Islamic Cultural Center (ICC) menyelenggarakan kajian rutin Majelis Taklim Akhwat ICC Zainab Al-Kubro pada Rabu, 28 Januari 2026, dengan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai pembicara utama. Dalam ceramahnya, beliau mengupas tuntas tema besar mengenai makrifat, yang beliau definisikan sebagai upaya mendasar manusia untuk mengenal kebenaran hakiki. Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan bahwa terdapat dua cara utama bagi seorang hamba untuk memperoleh pengetahuan. Cara pertama adalah dengan menelaah, mengobservasi, serta merenungi segala bentuk ciptaan Allah swt yang terhampar di alam semesta. Sementara itu, cara kedua ditempuh melalui aspek spiritual atau secara maknawiyah yang melampaui kemampuan pancaindra manusia. Jalur kedua ini ditempuh melalui praktik-praktik ibadah yang konsisten serta upaya terus-menerus untuk menghubungkan diri secara langsung dengan Allah swt, yang dalam khazanah keislaman dikenal sebagai ilmu laduni.
Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa ilmu yang bersifat laduni ini hanya bisa diperoleh dengan melakukan amal nyata seperti ketakwaan, jihad melawan hawa nafsu, dan ketekunan ibadah. Beliau menjelaskan bagaimana hakikat ilmu laduni ini digambarkan di dalam Al-Qur’an melalui lisan para malaikat yang mengakui keterbatasan pengetahuan mereka di hadapan Allah swt:
qâlû sub-ḫânaka lâ ‘ilma lanâ illâ mâ ‘allamtanâ, innaka antal-‘alîmul-ḫakîm “Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 32)
Melalui ayat tersebut, beliau memberikan pemahaman bahwa ilmu yang dimiliki malaikat pun merupakan ilmu yang datang langsung dari Allah swt. Penegasan mengenai pengajaran langsung dari Allah swt kepada hamba-Nya juga beliau sampaikan dengan merujuk pada firman Allah swt lainnya:
wattaqullâh, wa yu‘allimukumullâh
“Bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 282)
Prinsip ini menunjukkan bahwa ketakwaan merupakan kunci pembuka bagi seseorang untuk mendapatkan pengajaran langsung dari sisi Allah swt. Lebih lanjut, Syaikh Mohammad Sharifani menguraikan bahwa janji Allah swt untuk memberikan petunjuk jalan-jalan-Nya diperuntukkan bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam meniti jalan kebenaran, sebagaimana termaktub dalam surah Al-‘Ankabut:
walladzîna jâhadû fînâ lenahdiyannahum subulanâ, wa innallâha lama‘al-muḫsinîn
“Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 69)
Beliau mengingatkan jamaah Majelis Zainab Al-Kubro bahwa jihad yang dimaksud dalam konteks ini bukan sekadar mengangkat senjata atau berperang di medan laga, melainkan perjuangan yang lebih besar yakni melawan hawa nafsu pribadi. Beliau kemudian menukil sabda Imam Jafar Shadiq as yang menyatakan bahwa barang siapa yang belajar karena Allah swt, berbuat sesuatu karena Allah swt, dan mengajarkan pengetahuan karena Allah swt, maka sosok tersebut akan diagungkan dan mendapatkan kedudukan yang tinggi di langit.
