Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar salat dan khutbah Jumat pada Jumat, 8 Mei 2026, yang disampaikan oleh Ustaz Hafidh Alkaf. Dalam khutbahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga lisan di tengah maraknya penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di era media sosial, bahaya ucapan dalam memecah belah umat Islam, serta pentingnya ketakwaan dan bimbingan Al-Qur’an, Rasulullah saw, dan Ahlul Bait dalam menghadapi fitnah akhir zaman.
Pada khutbah pertama, Ustaz Hafidh Alkaf menjelaskan bahwa syariat Islam diturunkan Allah swt bukan hanya untuk mengatur kehidupan akhirat, tetapi juga kehidupan dunia agar manusia dapat hidup dengan baik dan harmonis. Menurut beliau, apabila syariat Allah dijalankan dengan benar, maka individu akan menjadi baik, masyarakat menjadi baik, dan kehidupan sosial akan berjalan dengan penuh ketertiban. Sedangkan di akhirat, Allah swt menjanjikan pahala bagi orang-orang yang taat dan patuh kepada-Nya.
Beliau kemudian menyoroti fenomena maraknya penyebaran hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian di media sosial. Menurut beliau, banyak orang menyebarkan berita tanpa memastikan kebenaran dan sumbernya, bahkan sebagian sengaja membuat berita bohong demi tujuan tertentu. Dalam penjelasannya, beliau mengingatkan bahwa Al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah saw telah banyak memperingatkan bahaya lisan. Beliau mengutip sebuah riwayat:
“Al-insānu makhbū’un taḥta lisānihi.”
“Manusia tersembunyi di balik lisannya.”
Menurut beliau, seseorang akan dikenal dari apa yang diucapkannya. Jika lisannya baik, maka kebaikan yang akan diperoleh. Sebaliknya, jika lisannya buruk, maka keburukan pula yang akan dituai.
Beliau menjelaskan bahwa banyak peperangan, permusuhan, dan kerusakan sosial dalam sejarah manusia berawal dari ucapan yang tidak terjaga. Untuk menggambarkan dampak buruk lisan, beliau mencontohkan sebuah kasus pembunuhan yang dipicu persoalan sepele mengenai ongkos angkutan umum, namun berkembang menjadi pertikaian akibat makian dan kata-kata kasar hingga berakhir dengan pembunuhan.
Beliau menceritakan bahwa ketika berada di Iran, beliau membaca berita tentang pelaku pembunuhan tersebut yang akhirnya dihukum qisas dan dihukum mati. Menurut beliau, peristiwa itu menunjukkan bagaimana lisan dapat menjadi “bensin” yang membesarkan api kemarahan dari masalah kecil menjadi tragedi besar.
Ustaz Hafidh Alkaf kemudian membacakan firman Allah swt:
“Wa laqad na‘lamu annaka yaḍīqu ṣadruka bimā yaqūlūn.”
“Dan sungguh Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan.” (QS. Al-Hijr [15]: 97)
Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah saw yang terkenal sangat penyabar pun merasakan beratnya cacian dan ucapan buruk orang-orang kafir. Karena itu, menurut beliau, orang yang mampu bersabar ketika dicaci dalam perjuangan menegakkan kebenaran memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah swt.
Beliau juga mengutip Surah Al-Ma’idah ayat 54:
“Wa lā yakhāfūna laumata lā’im.”
“Mereka tidak takut terhadap celaan orang-orang yang mencela.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 54)
Menurut beliau, ayat tersebut menggambarkan orang-orang yang tetap istiqamah memperjuangkan agama meskipun mendapatkan hinaan dan cacian dari manusia. Dalam khutbahnya, beliau juga membahas dosa gibah dan bahaya membuka aib orang lain. Menurut beliau, gibah diibaratkan dalam riwayat sebagai “hidangan penghuni neraka”, sedangkan Al-Qur’an menggambarkannya seperti memakan bangkai saudara sendiri.
Beliau menegaskan bahwa kerusakan dalam keluarga pun sering kali berawal dari lisan yang tidak terjaga. Banyak anak, menurut beliau, menjadi jauh dari orang tua karena terluka oleh ucapan kasar, hinaan, atau kata-kata yang merendahkan. Karena itu, beliau menekankan pentingnya menjaga ucapan dalam keluarga, terutama antara suami, istri, dan anak-anak. Menurut beliau, banyak konflik rumah tangga dapat dihindari apabila masing-masing pihak menjaga lisannya dan tidak mengumbar kekurangan pasangan.
Dalam penjelasannya, Ustaz Hafidh Alkaf juga menegaskan bahwa lisan dapat mengakibatkan seseorang keluar dari Islam apabila digunakan untuk mengingkari perkara-perkara pasti dalam agama. Beliau menjelaskan bahwa seseorang bisa dihukumi murtad apabila dengan lisannya mengingkari kewajiban yang telah menjadi kesepakatan seluruh kaum muslimin, seperti salat, puasa, atau tauhid. Menurut beliau, inilah salah satu bukti betapa dahsyat dampak ucapan manusia.
Pembahasan khutbah kemudian berlanjut pada pentingnya persatuan umat Islam. Beliau menegaskan bahwa umat Islam saat ini hidup di tengah pertarungan besar antara hak dan batil, sehingga persatuan menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Menurut beliau, lisan dapat menjadi sarana memperkuat ukhuwah dan persaudaraan antarumat Islam apabila digunakan dengan baik. Beliau memuji para ulama yang menyerukan persatuan dan menghindari ucapan yang memicu permusuhan di antara kaum muslimin.
