Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar ibadah salat Jumat pada 17 April 2026 dengan penceramah Ustaz Hafidh Alkaf. Dalam khutbahnya, beliau mengangkat tema tentang pentingnya menerima ketentuan Allah swt serta memahami hikmah di balik setiap ujian kehidupan.

Dalam khutbah pertama, Ustaz Hafidh Alkaf menjelaskan bahwa salah satu bentuk ketakwaan adalah kemampuan seseorang untuk menerima segala ketentuan Allah swt dalam hidupnya. Beliau menyoroti bahwa banyak permasalahan manusia berakar dari ketidakmampuan menerima keadaan, yang kemudian memunculkan keluhan bahkan protes, baik kepada sesama manusia maupun kepada Allah swt.

Dalam penjelasannya, Ustaz Hafidh Alkaf menegaskan bahwa Allah swt adalah Zat Yang Mahasempurna, sehingga segala ketentuan-Nya tidak mungkin mengandung ketidakadilan. Ketidakadilan hanya muncul dari keterbatasan manusia, seperti kelemahan, ketakutan, atau kepentingan pribadi, sementara Allah swt sama sekali tidak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, setiap keputusan-Nya pasti merupakan yang terbaik bagi hamba-Nya.

Beliau kemudian mengingatkan tentang luasnya kasih sayang Allah swt yang melampaui segala bentuk kasih sayang manusia. Bahkan, kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang sedang menyusui pun tidak sebanding dengan kasih sayang Allah swt kepada hamba-Nya. Karena itu, setiap kesulitan yang dialami manusia tidak pernah lepas dari pengawasan dan kasih sayang-Nya.

Sebagai teladan, Ustaz Hafidh Alkaf mengisahkan peristiwa tragis yang dialami Imam Husain as di Karbala, khususnya ketika putra beliau, Ali Asghar as, gugur dalam keadaan yang sangat memilukan. Dalam kondisi tersebut, Imam Husain as tetap menunjukkan keteguhan hati dengan menyatakan bahwa penderitaan itu menjadi ringan karena beliau mengetahui bahwa Allah swt menyaksikan semuanya. Dari kisah ini, beliau menegaskan bahwa kesadaran akan pengawasan Allah swt mampu memberikan kekuatan besar dalam menghadapi ujian seberat apa pun.

Beliau juga mengingatkan bahwa kesulitan dalam hidup sering kali menjadi sarana pendidikan ilahi. Kehidupan Rasulullah saw sejak kecil telah diwarnai berbagai ujian, mulai dari wafatnya ayah sebelum kelahiran hingga ditinggal ibu dan kakeknya di usia dini. Namun justru melalui kesulitan tersebut, Rasulullah saw ditempa menjadi pribadi yang agung dan kuat.

Dalam bagian selanjutnya, Ustaz Hafidh Alkaf mengangkat peristiwa hijrah Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah sebagai bentuk pengorbanan besar demi menegakkan agama. Kaum Muhajirin meninggalkan seluruh harta mereka, yang kemudian dirampas oleh kaum Quraisy. Ketika Rasulullah saw berencana menghadang kafilah dagang Quraisy untuk mengambil kembali harta tersebut, situasi justru berkembang menjadi pertempuran besar di Badar.

Beliau menjelaskan bahwa secara logika manusia, kaum muslimin tentu lebih memilih menghadapi kafilah dagang yang lemah. Namun Allah swt menghendaki mereka berhadapan dengan pasukan Quraisy yang jauh lebih kuat, sebagaimana firman-Nya:

wa idz ya‘idukumullāhu iḥdath-thā’ifataini annahā lakum
“Ingatlah ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah milikmu.” (QS. Al-Anfal [8]: 7)

wa tawaddūna anna ghaira dzātisy-syaukati takūnu lakum
“Sedangkan kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah milikmu.” (QS. Al-Anfal [8]: 7)

Menurut Ustaz Hafidh Alkaf, pilihan Allah swt tersebut bertujuan untuk menampakkan kemenangan kebenaran dan menghancurkan kebatilan. Dari peristiwa ini, beliau mengajak jamaah untuk memahami bahwa di balik setiap kesulitan terdapat rencana besar Allah swt yang sering kali tidak terlihat oleh manusia.