Dalam pemaparannya yang lebih mendalam, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak para jamaah untuk melihat dampak nyata dari kepemilikan ilmu laduni terhadap kondisi batin seseorang. Beliau menjelaskan bahwa salah satu tandanya adalah kelembutan hati yang luar biasa saat mendengar kebenaran, sebagaimana firman-Nya:
wa idzâ sami‘û mâ unzila ilar-rasûli tarâ a‘yunahum tafîdlu minad-dam‘i mimmâ ‘arafû minal-ḫaqq, yaqûlûna rabbanâ âmannâ faktubnâ ma‘asy-syâhidîn
“Apabila mereka mendengar sesuatu (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul (Nabi Muhammad), engkau melihat mata mereka bercucuran air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah beriman. Maka, catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad).” (QS. Al-Ma’idah [5]: 83)
Beliau menegaskan bahwa orang yang memiliki hati yang bersih akan senantiasa merasakan kedekatan yang intens dengan Allah swt. Hal ini didasari pada ayat Al-Qur’an yang berbunyi:
inna fî dzâlika ladzikrâ limang kâna lahû qalbun au alqas-sam‘a wa huwa syahîd
“Sesungguhnya pada yang demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya dan dia menyaksikan.” (QS. Qaf [50]: 37)
Dampak berikutnya yang dirasakan oleh pemilik ilmu laduni adalah memiliki hati yang lapang untuk menerima cahaya agama, sebagaimana dijelaskan beliau melalui surah Az-Zumar:
a fa man syaraḫallâhu shadrahû lil-islâmi fa huwa ‘alâ nûrim mir rabbih
“Maka, apakah orang yang Allah bukakan hatinya untuk (menerima) agama Islam, lalu mendapat cahaya dari Tuhannya.” (QS. Az-Zumar [39]: 22)
Syaikh Mohammad Sharifani juga membacakan doa yang dipanjatkan oleh Imam Ali Zainal Abidin as yang sangat erat kaitannya dengan permohonan ilmu laduni. Dalam doa tersebut, beliau menyampaikan permohonan agar Allah swt menganugerahkan kesenangan dalam melakukan pekerjaan demi akhirat melalui dorongan hati nurani, hingga hati dipenuhi dengan sikap zuhud terhadap dunia. Melalui doa tersebut, beliau menekankan pentingnya melakukan kebaikan semata-mata karena mencintai kebaikan itu sendiri dan menjauhi dosa karena rasa takut yang tulus kepada Allah swt. Beliau juga memohon agar diberikan cahaya bimbingan agar dapat hidup di tengah masyarakat dengan benar serta mendapatkan petunjuk saat berada dalam kegelapan atau keraguan dan hal-hal yang bersifat syubhat.
Dalam tinjauan makrifat yang lebih luas, beliau menjelaskan bahwa dengan ilmu laduni, seseorang dapat menggapai alam malakut atau alam kesucian, sebagaimana yang diperlihatkan Allah swt kepada Nabi Ibrahim as:
wa kadzâlika nurî ibrâhîma malakûtas-samâwâti wal-ardli wa liyakûna minal-mûqinîn “Demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.” (QS. Al-An’am [6]: 75)
Syaikh Mohammad Sharifani mengutip perkataan Imam Baqir as bahwa tidak ada cahaya yang menandingi cahaya keyakinan kepada Allah swt. Beliau juga membagikan riwayat dari Imam Shadiq as yang mencari-cari sumber cahaya hati dan akhirnya menemukannya dalam perenungan yang mendalam serta tangisan karena kerinduan kepada-Nya. Beliau menjelaskan bahwa dampak lain dari ilmu laduni adalah kepemilikan pengetahuan yang sangat dalam. Beliau mengelompokkan ulama menjadi dua kategori: mereka yang sekadar mengetahui banyak hal secara umum, dan mereka yang memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa, sebagaimana firman Allah swt:
war-râsikhûna fil-‘ilmi yaqûlûna âmannâ bihî kullum min ‘indi rabbinâ “Orang-orang yang ilmunya mendalam berkata,
“Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 7)
Sebagai penutup, Syaikh Mohammad Sharifani menceritakan kisah Imam Ridha as di Madinah. Beliau mengisahkan bagaimana Imam Ridha as menguji kesetiaan seorang pengikutnya dari Khurasan dengan memerintahkannya masuk ke dalam perapian, namun orang tersebut menolak. Di sisi lain, seorang pengikut setia yang benar-benar memiliki keyakinan kokoh langsung menjalankan perintah tersebut dan terbukti tidak terbakar sedikit pun. Beliau menekankan bahwa seseorang yang sudah mencapai puncak keyakinan tidak akan lagi memiliki rasa takut terhadap apa pun di dunia ini. Hal ini sejalan dengan firman Allah swt yang beliau bacakan:
wa liya‘lamalladzîna ûtul-‘ilma annahul-ḫaqqu mir rabbika fa yu’minû bihî fa tukhbita lahû qulûbuhum, wa innallâha lahâdilladzîna âmanû ilâ shirâthim mustaqîm
“Agar orang-orang yang telah diberi ilmu itu mengetahui bahwa ia (Al-Qur’an) adalah kebenaran dari Tuhanmu sehingga mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Hajj [22]: 54)
Beliau mengakhiri kajian dengan menegaskan bahwa iman yang sejati ditandai dengan gemetarnya hati saat asma Allah swt disebut dan bertambahnya keimanan saat ayat-ayat-Nya dibacakan:
innamal-mu’minûnalladzîna idzâ dzukirallâhu wajilat qulûbuhum wa idzâ tuliyat ‘alaihim âyâtuhû zâdat-hum îmânaw wa ‘alâ rabbihim yatawakkalûn
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal [8]: 2)



