Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta kembali menggelar ibadah salat Jumat pada 20 Maret 2026 dengan menghadirkan Syaikh Mohammad Sharifani sebagai penceramah dan Ustaz Zaki Amami sebagai penerjemah. Mengawali khutbahnya, Syaikh Mohammad Sharifani menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri kepada seluruh jemaah serta kaum muslimin di Indonesia, seraya mendoakan agar amal ibadah selama bulan Ramadan diterima oleh Allah SWT dengan pahala yang berlimpah. Beliau kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan pembahasan sebelumnya mengenai kunci kebahagiaan dan kesuksesan hidup, seperti kesabaran, berwilayah kepada Ahlulbait, serta sikap tawalli dan tabari, yakni berpegang teguh pada kebenaran dan berlepas diri dari musuh-musuh Allah.
Dalam penjelasannya, Syaikh Mohammad Sharifani menekankan bahwa salah satu kunci utama kesuksesan umat manusia sepanjang sejarah adalah keberanian untuk berpihak pada kebenaran. Beliau mengingatkan jemaah untuk senantiasa mengenali poros kebenaran dan poros kebatilan di zaman sekarang, mengingat Allah SWT adalah satu-satunya sumber kebenaran yang mutlak. Menurut beliau, memihak pada kebenaran secara otomatis menuntut seseorang untuk berlepas diri dari kebatilan tanpa kompromi, karena keberuntungan hanya akan berpihak pada mereka yang berada di jalur yang hak. Syaikh Mohammad Sharifani merujuk pada Al-Qur’an yang menyatakan bahwa kebenaran datang dari Tuhan, sehingga tidak ada ruang bagi keraguan bagi siapa pun yang berpegang teguh pada Al-Qur’an, Rasulullah SAW, dan Ahlulbait yang merupakan pengejawantahan kebenaran itu sendiri.
Syaikh Mohammad Sharifani juga menguraikan beberapa tugas bagi setiap individu yang telah mengetahui pihak yang benar. Tugas pertama adalah mengenal kebenaran itu sendiri melalui kriteria yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an, kisah Ahlulbait, Nahjul Balaghah, serta hadis-hadis Nabi. Beliau memberikan contoh sejarah seperti Perang Badar, Uhud, Khandaq, Jamal, Khaibar, dan Siffin sebagai pelajaran nyata untuk membedakan poros yang benar dan yang batil. Tugas selanjutnya adalah mengimani kebenaran tersebut dengan sikap tawadhu dan totalitas. Dalam hal ini, beliau menjelaskan hakikat tawadhu sebagai sikap tunduk dan menyerahkan diri sepenuhnya pada setiap hal yang hak, bahkan jika kebenaran itu disampaikan oleh seorang anak kecil sekalipun.
Terkait dengan tantangan di era informasi, Syaikh Mohammad Sharifani mengingatkan jemaah untuk tidak mencampuradukkan antara yang hak dan yang batil. Beliau mengutip firman Allah SWT, wa lâ talbisul-ḫaqqa bil-bâthili, yang artinya janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan (Al-Baqarah ayat 42). Beliau menyoroti peran media massa dan media sosial yang sering kali berpihak pada musuh-musuh Tuhan untuk menutupi kenyataan. Oleh karena itu, tugas umat adalah sesegera mungkin menyampaikan kebenaran hakiki meskipun melalui langkah sederhana guna melawan kabar bohong yang menyudutkan tokoh-tokoh mulia. Beliau memberikan contoh tentang sosok Rahbar yang telah syahid, yang sering kali difitnah oleh media, padahal beliau adalah pribadi yang alim, sederhana, dan tidak mencintai dunia.
Lebih lanjut, Syaikh Mohammad Sharifani mengajak jemaah untuk memberikan bantuan nyata kepada poros kebenaran, sebagaimana janji Allah yang akan membantu mereka yang menolong agamanya. Beliau secara spesifik menyebutkan bahwa saat ini Republik Islam Iran tengah berdiri kokoh memperjuangkan kebenaran di tengah berbagai ujian berat. Beliau menekankan bahwa bantuan dapat berupa harta, kalimat, maupun penjelasan yang benar mengenai kondisi di sana, yang beliau ibaratkan sebagai peluru yang menembus jantung musuh. Beliau merangkum tugas-tugas tersebut dalam enam poin utama, yakni mengetahui pihak yang benar, mengimaninya, berpasrah diri untuk membantu, tidak mencampuradukkan hak dan batil, memberikan penghakiman yang benar, serta memberikan sumbangsih maksimal bagi poros tersebut.
Memasuki khutbah kedua, Syaikh Mohammad Sharifani memberikan pendalaman agar jemaah tidak memiliki keraguan atau kekhawatiran sedikit pun setelah beriman pada pihak yang benar. Beliau memberikan keyakinan bahwa dalam perang akhir zaman, kemenangan pasti akan berpihak pada poros yang benar, sesuai janji Allah SWT yang akan menjadikan Islam sebagai agama yang menguasai alam. Beliau mengakui bahwa dalam sejarah, pihak musuh seringkali memiliki peralatan yang lebih canggih dan jumlah yang lebih banyak, namun hal itu tidak menghalangi kemenangan pihak yang hak, seperti yang terjadi pada Perang Uhud di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.
Syaikh Mohammad Sharifani menutup ceramahnya dengan menggambarkan ketangguhan Republik Islam Iran yang saat ini harus menghadapi agresi dan kejahatan perang dari puluhan negara besar yang bersekutu. Meskipun tampak berdiri sendirian, beliau menegaskan bahwa di balik negara tersebut terdapat dukungan Allah SWT, Imam Zaman AFS, dan Imam Husain AS. Beliau menyebut sebagai sebuah mukjizat bahwa Iran tetap tangguh dan mampu melakukan serangan balik terhadap agresor, meskipun banyak pemimpin dan pengambil keputusan penting, termasuk Rahbar, telah gugur sebagai syahid. Fenomena ini menurut beliau membuktikan bahwa pemimpin sejati dari negeri tersebut adalah Imam Zaman AFS, sebuah pelajaran berharga bagi seluruh umat dalam mendukung kebenaran.



