Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar kajian rutin Majelis Taklim Akhwat Zainab Al-Kubro pada Rabu, 4 Februari 2026, bersama Syaikh Mohammad Sharifani. Dalam pembukaannya, beliau menyampaikan bahwa kajian kali ini masih melanjutkan tema tentang upaya mencapai kehidupan yang baik dan sejahtera, baik secara lahir maupun batin. Beliau mengingatkan kembali bahwa dalam kajian sebelumnya telah dijelaskan bahwa salah satu syarat utama memperoleh kehidupan yang baik adalah dengan mengenal kebenaran, yang mana kebenaran tersebut terbagi atas beberapa bagian.

Syaikh Mohammad Sharifani menegaskan bahwa yang paling utama adalah mengenal Allah swt, sebab hal tersebut merupakan misi utama dari diutusnya semua nabi. Nabi diutus oleh Allah swt khusus untuk mengajarkan bagaimana cara mengenal-Nya. Beliau merujuk pada Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 52:

hâdzâ balâghul lin-nâsi wa liyundzarû bihî wa liya‘lamû annamâ huwa ilâhuw wâḫiduw wa liyadzdzakkara ulul-albâb “(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Ibrahim [14]: 52)

Melalui ayat ini, beliau menjelaskan bahwa terdapat tiga hal penting yang ditekankan Allah swt: pertama, agar manusia mendapatkan peringatan dari Al-Qur’an; kedua, agar manusia mengenal Tuhan; dan ketiga, agar manusia dapat mengambil pelajaran. Beliau juga mengutip surah Muhammad ayat 19 untuk memperkuat perintah tersebut:

fa‘lam annahû lâ ilâha illallâhu wastaghfir lidzambika wa lil-mu’minîna wal-mu’minât, wallâhu ya‘lamu mutaqallabakum wa matswâkum “Ketahuilah (Nabi Muhammad) bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah serta mohonlah ampunan atas dosamu dan (dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat kegiatan dan tempat istirahatmu.” (QS. Muhammad [47]: 19)

Memasuki pembahasan mengenai metode mengenal Allah swt, beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an mengajarkan pengamatan terhadap alam semesta. Syaikh Mohammad Sharifani secara spesifik menelaah lima ayat di dalam surah An-Naml yang semuanya mengandung kalimat pertanyaan retoris “a ilâhum ma‘allâh” (Apakah ada tuhan lain bersama Allah?). Kalimat ini menunjukkan bahwa pengamatan terhadap alam semesta secara otomatis akan membawa manusia pada pengetahuan bahwa Allah itu Maha Esa.

Ayat pertama yang beliau bahas adalah surah An-Naml ayat 60 mengenai penciptaan langit, bumi, dan turunnya hujan:
am man khalaqas-samâwâti wal-ardla wa anzala lakum minas-samâ’i mâ’an fa ambatnâ bihî ḫadâ’iqa dzâta bahjah, mâ kâna lakum an tumbitû syajarahâ, a ilâhum ma‘allâh, bal hum qaumuy ya‘dilûn “Apakah (yang kamu sekutukan itu lebih baik ataukah) Zat yang menciptakan langit dan bumi serta yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami menumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah (yang) kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” (QS. An-Naml [27]: 60)

Selanjutnya ayat 61 mengenai ketetapan bumi sebagai tempat tinggal:
am man ja‘alal-ardla qarâraw wa ja‘ala khilâlahâ an-hâraw wa ja‘ala lahâ rawâsiya wa ja‘ala bainal-baḫraini ḫâjizâ, a ilâhum ma‘allâh, bal aktsaruhum lâ ya‘lamûn “Apakah (yang kamu sekutukan itu lebih baik ataukah) Zat yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, menjadikan gunung-gunung untuk (mengukuhkan)-nya, dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. An-Naml [27]: 61)

Ayat 62 mengenai pengabulan doa dalam kesulitan:
am may yujîbul-mudltharra idzâ da‘âhu wa yaksyifus-sû’a wa yaj‘alukum khulafâ’al-ardl, a ilâhum ma‘allâh, qalîlam mâ tadzakkarûn “Apakah (yang kamu sekutukan itu lebih baik ataukah) Zat yang mengabulkan (doa) orang yang berada dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, menghilangkan kesusahan, dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (QS. An-Naml [27]: 62)

Ayat 63 mengenai petunjuk dalam kegelapan dan kabar gembira:
am may yahdîkum fî dhulumâtil-barri wal-baḫri wa may yursilur-riyâḫa busyram baina yadai raḫmatih, a ilâhum ma‘allâh, ta‘âlallâhu ‘ammâ yusyrikûn “Apakah (yang kamu sekutukan itu lebih baik ataukah) Zat yang memberi petunjuk kepadamu dalam kegelapan darat dan laut serta yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Mahatinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan.” (QS. An-Naml [27]: 63)

