Islamic Cultural Center (ICC) menggelar Kelas Tafsir Maudhu’i pada Kamis, 29 Januari 2026, dengan menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai narasumber yang penjelasannya diterjemahkan secara langsung oleh Ustaz Hafidh Alkaf. Pada pertemuan tersebut, fokus pembahasan dititikberatkan pada kedudukan kata “Islam” di dalam Al-Qur’an. Dalam paparannya, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa secara bahasa, Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah swt. Beliau menggarisbawahi bahwa istilah ini sebenarnya sudah digunakan oleh bangsa Arab jauh sebelum masa Rasulullah saw. Al-Qur’an pun merekam penggunaan kata tersebut dalam konteks nabi-nabi terdahulu, seperti pada kisah pengorbanan Nabi Ibrahim as:
fa lammâ aslamâ wa tallahû lil-jabîn
“Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah).” (QS. Ash-Shaffat [37]: 103)
Selain itu, beliau juga menukil doa Nabi Ibrahim as yang memohon keteguhan dalam berserah diri:
rabbanâ waj‘alnâ muslimaini laka wa min dzurriyyatinâ ummatam muslimatal laka wa arinâ manâsikanâ wa tub ‘alainâ, innaka antat-tawwâbur-raḫîm
“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, (jadikanlah) dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan manasik (rangkaian ibadah) haji, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [2]: 128)
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan bahwa dengan diutusnya Rasulullah saw, kata Islam menjadi identik dengan ajaran yang dibawa oleh beliau dan secara resmi menjadi nama agama tersebut. Terkait perbandingan antara iman dan Islam, beliau memberikan penjelasan yang mendalam. Dalam satu pengertian, Islam bisa dipandang lebih rendah dari iman jika hanya dimaknai sebagai pengucapan syahadat secara lahiriah tanpa dibarengi keyakinan di dalam hati. Hal ini beliau sandarkan pada teguran Allah swt terhadap orang-orang Arab Badui:
qâlatil-a‘râbu âmannâ, qul lam tu’minû wa lâking qûlû aslamnâ wa lammâ yadkhulil-îmânu fî qulûbikum, wa in tuthî‘ullâha wa rasûlahû lâ yalitkum min a‘mâlikum syai’â, innallâha ghafûrur raḫîm
“Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami baru berislam’ karena iman (yang sebenarnya) belum masuk ke dalam hatimu. Jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu.” Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat [49]: 14)
Namun dalam makna yang lain, Islam memiliki derajat yang lebih tinggi jika diartikan sebagai penyerahan diri secara mutlak kepada Allah swt, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as.
Sebagai sebuah agama, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa Islam adalah umat terbaik yang memiliki keunggulan dibandingkan umat lainnya. Beliau mengutip surah Ali ‘Imran:
kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nâsi ta’murûna bil-ma‘rûfi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu’minûna billâh, walau âmana ahlul-kitâbi lakâna khairal lahum, min-humul-mu’minûna wa aktsaruhumul-fâsiqûn
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 110)
Dalam pandangan beliau, umat ini memiliki tiga kelebihan utama, yaitu konsistensi dalam menegakkan yang makruf, mencegah yang mungkar, serta keimanan kepada Allah swt. Islam juga merupakan agama yang telah diserukan oleh segenap makhluk di langit dan di bumi:
a fa ghaira dînillâhi yabghûna wa lahû aslama man fis-samâwâti wal-ardli thau‘aw wa kar-haw wa ilaihi yurja‘ûn
“Mengapa mereka mencari agama selain agama Allah? Padahal, hanya kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi berserah diri, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 83)
Beliau juga mengingatkan momentum penting setelah peristiwa Ghadir Khum, di mana Allah swt menurunkan penegasan mengenai kesempurnaan agama ini:
al-yauma ya’isalladzîna kafarû min dînikum fa lâ takhsyauhum wakhsyaûn, al-yauma akmaltu lakum dînakum wa atmamtu ‘alaikum ni‘matî wa radlîtu lakumul-islâma dînâ
“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (malahkan) agamamu. Oleh sebab itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 3)
