Skip to main content

ICC Jakarta kembali menggelar kegiatan Doa Kumail dan kajian tafsir Al-Qur’an yang menghadirkan Ustaz Zaki Amami, Kamis, 16 April 2026. Dalam kajian tersebut, beliau melanjutkan pembahasan tafsir Surah Ali Imran dengan menitikberatkan pada ayat ke-9 dan ke-10 yang mengandung pesan mendalam tentang hari kiamat dan hakikat kehidupan dunia.

Dalam penjelasannya, Ustaz Zaki Amami mengawali dengan mengingatkan kembali pembahasan ayat sebelumnya, yaitu ayat ke-8, di mana Allah swt mengajarkan sebuah doa agar hati manusia tidak condong kepada keburukan setelah memperoleh hidayah. Menurut beliau, doa tersebut merupakan doa yang juga diamalkan oleh orang-orang yang mendalam ilmunya, yakni mereka yang benar-benar memahami agama dan termasuk dalam golongan yang dekat dengan ahlul bait as.

Memasuki ayat ke-9, beliau membacakan ayat berikut:

Rabbanâ innaka jâmi‘un-nâsi liyaumil lâ raiba fîh, innallâha lâ yukhliful-mî‘âd
“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 9)

Beliau menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan keyakinan para nabi dan para imam terhadap hari kiamat sebagai hari dikumpulkannya seluruh manusia sejak zaman Nabi Adam hingga akhir zaman untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya. Pengetahuan tentang hari kiamat, menurut beliau, merupakan pengetahuan yang tidak dapat diperoleh hanya melalui ilmu-ilmu dunia seperti matematika, kedokteran, atau teknologi, melainkan melalui wahyu yang disampaikan oleh para nabi.

Ustaz Zaki Amami menekankan bahwa keyakinan terhadap hari kiamat memiliki dampak langsung terhadap perilaku manusia. Semakin kuat keyakinan seseorang terhadap hari pembalasan, maka semakin besar pula usahanya untuk menjauhi keburukan. Sebaliknya, lemahnya keyakinan terhadap hari kiamat akan membuat seseorang meremehkan dosa, seperti mudah melakukan ghibah atau fitnah tanpa rasa takut akan hisab.

Beliau juga menegaskan bahwa hari kiamat adalah janji Allah swt yang pasti terjadi. Berbeda dengan manusia yang bisa lupa atau lalai terhadap janjinya, Allah swt Maha Suci dari segala bentuk kelupaan. Segala perbuatan manusia, sekecil apa pun, tercatat dengan sempurna dan tidak akan terlewat dari perhitungan.

Dalam penjelasannya, beliau memberikan gambaran agar mudah dipahami, bahwa seluruh amal manusia seakan-akan terekam secara lengkap layaknya data yang tersimpan dalam perangkat teknologi modern. Namun, menurut beliau, kemampuan Allah swt jauh melampaui itu, sehingga tidak ada satu pun amal yang tersembunyi.

Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan pikiran, karena keduanya juga akan dihisab. Dalam hal ini, beliau menyampaikan pesan dari para ulama, di antaranya anjuran untuk memperbanyak selawat sebagai cara mengendalikan pikiran dan khayalan yang dapat menjauhkan manusia dari mengingat Allah swt.

Selanjutnya, beliau membahas ayat ke-10 yang berbunyi:

Innalladzîna kafarû lan tughniya ‘anhum amwâluhum wa lâ aulâduhum minallâhi syai’â, wa ulâ’ika hum waqûdun-nâr
“Sesungguhnya orang-orang yang kufur, tidak akan berguna bagi mereka sedikit pun harta benda dan anak-anak mereka dari (azab) Allah. Mereka itulah bahan bakar api neraka.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 10)

Dalam menafsirkan ayat ini, Ustaz Zaki Amami menjelaskan bahwa kekufuran memiliki tingkatan, namun secara umum adalah sikap menutupi kebenaran dengan sengaja. Beliau menegaskan bahwa harta, anak, maupun kekuasaan tidak akan memberikan manfaat sedikit pun di hadapan Allah swt apabila tidak digunakan di jalan yang benar.

Beliau mengingatkan bahwa manusia datang ke dunia tanpa membawa apa pun dan akan kembali tanpa membawa harta ataupun kedudukan. Oleh karena itu, harta dan anak harus dipahami sebagai amanah yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, bukan sebagai sumber kesombongan.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa kecintaan berlebihan terhadap dunia dapat menjadi penghalang bagi manusia dalam mencapai kedekatan dengan Allah swt. Pikiran yang selalu dipenuhi urusan dunia, seperti harta dan keluarga, dapat mengganggu kekhusyukan dalam ibadah dan menghalangi peningkatan kualitas ruhani.

Sebagai solusi, beliau menyampaikan beberapa amalan yang diajarkan oleh para ulama, seperti memperbanyak selawat, istighfar, serta bersedekah untuk mengurangi keterikatan terhadap dunia. Beliau juga menyinggung amalan membaca Ziarah Asyura sebagai salah satu cara untuk menumbuhkan kekhusyukan dalam hati.

Dalam penutup kajiannya, Ustaz Zaki Amami menegaskan bahwa orang-orang yang kufur pada hakikatnya membakar diri mereka sendiri dengan pilihan hidupnya, karena mereka dengan sadar menolak kebenaran dan memilih jalan yang menjauhkan dari Allah swt.

Melalui kajian ini, beliau mengajak jamaah untuk semakin menguatkan keyakinan terhadap hari kiamat, menjaga amal perbuatan, serta memanfaatkan segala nikmat yang diberikan Allah swt sebagai sarana untuk meraih ridha-Nya.