marîḍi ḥaraj, wa may yuthi‘illâha wa rasûlahû yudkhil-hu jannâtin tajrî min taḥtihal-an-hâr, wa may yatawalla yu‘adzdzib-hu ‘adzâban alîmâ

“Tidak ada dosa atas orang-orang yang buta, orang-orang yang pincang, dan orang-orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia akan dimasukkan oleh-Nya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Akan tetapi siapa yang berpaling, dia akan diazab oleh-Nya dengan azab yang pedih.”
(Al-Fath: 17)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan dua hal sekaligus. Pertama, adanya keringanan bagi orang-orang yang memang memiliki halangan nyata untuk ikut berjihad. Kedua, penegasan bahwa ukuran utama dalam Islam tetaplah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Siapa pun yang menaati Allah dan Rasulullah akan memperoleh pahala besar serta dimasukkan ke dalam surga. Sebaliknya, orang yang berpaling dari perintah Allah dan Rasul-Nya, meskipun dengan alasan-alasan yang tampak masuk akal, tetap berada dalam ancaman azab.

Dalam kelanjutan penjelasan Surah Al-Fath, Syaikh Mohammad Sharifani juga mengingatkan tentang peristiwa penting yang terjadi di sekitar Perjanjian Hudaibiyah, yaitu peristiwa Baiat Ridwan. Pada saat itu sekelompok sahabat Rasulullah SAW berbaiat kepada beliau di bawah sebuah pohon. Mereka berjanji untuk tetap setia kepada Rasulullah dan siap mendukung beliau hingga akhir, bahkan jika harus menghadapi risiko besar dalam perjuangan tersebut.

Peristiwa baiat ini menunjukkan tingkat kesetiaan para sahabat kepada Rasulullah SAW. Mereka tidak hanya menyatakan keimanan dengan lisan, tetapi juga menunjukkan komitmen untuk berdiri bersama Rasulullah dalam setiap tahap perjuangan dakwah. Kesetiaan semacam inilah yang kemudian mendapatkan keridaan Allah SWT.

Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, dalam ayat-ayat Surah Al-Fath disebutkan bahwa Allah memberikan beberapa karunia besar kepada orang-orang yang benar-benar mengikuti Rasulullah dengan penuh keyakinan sejak awal hingga akhir perjuangan. Setidaknya terdapat empat hal yang Allah berikan kepada mereka.

Pertama adalah ketenangan hati dan ketenangan jiwa. Orang yang berada di jalan kebenaran akan merasakan ketenteraman batin karena ia mengetahui bahwa langkah yang ia tempuh berada dalam keridaan Allah SWT.

Kedua adalah pahala yang besar dari Allah. Kesetiaan kepada Rasulullah SAW dan kesediaan untuk mendukung perjuangan beliau menjadi sebab turunnya pahala yang melimpah bagi orang-orang yang beriman.

Ketiga adalah kemenangan secara lahiriah terhadap kaum musyrikin. Dalam perjalanan sejarah Islam, kesabaran dan keteguhan kaum mukmin pada akhirnya membawa kemenangan yang nyata atas pihak-pihak yang menentang dakwah Rasulullah.

Keempat adalah ganimah atau harta rampasan perang, yang diberikan kepada kaum mukmin yang mengikuti Rasulullah dalam perjuangan. Ganimah ini bukan menjadi tujuan utama perjuangan, tetapi merupakan salah satu karunia yang Allah berikan kepada mereka yang setia dan taat kepada Rasulullah SAW.

Melalui penjelasan ayat-ayat ini, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa ukuran keimanan seorang mukmin tidak hanya dilihat dari ucapan semata, tetapi dari kesediaannya untuk menaati Allah dan Rasulullah serta mendukung perjuangan Islam sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Kesetiaan para sahabat yang berbaiat kepada Rasulullah menjadi teladan tentang bagaimana seorang mukmin seharusnya bersikap ketika menghadapi perintah Allah dan Rasul-Nya.