Skip to main content

Dalam Webinar Internasional Haji dan Peradaban Islam: Dari Transformasi Personal Menuju Harmoni Sosial dan Persatuan Umat yang diselenggarakan ICC Jakarta pada Selasa, 26 Mei 2026, Ustaz Umar Shahab memaparkan dimensi tarbiah dalam ibadah haji dan pengaruhnya terhadap pembentukan karakter seorang Muslim. Dalam penjelasannya, beliau menegaskan bahwa salah satu tujuan utama ibadah haji adalah melahirkan pribadi yang suci, bertakwa, dan memiliki karakter yang lebih baik melalui proses pengenalan kepada Allah swt.

Mengawali pemaparannya, Ustaz Umar Shahab menjelaskan bahwa siapa pun yang pernah menunaikan ibadah haji akan merasakan besarnya pengaruh haji terhadap perubahan dirinya. Menurut beliau, meskipun terdapat sebagian orang yang beribadah hanya pada tataran formal dan belum sepenuhnya menghadirkan penghambaan dalam hati maupun perilaku, pengalaman para jamaah haji menunjukkan bahwa ibadah tersebut memiliki daya transformasi yang sangat kuat terhadap karakter seseorang.

Beliau menyampaikan bahwa tingginya harapan masyarakat terhadap seorang yang telah menunaikan haji menunjukkan adanya keyakinan kolektif bahwa haji semestinya membawa perubahan positif dalam diri pelakunya. Karena itu, ketika seseorang yang telah menyandang gelar haji melakukan perbuatan yang kurang terpuji, masyarakat sering kali mempertanyakannya. Menurut beliau, hal tersebut menunjukkan bahwa haji dipandang sebagai proses pendidikan spiritual yang seharusnya melahirkan akhlak yang lebih baik.

Dalam pemaparannya, Ustaz Umar Shahab mengutip hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah mengenai keutamaan haji yang dilaksanakan dengan benar.

Man hajja falam yarfuts wa lam yafsuq raja‘a ka yaumi waladat-hu ummuh

“Barang siapa menunaikan haji lalu tidak melakukan rafats dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti pada hari ketika ibunya melahirkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau menjelaskan bahwa hadis tersebut menunjukkan betapa besar pengaruh ibadah haji dalam menyucikan manusia. Orang yang melaksanakan haji dengan baik akan kembali dalam keadaan suci sebagaimana seorang bayi yang baru dilahirkan, bebas dari noda dosa dan berbagai keburukan.

Menurut beliau, makna yang sama juga dapat ditemukan dalam berbagai riwayat yang bersumber dari ahlul bait as. Riwayat-riwayat tersebut menegaskan bahwa orang yang menunaikan haji dengan menjaga diri dari rafats dan perbuatan fasik akan kembali dalam keadaan bersih dari dosa sebagaimana saat dilahirkan oleh ibunya. Dari sini, beliau menegaskan bahwa salah satu manfaat utama haji adalah menempatkan seseorang pada jalan kesucian.

Ustaz Umar Shahab kemudian mengaitkan makna tersebut dengan tujuan umum berbagai ibadah dalam Islam. Menurut beliau, salat, puasa, zakat, dan haji pada dasarnya tidak hanya bertujuan memenuhi kewajiban kepada Allah swt, tetapi juga membentuk pribadi yang bersih dan bertakwa.

Beliau mengutip firman Allah swt:

Innas-shalata tanha ‘anil fahsya’i wal munkar

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut [29]: 45)

Beliau juga mengingatkan tentang tujuan puasa sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

Kutiba ‘alaikumush-shiyamu kama kutiba ‘alalladzina min qablikum la‘allakum tattaqun

“Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Sementara terkait zakat, beliau mengutip firman Allah swt:

Khudz min amwalihim shadaqatan tuthahhiruhum wa tuzakkihim biha

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu engkau membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah [9]: 103)

Menurut beliau, seluruh ibadah tersebut mengandung tujuan yang sama, yaitu menyucikan diri manusia. Karena itu, haji juga harus dipahami sebagai sarana pembentukan kesucian dan ketakwaan.

