Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar Kelas Tafsir Maudhu’i pada Kamis, 14 Mei 2026, bersama Syaikh Mohammad Sharifani yang membahas keteladanan Imam Muhammad Al-Jawad as, khususnya terkait kemuliaan ilmu dan kepemimpinan beliau sejak usia sangat muda. Dalam kajian tersebut, beliau menjelaskan keterbatasan ilmu manusia, hakikat mukjizat ilahi, serta bagaimana Allah swt memilih hamba-hamba tertentu untuk memikul amanah besar melalui kehendak-Nya.
Pada awal kajian, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan ucapan belasungkawa atas kesyahidan Imam Jawad as kepada para pecinta Ahlulbait as dan seluruh kaum muslimin. Beliau kemudian menjelaskan bahwa kehidupan para imam memiliki banyak hikmah dan teladan yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, salah satu periode penting dalam kehidupan Imam Jawad as adalah ketika beliau masih berusia sekitar empat hingga lima tahun, namun telah mencapai makam imamah. Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa meskipun masih sangat muda, Imam Jawad as memiliki keluasan ilmu, keluhuran akhlak, dan budi pekerti yang mulia sehingga layak menjadi pemimpin umat.
Beliau menjelaskan bahwa untuk memahami kemuliaan Imam Jawad as, manusia perlu menyadari keterbatasan ilmu yang dimilikinya. Dalam penjelasannya, beliau mengutip firman Allah swt:
Wa mā ūtītum minal-‘ilmi illā qalīlā
“Dan tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit.” (QS. Al-Isra [17]: 85)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, apabila manusia benar-benar menyadari bahwa ilmu yang dimilikinya sangat terbatas, maka manusia akan lebih mudah menerima kenyataan bahwa Allah swt dapat memberikan ilmu yang luas kepada siapa saja yang Dia kehendaki, termasuk kepada Imam Jawad as di usia yang sangat muda.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian memberikan ilustrasi bahwa seluruh ilmu para ulama dan ilmuwan jika dibandingkan dengan pengetahuan Allah swt hanyalah sangat sedikit. Beliau mengibaratkan seluruh ilmu manusia seperti hanya satu jengkal kecil dibanding luasnya alam semesta. Karena itu, menurut beliau, manusia tidak pantas menolak kemungkinan adanya hamba pilihan Allah swt yang diberi ilmu luar biasa di luar kebiasaan manusia pada umumnya.
Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa banyak peristiwa dalam kehidupan manusia yang sebenarnya tidak mampu dipahami secara sempurna oleh akal manusia. Beliau mencontohkan bagaimana manusia sering tidak mengetahui sebab-sebab kematian seseorang secara pasti, meskipun berbagai ilmu pengetahuan telah berkembang pesat. Ada orang yang tampak sehat dan bahagia, namun tiba-tiba meninggal dunia, sementara ada pula yang meninggal karena sebab-sebab yang tidak terduga.
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, ketidaktahuan manusia terhadap banyak rahasia alam semesta menjadi bukti bahwa kemampuan akal manusia sangat terbatas. Karena itu, beliau menegaskan bahwa manusia seharusnya tidak merasa mustahil ketika Allah swt memberikan kedudukan tinggi dan ilmu luar biasa kepada Imam Jawad as sejak usia belia.
Pembahasan kemudian berlanjut pada konsep mukjizat. Syaikh Mohammad Sharifani menjelaskan bahwa mukjizat merupakan kejadian luar biasa yang terjadi di luar kemampuan akal manusia untuk memahaminya secara sempurna. Menurut beliau, mukjizat terjadi karena adanya campur tangan dan kehendak Allah swt dalam suatu peristiwa.
Untuk menjelaskan hal tersebut, Syaikh Mohammad Sharifani menyinggung sejarah peperangan Rasulullah saw. Beliau menyebut bahwa Rasulullah saw mengalami puluhan peperangan seperti Perang Khandaq, Perang Hunain, dan peperangan lainnya. Menurut beliau, dalam banyak peperangan jumlah kaum muslimin jauh lebih sedikit dibandingkan pasukan musuh, namun kaum muslimin tetap memperoleh kemenangan.
Beliau menerangkan bahwa kemenangan tersebut tidak dapat dijelaskan semata-mata dengan ukuran material dan logika biasa, melainkan merupakan bentuk pertolongan dan mukjizat dari Allah swt.
Syaikh Mohammad Sharifani kemudian menyinggung kisah Nabi Isa as yang dapat berbicara ketika masih berada dalam buaian. Beliau menjelaskan bahwa peristiwa tersebut disebutkan dalam kitab-kitab samawi sebagai bentuk mukjizat ilahi yang menunjukkan kekuasaan Allah swt.
Beliau membacakan perkataan Nabi Isa as sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
Qāla innī ‘abdullāh ātāniyal-kitāba wa ja‘alanī nabiyyā
“Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku kitab dan menjadikanku seorang nabi.’” (QS. Maryam [19]: 30)
Menurut Syaikh Mohammad Sharifani, kemampuan Nabi Isa as berbicara secara sempurna ketika masih bayi merupakan bukti nyata bahwa Allah swt mampu memberikan keistimewaan luar biasa kepada hamba pilihan-Nya di luar hukum kebiasaan manusia.
Beliau menegaskan bahwa manusia hanya memiliki dua pilihan dalam menghadapi peristiwa-peristiwa semacam itu, yaitu mengingkarinya atau mengimaninya sebagai mukjizat dari Allah swt. Karena itu, menurut beliau, sikap yang benar adalah menerima dan mengimani apa yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan ajaran agama.
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa kemampuan Imam Jawad as menguasai berbagai ilmu pengetahuan pada usia sangat muda juga merupakan bagian dari mukjizat dan pilihan ilahi. Beliau menyebut bahwa sebagaimana Allah swt memberikan mukjizat kepada Nabi Isa as, Allah swt juga mampu memberikan ilmu dan kedudukan imamah kepada Imam Jawad as sejak usia dini.
Pada akhir kajian, Syaikh Mohammad Sharifani kembali menekankan bahwa keterbatasan ilmu manusia seharusnya melahirkan sikap rendah hati di hadapan kehendak Allah swt. Menurut beliau, apabila manusia memahami bahwa pengetahuannya sangat sedikit dibandingkan ilmu Allah swt, maka manusia akan lebih mudah menerima bahwa Imam Jawad as dipilih langsung oleh Allah swt untuk memimpin umat dan dianugerahi kemuliaan serta ilmu yang luar biasa sejak usia muda.



