Kultum malam ke-18 Ramadan di Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta pada Sabtu, 7 Maret 2026, disampaikan oleh Ustaz Zaki Amami. Dalam kesempatan tersebut beliau mengajak jamaah untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an melalui tafsir Surah Al-Furqan ayat 12 hingga 17. Pembahasan ini, sebagaimana dijelaskan oleh Ustaz Zaki Amami, merujuk pada penjelasan dalam Tafsir Al-Mizan karya Allamah Thabathabai yang menggambarkan secara mendalam tentang kondisi orang-orang yang mendustakan hari kiamat serta balasan yang akan mereka terima di akhirat.
Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut Al-Qur’an memberikan gambaran yang sangat kuat mengenai azab bagi orang-orang yang mengingkari kebenaran. Allah berfirman: idzâ ra’at-hum mim makânim ba‘îdin sami‘û lahâ taghayyudhaw wa zafîrâ, “Apabila ia (neraka) melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar darinya suara gemuruh karena marah dan geram.” (Al-Furqan: 12). Dalam tafsir Al-Mizan dijelaskan bahwa kata taghayyudhaw menggambarkan bentuk kemarahan yang sangat kuat, sementara zafîrâ menunjukkan kedahsyatan yang luar biasa dari suara neraka tersebut. Ayat ini memberikan gambaran psikologis bahwa sebelum orang-orang kafir itu masuk ke dalam neraka, mereka telah mendengar kemarahan neraka yang begitu dahsyat.
Gambaran tersebut dilanjutkan pada ayat berikutnya: wa idzâ ulqû min-hâ makânan dlayyiqam muqarranîna da‘au hunâlika tsubûrâ, “Apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka dalam keadaan dibelenggu, mereka di sana berteriak mengharapkan kebinasaan.” (Al-Furqan: 13). Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan kondisi orang-orang yang menentang perintah Allah dan mendustakan kebenaran. Mereka dilemparkan ke tempat yang sempit dalam keadaan terbelenggu, lalu berteriak memohon kebinasaan karena tidak sanggup menanggung azab yang mereka rasakan.
Menurut beliau, untuk memahami mengapa azab tersebut begitu berat, Al-Qur’an memberikan penjelasan pada ayat sebelumnya dalam surah yang sama: bal kadzdzabû bis-sâ‘ati wa a‘tadnâ limang kadzdzaba bis-sâ‘ati sa‘îrâ, “Sebenarnya mereka mendustakan hari Kiamat. Kami menyediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan hari Kiamat.” (Al-Furqan: 11). Ayat ini menunjukkan bahwa akar dari keingkaran tersebut adalah sikap mendustakan hari akhir. Ketika manusia memandang kehidupan hanya sebatas dunia materi, maka ia akan kehilangan kesadaran tentang tanggung jawab di hadapan Allah.
Ustaz Zaki Amami menekankan bahwa Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk memiliki pandangan ukhrawi. Ketika seseorang menyadari bahwa kehidupan tidak hanya terbatas pada materi, maka ia akan mempersiapkan diri untuk kehidupan yang lebih luas di akhirat. Dalam perspektif ini setiap perbuatan manusia memiliki konsekuensi, baik secara lahiriah maupun secara ukhrawi. Misalnya ketika seseorang berbohong, memfitnah, atau merampas hak orang lain, secara lahiriah perbuatan itu merugikan orang lain, tetapi secara batiniah ia juga sedang menghadapi konsekuensi azab di akhirat. Dalam riwayat disebutkan bahwa orang yang menggunjing saudaranya diibaratkan seperti memakan daging saudaranya sendiri, yang menunjukkan bentuk hakikat ukhrawi dari perbuatan tersebut.