Beliau menjelaskan bahwa meskipun Al-Qur’an tidak secara langsung menyebut haji sebagai sarana penyucian diri, berbagai ketentuan dalam manasik haji menunjukkan arah yang sama. Dalam hal ini beliau mengutip firman Allah swt:

Faman faradha fihinnal hajja fala rafatsa wa la fusuqa wa la jidala fil hajj

“Maka barang siapa menetapkan niat dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, tidak boleh berbuat fasik, dan tidak boleh berbantah-bantahan dalam masa haji.” (QS. Al-Baqarah [2]: 197)

Beliau menjelaskan bahwa larangan melakukan rafats, perbuatan fasik, dan perdebatan yang dilandasi kesombongan merupakan bagian dari proses pendidikan spiritual yang bertujuan membentuk manusia yang lebih baik. Menurut beliau, kesucian diri merupakan puncak kepribadian seorang Muslim, dan kesucian itu identik dengan ketakwaan.

Dalam penjelasannya, Ustaz Umar Shahab menguraikan bahwa takwa bukan sekadar menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah swt, melainkan sebuah kondisi batin yang mendorong seseorang untuk terus melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Beliau mengaitkan hal tersebut dengan firman Allah swt dalam Surah Asy-Syams yang menjelaskan adanya dua kecenderungan dalam diri manusia, yaitu kecenderungan kepada keburukan dan kecenderungan kepada ketakwaan.

Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha

“Maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams [91]: 8)

Menurut beliau, takwa adalah seluruh dorongan positif dalam diri manusia yang membimbingnya menuju kebaikan dan menjauhkannya dari keburukan. Oleh karena itu, seluruh rangkaian manasik haji sejak ihram hingga tahalul sesungguhnya merupakan proses pendidikan untuk melahirkan manusia yang bertakwa.

Beliau menjelaskan bahwa ketika seseorang memasuki keadaan ihram, ia dibatasi oleh berbagai larangan yang tidak biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Selain larangan melakukan rafats, fasik, dan perdebatan, seorang muhrim juga dilarang memotong rambut, memotong kuku, membunuh hewan tertentu, serta berbagai ketentuan lainnya. Menurut beliau, seluruh larangan tersebut bukan sekadar aturan ritual, tetapi sarana pembinaan agar manusia mampu mengendalikan dirinya dan tunduk sepenuhnya kepada Allah swt.

Ustaz Umar Shahab memaknai ihram sebagai kondisi ketika seorang hamba memasuki wilayah Allah swt. Dalam keadaan tersebut, manusia dituntut meninggalkan berbagai hal yang dapat menumbuhkan kesombongan, keakuan, maupun perasaan lebih tinggi daripada orang lain. Di hadapan Allah swt, seluruh manusia berada dalam kedudukan yang sama.

Beliau kemudian menghubungkan makna ihram dengan takbiratul ihram dalam salat. Menurut beliau, sebagaimana seseorang memasuki wilayah Allah swt ketika memulai salat dan keluar darinya saat mengucapkan salam, demikian pula seorang muhrim sedang berada dalam ruang spiritual yang menuntut pengendalian diri dan kepatuhan penuh kepada Allah swt.

Pada bagian akhir pemaparannya, Ustaz Umar Shahab menegaskan makna hadis yang sangat populer di kalangan umat Islam, yaitu al-hajju ‘Arafah, bahwa inti dan puncak ibadah haji adalah Arafah. Menurut beliau, kata Arafah berasal dari akar kata yang bermakna mengenal. Karena itu, puncak haji sesungguhnya adalah mengenal Allah swt.

Beliau menjelaskan bahwa pengenalan kepada Allah swt merupakan modal terpenting dalam pembentukan karakter manusia. Seseorang akan mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk, serta mampu menjaga dirinya dari perbuatan tercela, sejauh ia mengenal Allah swt dengan benar.

Sebagai ilustrasi, beliau mengangkat kisah Nabi Yusuf as ketika digoda oleh istri Al-Aziz. Menurut beliau, Nabi Yusuf as mampu menjaga kesucian dirinya karena memiliki pengenalan yang mendalam kepada Allah swt. Ketika Nabi Yusuf as berkata “Ma‘adzallah”, beliau melihat ungkapan tersebut sebagai bukti bahwa pengenalan kepada Allah swt menjadi benteng utama yang melindungi manusia dari dosa.

Menutup pemaparannya, Ustaz Umar Shahab menegaskan bahwa haji yang mabrur hanya dapat terwujud apabila seseorang benar-benar mengenal Allah swt. Beliau juga mengingatkan keterkaitan antara pengenalan kepada Allah swt dan pengenalan terhadap diri sendiri sebagaimana terkandung dalam riwayat yang masyhur bahwa siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Menurut beliau, ketika manusia menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah swt yang senantiasa menerima kebaikan dan kasih sayang-Nya, maka ia akan lebih mudah menjauhi berbagai perbuatan tercela dan menjalani hidup dalam jalan ketakwaan.