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang kokoh dan abadi. Meskipun musuh-musuh Allah swt berusaha memadamkan cahayanya sepanjang sejarah, Allah swt telah menjamin kelestariannya:
yurîdûna liyuthfi’û nûrallâhi bi’afwâhihim, wallâhu mutimmu nûrihî walau karihal-kâfirûn “Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, sedangkan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.” (QS. Ash-Shaff [61]: 8)
Allah swt juga telah berjanji bahwa Islam akan diunggulkan di atas semua agama lainnya:
huwalladzî arsala rasûlahû bil-hudâ wa dînil-ḫaqqi liyudh-hirahû ‘alad-dîni kullih, wa kafâ billâhi syahîdâ
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkan (agama tersebut) atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS. Al-Fath [48]: 28)
Oleh karena itu, sikap menerima Islam harus diungkapkan secara nyata tanpa membeda-bedakan para utusan-Nya:
qûlû âmannâ billâhi wa mâ unzila ilainâ wa mâ unzila ilâ ibrâhîma wa ismâ‘îla wa is-ḫâqa wa ya‘qûba wal-asbâthi wa mâ ûtiya mûsâ wa ‘îsâ wa mâ ûtiyan-nabiyyûna mir rabbihim, lâ nufarriqu baina aḫadim min-hum wa naḫnu lahû muslimûn
“Katakanlah (wahai orang-orang yang beriman), “Kami beriman kepada Allah, pada apa yang diturunkan kepada kami, pada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub dan keturunannya, pada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta pada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 136)
Bahkan, perintah untuk mengikuti syariat Islam ini pun ditujukan langsung kepada Rasulullah saw agar beliau tidak mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui:
tsumma ja‘alnâka ‘alâ syarî‘atim minal-amri fattabi‘hâ wa lâ tattabi‘ ahwâ’alladzîna lâ ya‘lamûn “Kemudian, Kami jadikan engkau (Nabi Muhammad) mengikuti syariat dari urusan (agama) itu. Maka, ikutilah ia (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 18)
Syaikh Mohammad Sharifani juga menyinggung ketegasan Islam terhadap pihak-pihak yang melecehkan agama ini. Al-Qur’an memerintahkan untuk bersikap tegas terhadap pemimpin kekufuran yang melanggar janji dan menistakan agama:
wa in nakatsû aimânahum mim ba‘di ‘ahdihim wa tha‘anû fî dînikum fa qâtilû a’immatal-kufri innahum lâ aimâna lahum la‘allahum yantahûn
“Jika mereka melanggar sumpah sesudah perjanjian mereka dan menistakan agamamu, perangilah para pemimpin kekufuran itu karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang sumpahnya supaya mereka berhenti (dari kekufuran dan penganiayaan).” (QS. At-Taubah [9]: 12)
Dalam tinjauan riwayat, beliau mengutip pesan Imam Jafar Shadiq as yang menekankan pentingnya menjaga kebersamaan dengan kaum muslimin. Menurut beliau, memisahkan diri dari jamaah muslimin—walaupun hanya sejengkal—berarti telah melepaskan diri dari ikatan keislaman. Imam Jafar Shadiq as juga menjelaskan bahwa Islam adalah fitrah asli manusia sebagaimana yang tertuang dalam surah Ar-Rum:
fa aqim waj-haka lid-dîni ḫanîfâ, fithratallâhillatî fatharan-nâsa ‘alaihâ, lâ tabdîla likhalqillâh, dzâlikad-dînul qayyimu wa lâkinna aktsaran-nâsi lâ ya‘lamûn
“Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30)
Beliau menambahkan bahwa di alam dzar, Allah swt pernah mengumpulkan seluruh anak cucu Adam untuk mengambil kesaksian mereka:
wa idz akhadza rabbuka mim banî âdama min dhuhûrihim dzurriyyatahum wa asy-hadahum ‘alâ anfusihim, a lastu birabbikum, qâlû balâ syahidnâ, an taqûlû yaumal-qiyâmati innâ kunnâ ‘an hâdzâ ghâfilîn
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar pada hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lengah terhadap hal ini.” (QS. Al-A’raf [7]: 172)
Meskipun pada saat bersaksi tersebut ada yang kemudian menjadi muslim dan ada yang kafir di dunia, secara fitrah semua makhluk memiliki dasar tauhid. Menutup penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani memaparkan manfaat praktis dari keislaman seseorang berdasarkan riwayat Imam Jafar Shadiq as. Dengan mengucapkan syahadat, seseorang mendapatkan kehormatan atas darahnya, amanatnya harus dijaga, serta sah untuk dinikahi, sementara dengan keimanan barulah ia memperoleh pahala di sisi Allah swt.



