Skip to main content

Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta menggelar ibadah salat Jumat pada Jumat, 24 April 2026, dengan khutbah disampaikan oleh Ustaz Abdullah Beik. Dalam khutbahnya, beliau membahas tentang kemuliaan manusia dalam pandangan Al-Qur’an serta pentingnya menjaga akal, fitrah, dan sifat kemuliaan yang dianugerahkan Allah swt kepada manusia.

Pada khutbah pertama, Ustaz Abdullah Beik menjelaskan bahwa Allah swt telah memuliakan seluruh manusia tanpa memandang bangsa, suku, ataupun agama. Beliau mengawali penjelasannya dengan membacakan firman Allah swt:

Walaqad karramnā banī ādama wa ḥamalnāhum fil barri wal baḥri wa razaqnāhum minaṭ-ṭayyibāti wa faḍḍalnāhum ‘alā kaṡīrim mimman khalaqnā tafḍīlā

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra [17]: 70)

Dalam penjelasannya, Ustaz Abdullah Beik menyampaikan bahwa penggunaan istilah “bani Adam” dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa kemuliaan yang diberikan Allah swt bersifat universal. Seluruh manusia sebagai keturunan Nabi Adam as memperoleh kemuliaan tersebut, tanpa dibatasi identitas tertentu.

Beliau kemudian mengutip penjelasan Allamah Muhammad Husain Thabathabai dalam Tafsir Al-Mizan bahwa kemuliaan manusia terletak pada potensi-potensi yang Allah swt anugerahkan kepada manusia, di antaranya akal dan fitrah. Akal membuat manusia mampu membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang bermanfaat dan membahayakan, serta mampu menilai tindakan yang layak dipuji ataupun dicela.

Menurut beliau, seluruh manusia diberi potensi akal yang sama, namun sebagian mampu mengembangkannya lebih baik dibanding yang lain. Karena itulah Allah swt tidak hanya memuliakan manusia, tetapi juga memberikan kemampuan agar manusia dapat mengembangkan potensi tersebut dan meraih keunggulan.

Selain akal, manusia juga diberikan fitrah, yaitu kecenderungan alami untuk mengenali kebaikan dan kesempurnaan. Fitrah inilah yang mendorong manusia untuk mencintai nilai-nilai luhur dan menjauhi kehinaan. Beliau menegaskan bahwa binatang tidak memiliki akal dan fitrah seperti manusia, sehingga manusia memiliki tanggung jawab lebih besar dalam menjaga kemuliaannya.

Ustaz Abdullah Beik menjelaskan bahwa manusia yang tidak menggunakan akal, mata, dan telinganya dengan benar akan jatuh pada kehinaan. Beliau kemudian membacakan ayat Al-Qur’an:

Lahum qulūbun lā yafqahūna bihā wa lahum a‘yun lā yubṣirūna bihā wa lahum āżānul lā yasma‘ūna bihā

“Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar.” (QS. Al-A‘raf [7]: 179)

Beliau menerangkan bahwa mata dan telinga berfungsi sebagai media masuknya informasi, sedangkan akal adalah alat untuk menimbang dan mengambil kesimpulan yang benar. Karena itu, manusia tidak boleh langsung menerima informasi hanya berdasarkan apa yang dilihat dan didengar tanpa menggunakan akal sehat dan tanpa menimbangnya dengan wahyu Allah swt.

Menurut beliau, kemuliaan manusia terletak pada kemampuannya menjaga dan mengembangkan akal serta fitrahnya. Jika manusia mengabaikan potensi tersebut, maka ia akan jatuh lebih rendah daripada binatang. Karena itu, manusia dituntut untuk mempertahankan kemuliaannya dengan membiasakan diri melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.

Di akhir khutbah pertama, Ustaz Abdullah Beik mengingatkan bahwa pada hari kiamat manusia akan dipanggil bersama para pemimpinnya dan diperlihatkan catatan amalnya. Beliau berharap agar seluruh kaum muslimin mampu menjaga kemuliaan diri dengan mengikuti jalan para nabi, para imam, ulama, dan orang-orang saleh.

Pada khutbah kedua, Ustaz Abdullah Beik kembali menekankan pentingnya menjaga kemuliaan diri. Beliau menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab, kata “karam” atau “karim” selain bermakna mulia juga berarti dermawan. Menurut beliau, sifat kemuliaan tidak bisa dipisahkan dari kedermawanan, sedangkan kekikiran merupakan bentuk kehinaan.

Beliau menerangkan bahwa orang yang enggan membantu sesama dan tidak memiliki jiwa dermawan akan mudah jatuh dalam kehinaan, bahkan rela tunduk kepada pihak lain demi kepentingannya sendiri. Karena itu, Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki jiwa mulia dan suka berbagi.

Dalam khutbah tersebut, beliau juga menyinggung momentum bulan Zulkaidah yang berkaitan dengan kelahiran Sayyidah Fatimah al-Ma’sumah as pada 1 Zulkaidah dan kelahiran Imam Ali ar-Ridha as pada 11 Zulkaidah. Ustaz Abdullah Beik menjelaskan bahwa di Republik Islam Iran, rentang waktu tersebut dikenal sebagai “10 hari kemuliaan” yang diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan penggalangan bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Beliau menyampaikan bahwa pendidikan tentang kemuliaan dan kedermawanan melahirkan masyarakat yang memiliki jiwa merdeka, tidak mudah tunduk kepada tekanan pihak lain, serta berani mempertahankan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Menurut beliau, bangsa yang memiliki jiwa kemuliaan akan melahirkan pribadi-pribadi yang siap berkorban demi agama, bangsa, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam konteks itu, beliau menyinggung perjuangan Imam Husain as di Karbala sebagai teladan tentang bagaimana manusia harus hidup mulia dan menolak kehinaan.

Ustaz Abdullah Beik menegaskan bahwa perjuangan Imam Husain as bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi pelajaran tentang pentingnya mempertahankan kehormatan dan tidak tunduk kepada kekuasaan yang menjauhkan manusia dari nilai keadilan dan kemanusiaan.

Di akhir khutbahnya, beliau berharap agar Allah swt senantiasa membimbing kaum muslimin, para pemimpin bangsa, dan seluruh tokoh masyarakat agar mampu menjalankan tugas-tugas mulia serta menjaga kemuliaan yang telah Allah swt anugerahkan kepada manusia.