Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar salat Jumat pada 15 Mei 2026 dengan khutbah yang disampaikan oleh Ustaz Abdullah Beik. Dalam khutbahnya, beliau menekankan pentingnya membangun rumah tangga berdasarkan nilai-nilai Islam, menjadikan keluarga sebagai fondasi masyarakat yang sehat, serta meneladani kehidupan Sayidah Fatimah Az-Zahra as dan Imam Ali bin Abi Thalib as dalam membangun keluarga penuh kasih sayang dan tanggung jawab.

Pada awal khutbah, Ustaz Abdullah Beik mengajak jamaah untuk senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah swt. Beliau membacakan firman Allah swt:

Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 102)

Beliau menjelaskan bahwa Islam mengajarkan manusia untuk hidup dalam keadaan berserah diri kepada Allah swt hingga akhir hayat. Karena itu, menurut beliau, seluruh aspek kehidupan, termasuk kehidupan keluarga dan rumah tangga, harus dibangun berdasarkan nilai ketakwaan.

Ustaz Abdullah Beik kemudian menyinggung datangnya bulan Zulhijah. Beliau menjelaskan bahwa tanggal 1 Zulhijah dalam sejarah Islam dikenal sebagai hari pernikahan Sayidah Fatimah Az-Zahra as dengan Imam Ali bin Abi Thalib as.

Menurut beliau, pernikahan tersebut merupakan pernikahan agung yang telah “dinikahkan di langit” oleh Allah swt sebelum dilangsungkan di bumi oleh Rasulullah saw. Karena itu, beliau mengajak kaum muslimin menjadikan 1 Zulhijah sebagai hari kasih sayang dan hari keluarga berdasarkan teladan Islam.

Beliau menjelaskan bahwa umat Islam tidak perlu mengikuti budaya lain dalam memperingati hari kasih sayang, karena Islam sendiri telah memiliki teladan agung melalui keluarga Rasulullah saw. Menurut beliau, rumah tangga Sayidah Fatimah as dan Imam Ali as menjadi contoh kehidupan keluarga yang dibangun di atas iman, pengorbanan, dan kasih sayang.

Dalam penjelasannya, Ustaz Abdullah Beik menegaskan bahwa pernikahan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Beliau menyebut bahwa sebagaimana salat diwajibkan untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar, serta puasa diwajibkan agar manusia mencapai ketakwaan, maka pernikahan juga disyariatkan untuk menjaga kesucian jiwa manusia dari perbuatan maksiat dan penyimpangan.

Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah saw banyak menekankan pentingnya menyegerakan pernikahan bagi mereka yang telah siap. Dalam khutbahnya, beliau mengutip makna hadis Rasulullah saw yang menyebut bahwa apabila datang seorang lelaki yang baik agama dan akhlaknya untuk melamar, maka hendaknya lamaran tersebut diterima agar tidak terjadi kerusakan di muka bumi.

Menurut Ustaz Abdullah Beik, hadis tersebut menunjukkan bahwa ukuran utama dalam memilih pasangan adalah agama dan akhlak, bukan semata-mata harta atau status sosial. Beliau menegaskan bahwa apabila masyarakat mengabaikan nilai-nilai tersebut, maka berbagai kerusakan sosial dapat muncul di tengah masyarakat.

Beliau kemudian menyinggung kisah Nabi Musa as dan Nabi Syuaib as sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Menurut beliau, Nabi Syuaib as pernah menawarkan salah satu putrinya untuk dinikahi Nabi Musa as. Ustaz Abdullah Beik menjelaskan bahwa kisah tersebut menunjukkan betapa mulianya pernikahan dalam pandangan agama, sehingga tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang tabu.

Selain itu, beliau juga menyinggung riwayat tentang Imam Ali bin Abi Thalib as ketika menjadi khalifah. Dalam riwayat tersebut, salah seorang wakil Imam Ali as melaporkan bahwa masih terdapat sisa dana syariat setelah dialokasikan untuk kebutuhan masyarakat.

Menurut Ustaz Abdullah Beik, Imam Ali as kemudian memerintahkan agar dana tersebut digunakan untuk membantu para pemuda dan pemudi yang belum menikah karena kendala ekonomi. Beliau menjelaskan bahwa riwayat tersebut menunjukkan betapa pentingnya membantu masyarakat membangun rumah tangga demi menjaga kesehatan moral dan sosial umat.

Pada khutbah kedua, Ustaz Abdullah Beik kembali mengingatkan pentingnya mengevaluasi kehidupan rumah tangga berdasarkan teladan Sayidah Fatimah Az-Zahra as dan Imam Ali bin Abi Thalib as. Beliau menjelaskan bahwa seorang suami memiliki kewajiban memberikan nafkah lahir dan batin, memimpin keluarga dengan kasih sayang, mendidik keluarga secara spiritual, serta memuliakan istrinya sebagai mitra hidup.

Beliau kemudian mengutip sabda Rasulullah saw:

Khairukum khairukum li-ahlihī wa anā khairukum li-ahlī

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.”

Menurut Ustaz Abdullah Beik, hadis tersebut menunjukkan bahwa ukuran kebaikan seseorang tidak hanya dilihat dari ibadah ritualnya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan istri dan keluarganya.

Dalam khutbahnya, beliau juga menceritakan riwayat Bilal bin Rabah yang terlambat datang ke masjid karena mendengar tangisan anak-anak di rumah Sayidah Fatimah Az-Zahra as. Ketika Bilal mengetuk pintu rumah tersebut, beliau melihat Imam Ali as dan Sayidah Fatimah as sedang bersama-sama menggiling gandum untuk menyiapkan makanan bagi anak-anak mereka.

Menurut Ustaz Abdullah Beik, riwayat tersebut menunjukkan bahwa Imam Ali as tidak memandang rendah pekerjaan rumah tangga dan membantu istrinya secara langsung. Beliau menegaskan bahwa rumah tangga dalam Islam dibangun di atas kerja sama dan kasih sayang, bukan kepemimpinan yang otoriter.

Beliau juga menjelaskan bahwa seorang istri memiliki kewajiban menjaga keharmonisan rumah tangga, menaati suami dalam kebaikan, menjadi pendamping perjuangan suami, serta mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang dan akhlak mulia.

Pada bagian akhir khutbah, Ustaz Abdullah Beik menyinggung kondisi dunia modern yang menurut beliau banyak mengabaikan nilai keluarga, akhlak, dan agama. Beliau kemudian mengaitkan hal tersebut dengan konflik internasional yang sedang terjadi, khususnya perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Menurut beliau, berbagai bentuk kekerasan dan agresi yang terjadi saat ini menunjukkan hilangnya nilai kasih sayang dan moralitas dalam kehidupan manusia. Karena itu, beliau mengajak jamaah untuk kembali membangun keluarga berdasarkan nilai Islam agar lahir masyarakat yang kuat, bermoral, dan penuh kasih sayang.

Di akhir khutbah, Ustaz Abdullah Beik memanjatkan doa agar Allah swt memenangkan kaum muslimin, khususnya pihak-pihak yang menurut beliau sedang memperjuangkan perlawanan terhadap penindasan dan agresi, serta memberikan kemenangan kepada kubu yang membela kebenaran dan keadilan.