Menutup khutbah pertama, beliau menegaskan bahwa seluruh ujian kehidupan merupakan bagian dari skenario ilahi yang penuh kelembutan, sebagaimana firman Allah swt:

inna rabbī laṭīful limā yasyā’
“Sesungguhnya Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki.” (QS. Yusuf [12]: 100)

Memasuki khutbah kedua, Ustaz Hafidh Alkaf menjelaskan bahwa umat manusia saat ini sedang menghadapi ujian besar. Setiap orang akan diuji sesuai kapasitasnya, dan tidak ada jalan terbaik dalam menghadapi ujian selain bersabar. Namun, beliau menekankan bahwa kesabaran itu sendiri harus dimohonkan kepada Allah swt, karena tanpa pertolongan-Nya manusia tidak akan mampu bersabar.

Beliau kemudian secara khusus menyoroti kondisi Iran yang menurutnya sedang menghadapi ujian besar dan menjadi representasi perjuangan umat Islam dan kaum tertindas di dunia. Dalam penjelasannya, beliau menyampaikan bahwa Iran mengalami serangan dan tekanan besar, bahkan saat bulan Ramadan, di tengah proses perundingan, serangan tetap terjadi dan menimbulkan banyak korban serta kerusakan.

Ustaz Hafidh Alkaf juga menyinggung berbagai kerugian yang dialami Iran, mulai dari hancurnya infrastruktur seperti sekolah dan rumah sakit, hingga gugurnya banyak masyarakat, pejabat, dan tokoh penting. Menurut beliau, kerugian tersebut tidak dapat diukur hanya dengan materi atau kompensasi finansial.

Dalam khutbahnya, beliau secara khusus menyebut sosok Ayatullah al-Uzma Sayyid Ali Khamenei sebagai pemimpin besar yang memiliki keilmuan luas di berbagai bidang, mulai dari fikih, ushul fikih, Al-Qur’an, sastra, hingga strategi. Beliau menggambarkan Sayyid Ali Khamenei sebagai sosok yang tidak hanya mendalam dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki wawasan luas dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk sastra Persia dan Arab, serta memiliki pengalaman langsung dalam perjuangan dan medan perang.

Ustaz Hafidh Alkaf menjelaskan bahwa perjalanan perjuangan Sayyid Ali Khamenei mencakup berbagai fase, mulai dari penangkapan, pemenjaraan, pengasingan, keterlibatan langsung dalam perjuangan bersenjata, hingga mengalami luka akibat serangan. Menurut beliau, sosok ini mencerminkan kesempurnaan seorang pejuang yang mengorbankan seluruh hidupnya di jalan perjuangan.

Beliau menegaskan bahwa kehilangan sosok seperti Sayyid Ali Khamenei tidak dapat digantikan dengan nilai materi sebesar apa pun. Di tengah kondisi tersebut, beliau mengajak jamaah untuk tidak hanya melihat penderitaan secara lahiriah, tetapi juga memahami bahwa di balik semua itu terdapat hikmah dan rencana besar Allah swt.

Menutup khutbahnya, Ustaz Hafidh Alkaf mengajak jamaah untuk tetap optimis terhadap janji Allah swt bahwa kebenaran akan menang dan kebatilan akan hancur, sebagaimana firman-Nya:

wa qul jā’al-ḥaqqu wa zahaqal-bāṭilu innal-bāṭila kāna zahūqā
“Katakanlah, ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isra’ [17]: 81)

Beliau menegaskan bahwa kemenangan kebenaran adalah sebuah kepastian, dan tugas manusia adalah menjaga iman, kesabaran, serta keyakinan hingga janji Allah swt tersebut terwujud.