Serta ayat 64 mengenai awal mula penciptaan dan pemberian rezeki:
am may yabda’ul-khalqa tsumma yu‘îduhû wa may yarzuqukum minas-samâ’i wal-ardl, a ilâhum ma‘allâh, qul hâtû bur-hânakum ing kuntum shâdiqîn “Apakah (yang kamu sekutukan itu lebih baik ataukah) Zat yang menciptakan (makhluk) dari permulaannya kemudian mengulanginya (lagi) dan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Katakanlah, “Kemukakanlah bukti kebenaranmu jika kamu orang-orang benar.” (QS. An-Naml [27]: 64)

Syaikh Mohammad Sharifani kemudian beralih menelaah hadis-hadis dari para Maksumin tentang pentingnya makrifatullah. Pertama, beliau mengutip Imam Ali as dalam kitab Nahjul Balaghah yang menyatakan bahwa awal mula beragama adalah mengenal Allah swt. Kesempurnaan mengenal Allah adalah mengimani-Nya, dan kesempurnaan iman adalah mengesakan-Nya. Kedua, beliau menukil sabda Imam Baqir as bahwa amal manusia tidak akan diterima kecuali dengan mengenal Allah swt, dan sebaliknya, seseorang tidak akan mengenal Allah kecuali dengan beramal.

Ketiga, beliau mengutip ucapan Imam Sajjad as yang merujuk pada tulisan dalam Kitab Injil, yang mengingatkan agar manusia tidak mencari ilmu yang tidak menuntun pada perbuatan. Ketika seseorang berbuat berdasarkan apa yang diketahuinya, maka hal itu akan menambah pengetahuannya. Sebaliknya, ilmu yang tidak diamalkan hanya akan membuat seseorang semakin jauh dari Allah swt. Hal ini selaras dengan ucapan Imam Ali as bahwa serendah-rendahnya ilmu adalah apa yang keluar dari lisan, sedangkan setinggi-tingginya ilmu adalah apa yang meresap di dalam hati dan mewujud dalam perbuatan.

Metode kedua untuk mengenal Allah swt adalah melalui pengamatan atas perbuatan Allah swt kepada kita secara langsung. Beliau menekankan bahwa di alam semesta ini segala sesuatunya tunduk kepada Allah swt. Syaikh Mohammad Sharifani menukil ungkapan Imam Ali as, “Aku mengenal Allah swt melalui pembatalan berbagai rencana.” Ini bermakna ada kekuatan Tuhan yang sanggup mengubah rencana-rencana manusia. Beliau mencontohkan kisah Nabi Ibrahim as yang selamat dari api Raja Namrud berkat pertolongan Allah swt, serta Nabi Zakaria as yang dikaruniai keturunan di masa tua renta setelah sekian lama berharap. Beliau mengajak jamaah merenungi peristiwa-peristiwa serupa dalam hidup mereka untuk menemukan perbuatan Allah swt.

Metode selanjutnya untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan mengenal diri sendiri (makrifatun nafs). Beliau menjelaskan banyaknya hadis tentang pentingnya hal ini. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

sanurîhim âyâtinâ fil-âfâqi wa fî anfusihim ḫattâ yatabayyana lahum annahul-ḫaqq, a wa lam yakfi birabbika annahû ‘alâ kulli syai’in syahîd “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa (Al-Qur’an) itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fushshilat [41]: 53)

Ayat lain dalam surah Adz-Dzariyat ayat 21 juga menegaskan: “wa fî anfusikum, a fa lâ tubshirûn” (Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?). Beliau menjelaskan bahwa hakikat diri manusia ada pada hati nuraninya. Ketika Rasulullah saw ditanya bagaimana mengenal kebenaran, beliau menjawab, “Kenali dirimu.” Imam Ali as pun menyebutkan bahwa mengenal diri adalah puncak keselamatan.

Dalam nasihatnya kepada Malik Asytar, Imam Ali as menegaskan agar setiap orang tahu tentang dirinya, karena ia tidak akan mampu mengenal orang lain jika tidak mengenal dirinya sendiri. Beliau juga mengutip Imam Kazim as bahwa pengikut sejati mereka adalah orang yang melakukan introspeksi diri setiap hari. Sebagai penutup, beliau menukil perkataan Imam Ali as bahwa hal paling luar biasa dalam diri manusia adalah hatinya, karena di dalam hati terdapat dua hal yang saling bertentangan yang jika dipahami akan membawa manusia kepada al-hikmah.