Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar peringatan milad Imam Muhammad Al-Mahdi afs pada Selasa, 3 Februari 2026. Acara dibuka oleh Andi Muhammad Ali Alhasan selaku pembawa acara yang menyapa para pecinta Al-Qur’an dan pecinta keluarga Nabi Muhammad saw. Dalam sambutannya, beliau mengajak jamaah mensyukuri malam yang di dalamnya terdapat mutiara tersembunyi berupa Munajat Syabaniyah. Beliau menyampaikan bahwa para Maksumin as diriwayatkan tidak pernah melewatkan munajat ini. Malam tersebut menjadi momentum kebahagiaan ganda karena bertepatan dengan peringatan kelahiran Imam Mahdi afs yang dinantikan. Suasana khidmat semakin terasa dengan lantunan Qira’ah oleh Ustaz Nuruddin serta penampilan hadrah yang meriah dari tim Khatamun Nabiyyin. Rangkaian acara dilanjutkan dengan ceramah oleh Syaikh Mohammad Sharifani.

Dalam kesempatan tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani mengajukan dua pertanyaan penting yang perlu dijawab bersama oleh para hadirin. Pertanyaan pertama adalah mengenai kegaiban Imam Mahdi afs, dan pertanyaan kedua adalah mengenai apa kewajiban kita sebagai umat di masa kegaiban ini. Terkait kegaiban sang Imam, beliau menjelaskan bahwa Allah swt memiliki ketetapan-ketetapan di alam semesta yang disebut sebagai sunnatullah. Beliau menekankan bahwa ketetapan Allah swt sangat berbeda dengan ketetapan yang berlaku bagi umat manusia dalam bermasyarakat. Aturan-aturan Allah swt bersifat bijak dan permanen, sementara ketetapan manusia selalu berubah, memiliki berbagai kekurangan, bahkan tidak memiliki landasan yang kokoh.

Beliau memaparkan bahwa ada banyak hal yang telah Allah swt tetapkan di alam semesta ini. Contohnya adalah ketetapan bahwa setiap manusia pasti akan mengalami kematian. Selain itu, Allah swt senantiasa memberikan rahmat-Nya kepada seluruh alam semesta, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

wa raḫmatî wasi‘at kulla syaî’
“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf [7]: 156)

Di samping itu, Allah swt juga telah menetapkan adanya ujian dalam kehidupan ini, sebagaimana firman-Nya:

alladzî khalaqal-mauta wal-ḫayâta liyabluwakum ayyukum aḫsanu ‘amalâ
“Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu (siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya).” (QS. Al-Mulk [67]: 2)

Ketetapan ujian ini juga ditegaskan dalam ayat lain yang menyebutkan bahwa Allah swt pasti akan menguji manusia dengan sedikit ketakutan, kelaparan, serta kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, serta perintah untuk memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar:

wa lanabluwannakum bisyai’im minal-khaufi wal-jû‘i wa naqshim minal-amwâli wal-anfusi wats-tsamarât, wa basysyirish-shâbirîn
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155)

Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa Allah swt menguji kita semua sebagai bagian dari ketetapan-Nya dengan berbagai cara, termasuk melalui kesenangan-kesenangan yang kita miliki. Beliau kemudian menegaskan bahwa salah satu ujian Allah swt yang sangat besar bagi umat manusia secara keseluruhan adalah digaibkan-Nya Imam Mahdi afs dari pandangan kita. Kegaiban sang Imam adalah sebuah ujian nyata. Beliau menukil sabda Imam Shadiq as yang menyatakan bahwa Al-Mahdi akan gaib, dan di balik kegaibannya itu akan ada banyak ujian yang membuat sebagian besar manusia tidak akan selamat di dalamnya.

Beliau memberikan gambaran bahwa terkadang ketika kita memohon perlindungan dari berbagai bencana kepada Allah swt, bencana tersebut tetap datang. Hal yang sama terjadi ketika kita meminta agar kehadiran Imam Mahdi afs disegerakan namun belum terwujud, sehingga muncul keraguan di hati orang-orang munafik yang tidak lagi percaya akan kedatangan beliau. Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menceritakan sebuah riwayat di mana suatu saat Imam Ali as menarik muridnya, Kumayl, ke sebuah jalan. Di sana, beliau berkata kepada Kumayl bahwa di dalam dadanya terdapat banyak sekali ilmu, dan sekiranya beliau mendapati seseorang yang sanggup membawa ilmu tersebut, maka beliau akan menitipkannya.

Kata-kata Imam Ali as tersebut, menurut beliau, menunjukkan bahwa dalam kehidupan manusia diperlukan adanya hubungan antara guru dan murid agar apa yang diinginkan bisa terjadi. Beliau menjelaskan bahwa alam semesta ini berlaku seperti itu, sebagai sebuah madrasah penciptaan. Allah swt telah menetapkan bahwa untuk mengelola alam semesta diperlukan dua sosok: satu adalah guru, dan yang kedua adalah murid-murid yang mengikuti tuntunannya. Jika hubungan ini berjalan dengan baik, maka alam semesta akan menjadi harmonis.

