Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menyelenggarakan Kelas Tafsir Maudhu’i pada Kamis, 5 Februari 2026, bersama Syaikh Mohammad Sharifani yang diterjemahkan oleh Ustaz Hafidh Alkaf. Kajian kali ini memfokuskan pembahasan pada masalah taslim, sebuah konsep yang memiliki dua dimensi makna utama. Makna pertama berhubungan dengan kepatuhan terhadap agama yang dibawa oleh Rasulullah saw, sedangkan makna kedua adalah penyerahan diri secara total kepada Allah swt. Dalam konteks Islam sebagai sebuah agama, Syaikh Mohammad Sharifani menguraikan sembilan karakteristik mendasar yang melekat pada syariat ini.

Karakteristik pertama adalah sifatnya yang moderat, tidak ekstrem sehingga tidak menyusahkan penganutnya, namun tetap konsisten dalam menjaga pelaksanaan kewajiban-kewajiban agama. Beliau menekankan pentingnya keseimbangan, karena sikap berlebihan maupun berkekurangan dalam segala urusan bukanlah hal yang baik. Beliau merujuk pada surah Thaha ayat 135:

qul kullum mutarabbishun fa tarabbashû, fa sata‘lamûna man ash-ḫâbush-shirâthis-sawiyyi wa manihtadâ “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Setiap (kita) menanti, maka menantilah! Kelak kamu akan mengetahui siapa yang berada di jalan yang lurus dan siapa yang telah mendapat petunjuk.'” (QS. Thaha [20]: 135)

Untuk memperjelas prinsip ini, beliau menukil sebuah syair dari pujangga Persia yang menyatakan bahwa mereka yang mencapai tujuan bukanlah orang yang berjalan terkadang cepat dan terkadang lambat, melainkan mereka yang berjalan secara teratur dan berkesinambungan.

Karakteristik kedua adalah agama ini sesuai dengan fitrah, yakni sesuatu yang Allah swt anugerahkan kepada setiap wujud manusia untuk membimbing mereka menuju jalan yang lurus. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip surah Ar-Rum ayat 30:

fa aqim waj-haka lid-dîni ḫanîfâ, fithratallâhillatî fatharan-nâsa ‘alaihâ, lâ tabdîla likhalqillâh, dzâlikad-dînul qayyimu wa lâkinna aktsaran-nâsi lâ ya‘lamûn “Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30)

Beliau menambahkan bahwa keberatan sebagian orang terhadap hukum Islam sering kali disebabkan oleh ketidakmampuan kita dalam memberikan penjelasan yang baik. Beliau menceritakan pengalaman di Universitas Shiraz, Iran, saat seorang aktivis feminis menggugat hukum Islam yang dianggap menyudutkan perempuan. Beliau kemudian membuka kelas rutin sebanyak 20 pertemuan selama hampir enam bulan untuk menjawab gugatan tersebut. Hasilnya, dari 40 peserta yang hadir, mereka akhirnya menerima bahwa ajaran Islam memang sesuai dengan fitrah manusia.

Karakteristik ketiga adalah kelanggengan agama Islam hingga hari kiamat. Syaikh Mohammad Sharifani merujuk pada surah Al-An’am ayat 19:

qul ayyu syai’in akbaru syahâdah, qulillâh, syahîdum bainî wa bainakum, wa ûḫiya ilayya hâdzal-qur’ânu li’undzirakum bihî wa mam balagh… “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Siapakah yang lebih kuat kesaksiannya?’ Katakanlah, ‘Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan itu aku mengingatkan kamu dan orang yang sampai (Al-Qur’an kepadanya)…'” (QS. Al-An’am [6]: 19)

Redaksi “orang yang sampai kepadanya” menunjukkan bahwa dakwah Islam akan terus memanjang melintasi zaman. Beliau menyamakan ini dengan peristiwa Ghadir Khum, di mana Nabi Muhammad saw memerintahkan mereka yang hadir untuk menyampaikan pesan tersebut kepada yang tidak hadir, sebagai simbol kelestarian misi kenabian dan imamah.

Karakteristik keempat adalah universalitas Islam yang tidak dibatasi oleh wilayah geografis tertentu seperti Jazirah Arab. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:

huwalladzî arsala rasûlahû bil-hudâ wa dînil-ḫaqqi liyudh-hirahû ‘alad-dîni kullih “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkan (agama tersebut) atas semua agama.” (QS. At-Taubah [9]: 33 / Al-Fath [48]: 28 / Ash-Shaff [61]: 9)

Beliau mencatat bahwa redaksi ini dimuat tiga kali dalam Al-Qur’an sebagai janji Allah swt bahwa Islam akan menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Karakteristik kelima adalah kesempurnaan dan fungsinya sebagai penutup seluruh syariat. Allah swt berfirman dalam surah Al-Ma’idah ayat 3:

al-yauma akmaltu lakum dînakum wa atmamtu ‘alaikum ni‘matî wa radlîtu lakumul-islâma dînâ “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 3)

Beliau memberikan contoh kemudahan syariat Islam dibandingkan zaman terdahulu. Pada masa Nabi Musa as, tobat dilakukan dengan cara saling membunuh, sedangkan dalam Islam, tobat cukup dilakukan dengan memohon ampunan secara tulus kepada Allah swt.

Karakteristik keenam adalah bahwa Islam merupakan satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah swt, sebagaimana dinyatakan dalam surah Ali ‘Imran ayat 85:

wa may yabtaghi ghairal-islâmi dînan fa lay yuqbala min-h, wa huwa fil-âkhirati minal-khâsirîn “Siapa yang mencari agama selain Islam, sekali-kali (agamanya) tidak akan diterima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 85)

Karakteristik ketujuh adalah Islam sebagai sumber hidayah sejati menuju kebenaran. Syaikh Mohammad Sharifani mengutip surah Al-Baqarah ayat 120 yang menegaskan bahwa petunjuk Allah adalah petunjuk yang sebenarnya, di atas hawa nafsu golongan lain:

…qul inna hudallâhi huwal-hudâ… “Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).'” (QS. Al-Baqarah [2]: 120)

Karakteristik kedelapan adalah Islam sebagai sandaran yang kokoh karena ajarannya pasti menunjuk pada kebenaran. Beliau merujuk pada surah Al-An’am ayat 161:

qul innanî hadânî rabbî ilâ shirâthim mustaqîm, dînang qiyamam millata ibrâhîma ḫanîfâ… “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Sesungguhnya Tuhanku telah membimbingku ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus…'” (QS. Al-An’am [6]: 161)

Karakteristik kesembilan sekaligus terakhir adalah Islam sebagai agama yang mudah. Tidak ada syariat yang dirancang untuk menyulitkan manusia. Meskipun ibadah seperti puasa sering dianggap berat, Allah swt menegaskan prinsip kemudahan di dalamnya:

…yurîdullâhu bikumul-yusra wa lâ yurîdu bikumul-‘usra “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Syaikh Mohammad Sharifani menutup penjelasannya dengan menekankan bahwa kemudahan ini ada karena ibadah tersebut, termasuk puasa, pada hakikatnya memberikan kebaikan yang besar bagi manusia, baik secara fisik maupun spiritual.