Beliau menyebut bahwa dalam beberapa waktu terakhir banyak ulama di Indonesia yang menegaskan bahwa perbedaan mazhab tidak boleh menjadi alasan memecah belah umat Islam. Menurut beliau, sebagian ulama mengatakan bahwa Syiah dan Sunni memang memiliki perbedaan, tetapi tetap sama-sama umat Nabi Muhammad saw. Karena itu, beliau menilai suara-suara persatuan seperti ini sangat penting untuk memperkuat umat Islam.
Sebaliknya, beliau mengkritik pihak-pihak yang menggunakan lisan untuk memecah belah umat dengan mengkafirkan atau mengeluarkan kelompok tertentu dari Islam. Menurut beliau, ucapan-ucapan seperti itu justru melemahkan persatuan kaum muslimin. Beliau kemudian menyinggung fatwa almarhum Imam Sayid Ali Khamenei yang mengharamkan penghinaan terhadap simbol-simbol yang dimuliakan oleh sesama kaum muslimin. Menurut beliau, fatwa tersebut merupakan contoh nyata bagaimana lisan dijaga demi menjaga persatuan umat Islam.
Pada akhir khutbah pertama, beliau mengajak jamaah agar berhati-hati bukan hanya terhadap ucapan lisan, tetapi juga tulisan di media sosial dan berbagai sarana komunikasi modern.
Dalam khutbah kedua, Ustaz Hafidh Alkaf kembali mewasiatkan ketakwaan kepada seluruh jamaah. Beliau menjelaskan bahwa Allah swt telah menyiapkan surga yang penuh kenikmatan bagi orang-orang bertakwa. Menurut beliau, salah satu keindahan surga adalah dipenuhi ucapan-ucapan yang indah dan damai. Beliau menjelaskan bahwa kata yang paling sering disebut sebagai ucapan penghuni surga dalam Al-Qur’an adalah “salam”, yang menunjukkan kedamaian dan keselamatan.
Beliau kemudian membahas kondisi akhir zaman yang dipenuhi fitnah. Menurut beliau, fitnah dalam bahasa Arab bukan sekadar tuduhan bohong, tetapi keadaan ketika hak dan batil bercampur sehingga sulit dibedakan. Beliau mengutip pesan Amirul Mukminin Imam Ali as:
“Kun fil-fitnati kabnil-labun.”
“Jadilah di masa fitnah seperti anak unta yang belum bisa ditunggangi dan belum dapat diperah susunya.”
Menurut beliau, pesan tersebut mengajarkan agar manusia tidak mudah terseret arus fitnah dan propaganda yang menyesatkan.
Beliau kemudian menyampaikan sebuah riwayat dari Imam Ja‘far Ash-Shadiq as tentang akhir zaman. Dalam riwayat tersebut, seorang sahabat khawatir akan tersesat di tengah fitnah meskipun telah lama beribadah dan beramal saleh. Imam Ja‘far Ash-Shadiq as kemudian menunjukkan tangan sahabat tersebut yang terkena cahaya matahari dan bertanya apakah ia melihatnya dengan jelas. Ketika sahabat itu menjawab yakin melihatnya, Imam menjelaskan bahwa orang yang benar-benar beriman dan bertakwa akan melihat kebenaran di tengah fitnah sejelas melihat tangannya sendiri.
Menurut Ustaz Hafidh Alkaf, riwayat tersebut menjadi kabar gembira bagi orang-orang yang menjaga iman, ketakwaan, dan kesalehan. Beliau kemudian menjelaskan beberapa parameter untuk mengenali kebenaran di tengah fitnah akhir zaman. Pertama adalah Al-Qur’an, kedua hadis Rasulullah saw dan Ahlul Bait as, serta ketiga adalah bimbingan ulama rabbani yang saleh dan terpercaya.
Dalam bagian akhir khutbahnya, beliau menyinggung konflik internasional yang sedang berlangsung antara Iran di satu sisi dengan Amerika Serikat dan Israel di sisi lain. Menurut beliau, pihak yang dizalimi memiliki hak untuk membela diri dari agresi dan penindasan. Beliau juga mengingatkan agar kaum muslimin berhati-hati terhadap narasi-narasi media yang membalikkan fakta dan menggunakan logika yang menyesatkan untuk membenarkan agresi dan kezaliman.
Menurut beliau, orang-orang beriman harus tetap menjadikan Al-Qur’an, ajaran Rasulullah saw, Ahlul Bait as, dan para ulama rabbani sebagai pedoman dalam menentukan posisi yang benar di tengah pertarungan antara hak dan batil.
Pada penutup khutbahnya, Ustaz Hafidh Alkaf mengajak jamaah agar menjadikan tujuan hidup semata-mata untuk meraih keridaan Allah swt, Rasulullah saw, dan Imam Zaman af. Beliau menegaskan bahwa apabila keridaan Ilahi diraih, maka manusia akan memperoleh kehidupan yang baik di dunia dan akhirat sebagaimana janji Allah swt:
“Fa lanuḥyiyannahu ḥayātan ṭayyibah.”
“Maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: 97)
Beliau menutup khutbah dengan doa agar Allah swt memenangkan kubu kebenaran, menghancurkan kezaliman, dan menjaga kaum muslimin dari fitnah serta perpecahan.