Allah swt telah mengutus para nabi sebagai guru-guru kemanusiaan yang dibekali pengetahuan untuk membuat manusia sempurna. Manusia yang hidup di zaman para nabi dan para Maksumin sejatinya adalah murid-murid. Namun, beliau menyesalkan bahwa murid-murid ini bukannya menjalankan wasiat gurunya, justru malah mengkhianati mereka. Bahkan para nabi dan Maksumin dibunuh, dan pola ini berlangsung terus sampai kepada masa Imam Hasan Al-Askari as. Karena pengkhianatan murid-murid inilah, maka Allah swt menggaibkan Imam Mahdi afs.

Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa saat ini kita telah kehilangan guru kita. Beliau menjelaskan bahwa satu sosok guru saja tidaklah cukup, melainkan juga membutuhkan murid yang siap, begitu pula sebaliknya. Gaibnya Imam zaman afs disebabkan karena belum adanya murid-murid yang benar-benar siap. Beliau menyebutkan bahwa Imam Mahdi afs kelak akan ditemani oleh 313 murid sejati, namun hingga saat ini mereka belum hadir, sehingga Imam pun belum hadir. Meskipun dunia sekarang memiliki sekitar 8 miliar umat manusia, namun belum ada orang yang benar-benar siap menjadi prajurit beliau.

Dalam sejarah, beliau memberikan contoh murid-murid yang luar biasa, seperti keluarga dan sahabat Imam Husain as. Beliau menceritakan di Karbala terdapat sosok bernama Said Al-Hanafi. Pada waktu Imam Husain as hendak melaksanakan salat, murid-murid beliau melingkari sang Imam untuk melindunginya dari ancaman musuh. Said Al-Hanafi dan murid lainnya terkena serangan anak panah berkali-kali sampai Imam Husain as selesai melaksanakan salat. Setelah itu, dengan penuh kesetiaan, Said Al-Hanafi bertanya kepada Imam Husain as apakah dirinya sudah betul-betul memenuhi kesetiaannya.

Beliau juga menceritakan kisah seseorang dari Khurasan yang menemui Imam Ridha as dan mengaku sebagai pengikut sejati. Namun ketika Imam Ridha as mengujinya dengan memerintahkannya masuk ke dalam perapian, orang tersebut menolak. Tak lama kemudian, seorang murid Imam Ridha as yang lain datang dan diperintahkan hal yang sama. Murid tersebut melaksanakannya dengan sukarela dan ia tetap baik-baik saja tanpa terbakar sedikit pun. Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa Imam Mahdi afs membutuhkan murid-murid dengan kualitas kesetiaan seperti ini. Beliau memperingatkan bahwa jika Imam muncul sekarang tanpa kesiapan murid, banyak orang yang akan menganggap beliau melakukan bid’ah bahkan terancam akan dibunuh.

Memasuki jawaban untuk pertanyaan kedua, Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan mengenai kewajiban kita di masa kegaiban. Beliau memperingatkan bahwa di masa ini akan banyak pihak yang keluar dari agama. Kewajiban pertama yang harus kita lakukan adalah mengokohkan keyakinan kepada kehadiran Imam zaman afs. Beliau menyebutkan dua hal untuk mengokohkan keyakinan tersebut: pertama adalah dengan mempelajari ajaran agama. Beliau menyebutkan bahwa ICC secara khusus memberikan fasilitas untuk mendalami ilmu keagamaan yang bertujuan mengokohkan keyakinan ini, dan yang kedua adalah dengan terus berdoa kepada Allah swt.

Kewajiban kedua selain memperkokoh keyakinan adalah menanamkan kesadaran bahwa kita betul-betul membutuhkan kehadiran Imam Mahdi afs. Beliau menyampaikan bahwa jika umat manusia sudah merasa terdesak dan benar-benar membutuhkan sang Imam, maka beliau akan muncul. Hal ketiga yang perlu dilakukan adalah memperbanyak doa faraj. Beliau menjelaskan bahwa ada cara tertentu dalam berdoa agar Imam segera datang, salah satunya adalah dengan membaca Doa Nudbah pada hari Jumat sebagai ungkapan cinta.

Syaikh Mohammad Sharifani menutup penjelasannya dengan mengingatkan bahwa saat ini kita benar-benar berada dalam masa yang sulit, khususnya bagi saudara-saudara di Palestina dan Iran. Oleh karena itu, beliau menganjurkan agar kita membaca doa faraj sebanyak 70 kali pada hari Jumat. Rangkaian acara peringatan milad ini kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustaz Nuruddin, yang dilanjutkan dengan acara pemotongan kue dan pembagian hadiah bagi para hadirin.