Sebaliknya, perbuatan baik juga memiliki manifestasi ukhrawi yang agung. Ketika seseorang bersedekah, membantu orang yang berpuasa, atau memberikan rezekinya kepada anak yatim, maka selain ketenangan yang dirasakan di dunia, ia juga sedang membangun pondasi pahala yang akan ia terima di akhirat. Allah menjanjikan kenikmatan yang tidak dapat dibayangkan oleh manusia, karena dunia tidak memiliki kapasitas untuk menampung seluruh balasan yang Allah siapkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
Ustaz Zaki Amami juga menjelaskan bahwa dunia tidak mampu memberikan balasan yang sepenuhnya adil bagi seluruh perbuatan manusia. Ada orang-orang yang melakukan kezaliman sangat besar hingga menyebabkan kematian ribuan bahkan jutaan manusia. Tidak mungkin seluruh kejahatan tersebut dibalas secara seimbang hanya dengan hukuman yang terbatas di dunia. Oleh karena itu keberadaan hari kiamat dan pengadilan ilahi menjadi sangat penting agar keadilan benar-benar terwujud. Dalam konteks ini ayat tentang azab neraka menggambarkan betapa beratnya balasan bagi orang-orang yang mendustakan hari akhir dan menentang kebenaran.
Setelah menggambarkan kondisi orang-orang yang diazab, Al-Qur’an melanjutkan dengan firman-Nya: lâ tad‘ul-yauma tsubûraw wâḫidaw wad‘û tsubûrang katsîrâ, “Janganlah kamu pada hari ini mengharapkan satu kebinasaan saja, tetapi harapkanlah kebinasaan yang banyak.” (Al-Furqan: 14). Ayat ini menunjukkan bahwa azab yang mereka alami tidak berhenti pada satu penderitaan saja, tetapi berulang kali dan terus-menerus.
Selanjutnya Al-Qur’an membandingkan keadaan tersebut dengan kenikmatan yang disediakan bagi orang-orang bertakwa. Allah berfirman: qul a dzâlika khairun am jannatul-khuldillatî wu‘idal-muttaqûn, kânat lahum jazâ’aw wa mashîrâ, “Katakanlah, apakah (azab) seperti itu yang baik atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa sebagai balasan dan tempat kembali bagi mereka?” (Al-Furqan: 15). Pertanyaan ini bersifat retoris, karena jelas bahwa surga merupakan balasan yang jauh lebih baik bagi orang-orang yang beriman.
Allah kemudian menjelaskan lebih lanjut tentang kenikmatan surga: lahum fîhâ mâ yasyâ’ûna khâlidîn, kâna ‘alâ rabbika wa‘dam mas’ûlâ, “Bagi mereka segala yang mereka kehendaki ada di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah janji Tuhanmu yang pantas dimohonkan.” (Al-Furqan: 16). Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa kenikmatan dunia selalu bersifat sementara. Kesehatan misalnya, kadang ada dan kadang hilang ketika sakit datang. Namun kenikmatan di surga bersifat kekal dan tidak bercampur dengan penderitaan.
Di surga, menurut penjelasan beliau, tidak ada lagi penyakit, kesusahan, atau kekurangan. Semua yang diinginkan oleh penghuni surga akan dipenuhi oleh Allah. Gambaran kenikmatan tersebut diberikan agar manusia dapat memahami betapa besar balasan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.
Pada bagian akhir ceramahnya, Ustaz Zaki Amami menekankan pentingnya menanamkan keyakinan tentang hari akhir kepada generasi muda. Menurut beliau, pemahaman tentang surga, neraka, serta pertanggungjawaban di hadapan Allah harus terus diajarkan kepada anak-anak agar mereka tidak terjebak dalam pandangan dunia yang hanya berorientasi pada materi. Di era media sosial, berbagai tayangan dan algoritma sering kali membuat manusia melupakan akhirat. Karena itu pendidikan tentang akidah dan kesadaran akan hari kiamat perlu terus diulang agar tertanam kuat dalam diri generasi muda.
Melalui penjelasan ayat-ayat Surah Al-Furqan ini, Ustaz Zaki Amami mengajak jamaah untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Dengan memahami pesan Al-Qur’an tentang konsekuensi perbuatan manusia dan balasan di akhirat, diharapkan setiap Muslim semakin termotivasi untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, serta mempersiapkan kehidupan yang kekal di hadapan Allah.



